Dari UI ke Silicon Valley

1
233

Saya sudah berniat untuk mendapatkan kesempatan magang (internship) di perusahaan teknologi di Silicon Valley sejak SMA. Saat itu, saya sering membaca cerita-cerita tentang pengalaman orang-orang Indonesia lain yang sudah menjalani internship di Silicon Valley. Namun, sampai tahun kedua saya kuliah, persiapan yang saya lakukan untuk mendapatkan internship di sana cukup minim: membaca cerita orang-orang, Glassdoor, dan informasi lainnya melalu internet (seperti di Reddit /r/cscareerquestions).

Untungnya, di saat saya ingin memulai mencari dan mulai  mendaftar untuk berbagai lowongan internship di Silicon Valey, program Indo2SV diluncurkan oleh beberapa software engineer Indonesia di Silicon Valley. Saya langsung mendaftar ke Indo2SV dan melewati berbagai tahap seleksi: mempersiapkan resume, menulis esai, menyelesaikan soal pemrograman dan menghadapi mock interview dari para mentor.  Untungnya, saya berhasil diterima sebagai salah satu mentee, dengan Kak Veni Johanna sebagai mentor saya.

Kurang lebih, mentorship saya dengan Kak Veni berjalan selama 13 minggu dengan sesi Skype tiap minggunya yang biasanya berisi mock interview, membahas topik-topik teknis yang bisa ditanyakan saat proses wawancara (interview), serta membicarakan status aplikasi saya di berbagai perusahaan. Selain itu, saya juga diberi daftar topik yang harus diketahui dan beberapa soal latihan programming. Saya merasa jauh lebih siap dan mengerti tentang apa yang akan saya hadapi setelah melalui proses ini. Saya yang tadinya sangat gugup ketika diwawancara akhirnya menjadi lebih percaya diri.

Setelah hampir 2 bulan program Indo2SV berjalan, saya mulai mencoba apply di beberapa perusahaan dan Kak Veni mulai mencoba mencarikan referral dari teman-teman dan kenalannya di berbagai perusahaan di sana. Beberapa lama kemudian, satu persatu email penolakan mulai bermunculan. Saya bahkan ditolak salah satu perusahaan yang sangat menarik bagi saya. Walaupun sedih, saya tetap mengirimkan resume yang sudah diperbaiki lagi ke perusahaan-perusahaan lain.

Suatu hari, saya akhirnya mendapatkan email dengan respon positif dari Mozilla. Saya diminta untuk menjadwalkan interview! Saya senang sekaligus panik dan langsung memberi kabar ke Kak Veni. Sesi mentoring selanjutnya difokuskan untuk menghadapi wawancara pertama saya ini. Setelah menjalani sesi wawancara saya yang pertama, saya jadi merasa lebih percaya diri.

Beberapa email lain pun mulai berdatangan, kebanyakan berupa penolakan. Saya berhasil mendapatkan interview tahap terakhir bersama Mozilla dan mulai menjadwalkan interview bersama Dropbox, Square, dan Google.

Sehari setelah interview tahap terakhir saya dengan Mozilla, saya secara tidak terduga mendapatkan offer dari Mozilla! Saya langsung mengabari Kak Veni dan dia menyarankan saya untuk mengontak perusahaan-perusahaan lain agar proses dari mereka lebih cepat. Ternyata benar, recruiternya langsung menjanjikan respon cepat setelah wawancara untuk menentukan apakah lolos ke tahap wawancara berikutnya dan mempercepat jadwal wawancara. Kalau dihitung-hitung, saya akhirnya menjalani 11 sesi wawancara dalam waktu 2 minggu. Karena terlalu sering begadang, saya bahkan ketiduran di salah satu jadwal wawancara saya. Untung saja, recruiter dan interviewernya baik dan bersedia untuk menjadwalkan ulang sesi wawancara tersebut.

Sesi-sesi wawancara dengan empat perusahaan ini sangatlah menarik dan berkesan untuk saya. Pewawancara dari Mozilla adalah seorang kontributor utama untuk pengembangan HTTP2 , dan dia menceritakan pengalamannya sebagai kontributor tersebut. Pewawancara dari Dropbox banyak yang sudah bekerja di berbagai macam tempat dan bercerita tentang perbedaan tempat-tempat tersebut dengan Dropbox. Sementara, pihak dari Square bercerita banyak tentang open source (saya baru tahu beberapa jam kemudian kalau dia adalah Jake Wharton, orang yang membuat beberapa tool berguna seperti ActionBarSherlock) dan mencoba menyelesaikan soal competitive programming yang saya berikan ke dia! Sedangkan, yang mewawancarai saya dari Google masih muda dan aktif di competitive programming, sehingga perbincangan di sesi akhir wawancara kami sangat seru. Walaupun lelah setelah melewati banyak sekali proses wawancara dengan berbagai perusahaan, saya sangat senang bisa sempat berbincang-bincang dengan interviewer-interviewer saya, dan saya mendapatkan bekal pembelajaran baru dari mereka.

Beberapa hari sebelum deadline Mozilla datang, saya mendapat kabar dari perusahaan-perusahaan lain. Dropbox menolak saya, Square memberi offer, dan Google meloloskan saya ke round selanjutnya. Karena sudah mendapatkan dua offer, saya langsung memilih untuk tidak melanjutkan interview dengan Google. Setelah melakukan pertimbangan yang matang (dan banyak masukan dari Kak Veni), saya memilih untuk menerima offer dari Square!

Kurang lebih, hal-hal ini yang baru saya dapatkan setelah mentorship Indo2SV:

  1. Berbicara dalam bahasa Inggris dalam wawancara selama +- 45 menit dengan seorang software engineer di sana bisa cukup mengintimidasi, apa lagi jika kita tidak terbiasa menggunakan bahasa inggris sehari-hari dan interviewer-nya bernada datar. Saya sangat menyarankan untuk melakukan mock interview yang banyak sebelum melakukan interview asli, karena banyak orang yang sangat kompeten namun gagal hanya karena panik saat interview. Biasanya, saya sudah menyiapkan ‘contekan’ tentang apa saja pertanyaan non-teknis yang mungkin ditanyakan (seperti “Can you tell me more about project X?”) agar saya tidak perlu waktu lama untuk menjawabnya dan terdengar lebih percaya diri.
  2. Ada banyak perusahaan-perusahaan keren di Silicon Valley. Awalnya, saya hanya tahu dan tertarik untuk apply ke sedikit perusahaan seperti Google, Facebook, Khan Academy dan Dropbox. Namun setelah brainstorming dengan Kak Veni, saya akhirnya mencari tahu lebih banyak dan apply ke berbagai perusahaan seperti Airbnb, Palantir, Twitter, Coursera, Mozilla, Square, Evernote dan Microsoft.
  3. No hard feelings. Jangan melihat penolakan sebagai hal yang membuat kamu harus merasa tersinggung. Dari banyak perusahaan yang saya coba apply, hanya 5 yang merespon, dan hanya 1 di antaranya yang tidak menggunakan referral. Awalnya saya cukup kecewa, namun setelah mendengar cerita dari Kak Veni tentang kenalannya yang sudah magang di perusahaan seperti Google namun ditolak di beberapa startups. Ditolak di suatu perusahaan bukan berarti kita akan ditolak oleh semua perusahaan.
  4. Banyak sekali hal-hal yang belum saya ketahui. Setiap minggunya, saya mempelajari satu topik ‘non-algorithmic’ yang diberikan oleh Kak Veni. Selain itu, saya juga membaca buku-buku teks mata kuliah yang belum saya ambil seperti Computer Networks dan Concurrent Programming untuk menghadapi interview Mozilla (karena saya mendaftar posisi bagian networking) dan Dropbox (karena saya dengar mereka sangat suka bertanya tentang concurrency).
  5. Kebanyakan recruiter sangat ramah. Saat saya memberitahu tentang offer yang saya dapat dari Mozilla, recruiter-recruiter lain langsung membantu menjadwalkan interview saya agar bisa mendapatkan keputusan dengan cepat. Setelah saya ditolak, recruiter Dropbox meminta saya untuk mencoba lagi tahun depan dan berkunjung ke kantor Dropbox summer ini saat saya berada di San Francisco.
  6. Kenali interviewermu agar punya bahan obrolan yang menarik! Do some research. Interviewermu pasti akan sangat senang jika kamu menanyakan tentang hal-hal yang didalaminya.

Kurang lebih begitulah pengalaman saya dalam mencoba mendapatkan internship di Silicon Valley. Saya sangat berterima kasih ke semua orang di Indo2SV dan seluruh teman-teman saya yang sudah membantu berbagi pengalaman ke saya atau mengajari saya hal-hal baru. Semoga tulisan saya dapat memberi sudut pandang baru bagi orang-orang yang juga menginginkan internship di sana.

Content Edited by Artricia Rasyid

Photo credit: http://www.panoramio.com/photo/400729

  • budi rahardjo

    Good luck … Jangan lupa dengan Indonesia ya? hi hi hi