Tips Berkuliah di Selandia Baru: Makanan (Bagian II)

0
600
Berbelanja bahan-bahan makanan sehari-hari di supermarket ritel, PAK’nSAVE
Berbelanja bahan-bahan makanan sehari-hari di supermarket ritel, PAK’nSAVE

Setelah mengulas tentang akomodasi di Selandia Baru pada artikel bagian I bulan Agustus lalu, pada artikel bagian II ini Riri akan membahas seputar makanan di negara tersebut yang tentu tidak kalah pentingnya. Berdasarkan pengalaman Riri, makanan turut menjadi faktor penentu besar atau kecilnya biaya hidup bulanan. Riri akan membahas beberapa tips dan informasi seputar makanan ketika menjalani studi di Selandia Baru sebagai referensi bagi pembaca yang akan atau sedang berkuliah di Selandia Baru.

Ingin membawa stok makanan dari kampung halaman? Pahami aturan dulu ya!

Pelajar yang akan berangkat studi ke luar negeri untuk pertama kalinya cenderung ingin membawa seisi rumahnya, terutama masakan ibu atau makanan khas kampung halaman. Konsepsi ‘biar tidak rindu rumah’ membuat para pelajar berpikir keras bagaimana caranya bisa membawa makanan dalam jumlah banyak untuk bertahan di beberapa bulan pertama hidup di negara tempat studi. Apakah ini tindakan yang benar? Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat menjadi benar maupun salah. Selandia Baru memiliki aturan yang sangat ketat dalam hal makanan apa saja yang boleh dibawa masuk. Seluruh barang yang dibawa masuk ke Selandia Baru dan digolongkan sebagai barang berisiko harus dilaporkan kepada petugas bea cukai. Hampir semua jenis makanan, baik mentah maupun yang sudah dimasak, dikategorikan berisiko oleh Pemerintah Selandia Baru dan harus dilaporkan kepada petugas.

Dikarenakan petugas bea cukai tidak memperbolehkan olahan daging untuk dibawa masuk, seorang teman saya memutuskan untuk memakan seluruh rendang buatan ibunya tersebut sebelum melewati pos bea cukai daripada rendang tersebut berakhir di tempat sampah. Abon sapi yang saya bawa dari Indonesia pun pernah ditahan oleh petugas karena adanya kandungan daging. Dalam beberapa kesempatan, teman-teman yang membawa obat anti masuk angin cair dengan gambar madu pada bungkusnya ditahan petugas bea cukai. Namun demikian, obat yang sama tetapi tidak ada gambar madu pada bungkusnya tetap diperbolehkan masuk. Hal ini dikarenakan Selandia Baru tidak memperbolehkan produk madu dari luar negeri masuk ke negaranya.

Barang-barang berisiko yang harus dilaporkan kepada petugas bea cukai Selandia Baru
Barang-barang berisiko yang harus dilaporkan kepada petugas bea cukai Selandia Baru

Lantas makanan seperti apa yang boleh dibawa? Berdasarkan pengalaman saya, makanan kering dan tidak mengandung produk hewani seperti kering tempe, kerupuk, bumbu pecal dan sambal kentang diperbolehkan masuk ke Selandia Baru. Kamu juga harus memahami isi kopermu dengan baik karena apabila tidak melaporkan barang yang seharusnya dilaporkan akan terkena denda. Sebagai saran, sebaiknya seluruh makanan digabungkan kedalam satu koper. Apabila diperiksa oleh petugas, kamu tidak perlu membongkar seluruh isi koper. Perlu diketahui juga, meskipun telah sukses melewati petugas bea cukai dan mesin x-ray, setelahnya masih akan ada beberapa pertugas dengan anjing pelacak yang akan mengendus barang bawaan pengunjung untuk memastikan tidak ada barang yang dilarang masuk ke Selandia Baru.

Masak makananmu sendiri, lebih sehat dan hemat!

Bagi pelajar yang sering membeli makan di luar rumah, pengeluarannya untuk makanan akan lebih besar dibandingkan pelajar yang memasak sehari-hari. Untuk sarapan, harga secangkir kopi atau teh dan sepotong muffin berkisar antara $5 – $7. Untuk makan siang dan makan malam, masing-masing menghabiskan biaya sekitar $8 – $15 per porsi. Apabila kamu ingin makan makanan cepat saji seperti McDonald, KFC ataupun Burger King, kamu akan menghabiskan sekitar $6 – $15 per porsi. Dapat disimpulkan bahwa kamu membutuhkan biaya sekitar $147 – $259 per minggu jika kamu memutuskan untuk selalu membeli makananmu di luar. Lantas berapa biaya yang dikeluarkan jika memasak sendiri? Berdasarkan pengalaman pribadi, saya menghabiskan hanya sekitar $30 – $50 per minggu untuk membeli seluruh bahan masakan sarapan (contohnya roti, selai, mentega, oatmeal, muesli dan buah), makan siang dan makan malam (contohnya ayam, udang, cumi-cumi, daging, telur, beras, kentang, sayuran dan buah-buahan). Tidak hanya biaya yang dikeluarkan lebih murah, kamu juga memiliki kontrol penuh atas jenis makanan yang masuk ke dalam tubuhmu. Namun, saya tetap menjadwalkan 1-2 kali dalam seminggu untuk makan di luar untuk sekedar menyegarkan pikiran dan menghabiskan waktu bersama teman-teman.

Kamu harus mempertimbangkan sebaik mungkin alokasi waktu untuk belanja dan memasak. Jangan sampai kegiatan tersebut mengganggu waktu belajar kamu atau pola makan menjadi tidak teratur dikarenakan tidak sempat memasak. Berikut ini adalah tips mengalokasikan waktu dengan baik:

1) Buatlah daftar belanjaan tetap (yang tidak akan berubah seperti beras, oatmeal, susu dan roti) dan daftar belanjaan variatif (yang dapat berubah tergantung selera seperti udang, ayam, daging, telur dan ikan)

2) Jadwalkan belanja hanya 1 bulan sekali dengan biaya tetap. Saya dulu belanja setiap akhir pekan dengan biaya sekitar $30-50 per minggu

3) Apabila kamu tinggal bersama teman, coba diskusikan jika kalian bisa belanja dan memasak bersama maupun bergantian yang tentu akan menghemat biaya dan waktu

4) Masaklah lauk yang bisa bertahan 2-3 hari sehingga tidak perlu memasak setiap hari. Contohnya masakan seperti rendang dan ayam ungkep. Namun demikian, sayur harus dimasak setiap hari untuk menjaga kesegarannya

5) Manfaatkan fasilitas dapur di kampus untuk menghangatkan makananmu menggunakan microwave.

Kebingungan para pelajar yang belajar memasak makanan sehari-hari
Kebingungan yang biasa dialami para pelajar yang belajar memasak makanan sehari-hari

Apakah pernah terlintas di pikiranmu, bahwa “Saya tidak bisa memasak. Bagaimana saya bisa bertahan hidup?” Kamu tidak sendirian! Saya pun sebelumnya tidak bisa memasak dan sangat kesulitan mengidentifikasi jenis-jenis bumbu dapur, bagaimana mengupas dan menghilangkan amis udang, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merebus telur, dan berkali-kali masakan saya gagal. Moto saya pada waktu itu adalah “Yang penting bisa dimakan, enak atau tidak urusan belakangan”. Teruslah mencoba! Percayalah, memasak hanya membutuhkan sedikit kecerdasanmu. Setelah kamu menjalani hal ini beberapa saat dan merasakan manfaatnya seperti mendapatkan makanan yang lebih sehat dan tabungan yang lebih banyak untuk jalan-jalan, maka seluruh perjuangan kamu untuk belajar memasak makananmu sendiri akan terbayar. Ibu saya memuji bahwa kemampuan memasak saya saat ini jauh lebih baik dibandingkan sebelum pergi ke Selandia Baru. Terlebih saya sebelumnya memang sama sekali tidak bisa memasak. Kalau saya saja bisa, masa kamu tidak?

Dimanakah kita bisa membeli bahan-bahan masakan sesuai keinginan?

“Saya ingin masak masakan Indonesia, apakah bahan-bahannya tersedia di Selandia Baru?” Kekhawatiran seperti ini kerap dialami pelajar yang baru tiba dan/ atau sedang persiapan akan berangkat. Padahal ada banyak toko Asia yang menjual bumbu masakan yang kita butuhkan, seperti Tai Ping dan Lim Chhour di Auckland, Wellmart Asian Food Market di Wellington, New Save Asian Fresh Supermarket di Hamilton, Big T Asian Supermarket dan Kosco di Christchurch, Asian Groceries di Dunedin dan berbagai toko Asia lainnya yang informasinya bisa kamu cari di internet atau dari komunitas Indonesia (dan Asia) di Selandia Baru. Oleh karena itu, kamu tidak perlu membawa terasi, saos sambal, kecap ataupun tempe karena semuanya tersedia di supermarket. Saya pernah memasak semur ayam bumbu bali yang menunya sangat rumit. Di toko-toko Asia tersebut saya dengan mudah menemukan cengkeh, kayu manis, kapulaga, bunga lawang dan jintan.

Mempersiapkan daftar belanja sebelum membeli bahan masakan adalah salah satu kunci dari efektifitas proses memasak
Mempersiapkan daftar belanja sebelum membeli bahan masakan adalah salah satu kunci dari efektifitas proses memasak

Untuk membeli bahan-bahan masakan yang lebih umum seperti sayur, buah, daging, roti, mentega, sereal, beras dan sebagainya, kamu bisa mengunjungi supermarket ritel seperti Countdown, PAK’nSAVE,  dan New World yang tersebar di berbagai wilayah Selandia Baru. Seperti yang kamu ketahui, ekspor terbesar Selandia Baru adalah produk susu, termasuk keju dan yogurt, jadi harga jenis makanan ini cenderung murah dan bisa didapatkan dengan mudah. Harga daging, telur dan ayam yang dijual pada supermarket ritel ini bisa dibilang terjangkau dengan harga yang relatif stabil. Mereka juga menjual daging dan ayam yang telah dibumbui. Apabila kamu sedang tidak punya waktu untuk memasak yang rumit, daging bumbu sangat efektif karena hanya perlu digoreng atau dipanggang saja. Untuk membeli makanan laut seperti ikan, udang, cumi-cumi dan kepiting, kamu juga bisa membeli di toko-toko ikan yang ada di wilayahmu. Bagi mahasiswa muslim, kamu bisa mendapatkan informasi tentang makanan halal di Selandia Baru pada artikel saya untuk Indonesia Mengglobal pada bulan Juli 2017.

Jika kamu peminum ataupun perokok, penting untuk tahu informasi ini..

Untuk membeli minuman beralkohol dan rokok, kamu harus berusia setidaknya 18 tahun dan harus dibuktikan dengan kartu identitas. Kamu juga perlu menunjukkan kartu identitas untuk masuk ke bar, klub dan tempat karaoke meskipun kamu tidak membeli minuman beralkohol di tempat tersebut. Kartu identitas yang diterima adalah paspor, 18+ Card dan NZ Driving License. Beberapa pelajar berasumsi bahwa mereka dapat menggunakan kartu pelajar pasca sarjana untuk mengunjungi bar yang ada di universitas, misalnya Shadows yang ada di komplek University of Auckland. Saya harus bilang bahwa ini adalah asumsi yang salah. Meskipun secara logika yang memiliki kartu pelajar pasca sarjana pasti sudah berusia di atas 18 tahun, kamu tetap harus menunjukkan salah satu dari tiga kartu identitas tersebut. Hal ini dikarenakan sebagai pelajar berwajah Asia kita cenderung dianggap berusia lebih muda dari yang sebenarnya.

Semoga beberapa tips tentang makanan di Selandia Baru ini bermanfaat untukmu ya!

NB: Seluruh nominal uang pada artikel ini menggunakan New Zealand Dollar.

Sumber foto: Flickriver, Lifehacker, ChristchurchTop10, dan TheLala

SHARE
Previous articleBelajar Kebijakan Publik di Negara Tetangga, Kenapa Harus Gengsi?
Next articleTips on Selecting Universities and Field of Study (Part 2)
Siti Octrina Malikah, commonly called Riri, is currently a Case Manager at PathFinders Limited Hong Kong which focus on helping vulnerable migrant mothers and children. In 2017, she completed her Master of Public Policy at the University of Auckland funded by Indonesia Endowment Fund for Education. She has 3 years of experience working in UN Migration Agency, IOM Indonesia, to manage various development-related projects and advocacy, in particular, related to counter trafficking and labour migration initiatives. She also completed her MPP internship at IOM Hong Kong where she provided assistance to the victims of forced labour and sexual exploitation. Do not hesitate to contact her via email sitioctrina@gmail.com