Melanjutkan Kuliah di Rennes, Perancis … Pourquoi Pas? (EDISI II)

0
77

Bagian pertama dari tulisan Rizki Ananda diterbitkan pada tanggap 29 Maret lalu. Kali ini, Rizki Ananda akan bercerita lebih lanjut mengenai program studi yang ia tempuh beserta kehidupan sebagai pelajar di ESC Rennes School of Business.

Pernah menonton film “Negeri 5 Menara”? Kalau iya, mungkin bisa menangkap pesan terselubung yang ditampilkan di awal film tersebut: kita tidak akan pernah tahu bahwa air di sebuah kolam itu dingin atau tidak jika kita tidak mencemplungkan anggota badan kita. Nah, edisi kertas alias buku “Negeri 5 Menara” ini kemudian juga menjadi “obat relaks” saya di tengah proses belajar di Rennes, Perancis. Bagian awal dari novel tersebut bercerita tentang seorang anak muda yang bercita-cita ingin kuliah di Institut Teknologi Bandung, namun orangtuanya menginginkan ia untuk masuk pesantren. Buku ini lebih lanjut memaparkan pesan bahwa si anak muda tersebut tidak akan pernah tahu kehidupan pesantren jika dia tidak mencobanya.

Nah, begitu juga halnya diri ini. Saya tidak akan pernah tahu, tidak akan bisa menulis dan memberi komentar mengenai kehidupan pelajar di luar negeri jika tidak pernah merasakan pengalaman tersebut sebelumnya.

Saya masih ingat waktu dan energi yang dihabiskan sebelum dan untuk memutuskan untuk kuliah di ESC Rennes. Tantangan pertama: bahasa. Sekalipun saya suka akan tantangan untuk mempelajari bahasa Perancis, jujur saja bahwa belajar bahasa negeri Napoleon Bonaparte untuk mencapai level native speakers (untuk dengan gampang mengikuti kuliah di kampus) ini seperti menjadi seorang kiper sepak bola yang harus menjaga gawang agar tidak kebobolan: alias susah susah gampang!

Karena menyadari bahwa akan sulit bagi saya untuk belajar bahasa Perancis dan program S2 sekaligus, maka saya kemudian memutuskan untuk tetap memperdalam kemampuan bahasa Perancis saya, namun mencari sekolah yang menggunakan bahasa pengantar Inggris. Saya berfokus kepada universitas-universitas yang memiliki program-program studi internasional (biasanya, di program-program studi seperti ini, bahasa pengantar yang dipergunakan adalah Inggris).

Namun demikian, saya toh tetap akan tinggal di Perancis selama masa kuliah. Jadi, belajar bahasa tuan rumah tetap adalah wajib hukumnya. Mengapa? Ya untuk survive dalam kehidupan sehari-hari tentunya! Akan sulit untuk berkomunikasi dengan penduduk Perancis bila ngotot hanya ingin cas-cis-cus dalam bahasa Inggris – paling tidak harus mengerti bahasa Perancis untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, membeli tiket transportasi, memesan makanan di restoran atau kantin dan tentunya untuk memperluas pergaulan dan pengalaman hidup di negeri orang.

Tantangan selanjutnya adalah mencari jurusan yang menggunakan bahasa Inggris yang sesuai dengan minat dan kemampuan saya.  Untuk mempermudah hal ini, saya lalu mengumpulkan daftar universitas-universitas dengan program-program setingkat S2 yang berbahasa Inggris, baru kemudian melakukan “screening” lebih jauh dengan mencari jurusan yang memang saya inginkan. Karena latar belakang pendidikan saya adalah Manajemen jurusan Pemasaran, saya pun ingin mempertajam pengetahuan saya dibidang ini. Fokus pencarian saya akhirnya jatuh kepada ESC Rennes School of Business.

Selain memiliki program-program yang berfokus kepada hal-hal yang berkaitan dengan bisnis dengan tim pengajar yang sangat baik, program kuliah dan waktu tempuh untuk kuliah S2 di ESC Rennes juga sangat menggiurkan bagi saya.  Waktu yang diperlukan untuk mencapai gelar master di sekolah ini hanya 1,5 tahun. Ini adalah setengah tahun lebih cepat dari program magister manajemen di sebuah kampus di Jakarta. Para mahasiswa di sekolah ini kemudian “diwajibkan” untuk bekerja atau setidaknya magang selama minimal empat bulan sembari menyelesaikan tesis final mereka. Hal tersebut membuat saya merasa tertantang dan bersyukur, karena paling tidak saat lulus kuliah, setidaknya saya sudah akan memiliki pengalaman kerja.

Selain itu, ada sederetan hal penting lainnya yang membuat saya yakin untuk kuliah di ESC Rennes. Salah satunya adalah fasilitas perpustakaan yang mereka miliki! Saya mengerti jika hal ini terdengar tidak aneh, tidak penting, karena ya memang fasilitas perpustakaan akan selalu ada di hamper setiap sekolah kan? Tapi, perpustakaan kampus di ESC Rennes sangatlah lengkap, buka tujuh hari seminggu dan memberikan banyak akses ke berbagai situs jurnal ekonomi. Seandainya kita memerlukan jurnal yang harus didapat dengan mengeluarkan sejumlah uang, ESC Rennes pun akan meng-cover biaya tersebut.

Selain itu, perpustakaan kampus ini tidak hanya sekedar menyediakan buku-buku untuk dipinjam layaknya kampus pada umumnya, tetapi juga menyediakan fasilitas peminjaman buku dari perpustakaan lain di luar kampus, bila buku yang diperlukan tidak tersedia di perpustakaan di dalam kampus. Asyiknya belajar di sekolah yang sangat menghargai dan memfasilitasi kebutuhan para mahasiswanya!

Fasilitas-fasilitas lainnya?

Saya sangat menghargai adanya fasilitas olahraga dan hiburan yang tersedia di kampus. Di Student Centre terdapat berbagai peralatan, fasilitas dan grup-grup untuk bermain sepakbola, basket dan sebagainya. Fasilitas di dalam Student Centre termasuk fitness center, table football/soccer dan Play Station. Cukup mendukung bagi seorang mahasiswa yang dibesarkan di budaya timur dan memerlukan banyak kegiatan positif untuk mengatasi “culture shock” dan “homesick” selama tinggal di benua Eropa.

Saya juga beberapa kali mengikuti kegiatan menonton bersama pertandingan sepakbola Ligue 1 (Liga Sepakbola Utama di Perancis) secara langsung jika tim Stade Rennais bertanding di kandang. Sebagai penggemar olahraga sepak bola, hal ini terasa cukup penting bagi saya! :-)

Bagi para mahasiswa yang beragama Islam, muslim, lokasi kampus juga sangat dekat dengan masjid. Hal ini tentunya sangat mendukung saat akan menjalankan ibadah sholat Jumat, misalnya. Perjalanan dari kampus ke masjid hanya memakan waktu 10 menit berjalan kaki. Di masjid dekat kampus ini juga diadakan ibadah sholat Idul Fitri dan Idhul Adha berjamaah. Pada saat bulan Ramadhan, masjid tersebut juga mengadakan acara buka puasa bersama.

Kembali kepada ulasan mengenai program studi saya di ESC Rennes, setelah menempuh pendidikan di kelas selama 2 semester dalam jangka waktu 9 bulan, saya kemudian diberi waktu 9 bulan lagi untuk menyelesaikan tesis dan magang. Berbekal surat pernyataan terdaftar sebagai mahasiswa di ESC Rennes, para mahasiswa lalu dapat menyebarkan Curriculum Vitae mereka ke berbagai perusahaan. Pihak universitas pun juga membantu memberikan informasi perusahaan apa saja yang sedang membuka lowongan magang. Saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti wawancara dengan L’oreal, sebuah perusahaan kosmetik terbesar di Perancis, langsung di kantor pusatnya di Paris. Sayangnya, kesempatan ini kandas setelah mengikuti wawancara tahap kedua. Rupanya Tuhan memiliki rencana lain bagi saya.

ESC Rennes mengetahui bahwa saya berasal dari regional Asia Tenggara dan memberikan informasi dan rekomendasi mengenai salah satu perusahaan Perancis yang bergerak di bidang riset pemasaran, dengan cabang di Singapura. Perusahaan ini bernama IPSOS dan kemudian memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti proses seleksi yang mereka lakukan.

Saya lalu mengikuti berbagai tahapan seleksi yang IPSOS tetapkan. Saya harus mengikuti tes tertulis online, kemudian melakukan wawancara via telepon dengan kantor IPSOS di Singapura. Kurang lebih seminggu kemudian, pihak IPSOS Singapura mengabarkan bahwa saya mendapat kesempatan bekerja magang di sana selama 6 bulan. Voila, waktunya saya untuk check out dari Rennes.

Selama magang dan kemudia sibuk menyusun tesis final, saya merasa sangat dibantu oleh dosen pembimbing saya saat itu. Jadwal bimbingan selalu diberikan dengan jelas dan kami selalu berkomunikasi dengan lancer via email dan juga via Skype untuk meladeni berbagai hal yang memerlukan feedback cepat terkait dengan penyusunan tesis saya.

Lulus dari ESC Rennes dan setelah mengikuti program magang yang dilakukan, saya merasakan sekali manfaat pentingnya bersekolah di tempat yang dapat membuat mahasiswa tertantang dengan baik dalam proses belajarnya, juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menyeimbangkan proses kemajuanh pembelajaran, sosialisasi dan beribadah.

Belajar di luar negeri, khususnya di Perancis, selain membuka cakrawala dan memperluas pengalaman hidup, juga semakin meyakinkan saya akan pentingnya merasakan kuliah di sekolah yang menghargai kebutuhan dan kesejahteraan para mahasiswanya. So …. tidak ada salahnya untuk mempertimbangkan ESC Rennes sebagai tempat tujuan belajar para pembaca Indonesia Mengglobal, bukan? :)

Photo is taken by the author himself