Kuliah Master of Engineering di “Grandes écoles” Prancis, apa bedanya dengan Indonesia?

0
1139
Lazuardi Arzak Amikal Hidayat berfoto di Grandes écoles Toulouse INP – ENSIACET, tempat ia mengenyam pendidikan Master of Engineering
Lazuardi Arzak Amikal Hidayat berfoto di Grandes écoles Toulouse INP – ENSIACET, tempat ia mengenyam pendidikan Master of Engineering

Engineering, bisa dibilang menjadi salah satu jurusan paling sulit namun digemari bagi sebagian orang karena peran engineer yang critical dalam kehidupan manusia sehari-hari. Pendapat yang sama juga diutarakan oleh Lazuardi Arzak Amikal Hidayat, atau akrab disapa Arzak, yang memutuskan untuk melanjutkan studi magister Teknik Kimia di salah satu best school of engineering in France, Toulouse INP – ENSIACET. Ivone (Columnist UK & Europe), berkesempatan mengulik dan menceritakan pengalaman Arzak selama melakukan studi Master of Engineering-nya.

YOLO (you only live once), memulai kisah perjalanan studi Master of Engineering Arzak

Pria asal Magelang, Jawa Tengah yang menamatkan studi S1-nya di Teknik Kimia ITB tahun 2018 ini mengisahkan bahwa perjalanan studi magisternya diawali dengan sebuah kebetulan. Unik, bisa dibilang, karena Arzak melanjutkan S2-nya dengan program beasiswa penuh disertai kontrak kerja yang diberikan oleh PT Synthetic Rubber Indonesia yang bekerja sama dengan Michelin, France. Berawal dari sebuah pesan di grup angkatannya, Arzak memutuskan untuk menghadiri presentasi beasiswa tersebut dengan motivasi hanya untuk mendengarkan. Tidak disangka bahwa tim dari perusahaan tersebut akan melakukan seleksi penerima beasiswa di akhir presentasi tersebut. “YOLO (you only live once) and nothing to lose.Karena dadakan, selama interview I was just being myself dan menjawab sebisa mungkin sesuai dengan apa yang diharapkan oleh interviewer-nya,kata Arzak sambil mengingat momen itu. Singkat cerita satu minggu kemudian, dari 30 orang yang hadir dan mendaftar di seleksi beasiswa tersebut, hanya Arzak yang lolos dan diterima untuk program ini.

Momen send off Arzak oleh teman-temannya di Bandara Soekarno-Hatta, Indonesia
Momen send off Arzak (tengah, kaus kuning) oleh teman-temannya di Bandara Soekarno-Hatta, Indonesia

Perjuangan berat sebelum keberangkatan

Keinginan awal Arzak yang ingin bekerja langsung setelah lulus S1 tidak terduga berubah setelah mendapatkan beasiswa ini. Namun, Arzak menyadari bahwa kesempatan ini seperti paket lengkap, kesempatan mengenyam studi master abroad, belajar bahasa, dan bekerja secara bersamaan.

Berbagai kemudahan terkait berkas pendaftaran ke kampus diperolehnya, akan tetapi di sisi lain perjuangan berat harus dihadapinya sebelum keberangkatan. Arzak menjelaskan bahwa perjuangannya di semester terakhir studi S1-nya sangatlah berat. “Iya, saat itu pengumuman beasiswanya di akhir Januari 2018, sedangkan keberangkatannya direncanakan Juli 2018.” Dengan persiapan hanya 5 bulan dan di tengah kesibukan kuliah – ujian komprehensif – tugas akhir – penelitian – organisasi, Arzak harus mengasah kemampuan Bahasa Prancisnya dari nol.

Language barrier dan culture shock

Struggle Arzak tidak hanya berhenti setelah keberangkatannya ke Prancis, di sisi lain tantangan baru dimulai. Belajar dan bersosialisasi dengan menggunakan bahasa Prancis-nya yang belum sempurna membuat tahun pertama Arzak sangat berat. Selain itu, culture yang cenderung bebas dan berbeda dari Indonesia membuat Arzak sempat mengalami sedikit kesulitan untuk beradaptasi. Namun, Arzak kemudian memutuskan untuk melakukan co-housing dengan French students lainnya untuk menyempurnakan kemampuan bahasanya, beradaptasi, dan mempelajari French culture sepenuhnya.

Arzak berfoto bersama teman sekelasnya dalam kelas bahasa
Arzak (kanan, kaus biru) berfoto bersama teman sekelasnya dalam kelas bahasa

Perbedaan sistem course engineering Prancis dan Indonesia

Arzak menjelaskan bahwa sistem kuliah jurusan Teknik di Prancis dan Indonesia sangatlah berbeda. Di Prancis, engineering degree yang dikenal sebagai “Diplôme d’Ingénieur” setara Master of Engineering diberikan oleh “Grandes écoles” atau school of engineering setelah menempuh 5 tahun studi dari kelulusan secondary school. Program ini terdiri dari 2 tahun tahap ‘classes préparatoires aux grandes écoles’ (CPGE), atau biasa disebut ‘classes prépas’ or ‘prépas’ dan 3 tahun studi untuk mendapatkan gelar Master of Engineering. Akan tetapi, apabila sudah lulus S1 di Indonesia, kita hanya perlu menempuh 2 tahun untuk mendapat gelar master. Di akhir masa studi, mahasiswa diharuskan melakukan professional internship selama 6 bulan di perusahaan sebagai syarat kelulusan.

Arzak (kanan) berkesempatan mengunjungi ikon Prancis, Menara Eiffel di tengah kesibukan kuliahnya
Arzak (kanan) berkesempatan mengunjungi ikon Prancis, Menara Eiffel di tengah kesibukan kuliahnya

Sedikit berbeda dengan magang di Indonesia, di Prancis, kita akan diberikan satu project yang komprehensif dan feasible untuk dilakukan selama 6 bulan. Selama project, kita benar-benar masuk dalam kultur perusahaan sehingga momen inilah yang memberikan benchmark budaya kerja yang penting dan dapat diterapkan nantinya.

Arzak menerangkan bahwa dosen di Prancis sangat service-oriented, friendly, dan memfasilitasi diskusi dua arah dengan mahasiswa.

Selain itu, dosen di Prancis lebih diposisikan sebagai tutor dan hubungan dengan mahasiswa lebih casual seperti dengan teman sendiri. Sesi Tutor juga diberikan secara langsung oleh dosen dan di akhir semester terdapat sesi ‘bilan’ yaitu feedback 2 arah mahasiswa-dosen. Jadi di akhir semester, kita akan tahu apa yang salah dan benar dari apa yang kita kerjakan selama kuliah.

“Satu lagi, teori dan case yang dibahas di kelas juga saling terintegrasi dengan baik, jadi keterkaitan antara teori dan aplikasi dapat dipahami dengan jelas. Keterkaitan akan satu materi dan materi lainnya juga ada, karena real case dibahas langsung dengan dosen di satu sesi tutor,” imbuh Arzak.

Kewajiban Professional Internship memberikan pengalaman kerja tersendiri

Professional Internship yang dilakukan Arzak selama 6 bulan di Simorep Et Compagnie memberikan pengalaman berharga, utamanya Arzak mempelajari 3 hal penting: professionalism, critical thinking, open-minded.

Kultur kerja di Prancis yang profesional mengajarkan Arzak bagaimana membedakan hubungan profesional pekerjaan dan kasual. Mindset critical thinking dan open-minded juga terbangun dari budaya orang Prancis yang kritis in a positive way (konstruktif), terus terang, inklusif, suka berdiskusi dan terbuka akan masukan, sesuatu yang sedikit berbeda dengan Indonesia yang terkadang lebih cenderung sopan dan kurang kritis dengan suatu ide atau permasalahan.

Project komprehensif tentang process modelling yang dikerjakannya selama magang juga mengasah kemampuan engineering Arzak dan menjadi jembatan langsung ilmu yang didapatkannya dengan aplikasinya. Tak hanya kemampuan teknis, relasi dan kemampuan softskill-nya, seperti management waktu, procedural, communication skill, systematical thinking, apresiatif, dan adaptif juga berkembang.

“Oh ya, jadi karena kita sudah diharapkan untuk bekerja secara profesional layaknya pegawai umumnya, kita juga mendapatkan gaji selama melakukan internship selama 6 bulan ini dari perusahaan. Lumayan kan sebagai mahasiswa,” tambah Arzak.

Arzak mengunjungi Lacanau Ocean bersama temannya
Arzak mengunjungi Lacanau Ocean bersama temannya

Tips and Trick studi di “Grandes écoles” Perancis

Arzak mengutarakan bahwa melanjutkan studi engineering (baik mulai dari tingkat bachelor maupun master) di “Grandes écoles” Prancis merupakan salah satu keputusan terbaik. Selain karena kualitas pendidikan yang bermutu, kesempatan untuk berkarir sebagai engineer lulusan dari “Grandes écoles” juga terbuka lebar baik di Prancis, Europa maupun di Indonesia.

Di Prancis sendiri, pada umumnya engineer merupakan pekerjaan dengan salary yang cukup tinggi dengan jenis kontrak kerja CDI (Contract Duration Indeterminée), di mana pegawai dikontrak tanpa akhir dan tidak akan dipecat kecuali yang bersangkutan mengundurkan diri.

Dari segi biaya, tuition fee dari “Grandes écoles” cukup terjangkau, yaitu 600 € / tahun untuk public school dan 5000 € / tahun untuk private school dengan biaya hidup berkisar 600-800 €/bulan. Mahasiswa juga mendapatkan berbagai tunjangan dari pemerintah selama studi (seperti diskon mahasiswa, CAF/family allowance, dll.) dan kesempatan kerja part-time.

Namun, tentu syarat utama untuk melanjutkan studi di “Grandes écoles” adalah fasih berbahasa Prancis serta portofolio diri sebaik mungkin agar dapat diterima di “Grandes écoles”. “Terakhir, tentu orang yang mau melanjutkan studi di Prancis harus punya willingness yang kuat, tough personality, dan harus adaptif terhadap lingkungan di sini,” tutup Arzak.

———–

Artikel ini ditulis oleh Ivone Marselina Nugraha, columnist IM Europe & UK, dan diedit oleh Haryanto, content director IM Europe & UK, hasil wawancara dengan Lazuardi Arzak Amikal Hidayat dengan profil:

Arzak berfoto di Louvre Museum, salah satu museum seni terbesar yang paling banyak dikunjungi dan sebuah monumen bersejarah di dunia
Arzak berfoto di Louvre Museum, salah satu museum seni terbesar yang paling banyak dikunjungi dan sebuah monumen bersejarah di dunia

Lazuardi Arzak Amikal Hidayat merupakan Sarjana Teknik jurusan Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB) lulusan 2018 dan telah menyelesaikan studi Master of Engineering di Toulouse INP-ENSIACET di tahun 2020. Mendapatkan beasiswa yang memberikan kesempatan bagi Arzak untuk melakukan internship di Simorep Et Compagnie, Bassens, France. Saat ini Arzak bekerja sebagai Process Engineer di PT Synthetic Rubber Indonesia, sebagai kelanjutan dari kontrak kerja beasiswa yang diperolehnya.

———–

Semua foto disediakan oleh narasumber.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here