5 Strategi Memperluas Pertemanan di Luar Negeri sebagai Introvert

0
436
Penulis melihat pameran seni sambil mencari teman baru di Copenhagen, Denmark

Beradaptasi dengan lingkungan yang baru ketika studi ke luar negeri, termasuk pertemanan, kadang menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang. Apa saja strategi yang dapat diterapkan untuk mengatasi hal tersebut? Mari simak 5 strategi yang telah dibagikan oleh Suryagama, lulusan (distinction) dari University of Liverpool berikut!


Tahun 2014 lalu, saya beruntung dan bersyukur sekali bisa menempuh kuliah magister di University of Liverpool berkat beasiswa LPDP. Saya tinggal di sana total selama 17 bulan (masa studi 1 tahun ditambah sisa masa berlaku visa 5 bulan). Saya mengambil jurusan E-Business Strategy and Systems, jurusan yang relevan dengan pekerjaan saya sebelumnya sebagai IT-finance business analyst di salah satu BUMN di Jakarta Selatan.

Secara default, saya ini jarang berbicara, suka lupa melakukan eye contact jika berbicara (pertama kali tahu tentang eye contact adalah saat ditegur guru SMP), volume suara sering pelan, wajah jarang menunjukkan ekspresi (jika berbicara, bibir saya hampir tidak terlihat bergerak) atau malah menunjukkan ekspresi yang salah. Kemudian, saya juga sering tidak paham ‘kode’ atau bahasa yang tidak literal, tidak bisa membaca bahasa tubuh dan ekspresi wajah kecuali yang ekstrem, serta sering anxious jika berada di kerumunan karena otak saya seolah tidak memiliki naluri atau formula untuk bisa ‘mengalir saja’ dalam bersosialisasi.

Ada masa-masa saat sekolah dulu di mana saya benar-benar kesulitan untuk bergaul. Saya baru benar-benar memahami semuanya ini dan dampak yang sudah diakibatkannya sejak 2 tahun lalu setelah mengalami masalah keluarga dan pribadi yang cukup parah. Saya menemukan bahwa selain pengaruh genetik, defisit saya ini berkaitan erat dengan efek komplikasi preeklamsia ibu saya dulu saat melahirkan saya.

Kondisi yang saya miliki ini turut membentuk pola pikir dan cara pandang saya yang sering tidak biasa bila dibandingkan dengan orang-orang di sekitar saya, termasuk diantaranya dalam mencari cara untuk memperbaiki defisit saya itu sendiri. Melihat ke belakang, pola pikir ini jugalah yang membantu saya untuk mengatasi kesulitan dalam memperluas pergaulan ketika dulu tinggal di Liverpool.

Saya ingat saat masa-masa awal S2 dulu, saya berharap kalau pergaulan saya akan jauh lebih berkembang. Minimal, saya bisa punya teman kuliah dari banyak negara. Ternyata realitanya jauh berbeda karena dari hampir 30 orang mahasiswa di jurusan saya, sekitar 80% dari mereka berasal dari sebuah negara non-English speaking yang sama, yang tipikal orangnya pun pendiam dan pemalu. Fenomena ini juga terjadi di banyak jurusan lain dan, jujur, membuat saya down di minggu-minggu awal perkuliahan.

Lalu, apa yang harus saya lakukan? Bergaul cukup dengan teman-teman dari Indonesia saja?

Tidak. Saya sangat familiar dengan situasi semacam ini. Kalau saya tidak melakukan sesuatu, nanti pelan-pelan saya akan kecewa dengan diri saya sendiri karena saya sudah menyia-nyiakan sesuatu yang seharusnya menjadi salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya.

Bersama teman-teman PPI Liverpool dan tamu di acara pemutaran film Indonesia
Bersama teman-teman PPI Liverpool dan tamu di acara pemutaran film Indonesia

Ini saya bukan terobsesi dengan memiliki banyak teman ya. Tapi, bagi orang seperti saya, ada banyak masa dalam kehidupan dewasa saya di mana hal-hal yang ada di pikiran saya seringkali tidak bisa relate dengan pikiran banyak orang lain. Dengan kata lain, selain untuk memperkaya wawasan dan kenalan, di sana itu saya mencari orang-orang yang beneran bisa berbagi cerita dan masalah dengan saya.

Berdasarkan pengalaman naik-turun dalam mencari teman di masa lalu, ada 2 aturan main yang saya anut.

Pertama, saya akan jauh lebih aktif dalam bersosialisasi jika berinteraksi dengan hanya 1-2 orang saja dalam sekali waktu (kecuali jika sudah kenal dekat).

Kedua, bila berada di dalam forum atau situasi yang isinya orang banyak, akan lebih bagus jika saya memiliki tanggung jawab di forum itu yang akan menjadi ‘modal’ awal saya dalam berbicara dan bersikap. Misalnya, menjadi panitia atau menjadi pembicara.

Mengikuti dua aturan ini, saya menerapkan 5 strategi berikut untuk memperluas pertemanan saya selama di Liverpool.

1. Mencari di tempat ibadah

Farewell dengan dua kawan yang saya kenal dari musala kampus
Farewell dengan dua kawan yang saya kenal dari musala kampus

Untuk strategi yang pertama cukup jelas ya. Dari musala kampus, saya mendapatkan beberapa teman beda fakultas dan bahkan ada yang bukan mahasiswa (ini termasuk saat traveling ke luar UK). Dari mereka, saya kenal dengan seorang lain yang mau berbagi sewa akomodasi untuk bulan pertama saya di sana.

Supaya lebih jelas, kita mundur sebentar. Ceritanya, waktu saya tiba pertama kali di Liverpool, saya menginap di hostel dan menumpang di flat teman dari Indonesia selama beberapa hari sambil secara langsung berburu flat. Saya sengaja mencari akomodasi yang kontrak sewanya bulanan yang, kalau ternyata tempat atau tipe flat mates saya tidak sesuai harapan, saya bisa segera pindah.

Ini mengantarkan kita ke strategi yang kedua di bawah.

2. Berpindah akomodasi

Di bulan pertama, saya tinggal di sebuah flat dengan seorang imigran asal Sudan yang bekerja di supermarket halal. Untuk 8 bulan berikutnya, saya tinggal di sebuah rumah berisi total 5 orang termasuk saya.

Kami berasal dari 5 negara di Asia, Eropa, dan Timur Tengah yang berbeda. Ada yang sudah bekerja, ada yang kuliah. Selama 3 bulan berikutnya, saya berbagi apartemen dengan seorang bule Inggris yang, menariknya, dia memeluk kepercayaan Baha’i. Tapi, dia sudah bekerja dan selama 3 bulan itu dia jarang sekali berada di apartemen.

Kemudian setelah ujian tesis, saya solo traveling ke 4 negara Nordic selama 3 minggu. Sekembalinya di Liverpool hingga 3 bulan kemudian sebelum pulang, saya tinggal dengan seorang kawan dari Indonesia.

Pesta kebun bersama housemates saya selama 8 bulan
Pesta kebun bersama housemates saya selama 8 bulan

Sebenarnya, saya betah-betah saja tinggal di semua akomodasi tersebut. Tapi, saya perlahan sadar bahwa berpindah akomodasi adalah satu cara efektif untuk memperkaya pengalaman tinggal di luar negeri dalam waktu singkat. Pindah-pindah koper dari satu tempat ke tempat lainnya adalah konsekuensi yang saya bersedia toleransi.

3. Memanfaatkan aplikasi Couchsurfing

Bersama member CS dari Helsinki (host saya) dan Korea Selatan
Bersama member CS dari Helsinki (host saya) dan Korea Selatan

Lalu ada Couchsurfing (CS), sebuah platform di mana anggotanya (dari seluruh dunia) bisa saling berkunjung dan memberikan tumpangan akomodasi (hosting), gratis. Saya bergabung dengan komunitas online ini 11 tahun lalu ketika solo traveling pertama kali di Indonesia.

Kira-kira selama setahun (dari 17 bulan) saya di Liverpool, hampir tiap bulan saya hosting, meet up atau hiking (pernah satu kali) dengan anggota CS dari negara-negara lain yang berkunjung ke sana. Selain hosting, sebisa mungkin saya meluangkan waktu untuk menjadi tour guide mereka untuk keliling kota.

Selain di Liverpool, saya juga mendapatkan 2 teman baru dari CS ketika solo traveling di Helsinki dan Copenhagen.

4. Mengikuti forum dan acara di luar kuliah

Bersama tiga mahasiswa internasional lain yang hadir di International Night Rotary Club di Formby. Sumber foto: Champnews
Bersama tiga mahasiswa internasional lain yang hadir di International Night Rotary Club di Formby. Sumber foto: Champnews

Strategi berikutnya mengharuskan saya untuk berada di kerumunan. Saya diundang sebagai satu dari 5 mahasiswa internasional untuk berpidato pada acara International Night di Rotary Club Formby yang anggotanya sudah senior semua.  Saya tahu tentang acara ini melalui email dari kampus (semua mahasiswa internasional bisa mendaftar, tapi hanya akan dipilih 5 orang untuk hadir).Di acara itu, saya mengenal sepasang suami istri yang, akhirnya selama saya di Liverpool, saya kunjungi beberapa kali termasuk untuk berpamitan sebelum pulang ke Indonesia.

Selain itu, dari menghadiri sebuah pemutaran film Indonesia di sana, saya bisa berteman sekaligus (sempat) menjadi tutor Bahasa Indonesia-nya dari tutor Bahasa Portugis-nya seorang teman PPI saya.

5. Mencari dari kelas perkuliahan

Dari kalangan teman kuliah, saya juga menjalin pertemanan dengan beberapa yang 80% tadi. Lagipula, setelah saya tanya-tanya, banyak kok dari mereka yang juga kaget kalau ternyata jumlah mereka itu sangat dominan. Jadi, beberapa orang juga penasaran ingin punya teman beda negara. Seorang dari mereka ternyata memiliki hobi solo traveling juga, dan dia jadi partner traveling saya ke luar kota beberapa kali.

Di puncak Snowdonia bersama classmate terdekat saya
Di puncak Snowdonia bersama classmate terdekat saya

Itulah beberapa diantaranya strategi saya dalam memperluas pertemanan selama masa S2 sebagai seorang introvert dan memiliki defisit dalam berkomunikasi.

Dari cerita di atas, ada 3 poin penting yang semoga relevan khususnya bagi para pembaca yang merasa dirinya introvert.

Yang paling utama adalah, saya memperlakukan masa S2 ini sebagai titik puncak di mana saya harus berani mempraktikkan semua teknik membangun pertemanan yang sudah susah payah saya latih sebelumnya. Saya ingat dulu pertama kali ke luar negeri sekaligus berinteraksi dengan orang asing, yaitu ke Jerman di tahun 2007 untuk menghadiri festival mahasiswa. Saya merasa kecewa ketika pulang karena selama 10 hari di sana, pergaulan saya tidak banyak berkembang. Sejak saat itulah dan sejak pindah ke Jakarta (dari Yogyakarta), saya mulai memberanikan diri untuk mencoba hal-hal yang cenderung bertolak belakang dengan sifat dan kepribadian saya, seperti solo traveling dan jadi anggota CS.

Kedua, saya tidak merekomendasikan teman-teman untuk mengorbankan prinsip demi mendapatkan teman atau social approval dan, alhamdulillah, selama di Liverpool saya pun tidak seperti itu. Saya pernah ikut menemani rombongan rekan-rekan bule saya (beda jurusan) pergi bersenang-senang ke city centre di Madrid. Waktu itu kami diikutkan oleh fakultas untuk company visit ke HO Santander, dan malamnya ada waktu bebas. Mereka mengunjungi bar demi bar entah sampai berapa kali, sedangkan saya cukup sampai bar ketiga saja lalu kembali ke hotel. Minuman yang saya pesan pun cukup Coca-Cola dan teh panas karena saya tidak minum alkohol (ironisnya, itu terjadi di bulan Ramadhan).

Terakhir, saya paham kalau secara default, mayoritas dunia ini tidak ‘didesain’ untuk orang-orang seperti saya. Banyak ketidakberuntungan dalam pergaulan yang saya alami sejak masa remaja dulu. Tapi, mau se-introvert separah apa pun itu, saya dan teman-teman pembaca tetap berhak untuk memiliki banyak teman—dan bukan hanya teman di dunia maya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here