Arsitek-tur (Bagian Pertama)

0
228

Begitulah saya menyebut liburan musim dingin pertama sejak menjadi mahasiswa di School of Architecture UIUC (University of Illinois at Urbana-Champaign). Tujuan utama perjalanan ini adalah mengunjungi bangunan-bangunan yang selama ini hanya dipelajari lewat layar kaca dan lembar kertas. Melihatnya secara langsung dengan mata telanjang. Kalau meminjam istilah yang sangat arsitektural, “mengalami ruang”.

Sejak dulu kuliah arsitektur tingkat sarjana di Universitas Indonesia (UI), nama-nama arsitek seperti Frank Lloyd Right, Eero Saarinen, Mies Van Der Rohe sudah tidak asing lagi. Saya semakin diajak untuk mengenal lebih jauh karya-karya mereka melalui diskusi dengan profesor mata kuliah teori arsitektur saya di kampus. Rasa penasaran tentang apa rasanya mengalami ruang-ruang karya arsitek ternama di masa lalu, terlebih dengan pengetahuan tentang konteks waktu dan tren perancangan saat itu semakin mendorong keinginan saya untuk bisa hadir langsung di objek-objek arsitektural ternama itu.

Tur arsitektur saya dimulai dari Boston. Cuacanya saat itu sejuk, namun terkadang dingin menusuk. Tujuan utama saya adalah kampus Massachusetts Institute of Technology (MIT). Alasannya sederhana, dalam satu kampus, saya bisa “menyapa” lima bangunan sekaligus. Ini kali pertama saya benar-benar meresapi setiap bangunannya.

Bangunan pertama di arsitek-tur kali ini adalah MIT Chapel, dibangun pada tahun 1955 oleh Eero Saarinen. Saarinen merancangnya dengan menambahkan “makna” dalam triad modernisme: fungsi, struktur, dan zeitgeist. Dari luar, bentuknya tidak begitu unik. Material bata merah dan skala yang relatif lebih kecil dari bangunan di sekelilingnya tidak membuatnya menjadi objek arsitektur yang menonjol. Saya masuk melalui pintu utama yang posisinya tegak lurus dengan arah altar. Begitu masuk, pandangan saya langsung diarahkan ke altar, aspek utama dan paling penting dari chapel ini. Saya kurang tahu harus menyebutnya apa. Di tengah altar, ada untaian benang dengan manik-manik yang memantulkan cahaya dari sekeliling chapel. Indah sekali. Saat melihatnya di layar presentasi profesor saya beberapa bulan lalu, saya sudah tidak meragukan keindahan bangunan ini. Tapi ternyata keindahan yang saya taksir tidak seberapa jika dibandingkan saat saya mengalami ruangnya langsung saat itu. Skala ruang yang luput dari tangkapan kamera bisa saya cerap, setiap detil susunan bata yang bergelombang di sekeliling, organ antik di atas akses ruang utama, keintiman ruang dan akustik ruang yang senyap, semua bagiannya sukses menyampaikan ide tenang ”makna” yang diinginkan Saarinen hadir di MIT Chapel. Saya tetap mendokumentasikan MIT Chapel melalui kamera saya, walaupun saya tahu, makna ruang tiga dimensi tidak akan pernah bisa dikomunikasikan lewat citra dua dimensi dari kamera.

Gambar 1. Tampak dalam saat memasuki MIT Chapel
Gambar 2. Dinding ruang dalam MIT Chapel
Gambar 3. Altar MIT Chapel

Perjalanan dilanjutkan ke gedung yang lokasinya bersebrangan dengan MIT Chapel. Masih dengan karya Eero Saarinen, dengan skala berbeda dan bahasa yang juga agak berbeda. Kresge Auditorium (1953-1955). Bentuknya lebih mengundang pandangan orang dengan atap oval menyerupai tempurung. Strukturnya cangkang konkrit dan berstruktur cangkang dan curtain wall kaca. Sayangnya saat itu Kresge Auditorium sedang dalam masa konstruksi, sehingga saya hanya bisa menikmatinya dari luar saja, tepatnya di Kresge Oval, area hijau di antara MIT Chapel dan Kresge Auditorium. Lapangan ini menjadi saksi perjumpaan saya dengan dua karya indah dan legendaris Eero Saarinen. Halo Saarinen!

Gambar 4. Tampak luar Kresge Auditorium
(sumber: http://suburbanfairytale.com/images/IMG_2859-kresge-auditorium.jpg)

Gedung ketiga umurnya cukup muda, selesai dibangun pada tahun 2002. Simons Hall, karya Steven Holl. Bahasa yang digunakan Holl untuk gedung ini cukup berbeda, setidaknya dengan dua gedung yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Dari jauh, gedung ini tampak seperti spons, masa kotak yang besar, dengan pola kotak-kotak yang lebih kecil di sekeliling fasadnya (baca: dindingnya). Fungsi utamanya adalah asrama, sebagai tempat yang diharapkan mampu menjadi wadah interaksi bagi mahasiswa. Sayang, waktu kunjungan saya di masa liburan musim dingin kurang tepat untuk menyaksikan bagaimana bangunan ini dialami oleh mahasiswa dalam kesehariannya. Saya juga tidak bisa masuk ke dalam Simons Hall untuk sekedar mengintip nuansa ruang dalamnya. Dari pengamatan sekedarnya dari luar, terlihat bagaimana Holl bermain dengan solid-void untuk mendefinisikan area publik tempat berkumpul mahasiswa. Bukaan dari kotak-kotak jendela di seluruh permukaan dinding menjamin asupan cahaya alami yang cukup bagi setiap ruang. Ketika saya berpindah sisi untuk memandang gedung ini, ada satu hal lagi yang saya sadari, dinding ceruk jendelanya diwarnai berbeda, sehingga ada pengalaman yang berbeda ketika melihat Simons Hall dari sisi yang berbeda. Holl mengajarkan saya bagaimana sebuah keputusan desain yang (mungkin) minor bisa mengubah pengalaman ruang pengamat dengan signifikan. Halo Holl!

Gambar 5. Simons Hall

Dari Simons Hall, saya lanjut berjalan ke arah barat, melewati lapangan menuju Baker House karya Alvar Aalto. Ini bangunan paling tua dari lima bangunan yang saya kunjungi, dibangun pada tahun 1948, ketika arsitektur modern masih menjadi primadona. Material bata merah menambah kuat kesan tua gedung asrama ini.  Satu hal yang paling mencuri perhatian saya adalah tangga eksposnya. Ruang di bawah tanggah yang biasanya menjadi bagian dari ruang dalam, dijadikan bagian dari ruang luar. Tidak banyak yang bisa saya gali dan alami dari Baker House, karena lagi-lagi saya tidak masuk untuk mengalami ruang dalamnya. Tapi, itu sama sekali tidak mengurangi kebahagiaan saya melihat langsung karya Alvar Aalto dengan mata kepala saya sendiri. Halo Aalto!

Gambar 6: Baker House
(sumber: http://static.gigapan.org/gigapans0/60304/images/60304-500×301.jpg)

Gedung yang terakhir adalah gedung yang paling membuat saya tak habis-habisnya bertanya. Tidak perlu googling untuk tahu siapa yang merancang gedung ini. Semua insan arsitektur harusnya sudah sangat mengenal bahasa desain Frank Gehry. Lengkung, nyeleneh, dan semaunya saja; itu cara saya mendefinisikan karya Gehry. Bagi yang belum mengenalnya, coba saja jalan-jalan ke pencarian gambar dengan mengetik namanya. Muncul gedung-gedung dengan bentuk ajaib yang pasti membuat para ahli struktur geleng-geleng kepala memikirkan bagaimana strategi struktur bangunan-bangunan karya Gehry. Semua orang yang pernah ke MIT pasti menyadari keberadaan Ray and Maria Stata Center (2004). Bentuknya paling nyeleneh, warna dan materialnya pun tidak kalah nyeleneh. Dari semua sisi, tidak ada yang seragam. Selalu ada sisi baru yang ditawarkan Gehry untuk pengamat. Tidak cukup satu, dua, atau tiga kali saya dibuat kaget dengan fitur-fitur desain Stata Center. Dindingnya, pintunya, jendelanya, aksesnya, atapnya, semua unik. Tidak bisa saya jelaskan, sebagai konsekuensinya saya tautkan lebih banyak gambar Stata Center. Selama mengalami ruangnya, saya penasaran bagaimana perbincangan Gehry dengan insinyur strukturnya, pasti perdebatannya sangat sengit dan seru. Tapi pada akhirnya, bangunan ini bisa juga hadir dan terbangun, menjalankan fungsinya dan berinteraksi dengan manusia yang mengalami ruangnya sehari-hari. Terlepas dari kontroversi dan cerita di balik Stata Center, kehadiran saya di sana membuat saya mengenal karakter desain Gehry secara lebih mendalam. Halo Gehry!

Gambar 7. Ray and Maria Stata Center
Gambar 8. Salah satu bagian unik dari Ray and Maria Stata Center
Gambar 9. Mengalami ruang antara di Ray and Maria Stata Center
Gambar 10. Dinding nyeleneh a la Frank Gehry

Rangkaian arsitek-tur saya di MIT ditutup oleh gaya nyeleneh Ray and Maria Stata Center. Perjalanan awal yang bisa dibilang cukup kaya; bertemu muka dengan lima bangunan berbahasa desain yang beragam dari arsitek-arsitek lintas generasi. Sudah lima dari banyak bangunan karya arsitek lain yang akan saya sapa.

Tidak sabar untuk ke perjalanan arsitek-tur selanjutnya.

Siapa lagi yang akan saya sapa?

 

Photo Courtesy: Author’s Collection, http://suburbanfairytale.com, http://static.gigapan.org

SHARE
Previous articleTips Beasiswa LPDP, Kita Semua Bisa!
Next articleMenjadi Kandidat PhD di Yeungnam University Korea
Widya Ramadhani
Widya Aulia Ramadhani graduated from Universitas Indonesia in 2014. She is an awardee of the first Indonesia Presidential Scholarship and now pursuing her master degree in architecture at University of Illinois at Urbana-Champaign. Her concentration is on architecture and its relation to human health and well-being. She is very passionate in practicing participatory design method in architecture as she believes that everyone is a designer and should be taken into account in the design process. Previously, she worked as a teaching assistant at Universitas Indonesia and a researcher at petajakarta.org. She is keen to continue her career in research and teaching architecture. Email: widya.ramadhani@gmail.com