Melanjutkan Studi di Rennes, Perancis… Pourquoi Pas? (Edisi I)

5
609
Rennes, France

Biasanya, seseorang akan mengalami kesulitan untuk melakukan sesuatu yang di luar kebiasaannya. Atau bahkan, hal terburuk yang bisa terjadi adalah malas dan membatalkan diri untuk melakukan hal baru.

Begitu hal nya dengan diri ini. Terbiasa tentang sepakbola dan jersey-nya (pakaian yang digunakan oleh sebuah klub ketika bertanding), kali ini mencoba melakukan sesuatu yang beda. Yang ingin dicurahkan kali ini adalah mengenai pengalaman masa kuliah S2 beberapa tahun lalu di Rennes, Perancis.

“Apa? Kuliah di Rennes, Perancis? Ga salah ketik tuh? Ga salah denger?”

Well, itu yang sering terdengar di telinga saat pertama kali memutuskan mengikuti proses persiapan berangkat kuliah di luar negeri. Banyak kawan di lingkaran pertama pertemanan dan saudara yang menyangsikan pemilihan kuliah di kota tersebut. Dan tiap ditanyakan kenapa, saya seperti harus mempersiapkan rekaman suara untuk merekam jawaban tiap kali pertanyaan tersebut terucap.

Tapi sebelumnya, kenapa juga saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri? Repot dan mahal, bukan? Alasan pertama dan utama memutuskan belajar di luar negeri tidak lain dan tidak bukan adalah pengalaman berharga. Banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang dan salah satunya adalah pengalaman. Untuk pribadi yang belum pernah merasakan nge-kos atau tinggal di asrama, tinggal sendiri di luar negeri adalah sebuah tantangan yang besar. Bayangkan, tidak ada kawan maupun saudara di tempat tujuan baru. Teman mungkin ada, hasil perjumpaan di dunia maya. Itupun jika kita berandai ada teman dari komunitas PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia di sebuah kota di luar negeri).

Kita yang tidak pernah memasak, harus belajar memasak sendiri untuk melanjutkan hidup. Kita yang terbiasa menyuruh asisten rumah tangga jika ada pakaian kotor, akan disulap untuk bisa belajar mencuci pakaian sendiri dan hal lain nya.

Selain pengalaman dimana kita harus belajar mandiri, ada hal lain seperti pengalaman agar saya dididik oleh lingkungan untuk belajar disiplin dan menghargai waktu.

Di Jakarta, saya terbiasa bertemu dengan orang di tanah kelahiran untuk toleran terutama perihal keterlambatan. Namun, akan sangat sulit menemui hal serupa di luar negeri. Jangan harap kita bisa tetap santai tanpa perasaan bersalah jika berada pada situasi telat hadir meeting dalam waktu 30 menit.

Lalu, mengapa memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Perancis?

Hal yang membuat saya memilih Perancis sebagain negara tujuan studi, tidak lain dan tidak bukan adalah karena faktor bahasa. Saya tipikal orang yang mengedepankan pernyataan “kalau bisa mendapatkan sesuatu yang lebih, kenapa puas dengan sesuatu yang rata-rata”.

Di Perancis, bahasa Inggris bukan bahasa utama dalam kehidupan sehari-hari. Kita dipaksa untuk fasih berbicara dalam bahasa Perancis. Ini adalah sebuah tantangan yang harus dinikmati. Begitupun dalam hidup, terkadang kita harus “berkawan dengan lawan”. Jika tantangan ataupun hambatan kita lakoni dengan bentuk gerutu dan keluh kesah, maka akan sulit kita untuk maju. Belajar bahasa Napoleon ini bisa membuat kita memiliki keterampilan lebih dari 2 bahasa yang umum yaitu Indonesia dan Inggris. Hal tersebutlah yang memacu saya belajar Bahasa Perancis demi sesuatu yang lebih baik dan berbeda. Alasan dari sisi humor yang mungkin bisa dijadikan dalih belajar bahasa Perancis ini adalah, kita bersama kawan yang mengerti bahasa Perancis bisa bebas membicarakan orang lain selama di Indonesia tanpa harus takut ketahuan kalau kita membicarakan orang tersebut  :)

Berikutnya, kenapa memilih belajar di kota Rennes?

Ada banyak kota di Perancis yang menawarkan ribuan kesempatan meraih pengalaman dan pendidikan. Layaknya hidup yang dihadapkan akan banyaknya pilihan, sudah tentu tiap kota memiliki kekurangan dan kelebihan. Prioritaskan hal yang menjadi rencana di awal dan dalam hal ini, tujuan utama mengambil saya melanjutkan kuliah ke tingkat Master adalah untuk belajar. Saya kemudian melakukan “sorting” kota-kota yang sekiranya layak dijadikan tempat untuk belajar. Salah satunya adalah Rennes, sebuah kota yang terletak di tepi pantai dan termasuk ke dalam region Bretagne (Perancis ini memiliki 27 region metropolitan). Region metropolitan ini, mungkin diibaratkan sebagai provinsi di Indonesia. Dari Paris, perjalanan ke kota ini memakan waktu 2,5 jam jika menggunakan TGV (Train à Grande Vitesse) kereta api cepat milik Perancis. Jika dibayangkan sekilas, kota ini layaknya Jakarta-Bandung yang ditempuh oleh travel yang menjamur akhir-akhir ini via Cipularang. Tapi nyatanya, jika menempuh perjalanan menggunakan mobil, akan memakan waktu hampir 5 jam !!

Membaca testimonial dari mahasiswa asing di kota Rennes, mereka menyiratkan hal yang sama perihal Rennes sebagai kota pelajar. Ketika tinggal di sana pun, saya dan beberapa kolega baik di sesama pelajar Indonesia maupun teman kuliah saya dari negara non-Asia, sepakat dengan claim bahwa kota ini adalah kota pelajar: kota ini terlihat ramai pada hari Senin hingga Jumat. Namun setelah berbulan-bulan tinggal di Rennes, saya mulai bisa menebak bahwa tempat yang paling banyak dikunjungi Jumat malam adalah Gare de Rennes (sebuah stasiun kereta api seperti Gambir di Jakarta, yang menghubungkan beberapa kota lain). Stasiun KA ini menjadi ramai karena para mahasiswa asli Perancis rata-rata menghabiskan weekend mereka di luar kota Rennes, di tempat tinggal orangtua mereka. Berbeda dengan Jakarta, klub malam dan tempat hiburan seperti bioskop di Rennes nampak lebih ramai pada hari Kamis malam.

Semua tempat perbelanjaan dan area pergaulan tutup di hari Sabtu dan Minggu. Pada  hari-hari tersebut, fasilitas umum yang beroperasi hanya rumah sakit, restoran kecil berukuran 5×4 m, minimarket semacam Carrefour dan stadion sepakbola jika klub Stade Rennais (klub kebanggaan dan satu-satunya klub yang ada di Rennes) bertanding. Sehingga, banyak dari mahasiswa di kota ini menghabiskan waktu akhir minggu untuk belajar, membereskan kamar asrama / apartemen dan mempersiapkan diri untuk hari Senin berikutnya. Tidak sampai di situ saja, di kampus ESC Rennes ini, pada hari Minggu, ruangan student centre dan fasilitas gym (khusus member) nya, tetap terbuka untuk mahasiswa pada hari Minggu. Hal ini berguna bagi mereka yang ingin mendapatkan fasilitas internet maupun printing secara gratis. Sungguh suasana yang sangat kondusif untuk belajar!

Walaupun luas kota Rennes tidak terlalu besar (tidak berbeda jauh dengan luas kota Sukabumi di Jawa Barat), Rennes memiliki banyak universitas yang menawarkan berbagai jurusan dan diantaranya, tiga universitas ternama di Perancis terletetak di kota ini. Karena saya tertarik untuk melanjutkan kuliah di sekolah bisnis, pilihan saya akhirnya jatuh kepada ESC Rennes (École Supérieure de Commerce) School of Business.

Ibarat sebuah film yang memiliki sekuel, begitupun dengan artikel ini. Di edisi berikutnya, saya akan menceritakan lebih lanjut mengenai program studi yang saya tempuh juga mengenai kampus ESC Rennes School of Business.

Melanjutkan Studi di Rennes, Perancis… pourquoi pas? (mengapa tidak?) Mari menjadikan kota Rennes, Perancis sebagai alternatif pilihan kota tujuan kuliah di luar negeri.

  • ini bagus banget ceritanya,
    kisah nyata.. jadi inspirasi nih om ucil
    ak juga mau, ndalemin ilmu design jersey
    masih cari2 infonya
    apakah di prancis atau jerman yg paling pas
    baca ini jadi termotivasi utk segera lulus dulu
    di jenjang s1,
    biar bisa lebih konsen di bidang design jersey
    soalnya s1 ku ini nanggung, design produk
    tapi gaboleh riset tentang jersey
    hebat om bisa nuntut ilmu sampe rennais

  • Agnesia Adhissa

    Kota yang nyaman… rasanya ga mau pisah sama Rennes :)

    • Satria

      maaf, bagaimana caranya saya bisa dapat informasi S3 olahraga di perancis?

  • Pingback: Melanjutkan Kuliah di Rennes, Perancis … Pourquoi Pas? (EDISI II)()

  • andi nur bm

    tulisan yang menginspirasi, saya lagi berencana mencari univeristas di Perancis untuk menlanjutkan kuliah S-3 saya dibidang manajemen dan bisnis. Mungkin bisa referensi universitas mana di perancis yang bisa di jajaki.