Mengerjakan Instalasi Pameran di Princeton University

Mengerjakan Instalasi Pameran di Princeton University

Bulan lalu, saya dapat pekerjaan kecil-kecilan.

Ceritanya panjang. Tapi, begini ringkas ceritanya dalam satu paragraf. Etienne Turpin, peneliti Anthropocene, juga pendiri PetaJakarta.org, menyurati saya. Ia diundang berpameran di Princeton University. Pameran itu dikelola oleh Eben Kirksey, antropolog yang sedang mengajar di sana. Judul pamerannya Emergent Ecologies. Eben mengundang Etienne setelah ia melihat pameran 125.660 Spesimen Sejarah Alam yang dikelola oleh Etienne pada pertengahan 2015 lalu di Salihara. Eben tertarik pada satu karya di pameran itu, yang rupanya hasil kolaborasi Etienne dengan seorang lain yang baiknya tidak saya sebut supaya tidak merumitkan cerita yang sudah rumit ini. Kebetulan, waktu itu, saya membantu Etienne untuk mengerjakan instalasi tersebut. Tahu bahwa saya sedang berada di New York, Etienne mengajak saya untuk merancang ulang dan mengerjakan produksi instalasi tersebut. Saya menyanggupinya.

Walaupun program studi saya erat kaitannya dengan produksi pameran, dan walaupun saya sudah berkali-kali mengerjakan pameran dan hal-hal semacamnya, pekerjaan semacam ini, sekecil apapun skalanya dan sesederhana apapun idenya, sungguh tidak pernah mudah. Mawas pengetahuan teoritis saja tak akan cukup tanpa dilengkapi pengetahuan praktis, terutama dalam hal produksi. Pun karena saya berada pada konteks produksi yang berbeda—di Amerika, dengan satuan standar inci dan kaki, dan dengan mahalnya tenaga kerja sehingga segala sesuatunya harus dikerjakan sendiri—pengetahuan praktis yang saya miliki pun harus disetel ulang.

Instalasi yang akan dibuat sebetulnya sederhana. Judul instalasinya Taxonomy of Palm Oil. Materinya adalah 100 wadah plastik berisi macam-macam produk sehari-hari dan selembar kertas berisi penjelasan instalasi, keduanya diletakkan di atas multipleks. Maksud dari instalasi ini adalah menampilkan 100 produk komersial yang menggunakan minyak kelapa sawit. Ada berbagai macam produk sehari-hari yang menggunakannya, dari pasta gigi, kosmetik, deterjen, shampo, sabun, minyak goreng, biskuit, adonan kue, roti, hingga krim kopi. Minyak tersebut diproduksi dari tanaman kelapa sawit yang asal aslinya dari Afrika. Karena produktivitasnya lebih tinggi dan efisien ketimbang kelapa, kedelai, atau tanaman lainnya—dan otomatis ongkos produksinya jauh lebih murah—maka kelapa sawit jadi primadona, terutama di negara-negara tropis. Indonesia adalah salah satu negara produsen minyak kelapa sawit paling banyak. Namun, angka itu bukan berarti harus kita banggakan. Membuka perkebunan kelapa sawit berarti melakukan deforestasi. Lingkungan alam yang heterogen harus dibabat untuk membuka area produksi kelapa sawit. Tanpa perencanaan yang bijak, pembukaan perkebunan kelapa sawit akan mengurangi keberagaman flora dan fauna hutan tropis kita. Ingat berita awal April lalu tentang Leonardo Dicaprio yang terancam dilarang datang kembali ke Indonesia? Ya itu, karena ia mengkritik masifnya pengrusakan hutan Indonesia oleh perkebunan kelapa sawit ketika jalan-jalan ke Sumatera.

Kembali ke instalasi. Ada beberapa persiapan awal yang harus saya kerjakan. Pertama, saya harus memeriksa dimensi wadah plastik yang tersedia di pasaran. Saya ingin membeli langsung ketimbang membeli dari toko daring, sebab saya ingin memastikan bahwa wadah plastiknya berkualitas cukup baik untuk pameran. Rupanya, mencari wadah plastik di sini tidak semudah pergi ke Glodok atau Pasar Pagi. Berbagai toko farmasi yang saya kunjungi tidak menjual wadah plastik. Satu toko yang saya datangi di daerah Bronx menjual wadah plastik yang cukup baik, tetapi grosirannya minimal 500 botol. Harganya jadi terlalu mahal dan jumlah botolnya amat berlebihan. Mau tidak mau, saya akhirnya memesan dari toko daring. Untung saja produknya cukup memuaskan.

Mencari 100 produk yang mengandung kelapa sawit yang dijual luas di pasaran adalah tantangan berikutnya. Masalahnya, minyak kelapa sawit tidak selalu ditulis sebagai “minyak kelapa sawit (palm oil).” Ia bisa “menyamar” lewat istilah-istilah kimiawi seperti cetyl palmitate, glycerol, kernel oil, elais guneensis oil, sodium laureth sulfate, sodium kernelate, etyl palmitate, dan lain-lain. Mulanya saya mengandalkan internet untuk mencari produk-produk ini. Ternyata, yang saya andalkan via internet, justru lebih mudah dan cepat dilakukan dengan mendatangi saja pasar swalayan dan melihat produknya satu-persatu. Jadilah saya pergi berbelanja mengumpulkan 100 produk berbagai jenis. Baru kali ini saya belanja dengan memeriksa betul daftar bahan bakunya. Sudah pasti kasir di tempat saya berbelanja heran melihat barang-barang yang saya beli, terutama karena saya selalu hanya membeli satu dari setiap produk. Kwitansi belanja saya hari itu terpanjang dari yang pernah saya dapat seumur hidup.

Sebagian dari 100 produk yang saya beli untuk konten pameran (Foto: Robin Hartanto)

Setelah selesai berbelanja, saya mulai memikirkan multipleks dan susunan wadah plastiknya. Karena anggaran terbatas, Etienne dan saya sepakat meminjam meja yang ada di Princeton University sebagai alas untuk multipleks. Ada dua jenis meja dari Princeton University yang saya bisa gunakan sebagai “kaki,” satunya berukuran persegi 31,75 inci x 31,75 inci, satunya lagi persegi panjang 36 inci x 72 inci. Sementara, panjang satu multipleks utuh adalah 48 inci x 96 inci. Jika saya menggunakan meja persegi panjang sebagai alas, sisa multipleks yang tidak tertopang terlalu luas sehingga instalasinya bisa ringkih. Saya putuskan untuk menggunakan tiga meja persegi yang disusun memanjang menjadi 31,75 inci x 95,25 inci, sehingga hampir seluruh bagian memanjang dari multipleks akan tertopang. Saya menggunakan velcro untuk dapat merekatkan meja dan multipleks dengan baik tanpa meninggalkan bekas pada meja yang kami pinjam.

Saya menggunakan velcro untuk merekatkan meja dan multipleks (Foto: Robin Hartanto)

Setelah mengetahui dimensi-dimensi materi pameran, saya mulai memikirkan tata letaknya. Wadah plastik yang saya pesan berdiameter 2 inci. Saya ingin menjaga jarak antar wadah plastik agar tidak terlalu rapat, sehingga pengunjung dapat menikmati visual masing-masing produk tanpa perlu mengangkat wadah. Dengan kemampuan matematika seadanya, saya menemukan formula yang pas mantap: batas tepi 5 inci dengan jarak antar botol 2 inci. Berikut gambar rencana instalasinya:

Gambar rencana instalasi Taxonomy of Palm Oil (Gambar: Robin Hartanto)

Etienne menyetujui rencana tata letak yang saya buat. Tetapi kisah perjuangan saya belum selesai. Saya harus memikirkan dua hal lagi: 1) Bagaimana membawa multipleks ini dari New York ke Princeton; 2) Bagaimana menempatkan 100 wadah plastik tersebut agar sangat rapi, sebab meleset satu dari seratus saja sudah akan mengganggu pemandangan.

Kalau saja ini di Jakarta, saya punya banyak solusi untuk nomor satu. Minimal, saya bisa menyewa pick-up dan menyetir sendiri. Tapi ini di New York dan saya tidak punya lisensi untuk mengemudi di sini. Saya sebetulnya agak tidak rela juga untuk menyewa mobil, apalagi menyewa jasa pengemudi, soalnya harga sewa di sini sungguh mahal. Tapi saya tidak punya pilihan lain sebab saya harus membawa multipleks plus 100 wadah plastik sendirian dari New York. Saya coba tes mengangkat multipleks itu dan rupanya bebannya terlalu berat. Mau tak mau, saya sewa mobil dan jasa pengemudi. Agar muat di mobil sewaan, saya membagi multipleks tersebut jadi dua. Untuk hal yang satu ini, saya merasa dikalahkan oleh keadaan.

Setelah membelah multipleks jadi dua, saya mengecat multipleks dengan cat putih. (Foto: Robin Hartanto)

Untuk yang nomor dua, Etienne ingin agar bidang multipleks dilubangi saja menggunakan mesin CNC. Tapi rupanya setelah riset ke berbagai bengkel kayu yang menyediakan mesin CNC, harga milling CNC sungguh di luar batas anggaran. Akhirnya kami kembali ke cara yang kami gunakan di Salihara: menempelkan tutup wadah sebagai area untuk meletakkan wadah plastik. Jadilah saya memesan 100 tutup plastik tambahan.

Pun demikian, untuk menempel tutup wadah itu dengan rapi juga perlu taktis khusus. Waktu di Salihara, saya menggunakan tape untuk membatasi area yang akan ditempel. Cara tersebut menurut saya tidak praktis dan butuh kehati-hatian tingkat tinggi. Kali ini, saya memilih untuk mencetak pola di atas kertas dan melubangi bidang yang hendak jadi area tempel. Setelah terpasang, saya pindahkan pola kertas tersebut ke area yang belum terpasang. Cara itu rupanya cukup efektif.

Proses menempel 100 tutup wadah. (Foto: Robin Hartanto)

Pada H-1, saya mulai memasukkan isi berbagai produk yang sudah saya beli ke wadah plastik. Sejauh ini, segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. Tapi, ada salah pengertian yang baru kami sadari di hari itu. Saya mengira Etienne akan mengerjakan label yang berisi data produk untuk ditempel di masing-masing tutup wadah, sebagaimana teks penjelasan instalasi akan dicetak sendiri olehnya. Rupanya tidak demikian. Ia meminta saya membuat labelnya. Maka pada hari itu, saya harus menyiapkan 100 label data produk, mencetaknya, dan menempelkannya di setiap tutup wadah. Sementara saya ada janji bertemu teman, saya baru bisa mulai mengerjakan semua itu di malam hari.

Setelah segala persiapan terlaksana dengan cukup mepet dan dengan jam tidur yang minimalis, jadilah saya berangkat ke Princeton University menggunakan mobil sewaan dengan segala tetek-bengek yang harus saya bawa. Saya lega dan senang betul hari itu. Instalasi tersebut selesai dengan baik. Selain itu, saya juga senang karena berhasil menculik Widya Aulia Ramadhani, teman yang saya temui pada malam H-1 itu, untuk menemani saya. Widya teman saya di studi sarjana; ia juara II Mahasiswa Berprestasi Universitas Indonesia tahun 2014, peraih Beasiswa Presiden RI, dan masih single, saudara-saudara! Ia menulis juga di Indonesia Mengglobal bulan lalu. Widya lah yang berbelanja 100 produk untuk instalasi pameran ini di Salihara, tapi sayangnya ia tidak sempat melihat hasil jadinya karena telanjur berangkat sekolah. Setelah mengetahui saya mengerjakan instalasi serupa, ia batalkan rencananya ke Washington melihat cherry blossom dan lantas ikut saya ke Princeton.

Di Princeton, saya bertemu dengan Etienne setelah terakhir berjumpa di Jakarta, di pameran 125.660 Spesimen. Saya juga berkenalan dengan Eben. Eben rupanya sungguh lancar berbahasa Indonesia karena pernah bertahun-tahun tinggal di Papua dan meneliti pelanggaran HAM dan politik kemerdekaan di sana. Pada akhir April ini, pameran di Princeton University tersebut akan dipindahkan ke Brooklyn, ke sebuah gedung tua. Eben mengajak saya untuk membantunya. Sebetulnya saat itu saya akan menjelang akhir semester dan akan pusing sembilan keliling dengan segala tugas akhir. Tapi apa boleh buat, saya begitu menikmati proses membuat pameran.

Saya menyanggupinya.

Penampakan wadah plastik berisi berbagai produk yang menggunakan minyak kelapa sawit (Foto: Robin Hartanto)

Yang ini sedikit narsis: penampakan nama saya di instalasi pameran. (Foto: Robin Hartanto)

Penampakan akhir instalasi beserta beberapa karya lain di pameran Emergent Ecologies. (Foto: Robin Hartanto)

 

Photo Courtesy: Author’s Collection




===========================================
Robin Hartanto graduated from Universitas Indonesia in 2012 and currently studies Critical, Curatorial and Conceptual Practices in Architecture at Columbia University. His practices examine the roles of exhibition and publication in contemporary architectural discourses. He co-curated the Indonesia Pavilion in Venice Biennale (2014), “A Conservation Story”—an exhibition of Five awardees of UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation in Indonesia (2014), and Universitas Pelita Harapan Architecture Triennial “Waktu Adalah Ruang” in Kota Tua, Jakarta (2015). Previously, he worked as a junior architect at Avianti Armand Studio, a writer at Yahoo! Indonesia, and a lecturer at UPH.
Posts | Facebook | Twitter