Makna di Balik Perjalanan Ph.D.

0
672

Menjalani studi S3 di Eberhard Karls Universitæt Tübingen, Jerman, memberikan banyak pelajaran berharga bagi Karlina Denistia, kontributor Indonesia Mengglobal. Kini, Karlina sadar bahwa perjalanannya dalam mencapai gelar Ph.D. bukanlah untuk sekadar memenuhi ego akademisi, namun juga sebagai pelajaran hidup. Melalui artikel ini, ia membagikan nilai-nilai yang ia dapatkan setelah lulus S3 sebagai bahan refleksi bagi teman-teman yang berencana untuk melanjutkan studi doktoral. 

 

Perjalanan Ph.D.-ku dimulai pada awal 2016, ketika aku mengambil studi Linguistik Kuantitatif di Eberhard Karls Universitæt Tübingen, Jerman. Ph.D.-nya bukan pengantar pizza di Pizza Hut Delivery, tapi Doctor of Philosophy. Melanjutkan tulisanku di sini, kali ini aku akan sharing mengenai hal-hal baik yang aku dapatkan setelah aku 4,5 tahun menjalani Ph.D. Harapannya, tulisan ini bisa menjadi inspirasi untuk teman-teman yang sedang mempertimbangkan untuk lanjut sekolah S3 di luar negeri. Untuk selanjutnya, Ph.D. akan aku tulis S3 saja karena ngetiknya lebih simple dibanding “pe kapital ha kecil titik de kapital titik” hehehe

 

Di tahun pertamaku ambil S3, setiap teman yang bilang, “Karlina, aku mau lanjut S3 nih”, akan aku respon dengan, “Cuuuusss hajaaarrr!! Langsung daftaaaarrr!!!”. Seiring perjalanan S3 dan masuk tahun kedua dan seterusnya, aku belajar dari pengalaman bahwa lanjut S3 itu butuh pertimbangan yang matang. Jadi, kalau sekarang ada teman yang bilang, “Karl, aku mau lanjut S3 nih”, responku akan berubah jadi, “Bismillah yaaaa… aku support banget kalau kamu sudah mantap sama niatan itu. Kalau butuh sharing pengalaman tentang S3 di luar negeri, feel free to reach me”. Aku rasa, perubahan responku itu disebabkan karena aku sadar betul bahwa S3 butuh persiapan mental yang matang dan kemauan yang kuat.

 

Am I a Good Ph.D. Candidate?

Pertanyaan ini muncul pas aku menjalani tahun pertama S3. I thought, I did not do well karena tahun pertamaku masih berkutat dengan data preparation, sedangkan yang lain sudah mulai mendapatkan data dan mencoba metode tertentu buat diaplikasikan ke datanya. Ditambah lagi, ilmuku tentang bahasa pemrograman dan statistik engga sebombastis rekan-rekan kerjaku. Minder dong aku tuh

 

Penampakan meja kerjaku di apartment. Aku bisa ngabisin waktu 10 jam di meja ini buat berkutat dengan data analisis
Penampakan meja kerjaku di apartment. Aku bisa ngabisin waktu 10 jam di meja ini buat berkutat dengan data analisis

 

Akhirnya, aku tanya ke temanku yang sudah postdoc, “Am I a good Ph.D. candidate?”,  dan jawabannya adalah, “Of course you are!”. Dari penjelasannya, ada beberapa poin bagus yang aku dapat, bahwa a good Ph.D. candidate adalah mereka yang:

  • Punya rasa ingin tahu tentang keilmuan yang diteliti dan itu bikin dia jadi semangat belajar
  • Engga Sebagai mahasiswa S3, kita diharapkan untuk bisa melakukan riset independen setelah lulus. Oleh karena itu, kita perlu punya kemampuan untuk bertanggung jawab atas setiap langkah walaupun dengan pengawasan minimal dari supervisor. Di poin ini, aku benar-benar ngerasain bahwa selama setahun, supervisor aku kasih target dan cara menuju ke sananya gimana, I’ll find my way. Kalo kepentok, tanya kolega. Kalau masih mentok, baru tanya supervisor.
  • Punya passion dalam bidangnya yang kemudian itu akan membentuk kita jadi orang yang punya strong commitment and persistence. Inilah alasan utama kenapa kita harus selektif dalam memilih calon supervisor. Idealnya, supervisor adalah support system yang utama untuk kita. Hubungan yang sehat antara mahasiswa S3 dengan supervisor-nya bakal menentukan nikmat atau tidaknya proses S3. Sedikit gambaran, alhamdulillah komunikasiku bagus dengan supervisor. Bahkan, ketika aku stres di tahun pertama pun, I told him and we worked it out together. I felt supported karena dia mau ngasih aku intensive meeting cuma buat ngajarin coding. Di kisah lain, ada mahasiswa S3 yang komunikasinya kurang bagus sama supervisor-nya dan berakhir dengan pemutusan hubungan.

 

Learning Points of Being a Ph.D

 

Topi khas tanda kelulusan yang dibuat sama teman-teman riset grup. Hal-hal yang berkaitan dengan aku, akan digambarkan di topi ini. Misalnya, I love chocolate, makanya ada coklat di topi itu
Topi khas tanda kelulusan yang dibuat sama teman-teman riset grup. Hal-hal yang berkaitan dengan aku, akan digambarkan di topi ini. Misalnya, I love chocolate, makanya ada coklat di topi itu

 

Dengan tekad “selesaikan apa yang sudah aku mulai’”, akhirnya aku bertahan sampai di tahun kedua, ketiga, dan keempat. Di samping pelajaran yang sifatnya hard skills terkait bidang keilmuan selama perjalanan studiku, aku juga belajar tentang:

  • Communication skill

Datang dari budaya Timur yang sering minta maaf dan ngerasa engga sopan kalo bilang “engga”, aku belajar tentang cara berkomunikasi yang asertif selama studi di Jerman. Maksudnya asertif itu bisa berkomunikasi dengan jujur dan tegas, plus menghargai dan menjaga perasaan orang lain. Misalnya, kalo kita mau menolak undangan, kita mulai dengan bilang “Thank you for inviting me”, terus minta maaf karena engga bisa datang, “I’m afraid I can’t come, sorry”, kasih alasan kalau perlu, “I have another appointment” dan ditutup dengan bacaan hamdalah good wishes, Hope you’ll have fun!” or Next time, hopefully”.

Written communication skill-ku juga bertambah seiring bertambahnya intensitas korespondensi via email. Aku jadi tau, bahwa ada kalanya kita nulis email seperlunya saja. Emailku pernah direvisi sama supervisor — dari 3 paragraf jadi cuma 3 baris karena menurutnya, emailku engga on point. Oke sip. Siap bos, laksanakan, wkwkwkwk. Selain itu, aku juga jadi tahu bahwa bukan tempe (wow mulai garing). Cara menyapa dengan nama depan juga ternyata santuy aja kalau di luar negeri, sekalipun kita berkorespondensi dengan seorang profesor. Kapan kita bisa mulai saling panggil nama depan? Saat yang di sana sudah mulai menutup dengan nama depan.

Contoh, biasanya kan kita mulai korespondensi dengan formal:

Dear Professor Albus Dumbledore,

 

xxxxxxxxxxxxx

 

Best regards,

Karlina Denistia

 

Kalau ternyata balasannya Professor Albus Dumbledore begini:

Dear Karlina,

 

xxxxxxxxxxxxx

 

Best,

Albus

 

Fiks, Albus engga masalah kalo mulai dipanggil Albus mulai detik itu dan seterusnya.

 

  • Networking skill

Dalam dunia akademik, skill berkomunikasi aku gunakan untuk menjalin dan menjaga networking. Biasanya kalau pas ikut konferensi, aku akan bikin list orang-orang yang pengen aku deketin buat bisa kenalan dan ngobrol tentang riset. Cara deketinnya gimana? Datang ke sesinya, kasih pertanyaan, lanjut ngobrol pas break. Sepengalamanku, obrolan yang hidup biasanya terkait metode sama arah rencana riset selanjutnya. Sebagian konferensi punya informal gathering setelah jam konferensi selesai, bisa dalam bentuk dinner dan/atau short trip. Please, daftar dan ambil kesempatan itu buat ngobrol sama researcher lain dan be connected. Obrolan santai di kesempatan ini biasanya terkait dengan topik negara asal, hobi, kebudayaan, atau travelling.

 

Learning Points after Being a Ph.D

Setelah berkolam-kolam hasil perasan keringat, bermalam-malam kurang tidur, dan berjuta senyum kepuasan terhadap pencapaian diri sendiri, alhamdulillah aku lulus di bulan Oktober 2020. Salah satu petuah supervisor yang aku inget banget sampai sekarang isinya gini, “Kamu sekarang sudah Ph.D. tolong jaga pizzanya baik-baik”. Eeeeehh maap bukan ituuuu, salah serveeerWkwkwkwkw...

 

Foto kelulusan dulu di depan kampus tercinta
Foto kelulusan dulu di depan kampus tercinta

 

Selesai S3, terapkanlah ilmu padi yang makin berisi makin merunduk. Di atas langit masih ada langit. Stay humble. Engga ada gunanya sombong karena ngerasa punya ilmu dan udah Ph.D. Seperti kata Albert Einstein, “The more I learn, the more I realize how much I don’t knowSupervisor-ku, Prof. Harald Baayen, adalah salah satu teladan dalam ketulusan berbagi ilmu. Beliau engga pernah merasa lebih tahu, selalu terbuka untuk diskusi, dan mau belajar ilmu baru. Awal kedatanganku di riset grup beliau, kalimat sambutan pertamanya adalah, “So, teach me about your exotic Indonesian language”. It’s true that belajar bisa dari siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. J

 

Trust me, during your Ph.D. journey, you develop as a better person even without you knowing it.

 

*All photos are provided by the author

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here