Rahasia Beasiswa dan Bantuan Keuangan di Jepang

0
1429

Hi pembaca IM, untuk kalian semua yang ingin melanjutkan universitas di Jepang kali ini saya akan membahas hal yang sangat penting: beasiswa dan bantuan keuangan. Nah, ketika kalian mendengar “beasiswa”, kalian mungkin berpikir tentang beasiswa yang sudah didapatkan sebelum kedatangan kalian ke Jepang. Namun, yang tidak banyak diketahui adalah universitas Jepang juga menyediakan banyak sekali opsi beasiswa dari institusi swasta dan pembebasan uang sekolah yang hanya bisa didaftarkan setelah kalian pindah ke Jepang dan terdaftar di universitas di Jepang.

Kalian bisa riset informasi beasiswanya lebih lanjut, tapi ternyata masih banyak informasi yang tidak bisa kita dapatkan di internet. Untuk itu, saya telah berbicara dengan tiga mahasiswa Indonesia di Jepang: Kevin Mandala Adriansyah (S1), Ade Susanto (S2), dan Vincent Irawan (S3) mengenai pengalaman akademis dan aspirasi mereka di Jepang.

Beasiswa MEXT/Monbukagakusho jalur Embassy Recommendation (G to G) dan jalur University Recommendation (U to U) bagi mahasiswa S2 dan S3.

Ade Susanto S2 Nagoya University
Ade Susanto | S1 Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya | S2 Graduate School of Education and Human Development, Nagoya University | Research: Intercultural Adjustment, Intercultural Competence & Sensitivity | Penerima beasiswa MEXT/Monbukagakusho (G to G)

“Saya mau share satu tips tentang Monbukagakusho G to G yang gak kalian dapatkan di internet, yaitu waktu kalian sebagai research student itu sebenarnya sangat krusial dalam prospek akademis nantinya. Walaupun tidak ada tuntutan akademis yang signifikan karena kita hanya diwajibkan mengikuti satu kelas seminar (ゼミ、”zemi”) per semester, namun hampir seluruh kelas zemi dilakukan dengan bahasa Jepang sebagai pengantar. Jadi jika kalian ingin mengikuti ujian masuk S2 universitas tersebut, kelas zemi ini adalah tolak ukur yang signifikan untuk menilai kemampuan bahasa Jepang kalian.

Sebaliknya, jika kalian tidak perlu mengikuti ujian masuk S2 dengan bahasa Jepang dan/atau juga belum menguasai bahasanya dengan lancar, kalian mungkin bisa berpartisipasi dengan bahasa Inggris di kelas. Namun, hal ini juga berarti kalian tidak mendapat manfaat 100% dari partisipasi kelas zemi tersebut. Selain itu, hanya karena kalian mendapat beasiswa ini, tidak berarti kalian akan dituntun untuk bisa lebih cepat menguasai bahasa Jepang, kalian harus bisa mengatur program belajar kalian secara mandiri dan pihak Monbukagakusho hanya akan menyediakan fasilitasnya. Terlebih lagi untuk mahasiswa social science yang tidak banyak aktivitas lab seperti mahasiswa natural science, mungkin akan terasa hidup kalian kekurangan struktur di Jepang. Maka dari itu, agar masa tenggang sebagai research student ini tidak terbuang percuma, saya sarankan kalian untuk lebih proaktif untuk planning bagaimana cara kalian memanfaatkan waktu kalian di Jepang, terlepas apapun tujuan kalian di sini.”

Vincent Irawan | S1 Fakultas Teknik Metalurgi dan Material, Universitas Indonesia | S2 dan S3: Department of Materials Science and Engineering, Tokyo Institute of Technology | Research: Tissue Engineering | Penerima beasiswa MEXT/Monbukagakusho (U to U)
Vincent Irawan | S1 Fakultas Teknik Metalurgi dan Material, Universitas Indonesia | S2 dan S3: Department of Materials Science and Engineering, Tokyo Institute of Technology | Research: Tissue Engineering | Penerima beasiswa MEXT/Monbukagakusho (U to U)

“Satu hal yang membuat saya kaget pada saat saya sedang berpikir untuk melanjutkan S2 di luar negeri adalah, hanya saya yang mendaftar ke Monbukagakusho U to U di Universitas Indonesia. Tidak ada mahasiswa lain yang mendaftar, padahal syarat dan benefit-nya realistis bagi mahasiswa Indonesia. Poin plus nya Monbukagakusho U to U di universitas saya sekarang adalah beasiswanya mencakup S2 dan S3, bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris, dan kita bisa langsung mulai universitas tanpa perlu menjadi research student dulu seperti G to G.

Menurut saya beasiswa Monbukagakusho U to U ini sangat menarik bagi siapapun yang tertarik berkarir di bidang akademisi. Mengingat banyaknya universitas Jepang yang mencoba meluaskan branding mereka di kalangan mahasiswa asing, universitas Jepang pun sekarang mencari calon mahasiswa PHD yang memiliki kemampuan bahasa asing (terutama bahasa Inggris) untuk menjadi Assistant Professor. Jika kalian masuk ke program ganda S2 dan S3, kalian akan menghabiskan waktu minimal 5 tahun di Jepang, belum lagi lagi jika kalian meniti karir di Jepang setelah PHD. Kalian memang bisa mengambil kelas bahasa Inggris, namun jumlahnya memang tidak sebanyak kelas bahasa Jepang dan ilmu dalam lab juga akan ada yang lost in translation jika seluruhnya harus di terjemahkan ke bahasa Inggris. Maka dari itu, justru sangat penting bagi calon mahasiswa untuk memiliki tingkat profisiensi bahasa Jepang yang setara level akademis maupun bisnis.”

Pembebasan uang sekolah dan beasiswa perusahaan swasta bagi mahasiswa S1.

Kevin Mandala Adriansyah | S1 Fakultas International Relations, University of Shizuoka Penerima beasiswa Banjo Foods dan Shizuoka Bank
Kevin Mandala Adriansyah | S1 Fakultas International Relations, University of Shizuoka | Penerima beasiswa Banjo Foods dan Shizuoka Bank, serta pembebasan uang sekolah berturut-turut dari University of Shizuoka

“Monbukagakusho memang tidak menyediakan kuota tinggi untuk beasiswa S1 dan mahasiswa yang sudah memiliki visa residen Jepang karena kuliah bahasa (日本語学校, “nihongo gakkou”) tidak diperbolehkan untuk mendaftar. Namun, saya sendiri ingin melanjutkan kuliah di Jepang tanpa memberatkan biaya ke orang tua saya. Setelah networking di acara Festival Indonesia di Shizuoka dengan mahasiswa Indonesia lainnya, saya jadi tahu bahwa ada opsi untuk menggabungkan dua sumber bantuan keuangan: pembebasan uang sekolah yang umum diberikan universitas negeri di Jepang dan beasiswa tambahan (uang bulanan) dari perusahaan swasta. Dengan syarat yang realistis dan masuk akal, kita bisa mendapat pembebasan usang sekolah sebesar 100% atau 50%. Selain itu, jumlah beasiswa yang diberikan oleh perusahaan swasta juga beragam, dari IDR 3,500,000-IDR 12,000,000 per bulannya. Setiap semesternya kita memang akan diminta untuk mengikuti beberapa kegiatan perusahaan atau memberikan laporan dalam bentuk esai atau presentasi program akademis, namun hal itu justru membantu kita untuk mengasah kemampuan bahasa Jepang kita.

Beasiswa perusahaan di Jepang tidak memberikan ikatan dinas. Tapi saya kenal beberapa mahasiswa asing juga yang dulunya mendapatkan beasiswa dari perusahaan tersebut dan karena mereka lebih paham dengan kegiatan bisnis dan budaya perusahaan tersebut, mulai bekerja di perusahaan itu setelah lulus kuliah. Terlepas dari pembebasan uang sekolah dan beasiswa perusahaan, banyak sekali mahasiswa Indonesia yang bekerja part-time sambil sekolah di sini karena gaji yang atraktif dan jadwal yang tidak membebani kegiatan kuliah kita. Jadi, tingkat financial security mahasiswa asing di Jepang sebenarnya cukup tinggi, lho.”

Last words

“Sebenarnya saya sempat gagal di ujian S2 pertama saya, dari 13 orang peserta tes hanya 3 orang yang lulus. Bayangkan kita harus bisa mengerti istilah khusus ilmu psikologi dalam bahasa Jepang, yang bahkan sulit untuk saingan saya yang orang Jepang lainnya. Universitas saya untungnya mengadakan ujian kedua 3 bulan setelahnya, tapi universitas lain juga ada yang ujian setahun sekali. Jadi harus dipikir baik-baik sebelum memutuskan untuk mengambil beasiswa ini” – Ade

“Mahasiswa Indonesia sebenarnya memiliki reputasi yang baik di Jepang. Semakin banyaknya jumlah mahasiswa Indonesia di Jepang, semakin banyak juga interaksi langsung antara kita semua dan masyarakat Jepang pada umumnya. Ini menjadi kesempatan baik kita semua untuk mencari tahu peluang apa saja yang bisa kita dapatkan di Jepang setelah lulus kuliah.” – Vincent

“Mungkin masih banyak orang yang tidak menyadari ini namun Pemerintah Provinsi Bandung sudah memiliki hubungan kerja sama yang erat dengan Pemerintah Prefektur Shizuoka di industri strategis, seperti manufaktur maupun wisata. Saya merasa ini kesempatan kerja yang sangat baik bagi mahasiswa Indonesia yang memiliki pengalaman belajar di Jepang. Menurut pandangan saya, hubungan kerja sama ini akan semakin meningkat, sehingga belum terlambat bagi calon mahasiswa Indonesia lainnya yang tertarik untuk belajar ke Jepang, khususnya Shizuoka.” – Kevin