Mencicipi Profesionalisme dan Budaya Kerja di Kampus Australia

0
482

*Berkuliah di luar negeri tidaklah berkaitan dengan tugas dan kuliah di dalam kelas semata. Kuliah di luar negeri juga dapat membuka peluang pengalaman volunteering, mengikuti organisasi, bahkan pengalaman berkarir. Kali ini, Yogi membagikan kisahnya dalam berkarir di Faculty of Education, Monash University, Australia. 

Selama waktu studi yang saya lalui di Monash University, Australia, saya mengalami banyak hal menarik baik di dalam atau luar kelas. Salah satu pengalaman penting yang mampu memengaruhi hidup saya dalam aspek sosial maupun profesional adalah saat saya berkesempatan menjadi salah satu staf paruh waktu di Faculty of Education, Monash University, Australia.

Saat itu, posisi yang sedang ditawarkan adalah sebagai Student Engagement Officer yang bertugas untuk membantu mahasiswa baru ataupun aktif dalam hal administrasi, pendaftaran magang, kegiatan sosial dan budaya guna menunjang kegiatan akademik dan non-akademik mahasiswa Faculty of Education, Monash University, Australia.

Informasi lowongan karir tersebut dikirimkan langsung dari pihak fakultas kepada seluruh surel mahasiswa aktif dari tingkat sarjana hingga doktoral yang seluruhnya berjumlah ribuan. Padahal, posisi yang diperlukan itu kurang dari 20 orang saja!

Seperti kebanyakan mahasiswa lainnya, saat itu saya pun berniat untuk mendaftarkan diri sebagai Student Engagement Officer di Faculty of Education, Monash University. Saat itu, saya merasa nothing to lose saja mengingat rasio jumlah mahasiswa yang kemungkinan mendaftar dan jumlah posisi yang ditawarkan sangatlah ketat.

Setelah melalui berbagai seleksi berupa tes administrasi dan wawancara, pada akhirnya saya terpilih menjadi salah satu staf paruh waktu yang direkrut bersama dengan 20 orang mahasiswa lainnya baik dari jenjang sarjana ataupun master.

Saat berkarir di Kampus Australia
Yogi saat bekerja di Faculty of Education, Monash University

Selama keterlibatan saya sebagai salah satu staf paruh waktu di Monash University, Australia, setidaknya terdapat tiga pelajaran utama yang dapat saya peroleh:

  1. Celebrating success

Salah satu hal terpenting yang dapat saya peroleh selama berkarir di Faculty of Education, Monash University, adalah besarnya tingkat apresiasi tim terhadap suatu pencapaian yang diperoleh seseorang di dalam tim tersebut. Di awal sesi rapat kerja, para manajer senantiasa menanyakan tentang pencapaian yang ingin dilaporkan oleh setiap orang baik dalam konteks pekerjaannya maupun lainnya. Misalnya, saya sempat mendengar pencapaian yang dibagikan oleh salah satu rekan kerja saya dalam hal mengatasi masalah mahasiswa yang memiliki kendala dalam mengontrak mata kuliah.

Bagi saya, sesi celebrating success ini sangatlah bermanfaat dalam rangka menciptakan tim yang lebih solid dan apresiatif akan setiap pencapaian yang telah diperoleh. Selain itu, sesi ini juga dapat melatih setiap orang untuk mengapresiasi apa yang ia telah peroleh dan fokus bukan hanya terhadap kekurangan yang dimiliki tetapi juga terhadap potensi perkembangan yang ada.

Pengalaman ini juga saya aplikasikan dalam keterlibatan saya sebagai salah satu pengurus LPDP Monash Community di tahun 2018. Saat itu, saya berperan sebagai salah satu panitia pengarah untuk kegiatan Rountable Discussion 2018 yang dilaksanakan oleh komunitas penerima beasiswa LPDP di Monash University. Sebelum rapat evaluasi program dimulai, saya berinisiatif untuk mengajak teman-teman panitia untuk menceritakan pencapaian yang mereka peroleh baik dalam konteks kepanitiaan selama berlangsungnya program ataupun yang di luar konteks tersebut.

Mahasiswa yang bekerja di Faculty of Education, Monash University
Mahasiswa yang bekerja di Faculty of Education, Monash University

2. Ketepatan waktu

Hal lain yang saya pelajari dari budaya kerja di sini adalah ketepatan waktu dalam segala hal, termasuk dalam rapat kerja, koordinasi, dan sebagainya. Dalam satu tahun keterlibatan saya dalam tim, praktis seluruh kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan telah dirancang sedemikian rupa agar tepat waktu dan tepat sasaran. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan hampir selalu dimulai dan diakhiri dalam rentang waktu yang telah direncanakan.

Bagi saya, ini merupakan pengalaman baru dalam merasakan bagaimana kegiatan-kegiatan kerja dirancang dan dilakukan secara profesional. Profesionalisme itu dimulai dari hal yang relatif paling praktis, yakni soal ketepatan waktu.

Praktis pengalaman ini pun sangatlah bermanfaat positif bagi kehidupan sosial saya selama berkuliah di Monash University. Secara tidak langsung, kebiasaan yang saya alami bersama staf di Faculty of  Education membuat saya menjadi sosok yang lebih disiplin dalam waktu, terutama dalam proses pengerjaan tugas-tugas akademik ataupun non-akademik. Dari pengalaman ini, saya pun memahami bahwa setiap orang memiliki kegiatan yang berbeda-beda, karenanya menghargai waktu berarti menghargai seseorang yang kita ajak bekerja sama atau berinteraksi.

3. Toleransi

Selain apresiatif dan disiplin, pengalaman karir saya di Faculty of Education banyak mengajarkan saya tentang sikap toleransi. Meskipun sebagai minoritas di Negeri Kangguru, saya tidak pernah diperlakukan tidak adil selama saya berkarir. Bahkan, saya merasa sangat dihargai karena seluruh staf sangat menghormati kepercayaan masing-masing. Sebagai kaum Muslim, saya memiliki kewajiban-kewajiban ibadah harian yang harus dilaksanakan di jam-jam kerja.

Sebagai contoh, sebelum pembagian jadwal piket kerja, para manajer meminta informasi kesediaan waktu yang kosong untuk diisi sebagai jadwal piket. Alhasil saya tidak dapat mengisi jadwal setiap Jum’at siang karena saya harus melaksanakan ibadah shalat Jum’at. Dalam hal ini, para manajer sangat mengerti keperluan yang saya miliki sehingga tidak pernah memberikan jadwal kerja yang bertabrakan dengan ibadah shalat Jum’at kepada saya.

Begitu pun saat saya harus melaksanakan shalat wajib 5 waktu, para manajer sangat sigap untuk memberikan bantuan/backup guna mengganti posisi saya sementara sekitar 15 menit saat saya harus pergi ke Religious Center untuk beribadah. Setiap saya akan beranjak ke Religious Center, mereka senantiasa mengingatkan saya untuk beribadah dengan khidmat dan tidak usah terburu-buru.

Salah satu kegiatan kerja Student Engagement Officer
Salah satu kegiatan kerja Student Engagement Officer di Monash University, Australia

Concluding the Conversation

Apabila terdapat kesempatan untuk berkarir paruh waktu di kampus, saya sangat menyarankan teman-teman mahasiswa baru untuk mencoba mendaftarkan diri. Selain mendapatkan uang tambahan untuk keperluan harian, pengalaman berkarir dengan orang-orang yang memiliki budaya kerja dan profesionalisme yang berbeda dengan kita dapat memberikan pandangan yang baru dalam menyikapi suatu hal.

Jika telah mendapatkan ilmu atau pelajaran dari pengalaman karir yang dimiliki di kampus, maka sudah sepantasnya kita mengaplikasikan ilmu dan pelajaran tersebut demi perbaikan diri pribadi dan orang lain di sekitar kita. Misalnya, dengan celebrating success, ketepatan waktu, dan toleransi yang saya peroleh, saya dapat mempraktikkannya dalam lingkup pribadi sebagai pelajar, aktivis kemahasiswaan, maupun pada konteks pekerjaan pascastudi seperti yang saya lakukan saat ini.

*Sumber Foto: Yogi Saputra Mahmud

SHARE
Previous articleIT Internships in Japan
Next articleGoing to grad school? Here are three things that you need to learn
Yogi Saputra Mahmud
Throughout his life trajectory, Yogi is always passionate about teaching and developing students’ ability and proficiency in English. He holds a Bachelor of English Education degree from the Indonesia University of Education. After completing his bachelor’s degree, he started his career as an English teacher at Pribadi Bilingual Boarding School, Bandung. His continuous passion led him to pursue his Master of TESOL (Teaching English to Speakers of Other Languages) at Monash University, Australia, with a scholarship from Indonesia Endowment Fund for Education (LPDP). Yogi is now based in Cikarang, West Java, as an English lecturer at President University. He has been actively writing several articles in nationally and internationally accredited journals. His main research interests include Teacher Professional Development, Teacher Education, Teaching Methodology, and English productive skills.