Karir Pasca Studi di Luar Negeri: Dari Bidang Pendidikan ke Perusahaan Telekomunikasi

0
1170
Dessy di Monash University, Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi
Dessy di Monash University, Australia. Sumber: Dokumentasi pribadi

Memiliki karir yang sesuai dengan passion dan latar belakang pendidikan merupakan impian bagi sebagian besar fresh graduate. Namun pada kenyataannya, karir yang dijalani tidak selalu sesuai dengan rencana saat studi. Di artikel ini, Dessy Nur Amelia, kolumnis Indonesia Mengglobal lulusan Master of Education di Monash University, membagikan pengalamannya dalam memulai karir di perusahaan telekomunikasi, sebuah bidang yang berbeda dari latar belakang pendidikannya. Namun demikian, justru ia menemukan hal yang tak terduga dari pengalaman kerja pasca studinya saat ini.

***

Menentukan karir pasca studi bukanlah hal yang mudah, setidaknya bagi saya. Dua kali menempuh studi di jenjang yang berbeda, saya masih juga mengalami fase-fase kegamangan dalam menentukan karir bahkan setelah saya menyelesaikan pendidikan S2 di Monash University, Australia. Terlebih lagi, saya lulus di tengah-tengah pandemi COVID-19 di mana proses mencari kerja menjadi lebih sulit daripada sebelumnya.

Foto wisuda Dessy di Monash University, 2021. Sumber: Dokumentasi Pribadi
Foto wisuda Dessy di Monash University tahun 2021. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Sebagai latar belakang, saya menempuh pendidikan S1 hingga S2 di bidang pendidikan. Namun, kini saya bekerja untuk Telkom Indonesia, yang tentunya sebuah bidang baru yang belum pernah saya pelajari sebelumnya. Ketika artikel ini ditulis, saya sedang berada di fase Karyawan Dalam Masa Percobaan (KDMP) selama tiga bulan di Divisi Televisi dan Video. Walaupun secara hardskill artinya saya harus mempelajari proses bisnis serta budaya kerja di Telkom Indonesia dari awal, saya percaya pengalaman-pengalaman saya sebelumnya dapat membantu saya untuk beradaptasi bekerja di lingkungan baru.

 

Dari Halmahera Selatan hingga Australia

Selepas lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jurusan Pendidikan Biologi di tahun 2015, saya bekerja sebagai guru sekolah dasar di sebuah desa terpencil di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, selama satu tahun (2016-2017). Selayaknya para fresh graduate lainnya, sebelumnya saya sempat bingung antara memilih untuk langsung melanjutkan ke jenjang S2 di UPI atau bekerja terlebih dahulu. Saya akhirnya memilih bekerja di daerah terpencil, dengan pertimbangan ingin menambah pengalaman. 

Bersama dengan murid-murid di Desa Marikapal, Kab. Halmahera Selatan, Maluku Utara (2016). Sumber: Dokumentasi Pribadi
Bersama dengan murid-murid di Desa Marikapal, Kab. Halmahera Selatan, Maluku Utara (2016). Sumber: Dokumentasi pribadi

Mendapatkan pekerjaan sebagai guru di daerah terpencil pun bukan hal yang mudah, dikarenakan sebelumnya saya gagal dalam seleksi akhir Pengajar Muda (PM) XII Indonesia Mengajar setelah saya lulus S1. Dikarenakan proses seleksi sebagai guru kontrak di Halmahera Selatan sama persis seperti proses seleksi PM, saya kemudian mengirimkan dokumen saya dan memperbaiki kekurangan ketika proses seleksi Pengajar Muda sampai akhirnya saya diterima. Saya ditugaskan untuk mengajar di Desa Marikapal (Pulau Kasiruta), dengan waktu tempuh sekitar tiga jam dengan menggunakan kapal kayu dari Labuha, ibu kota kabupaten Halmahera Selatan (Pulau Bacan). Dari Ternate, perjalanan menuju Pulau Bacan dapat ditempuh dengan waktu tempuh selama delapan jam dengan menggunakan kapal ferry.

Keputusan saya untuk menunda studi dan menjadi guru di Halmahera Selatan merupakan keputusan terbaik dalam hidup saya. Walaupun saya mengalami banyak tantangan, baik dengan tim, warga desa, maupun dengan murid-murid saya, pengalaman tersebut sangatlah berkesan dan memberikan banyak pelajaran. Saya belajar untuk hidup di tengah-tengah keterbatasan seperti tidak adanya sinyal, listrik, serta air bersih. Selain itu, keterbatasan tenaga pengajar menyebabkan kemampuan murid-murid saya tertinggal, padahal mereka sangatlah potensial. Perbedaan budaya antara saya dengan warga desa pun menjadi tantangan di awal-awal penempatan saya. Namun dari pengalaman ini, saya belajar untuk beradaptasi, serta selalu siap akan ketidakpastian.

Salah satu kegiatan saat mengajar di Halmahera Selatan, Kelas Inspiras. Sumber: Dokumentasi Pribadi
Salah satu kegiatan saat mengajar di Halmahera Selatan, Kelas Inspirasi. Sumber: Dokumentasi pribadi

Saya merasa apa yang dipelajari di jenjang S1 tidak dapat saya aplikasikan sepenuhnya dalam konteks sebagai guru sekolah dasar di daerah terpencil. Di jenjang S1, saya mendapatkan kelas praktik mengajar sebelum diterjunkan untuk magang di sekolah. Saya sangat menikmati proses kreatif pembuatan lesson plan, dan saya mendapatkan nilai yang baik di mata kuliah tersebut sehingga saya lumayan percaya diri apabila mendapatkan tugas mengajar. Namun ketika mengajar di desa, saya seperti mati kutu karena kurangnya fasilitas, buku, serta kemampuan dasar para siswa. Selama satu tahun, saya berfokus pada peningkatan kemampuan dasar membaca dan berhitung bagi seluruh murid-murid saya. Saya betul-betul mengalami fase learning by doing untuk menyesuaikan proses pembelajaran dengan keadaan lapangan.

Pengalaman tersebut menginspirasi saya untuk mempelajari Educational Leadership and Policy, dikarenakan saya ingin mempelajari lebih dalam bagaimana seharusnya kepemimpinan dan kebijakan pendidikan yang baik untuk mempersempit kesenjangan pendidikan di Indonesia. Di bulan-bulan akhir penugasan saya, saya mendaftar beasiswa LPDP dan di awal tahun 2019, saya berkesempatan untuk melanjutkan studi saya di Monash University. Dalam esai saya, saya menuliskan cita-cita saya sebagai peneliti dan pembuat kebijakan yang dapat berkontribusi bagi kemajuan pendidikan Indonesia. 

Dalam masa studi saya selama dua tahun, saya berkesempatan untuk magang di UNESCO Jakarta selama empat bulan. Saya mempelajari cara menganalisis isu pendidikan, dan juga menjalin kerja sama dengan Kemendikbud. Pengalaman tersebut semakin memperkuat keinginan saya untuk bekerja di sektor pendidikan setelah saya lulus dari jenjang S2.

Tim Education Unit, UNESCO Jakarta (2019). Sumber: Dokumentasi Pribadi
Tim Education Unit, UNESCO Jakarta (2019). Sumber: Dokumentasi pribadi

Berkarir di Telkom Indonesia

Sepulang dari Australia setelah thesis submission (Januari 2021), saya mulai mendaftar pekerjaan sambil menunggu proses wisuda (Mei 2021). Saya banyak mencari informasi pekerjaan di NGO ataupun Think Tank di bidang pendidikan. Di bulan Maret 2021, saya mendapat undangan wawancara dari UNICEF Indonesia sebagai UN Volunteer di bidang pendidikan (one year contract), untuk meningkatkan literasi murid-murid sekolah dasar di Papua. Saya sangat bersemangat untuk menempati posisi tersebut karena sesuai dengan passion saya, sehingga saya mempersiapkan proses wawancara sebaik mungkin. 

Namun, saya tidak berhasil mendapatkan posisi tersebut. UNICEF Indonesia memutuskan saya sebagai kandidat kedua setelah second round interview. Saya baru dapat menempati posisi tersebut apabila kandidat pertama memutuskan untuk tidak mengambil posisi tersebut. Saya sempat putus asa untuk menerima fakta bahwa bekal saya untuk mengisi posisi tersebut seperti passion, latar belakang pendidikan, serta pengalaman di daerah timur tidaklah cukup. Saya kemudian memutuskan untuk menambah pengalaman saya dengan membantu sebuah NGO lokal yang terletak di Subang, Jawa Barat, yang berfokus untuk membangun energi terbarukan di daerah-daerah terpencil, sebelum kembali mencari pekerjaan sesuai dengan passion saya selama tiga bulan.

Ketika bekerja di NGO lokal tersebut, saya mendapatkan pengumuman mengenai rekrutmen Telkom Indonesia. Pada awalnya, saya hanya iseng untuk memasukkan data saya dan saya sama sekali tidak memiliki ekspektasi untuk bekerja di sebuah perusahaan besar. Namun, saya dipanggil untuk mengikuti tahapan demi tahapan sampai dengan final. Saya masih ingat di tahap kedua ketika cek berkas, sehari sebelumnya saya masih berada di Subang, sedangkan rumah saya di Bandung. Setelah memberi tahu orang tua, saya diminta pulang untuk mengikuti tes tersebut, yang pada awalnya saya tidak terlalu yakin untuk melanjutkan proses tersebut. Orang tua saya berpendapat bahwa mengikuti tes Telkom Indonesia merupakan kesempatan yang baik, dikarenakan prospek kestabilan, jenjang karir, serta reputasi Telkom Indonesia sebagai perusahaan dengan reputasi yang sangat baik.  

Saya kemudian dinyatakan lulus untuk mengikuti seleksi tahap akhir (tahap ketiga: wawancara dan medical check up). Saya baru mempelajari tentang Telkom Indonesia satu hari sebelum wawancara, melihat begitu besarnya harapan kedua orangtua saya agar saya diterima di Telkom Indonesia. Dalam proses pembelajaran tersebut, saya baru menyadari peran besar Telkom Indonesia dalam membangun jaringan telekomunikasi sampai ke pelosok Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Di Halmahera Selatan, saya menyadari peran penting infrastruktur telekomunikasi setelah menyaksikan sering terhambatnya pembangunan di desa (contoh: dana desa yang telat terlambat turun) dikarenakan tidak tersedianya sinyal. Hal tersebut yang menjadi salah satu alasan saya untuk bergabung di Telkom Indonesia, untuk turut berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia melalui sektor telekomunikasi. Singkat cerita, setelah tiga bulan proses seleksi, pada bulan Mei 2021 tepat satu minggu setelah wisuda online saya, saya diterima menjadi bagian dari Telkom Indonesia melalui program Great People Trainee Program (GPTP) XIII.

Lesson Learned 

Sampai ketika saya diterima di Telkom Indonesia, banyak rekan-rekan saya yang mempertanyakan keputusan saya, menimbang saya akan memulai karir saya dari bawah, di bidang yang sangat baru. Saya tidak akan mengelak bahwa di awal-awal training, saya merasa ragu atas pilihan ini. This is not gonna be an easy way for me, but i believe, this would be a good learning experience for me to grow. Jalani dan kosongkan gelas, begitu pesan mentor saya, Kang Joeherdhi M. Y. 

Setelah dijalani, ternyata menyenangkan juga karena ada banyak hal baru yang dapat saya pelajari setiap hari. Saya berkesempatan untuk mempelajari di balik layar produk-produk Telkom Indonesia, serta proyek-proyek Telkom Indonesia yang seluruhnya berpayung besar untuk berkontribusi terhadap pembangunan Indonesia. Sebagai contoh, saya berkesempatan untuk bergabung di tim yang dipimpin oleh Mas Fauzan Feisal, yang sangat menginspirasi dan empowering (he is really a good mentor) ketika menjalani proses on the job training  di Telkom Corporate University sebelum masa KDMP. Salah satu project di tim beliau adalah Program Maju Bersama untuk mengembangkan kapabilitas pemuda di Timur Indonesia dalam mengembangkan start up. Isn’t that cool?

On the Job Training di tim Brand and Communication, Partnership Operation Management, Telkom Corporate University (2021). Sumber: Dokumentasi Pribadi
On the Job Training di tim Brand and Communication, Partnership Operation Management, Telkom Corporate University (2021). Sumber: Dokumentasi Pribadi

Lalu, bagaimana dengan latar pendidikan saya yang sangat berbeda? Setelah beberapa bulan bergabung di Telkom Indonesia, saya menyadari bahwa apa yang saya pelajari di bangku kuliah sangatlah applicable untuk diaplikasikan di Telkom Indonesia. Di Monash, saya sempat mengambil mata kuliah Leading Capable Organisation, yang kemudian dapat membantu saya memahami budaya serta tipe kepemimpinan di suatu unit. Saya yakin, tidak ada ilmu yang sia-sia walaupun kita berkarir di bidang yang berbeda dari latar belakang pendidikan kita.

Pada akhirnya, saya belajar bahwa proses pencarian karir bisa jadi sangat berliku, tidak terduga, dan bisa jadi tidak sesuai ekspektasi. Dalam proses pencarian tersebut juga akan dijumpai banyak kegagalan, and it is totally okay. Gagal akan menjadikan kita lebih menghargai apa yang kita dapatkan saat ini, karena kita tahu proses untuk meraih sesuatu tidaklah mudah. Pesan terakhir saya, untuk siapapun yang sedang berada di situasi yang pernah saya alami: keep going on, and keep the option open. Percayalah di pilihan apapun, akan selalu ada kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri, apabila kita memilih untuk terus mau belajar. Good luck!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here