Riri, Mahasiswi Muslim di Selandia Baru

Mahasiswa Muslim di Selandia Baru: Tips Makanan Halal

Mahasiswa/i Muslim yang berkuliah di luar negeri terkadang merasa kesulitan dalam mencari makanan halal maupun penyedia bahan makanan yang halal. Riri berbagi pengalamannya dalam mencari kedua hal tersebut di Wellington, Selandia Baru.

Sebagai seorang Muslim, sebelum berangkat ke Selandia Baru saya telah dititipkan pesan oleh keluarga untuk berhati-hati dalam membeli makanan selama berkuliah. Ketika berkuliah di negara yang notabene sangat multikultural dan bukan mayoritas Islam, untuk mendapatkan makanan halal tentunya tidak semudah ketika kita berada di Indonesia. Bukan hanya harus menghindari daging yang sudah jelas haram, misalnya babi, tetapi kita juga harus menghindari daging sapi, kambing dan ayam yang tidak disembelih dengan cara Islam. Pada awalnya, saya merasa kesulitan menjadi mahasiswa muslim yang menjaga kualitas makanannya di Auckland. Saya sempat sembarangan membeli makanan di restoran yang tidak ada sertifikasi halal atau membeli daging ayam tanpa tahu apakah ayam tersebut halal atau tidak. Seiring berjalannya waktu, saya tidak lagi kesulitan untuk menjaga ke-halal-an makanan saya. Berangkat dari pengalaman inilah saya merasa artikel khusus tentang makanan halal di Selandia Baru ini cukup penting.

Mayoritas universitas ternama di Selandia Baru terletak di kota-kota besar seperti Auckland, Wellington dan Christchurch. Oleh karena itu, persebaran mahasiswa muslim asal Indonesia pun utamanya berada di kota-kota tersebut. Tidak perlu khawatir, kamu tidak akan kesulitan untuk menemukan restoran yang menjual makanan halal dengan menu yang cukup variatif. Terdapat banyak restoran penyedia makanan Indonesia, Malaysia, Tiongkok, Timur Tengah, India dan Thailand yang mempunyai sertifikasi halal. Selain itu, banyak restoran halal yang dimiliki langsung oleh masyarakat muslim setempat. Namun, tidak sedikit juga restoran halal yang dimiliki masyarakat non-muslim yang sudah memiliki sertifikasi halal.

Sebagai kota paling maju di Selandia Baru, Auckland menawarkan beragam pilihan restoran halal, antara lain Kebab City, Zezenya, Salateen dan Ayutthaya Thai Food. Wellington sebagai ibukota Selandia Baru tentunya memiliki cukup banyak varian restoran halal seperti Marrakesh Cafe, Mughlai Curry Corner, Delhi Brasserie, Kipp Cafe, Istana Malaysia, Garam Masala dan Nando’s. Christchurch yang merupakan salah satu pusat wisata di Selandia Baru juga memiliki banyak restoran halal, misalnya Taste of Bengal, Casbah, Mediterranean Taste, It’s Indi, Nomads Ethnic Foods, Taste of Bengal, Nando’s Currytime dan Thai Talay. Perlu diketahui juga bahwa ada kalanya restoran yang menjual makanan halal tetap menjual minuman beralkohol beserta makanan lainnya yang tidak halal. Maka dari itu, jangan ragu untuk memastikan ke-halal-an pesanan kamu kepada pemilik atau pelayan restoran. Mereka akan memberikan penjelasan dengan senang hati.

Bersama Komunitas Muslim di Wellington

Bersama Komunitas Muslim di Wellington

Secara pribadi, saya lebih menyarankan untuk memasak makanan sehari-hari. Selain kualitas kehalalan makanan yang kita konsumsi akan lebih terjaga, kita juga bisa sangat berhemat. Satu porsi makanan yang dibeli di restoran biasanya berkisar NZ$8-15, sementara biasanya saya hanya menghabiskan NZ$40-50 untuk membeli bahan masakan selama seminggu. Bagi kamu yang memutuskan untuk memasak makanan sendiri, bahan-bahan makanan seperti daging sapi dan ayam halal sangat mudah untuk didapatkan kota-kota besar tersebut. Ada banyak toko-toko kecil yang tersebar di berbagai sudut kota yang secara khusus menjual daging halal. Tidak hanya toko-toko kecil, jaringan supermarket besar seperti Countdown dan PaknSave juga menjual daging merek tertentu misalnya Brinks dan Tegel yang sudah mendapat sertifikasi halal oleh Federation of Islamic Associations of NZ Inc (FIANZ) atau New Zealand Islamic Development Trust (NZIDT). Ada banyak warga Indonesia yang juga menjual makanan Indonesia yang tentunya halal dengan harga lebih murah daripada toko-toko lokal, seperti bakso, tempe, pempek, dan makanan khas Indonesia lainnya.

Jika butuh informasi lebih lanjut, kamu bisa mengunjungi website FIANZ dan NZIDT atau menghubungi nomor yang tertera di situ resmi mereka. Kamu juga bisa memanfaatkan jaringan warga muslim asal Indonesia yang ada di kota tempatmu berkuliah, misalnya Himpunan Umat Muslim Indonesia Auckland (HUMIA) di Auckland dan Umat Muslim Indonesia (UMI) di Wellington. Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) setempat pun biasanya memberikan informasi ini kepada mahasiswa baru melalui pertemuan awal semester yang mereka inisiasi dan melalui buku panduan yang dapat diunduh gratis di laman Facebook ataupun situs resmi mereka.

Seperti kata ungkapan “kamu adalah apa yang kamu makan”, makanlah makanan sehat dan halal!




===========================================
Siti Octrina Malikah, commonly called Riri, is currently studying public policy at the University of Auckland funded by Indonesia Endowment Fund for Education. She has 3 years of experience working in UN Migration Agency, IOM Indonesia, to manage various development-related projects and advocacy, in particular, related to counter trafficking and labour migration initiatives. She also completed her MPP internship at IOM Hong Kong where she provided assistance to the victims of forced labour and sexual exploitation. A few years back, she received a full undergraduate scholarship from PT Indika Energy to study International Relations at Paramadina University where she was honoured as the Best Graduate and Best Bachelor Thesis by the department. She was also trusted to be the National Presidium of Communication Forum for Indonesia’s International Relations Students (FKMHII) in 2011-2012. Do not hesitate to contact her via email sitioctrina@gmail.com
Posts | Facebook | Twitter | LinkedIn