Kuliah dengan Beasiswa: Keterbatasan Ekonomi Bukan Penghalang untuk Mengenyam Pendidikan

0
896
Yogi di salah satu ruang kelas di Monash University, Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi
Yogi di salah satu ruang kelas di Monash University, Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi

“Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tanggal 2 Mei sebagai peringatan atas jasa-jasa dari tokoh dan pahlawan nasional di bidang pendidikan, Ki Hajar Dewantara. Dalam semangat Hardiknas kali ini, Yogi Saputra Mahmud, Content Director Indonesia Mengglobal akan membagikan pengalaman pribadinya dalam mengenyam pendidikan tinggi, mulai dari jenjang S1 hingga S2 melalui beasiswa. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada calon mahasiswa mengenai peluang beasiswa yang dapat diraih. Sehingga keterbatasan ekonomi seharusnya tidak lagi menjadi penghambat untuk mengenyam pendidikan.”

Awal Mula Perjalanan Beasiswa

Latar belakang keluarga saya bukanlah dari keluarga yang serba berada. Namun demikian, ada satu prinsip yang senantiasa dipegang teguh oleh keluarga saya, yakni generasi mendatang setidaknya harus lebih baik dari segi tingkat pendidikan daripada mereka. Oleh karena itu, orang tua saya senantiasa mendorong saya untuk mengenyam pendidikan tinggi di tengah keterbatasan kemampuan ekonomi keluarga.

Pada mulanya, saya tidak berniat untuk berkuliah sehingga saya memilih jalur Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) karena saya berharap bahwa saya dapat langsung meniti karir setelah lulus dari SMK dan membantu perekonomian keluarga. Namun demikian, kecintaan saya akan Bahasa Inggris yang saya miliki sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) justru makin berkembang saat SMK. Terlebih lagi saat saya ditunjuk menjadi salah satu tutor sebaya dan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di bidang bahasa saat SMK.

Bahkan, karena prestasi saya di bidang Bahasa Inggris, saya mendapatkan kesempatan mengenyam beasiswa pelatihan Bahasa Inggris di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Institut Teknologi Bandung (ITB) selama satu semester penuh dari SMK saya!

UPT Pusat Bahasa Institut Teknologi Bandung. Sumber: ITB
UPT Pusat Bahasa Institut Teknologi Bandung. Sumber: ITB

Selama satu semester, saya intensif pulang-pergi dari SMK dan ITB dan menyaksikan betapa serunya mahasiswa-mahasiswa yang sedang berjibaku dengan tugas-tugasnya di kantin atau perpustakaan kampus. Tentunya ini menumbuhkan minat saya untuk mengenyam pendidikan tinggi. Terlebih lagi saat ada salah satu mahasiswa ITB yang menjadi teman belajar saya di UPT Bahasa yang berkata: “Yogi, jangan takut untuk lanjut kuliah. Insya Allah selalu ada jalan untuk yang berusaha, salah satunya dengan beasiswa” , ujarnya.

Menjadi Sarjana Pertama di Keluarga (First-generation College Student)

Yogi di depan patung John Monash di kampus Monash University. Sumber: Dokumentasi pribadi
Yogi di depan patung John Monash di kampus Monash University. Sumber: Dokumentasi pribadi

Alhasil saya pun mencoba untuk mendaftarkan diri di SNMPTN 2011 dengan mendaftarkan diri ke Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai pilihan pertama. Tidak seperti calon mahasiswa lainnya, saya tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti les persiapan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di berbagai lembaga karena keterbatasan dana. Oleh karena itu, saya siasati dengan belajar mandiri dengan membeli buku-buku persiapan SNMPTN bekas di sentra buku-buku bekas seperti Palasari, Kota Bandung.

Hari ujian SNMPTN pun tiba. Entah mengapa, saya mendapatkan lokasi ujian tepat di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra (FPBS), UPI. Calon tempat studi saya kelak apabila saya lulus SNMPTN 2011.

Singkat cerita, hari pengumuman ujian pun tiba. Saya langsung bergegas ke warung internet (warnet) untuk melakukan log in ke laman SNMPTN untuk melihat hasilnya. Alhamdulillah, saya dinyatakan diterima sebagai salah satu mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UPI.

Di perguruan tinggi, saya sangat menikmati proses sebagai calon guru Bahasa Inggris. Karena motivasi saya muncul dari dalam diri, saya menilai bahwa tugas-tugas itu bukanlah beban yang berat. Justru saya bersemangat untuk memantaskan diri dalam mengenyam peluang beasiswa yang ditawarkan oleh kampus. Alhasil, biaya pendidikan saya saat S1 dapat ditutupi oleh beasiswa-beasiswa yang saya dapatkan. Beberapa beasiswa S1 yang saya dapatkan adalah: Beasiswa Pendidikan Djarum Beasiswa Plus, Beasiswa Pendidikan Provinsi Jawa Barat, dan Beasiswa Mahasiswa Berprestasi di tingkat Fakultas, dan lain-lain.

Yogi di prosesi wisuda S1 di Universitas Pendidikan Indonesia. Sumber: Dokumentasi pribadi
Yogi di prosesi wisuda S1 di Universitas Pendidikan Indonesia. Sumber: Dokumentasi pribadi

Empat tahun berjalan, akhirnya periode wisuda saya pun datang di tahun 2015. Puji syukur saya pun dinobatkan menjadi wisudawan terbaik tingkat program studi saat itu. Selain itu, saya pun secara resmi menjadi sarjana pertama di keluarga, bahkan di keluarga besar!

Kuliah S2 di Luar Negeri dengan Beasiswa

Selepas wisuda S1, saya langsung diterima mengajar di salah satu sekolah bilingual di Kota Bandung bernama Pribadi Bilingual Boarding School. Selama dua tahun, saya mengaplikasikan ilmu yang diraih saat jenjang sarjana. Hal ini semakin memupuk kecintaan saya akan pendidikan, terutama Bahasa Inggris.

Yogi saat mengajar di Pribadi Bilingual Boarding School. Sumber: Dokumentasi pribadi
Yogi saat mengajar di Pribadi Bilingual Boarding School. Sumber: Dokumentasi pribadi

Setelah dapat membuktikan bahwa kuliah itu bisa ‘gratis’ melalui beasiswa saat S1, muncul keinginan untuk mengenyam studi lanjut di jenjang S2 melalui mekanisme beasiswa. Ada banyak sekali mekanisme pendanaan bagi calon mahasiswa S2 yang ditawarkan oleh badan di dalam dan luar negeri, seperti Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Australia Awards, Chevening, DAAD, MEXT, GREAT Indonesia scholarship, Fulbright, New Zealand Asean Scholarship dan lainnya.

Dalam hal ini, beasiswa LPDP sedang gencar-gencarnya membuka pendaftaran. Oleh karena itu, saya berniat untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP dan mulai mempersiapkan segala keperluan administratif dan teknis, seperti tes International English Language Testing System (IELTS), surat rekomendasi, proposal riset, Letter of Acceptance (LoA) dan yang lainnya. Persiapan yang saya lakukan dapat Anda lihat melalui tautan berikut ini.

Setelah melalui rangkaian seleksi yang meliputi tes administratif dan tes substantif (Focus Group Discussion (FGD), on-the-spot essay writing, dan wawancara), saya dinyatakan sebagai penerima beasiswa LPDP luar negeri dengan tujuan studi Master of Teaching English to Speakers of Other Languages (TESOL) di Monash University, Australia.

Yogi di pusat kota Melbourne. Sumber: Dokumentasi pribadi
Yogi di pusat kota Melbourne. Sumber: Dokumentasi pribadi

Pendanaan dari beasiswa LPDP selama masa studi S2 membuat saya menjadi lebih fokus akan studi tanpa harus mengkhawatirkan kendala pembiayaan studi. Hal ini karena beasiswa LPDP telah memikirkan segala aspek kebutuhan yang dapat muncul selama studi, termasuk biaya visa, biaya kedatangan, biaya hidup bulanan, dana tanggungan keluarga, asuransi, dana bantuan penelitian, hingga dana perjalanan pulang pasca studi. Oleh karena itu, saya dapat memaksimalkan fokus dan kemampuan saya kepada studi yang sedang dilaksanakan.

Dengan fokus dan dedikasi itulah saya berhasil menyelesaikan studi dengan IPK 4.0 di Monash University, serta menjadi lulusan terbaik di Master of TESOL tahun 2019 dengan mendapatkan “Dean’s Award of Academic Excellence” yang langsung diberikan oleh Dekan Faculty of Education, Monash University.

Mendapatkan IPK 4 di Monash University, Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi
Mendapatkan IPK 4.0 di Monash University, Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi

Selain dalam aspek akademik, saya pun aktif dalam kegiatan non-akademik seperti Graduate Students’ Learning Hub, LPDP Monash Community, Monash Indonesian Islamic Society, dan lain sebagainya. Bahkan, saya berkesempatan untuk mencicipi dunia kerja sebagai Student Engagement Officer di Faculty of Education dan interpreter bahasa Indonesia-bahasa Inggris di Faculty of Arts.

Indonesia Mengglobal Mentorship Program: Titik Awal untuk Meraih Beasiswa

Dalam proses meraih beasiswa, tentunya Anda perlu berdiskusi dengan pihak-pihak yang telah memiliki pengalaman mendapatkan beasiswa yang ingin kita capai sebelumnya. Saya pun termasuk demikian. Sebelum mengikuti seleksi beasiswa, saya beserta puluhan calon pendaftar beasiswa LPDP seringkali melakukan pertemuan untuk mempersiapkan tes administrasi dan berlatih wawancara. Kami pun seringkali mendatangkan beberapa awardees untuk berbagi pengalamannya kepada kami.

Pandemi COVID-19 dapat menjadi penghambat untuk melakukan pertemuan tatap muka berkaitan dengan konsultasi beasiswa. Namun demikian, seiring dengan perkembangan teknologi dan sosial media, hal tersebut tidaklah menjadi penghalang bagi Anda untuk senantiasa mempersiapkan tes beasiswa yang diinginkan.

Salah satu program yang dapat Anda ikuti adalah Indonesia Mengglobal Mentorship Program 2021. Saat ini, Indonesia Mengglobal sedang membuka pendaftaran program Mentorship hingga tanggal 9 Mei 2021 yang dapat Anda pelajari di tautan berikut ini.

Anda akan mendapatkan banyak manfaat saat memiliki mentor untuk persiapan beasiswa. Salah satu manfaatnya tentunya berupa strategi-strategi dalam mengatasi kesulitan atau tantangan tes beasiswa, serta saat Anda mengenyam studi di universitas tujuan.

Concluding The Conversation

Beasiswa menjadi solusi bagi calon-calon mahasiswa yang ingin mengenyam pendidikan tinggi namun memiliki keterbatasan dana. Dalam hal ini, meraih beasiswa tentunya mengharuskan Anda untuk memiliki kapasitas dan alasan yang kuat bahwa Anda layak menjadi salah satu penerima beasiswa.

Yogi saat prosesi wisuda di Monash University. Sumber: Dokumentasi pribadi
Yogi saat prosesi wisuda di Monash University. Sumber: Dokumentasi pribadi

Salah satu cara untuk memulainya adalah dengan memahami berbagai mekanisme administratif dan substantif yang ada. Selain itu, Anda pun harus memahami dengan rinci tentang alasan pemilihan universitas tujuan dan mekanisme beasiswa terkait. Informasi seperti ini dapat Anda telaah di portal Indonesia Mengglobal. Terakhir, Anda dapat memaksimalkan peluang untuk memiliki mentor-mentor untuk persiapan beasiswa luar negeri melalui program Indonesia Mengglobal Mentorship Program 2021.

***

Editor: Dini Putri Saraswati

 


SHARE
Previous articleAfter Ups and Downs, I Became a GREAT Scholar and It Changed My Life
Next articleWomen in STEM: Another Side of Story
Yogi Saputra Mahmud
Throughout his life trajectory, Yogi is always passionate about teaching and developing students’ ability and proficiency in English. He holds a Bachelor of English Education degree from the Indonesia University of Education. After completing his bachelor’s degree, he started his career as an English teacher at Pribadi Bilingual Boarding School, Bandung. His continuous passion led him to pursue his Master of TESOL (Teaching English to Speakers of Other Languages) at Monash University, Australia, with a scholarship from Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP). Yogi is now based in Cikarang, West Java, as an English lecturer at President University. He has been actively writing several articles in nationally and internationally accredited journals. His main research interests include Teacher Professional Development, Teacher Education, Teaching Methodology, and English productive skills.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here