Lagom, Jantelagen, dan Kolektivisme: Pelajaran Hidup Dari Budaya Swedia

0
232
Di salah satu stasiun kereta bawah tanah di Stockholm (dokumentasi pribadi)

Saat berdomisili di luar negeri, kita tentunya akan berinteraksi dengan budaya setempat. Di awal, gegar budaya atau culture shock adalah hal yang lumrah. Namun, ada baiknya apabila kita bisa mempelajari dan mengambil hikmah dari budaya asing tersebut. Di artikel ini, Content Director Indonesia Mengglobal Arnachani Riaseta, yang saat ini berdomisili di Swedia, berbagi beberapa pelajaran yang diambilnya dari budaya masyarakat Swedia.

***

Apabila kalian pernah mengunjungi toko atau melihat mebel IKEA, mungkin satu kata yang terbayang di benak kalian adalah simple. Setelah lebih dari 10 bulan tinggal di Swedia, saya mempelajari bahwa desain produk IKEA ternyata sangat merepresentasikan budaya dan cara berpikir masyarakat Swedia: simple, sederhana, tidak berlebihan. Selama di Swedia, saya pun mulai belajar dan mengadopsi beberapa prinsip budaya masyarakat Swedia, yaitu hidup dengan lagom, sifat jantelagen dalam kehidupan sosial, dan menghargai pendapat orang lain saat mengambil keputusan serta mengutamakan kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadi. Di bawah ini, saya akan menjelaskan prinsip-prinsip tersebut dan merefleksikan pelajaran yang bisa diambil dari budaya Swedia.

Prinsip-prinsip utama budaya Swedia: Lagom dan Jantelagen

Kata lagom seringkali saya dengar sejak saya mulai bergaul dengan teman-teman asal Swedia. Ketika saya bertanya mengenai artinya, jawaban mereka kurang lebih seperti ini: “tidak kekurangan dan tidak berlebihan.” Konsep ini memang awalnya tidak terlihat terlalu asing, dan agak sulit untuk orang non-Swedia untuk memahami keistimewaannya. Tapi, setelah beberapa bulan tinggal di Swedia, saya pun mulai mengerti betapa lagom-nya masyarakat Swedia dalam cara berpikir mereka. Beberapa contoh situasi yang bisa dikatakan lagom adalah:

  • Makan hingga cukup kenyang, tapi tidak begah
  • Kopi yang hangat, tidak dingin tapi tidak terlalu panas
  • Membeli bahan makanan yang cukup, sehingga tidak menyisakan sampah makanan 
  • Berteman dengan orang yang kita sukai saja, tidak terlalu sedikit atau terlalu banyak
  • Pesta pernikahan yang hanya mengundang teman dan saudara, sekitar 50-70 tamu
  • Bangga atas sebuah pencapaian, tapi tidak pamer secara berlebihan
Lagom1
Tipikal desain interior di rumah-rumah Swedia sangatlah lagom (Foto oleh Jarek Ceborski, diunduh dari Unsplash)

Konsep lagom juga kerap kali dikaitkan dengan konsep lainnya, yaitu jantelagen, sebuah budaya dimana semua orang harus mengutamakan kepentingan kolektif dibanding kepentingan pribadi. Di Swedia, jarang adanya tokoh-tokoh dengan karakter berlebihan seperti misalnya Donald Trump di Amerika Serikat. Masyarakat Swedia secara kolektif rata-rata tidak suka berbangga diri atau memposisikan dirinya lebih hebat dari orang lain. Menurut budaya lagom dan jantelagen, semua orang sama derajatnya, sehingga tidak baik apabila seseorang menganggap dirinya lebih hebat dari orang lain.

Foto oleh Ninni Andersson/Government Offices of Sweden diunduh dari www.government.se
Karena didasari prinsip jantelagen, semua acara publik di Swedia, termasuk pengumuman pemerintah mengenai penanganan pandemi COVID-19, selalu dilakukan dengan minimal 2 orang pembicara — tidak ada satu orang yang lebih penting dari orang lain (Foto oleh Ninni Andersson/Government Offices of Sweden diunduh dari www.government.se)

Beradaptasi dengan budaya Swedia yang (ternyata) sangat kolektif

Sebelum saya berangkat untuk tinggal di Swedia, saya beranggapan bahwa budaya Swedia (seperti kebanyakan budaya Barat), sangat individualis. Anggapan inilah yang membuat saya cukup kaget saat mempelajari betapa kolektifnya kehidupan masyarakat di Swedia. Memang, unsur kehidupan individualis bisa kita lihat dalam ranah pribadi kehidupan masyarakat Swedia. Misalnya, masyarakat Swedia sangat anti mengomentari atau bertanya tentang penampilan (seperti berat badan), status pernikahan, dan orientasi seksual orang lain. Selain itu, rata-rata setiap orang yang berusia 18 tahun keatas memiliki tempat tinggalnya sendiri. Tapi, dalam ranah publik, kebanyakan peraturan dan cara berpikir di Swedia sangatlah kolektif.

Sebagai contoh, di Swedia organisasi kemahasiswaan dan asosiasi profesi (labor union) sangatlah penting kedudukannya. Di universitas saya, organisasi mahasiswanya menduduki satu lantai penuh, dan memiliki tugas yang penting dalam menghubungkan aspirasi mahasiswa kepada pihak kampus dan pihak eksternal. Para dosen pun cukup tunduk terhadap masukan dari organisasi mahasiswa, dan pihak kampus akan selalu meminta persetujuan organisasi tersebut sebelum membuat perubahan apapun dalam proses pembelajaran. Di tempat kerja, upah minimum, periode cuti, dan syarat minimum asuransi semua dinegosiasikan antara perusahaan dengan asosiasi profesi. Selain itu, saya pun harus memperhatikan aturan dari asosiasi pemilik apartemen di kompleks tempat saya tinggal, karena merekalah yang berhak menentukan peraturan-peraturan di gedung dan berhak untuk menyetujui atau menolak penyewa baru sebuah apartemen.

Pemerintah Swedia cukup terkenal di dunia dalam hal kesejahteraan sosial. Bagaimana tidak, penduduk Swedia bisa menikmati pendidikan gratis dari usia 2 tahun sampai perguruan tinggi, dan menikmati layanan kesehatan dengan gratis. Mahasiswa Swedia juga bisa mendapatkan bantuan uang dari pemerintahnya saat berkuliah (bukan pinjaman, tapi semacam gaji untuk membantu membayar sewa dan membeli makanan saat mereka sibuk berkuliah). Semua ini dimungkinkan oleh persentase pajak yang cukup tinggi bagi masyarakatnya (pajak penghasilan sebesar 30-60%). Dikarenakan persentase pajak yang tinggi ini pula, masyarakat Swedia sangat peduli akan semua keputusan yang diambil oleh pemerintahnya. Bukan hanya soal pemilu, tapi berbagai organisasi kemasyarakatan (contohnya seperti yang saya sebutkan diatas) sangat dilibatkan dalam semua pengambilan keputusan di ranah publik.

Nah, proses pengambilan keputusan secara kolektif ini yang lumayan menjadi culture shock bagi saya di awal perkuliahan di Swedia. Saya sedang menempuh program S2 jurusan bisnis dan manajemen, sehingga dalam setiap mata kuliah pasti selalu ada tugas kelompok. Sebelumnya, saya terbiasa dalam kerja kelompok dimana semua orang mendapat pembagian tugas, lalu di akhir akan disatukan dan dibahas bersama. Tapi kerja kelompok di Swedia tidaklah seperti itu. Semua anggota kelompok sebaiknya saling kenal karena semua keputusan dalam kerja kelompok tersebut harus diambil secara konsensus. Artinya, semua anggota kelompok harus menyetujui setiap keputusan yang diambil. Dalam mempersiapkan sebuah presentasi 30 menit di kelas, misalnya, saya harus duduk (atau bertemu secara daring) bersama semua anggota kelompok dan membahas presentasi tersebut selama 2 kali 8 jam (2 hari penuh dari pagi sampai sore). Bagi saya hal ini awalnya lumayan melelahkan, namun kelamaan saya merasakan bahwa semua anggota kelompok menjadi sangat berkomitmen kepada hasil presentasinya dan tidak ada yang merasa dikucilkan. Dari hal ini pun saya belajar banyak cara mengutarakan dan mendengar pendapat yang baik.

Pemandangan di pusat kota Stockholm (Dokumentasi pribadi)
Pemandangan di pusat kota Stockholm (dokumentasi pribadi)

Pelajaran hidup dari budaya Swedia

Bagi saya, ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari budaya lagom, jantelagen, dan kolektivisme. Pertama, saya menyadari pentingnya membatasi diri dalam berbangga atas sebuah pencapaian hidup. Bangga boleh, asalkan masih dalam level lagom, dan tidak membuat besar kepala sehingga merasa diri lebih hebat daripada orang lain. Kedua, perlakukanlah orang lain dengan setara, siapapun itu dan apapun latar belakang mereka. Saya pun mulai mengadopsi cara berfikir Swedia yang tidak menganggap diri lebih spesial dari orang lain. Ketiga, saya belajar untuk lebih menghargai pendapat orang lain dalam mengambil sebuah keputusan bersama. Ya, kira-kira intinya di Swedia saya belajar untuk menjadi tidak sombong!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here