Meniti studi lanjut dan karier di Jerman, A hingga Z yang perlu kamu ketahui! Part 1: Studi lanjut magister

0
811
Yoga Pranata Rahmat, berfoto di Depan German Reichstag/Bundestag, the National Parliament of the Federal Republic of Germany
Yoga Pranata Rahmat, berfoto di Depan German Reichstag/Bundestag, the National Parliament of the Federal Republic of Germany

Jerman sebagai salah satu negara dengan ekonomi terkuat dengan kualitas pendidikan terbaik menjadi salah satu idaman bagi banyak orang untuk menjadi tempat melanjutkan studi serta meniti karir. Kali ini, Ivone (Columnist UK & Europe) berkesempatan untuk mendengarkan kisah langsung perjuangan koleganya, Yoga Pranata Rahmat, M.Sc., yang menuntaskan studi Master of Science in Process, Energy and Environmental Systems Engineering di Technische Universität Berlin (TU Berlin) dan saat ini sedang meniti karir sebagai researcher di German Aerospace Center (DLR).

Visi Indonesia Emas 2045 Memotivasi Yoga untuk Melanjutkan Studi di Jerman

Keinginan Yoga untuk melanjutkan study abroad dimulai dari keinginannya untuk membangun Indonesia dan kesadaran akan visi ‘Dirgahayu 100 Tahun Indonesia Emas 2045’, saat ia masih mahasiswa semester 6 di Program Studi Teknik kimia, Universitas Gadjah Mada. Yoga menyadari potensinya sebagai anak muda bangsa dan pentingnya mengenyam pendidikan serta pengalaman kerja di luar negeri yang akan sangat berguna ke depannya untuk membangun Indonesia sebaik-baiknya sehingga visi Indonesia Emas 2045 dapat tercapai.

Berlatar belakang sebagai chemical engineer, dan interest-nya akan besarnya potensi renewable energy dan alternative fuel di Indonesia, Yoga mencari kampus serta negara dengan pendidikan engineer terbaik di dunia.

Keputusannya jatuh pada Jerman, melihat jejak teknologi di process engineering, kualitas pendidikan, serta pesatnya perkembangan teknologi di negeri produsen Volkswagen dan BMW ini.

Selain itu, kesempatan untuk mengenyam studi di salah satu kampus engineering terbaik di dunia dengan biaya terjangkau (bisa dibilang hampir gratis) juga menjadi alasan kuat bagi Yoga untuk memilih Jerman, walaupun saat itu Ia juga diterima studi lanjut di Hong Kong dan Singapura.

Yoga Pranata Rahmat mengabadikan momen kelulusannya di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Yoga Pranata Rahmat mengabadikan momen kelulusannya di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Memilih Kampus di Jerman

Yoga menyebutkan seluruh informasi terkait dengan program studi, gelar, jurusan, bahasa pengantar, scholarship, tuition fee, timeline pendaftaran, dan lain-lain dari seluruh universitas di Jerman dapat diakses di website daad.de.

Situs ini tidak hanya menyediakan informasi program studi S2, melainkan semua program, baik S1, exchange programme, juga daftar beasiswa yang disediakan oleh pemerintah Jerman dan kampus masing-masing.

Tentu pemilihan jurusan dan program studi disesuaikan kembali dengan keinginan masing-masing. “Di Jerman sendiri, ada 3 jenis program untuk S2 yaitu program full bahasa Jerman, integrasi bahasa Jerman-bahasa inggris, dan full English. Pada umumnya, program internasional dengan pengantar bahasa Inggris lebih mahal daripada 2 jenis program lainnya. Jadi, disesuaikan kembali dengan kemampuan diri dan budget ya,” imbuh Yoga.

Seleksi dan Timeline Pendaftaran

Yoga menjelaskan bahwa pendaftaran dapat dilakukan dengan 2 cara, bergantung kepada program yang akan dituju, yaitu dengan mendaftar langsung ke universitas atau melalui uniassist.

Pada umumnya, cara pendaftaran melalui situs universitas tidak dipungut biaya, sedangkan uniassist menetapkan biaya sebesar 75 € dan keduanya mensyaratkan untuk mengirim berkas pendaftaran secara fisik.

Adapun berkas yang diperlukan umumnya (detail dapat di cek di daad.de sesuai dengan jurusan yang diinginkan) adalah:

  1. Ijazah
  2. Curriculum vitae (CV)
  3. Motivation letter
  4. Transkrip nilai
  5. Sertifikat bahasa (Inggris atau Jerman, tergantung program)

Seluruh berkas harus dalam bahasa Inggris atau Jerman, di mana berkas fotocopy harus dilegalisasi di kedutaan besar atau konsulat Jerman untuk Indonesia.

Tahapan seleksi tergantung dari programnya, namun umunya terdiri dari seleksi berkas dan interview. Selain itu, ada 2 jenis kelas di sistem Pendidikan Jerman berdasarkan seleksinya, yaitu kelas biasa (seleksi bedasarkan passing grade nilai) dan kelas Numerus Clausus, NC (seleksi berdasarkan jumlah kursi).

Umumnya, batas waktu pendaftaran untuk intake winter ditutup pada bulan April–Mei, sedangkan hasil akhir dapat diketahui 2–3 bulan setelah penutupan pendaftaran.

Persiapan Keberangkatan

Yoga berfoto bersama keluarga sebelum keberangkatan ke Berlin, Jerman dari Bandara Internasional Ngurah Rai Bali, Indonesia
Yoga berfoto bersama keluarga sebelum keberangkatan ke Berlin, Jerman dari Bandara Internasional Ngurah Rai Bali, Indonesia

Yoga menuturkan bahwa salah satu persiapan keberangkatan paling penting adalah bahasa. Kemampuan bahasa Jerman (minimal A1) akan banyak membantu kehidupan sehari-hari serta keperluan mengurus berkas serta birokrasi setelah sampai di Jerman.

Terkait dengan visa, Yoga menjelaskan bahwa diperlukan pembukaan “blocked account” di salah satu bank Jerman (Deutsche Bank) atau melalui third-party, fintiba, dimana diharuskan untuk transfer sekitar 10.000 € sebagai pengganti financial statement untuk pendaftaran visa tersebut. Uang ini sendiri merupakan biaya hidup minimal yang diperlukan untuk bertahan hidup di Jerman selama 1 tahun dan uang dari akun ini dapat diambil serta digunakan sebesar maksimal 850 € per bulan ketika kita sudah di Jerman.

Selain itu, LoA dari kampus, asuransi perjalanan, dan berkas lainnya juga diperlukan. Biaya dan berkas lengkap dapat dilihat di situs resmi Kedutaan Besar Jerman Jakarta.

Di samping visa, untuk housing juga perlu dicari secara mandiri. Selain dengan meminta bantuan atau bertanya ke Perkumpulan Pelajar Indonesia (PPI), housing juga dapat dicari melalui situs – situs tertentu yang menyediakan berbagai pilihan housing di Jerman. “Bisa juga dicari di “eBay-Kleinanzeigen“ atau di google dengan kata kunci “Wohnungssuche“,” imbuh Yoga.

Biaya Kuliah, Living Cost, dan Part-Time Job

Biaya kuliah sendiri bervariasi tergantung dari negara bagian masing-masing.

Sebagai contoh, setiap mahasiswa harus membayar uang 300 € per semester di semua universitas negeri di Berlin. Biaya ini sudah mencakup uang perkuliahan, biaya administrasi (perpustakaan, dll.) dan tiket transportasi umum di seluruh kota Berlin dan sekitarnya.

Fixed cost lainnya yang harus dibayar mahasiswa adalah public health insurance yang berkisar 100 € per bulannya. Asuransi kesehatan ini sangat membantu karena akan menutupi semua biaya berobat (termasuk operasi besar dan perawatan intensif di rumah sakit) jika mahasiswa jatuh sakit. Bila dijumlah total, standar living cost seorang mahasiswa di Jerman adalah 850 € per bulan. Namun, biaya ini juga bervariasi dari lokasi/kota tempat tinggal serta gaya hidup.

Kabar baiknya, mahasiswa dengan visa pelajar diperbolehkan untuk bekerja part-time hingga maksimal 20 jam/minggu, dengan gaji minimum di Jerman 9,60 €/jam. Selain itu, juga ada yang dinamakan mini-job dengan gaji sebesar 450–500 €/bulan serta jam kerja sekitar 4-8 jam/minggu.

“Jadi, sebenarnya jika bisa menyeimbangkan kuliah-kerja dan kerja 20 jam/minggu bisa menutup biaya hidup selama kuliah di Jerman. Opportunity yang tersedia juga banyak, serta cukup cepat dalam proses seleksi hingga diterima bekerja. Umumnya, di kota besar, kemampuan bahasa Inggris saja sudah cukup, namun kemampuan bahasa Jerman akan membuka opportunity part-time job lainnya,” jelas Yoga.

Yoga (tengah, belakang) berfoto dengan teman satu program masternya di Bradenburg Gate, Berlin, Jerman
Yoga (tengah, belakang) berfoto dengan teman satu program masternya di Bradenburg Gate, Berlin, Jerman

Sistem Kuliah Jerman

Sistem penilaian di Jerman berbeda dengan Indonesia, di mana nilai 1,0 (>95%) tertinggi dan 4,0 (>50%) menjadi yang terendah.

Salah satu perbedaan terbesar dari sistem kuliah di Jerman adalah sistem “Versuch”, di mana  mahasiswa memiliki percobaan untuk lulus dari mata kuliah maksimal 3 kali, dengan nilai minimal 50% (nilai 4,0). Apabila mahasiswa gagal memenuhi nilai minimal tersebut selama 3 kali, maka mahasiswa tersebut di blacklist untuk seluruh program studi di Jerman yang memiliki mata kuliah tersebut.

Pada umumnya, mahasiswa langsung mengikuti final exam dengan sistem penilaian yang strict. Akan tetapi, jadwal ujian dapat ditentukan sendiri oleh mahasiswa sesuai dengan jadwal yang disediakan. Ujian yang diberikan tidak hanya terbatas pada ujian tertulis, tetapi ada juga oral exam, practical, atau final project presentation.

Berkaitan dengan kurikulum, Yoga menjelaskan bahwa terdapat compulsory & elective modules (“Pflicht- & Wahlpflichtmodule”) yang ditentukan oleh jurusan dan free module yang dapat dipilih mandiri oleh mahasiswa. Total credit points sendiri berkisar antara 90 ECTS untuk program 3 Semester dan 120 ECTS untuk program 4 semester.

Sistem pembelajaran juga lebih komprehensif di mana beberapa mata kuliah langsung mempraktikan apa yang sudah dijelaskan di course secara langsung, sehingga mahasiswa langsung mengerti apa aplikasi dari ilmu yang sudah diajarkan.

Secara umum, syarat kelulusan program S2 di Jerman adalah master thesis yang dapat dikerjakan di universitas maupun di industri atau research center. Untuk program master yang ditempuh Yoga, kelulusan ditentukan dari 2 hal, yaitu magang wajib (minimal 2,5 bulan) dan master thesis di semester akhir. Umumnya keduanya diperhitungkan sebagai mini-job atau part-time job apabila dilakukan di luar kampus sehingga mahasiswa mendapatkan gaji. Mahasiswa dengan program S2 tanpa magang wajib juga memiliki peluang mendapatkan pengalaman kerja selama kuliah dengan cara mendaftarkan diri ke lowongan voluntary internship yang juga sering ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan di Jerman.

Yoga (kaos abu-abu belakang) berfoto bersama co-worker nya saat menjalani internship di DLR, 2019
Yoga (kaos abu-abu belakang) berfoto bersama co-worker nya saat menjalani internship di DLR, 2019

Dosen di Jerman bisa dibilang friendly, terbuka, open minded dan memiliki prinsip mencari kebenaran bukan siapa yang benar, sehingga terbuka akan kritik. Biasanya, dalam masa studi, dosen akan mengadakan sebuah sesi bernama “Sprechstunde” di mana mahasiswa dapat berkonsultasi dengan dosen mengenai pelajaran yang diajarkan dosen tersebut secara perorangan. “Mahasiswa Jerman juga cenderung kritis dan menyukai debat serta diskusi,” jelas Yoga.

Living Abroad and Culture Shock

Kesan pertama yang dirasakan Yoga dari culture orang Jerman adalah tepat waktu, kritis, strict to the rules, straightforward, fair, dan appreciative.

Selain itu, orang Jerman cenderung tertutup dan sedikit kaku ketika pertama kali bertemu, tapi akan terbuka dan ramah setelah kenal lebih dalam bahkan bila sudah kenal dekat pasti akan berpelukan bila bertemu ataupun berpapasan di jalan. Society juga menjaga komunitas mereka dengan memberikan contoh yang baik dengan menaati peraturan.

“Beberapa hal yang unik di sini adalah tidak boleh membuang sampah kaca di hari Minggu karena untuk menjaga ketenangan di hari itu, kalau warganya sampai terganggu bahkan bisa didenda lho! Selain itu, umumnya penduduk tidak boleh membuat keramaian dari jam 10 malam hingga 6 pagi,” terang Yoga.

Di sisi lain, kehidupan sehari-hari di Jerman juga berbeda dengan Indonesia. Misalnya, orang di Jerman harus membayar harga botol (minuman kemasan) sebesar 25 sen, yang mana uang ini dapat diperoleh kembali dengan menukarkan botol kosong di mesin tertentu.

Taken in Bellagio by the Lake Como, Italy during solo traveling to Milan and lake Como.
Taken in Bellagio by the Lake Como, Italy during solo traveling to Milan and lake Como.

Di samping itu, pengalaman berbelanja groceries juga berbeda di mana pembeli di Jerman melayani dirinya sendiri. Selain dalam hal pembayaran, pembeli harus membawa tas belanja sendiri atau harus membeli tas plastik/kertas dari supermarket untuk membawa pulang groceries-nya.

Kehidupan sebagai mahasiswa di Jerman juga dipenuhi dengan diskon dan privilege, dari diskon makanan, museum, laptop dan alat elektronik, subscription, hingga groceries.

“Untuk yang hobi travelling, kuliah di Jerman merupakan tempat yang sangat pas sih, karena di sini mudah sekali untuk travelling ke negara-negara Uni Eropa dan tidak perlu apply visa baru untuk mengunjungi negara Uni Eropa,” jelas Yoga yang juga hobby travelling.

 

Opportunity after graduation

Yoga menyebutkan bahwa kesempatan untuk bekerja dan studi lanjut (Ph.D. atau postdoc) sangat terbuka lebar di sini.

Depleting population menjadi salah satu alasan mengapa tenaga imigran berkualitas dibutuhkan di Jerman, terutama di bidang STEM, sehingga proses mendapatkan visa kerja dipermudah.

Selain itu, setelah lulus, siswa dari negara non-EU juga dapat mendaftar “Arbeitssuchendes Visum”, atau visa cari kerja, dengan durasi tinggal selama 1,5 tahun untuk mencari pekerjaan di Jerman. “Di sini, ikatan alumninya sangat kuat dan network yang didapat selama kuliah cukup bagus, jadi juga memperbesar kesempatan untuk lanjut karir atau studi di sini. Namun, kemampuan bahasa Jerman sangat direkomendasikan apabila ingin tinggal dan berkarir di sini,” tambahnya.

Yoga (tengah), research fellow - DLR, bersama teman satu tim kerjanya, melakukan aktivitas pekerjaannya secara daring ditengah keadaan pandemi Covid-19
Yoga (tengah), research fellow – DLR, bersama teman satu tim kerjanya, melakukan aktivitas pekerjaannya secara daring ditengah keadaan pandemi Covid-19

Tips and Trick

Salah satu hal terpenting ketika ingin melanjutkan studi ke Jerman adalah kemampuan bahasa Jerman dasar, karena hal tersebut akan membantu dalam kehidupan sehari-hari.

Persiapan finansial juga harus dilakukan baik secara aktif mendaftar beasiswa (LPDP, Habibie Center, DAAD, dll.) atau secara mandiri. Softskill seperti communication skill, inisiatif, dan proaktif diperlukan untuk membangun network dan relasi sebaik-baiknya ketika menjalani studi. Kemampuan untuk mengenali cara belajar yang sesuai diri sendiri juga perlu dilakukan, mengingat bahwa pada umumnya mahasiswa di Jerman lebih individualis dan belajar mandiri selama melakukan studi.

Don’t hesitate to pursue your dreams because the real failure is actually when you never try and then give up on what you are destined to,” tutup Yoga.

———–

Artikel ini ditulis oleh Ivone Marselina Nugraha, Columnist IM Europe & UK dan merupakan hasil wawancara dengan Yoga Pranata Rahmat, M.Sc.

Profil narasumber:
Yoga Pranata Rahmat merupakan Sarjana Teknik jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) lulusan 2016 dan telah menyelesaikan studi Master of Science in Process, Energy and Environmental Systems Engineering, Technische Universität Berlin (TU Berlin), Mei 2020. Dalam studi magisternya, Yoga melakukan internship dan master thesis di German Aerospace Center (DLR) di Institute of Engineering Thermodynamics, Department of Energy System Integration. Saat ini, Yoga bekerja sebagai Research Fellow – German Aerospace Center (DLR) di departemen yang sama dengan current projects Global Phase-Out Coal Atlas dan Renewable Alternative Fuels for Mobility.

———–

Seluruh foto disediakan oleh narasumber.
Editor: Haryanto, Content Director IM Europe & UK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here