Erasmus Mundus Membawa Arzia Kuliah Jurnalistik di Eropa

0
902
Arzia dan dua temannya menikmat musim gugur di Aarhus pada 2020. (Foto: Sofia Kuan)

Bagaimana rasanya kuliah master dalam bidang jurnalistik di benua biru? Kali ini Columnist Indonesia Mengglobal, Rio Tuasikal berbincang dengan Arzia Tivany Wargadiredja, penerima beasiswa Erasmus Mundus bidang jurnalistik (Mundus Journalism). Arzia menceritakan bagaimana komitmen terhadap sebuah cause telah membuka jalannya sampai ke Denmark dan Republik Ceko. 

Hai Zia! Boleh cerita sekarang lagi kuliah di mana?

Hai Rio! Sekarang aku lagi kuliah MA in Journalism, Media, and Globalisation di Aarhus University di Aarhus, Denmark. Ini tahun pertama dan aku pindah ke sini Agustus 2020. 

Sebelumnya kamu kuliah dan kerja di mana?

Kalau kuliah S1 tuh di Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Padjadjaran (Unpad), ambil spesialisasi jurnalistik. Dulu sebenarnya nggak kepikiran jadi jurnalis karena mikirnya kalau jadi jurnalis tuh spesifik banget ilmunya. Tapi karena aku keterima Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di FIKOM Unpad, aku jalanin. Pas kuliah, aku mulai ngirim tulisan ke media karena lumayan dapat uang hehe

Selama kuliah aku magang di the Jakarta Post terus di Media Indonesia. Terus aku magang di Metro TV di program 360. Saat itu Najwa Shihab jadi salah satu host di situ. Jadi karir aku tuh dimulai dari muterin prompter-nya Najwa Shihab.

Lulus kuliah aku sempat magang lagi di Reuters. Di situ aku ngerasa rasa percaya diriku melejit. Karena di situ punya temen kerja dan senior yang kasih kepercayaan ke aku. Di situ juga pertama kali aku pede untuk nulis bahasa Inggris. Aku pede berkomunikasi dengan narasumber yang mereka ngomong bahasa Inggris.

Barulah awal 2016 aku kerja di CNN Indonesia TV. Abis itu sempat ke VICE selama 3 tahun. Terakhir aku di Gojek. Di situ aku belajar behind the scene-nya tech industry kayak gimana. 

WhatsApp Image 2021-05-25 at 07.55.52
Arzia menikmati Balevue Badebro Strand bersama teman-teman sekelasnya sekitar Agustus atau September 2020, sebelum pembatasan sosial COVID yang ketat pada akhir tahun. (Foto: Sofia Kuan)

Wah panjang juga perjalanan kamu. Terus gimana ceritanya bisa sampai di Denmark?

Aku tuh cuma pernah cobain daftar beasiswa satu kali yaitu Fulbright pas 2018. Dulu tuh inginnya kalau S2 ke Amerika. Dulu jaman kuliah masih polos, inginnya tuh American Dreams. Tapi dulu nggak sempat daftar kampus untuk dapat Letter of Acceptance (LoA). Waktu itu aku nunggu beasiswanya aja dulu. Pada saat itu aku nggak full effort. Jadi pas aku nggak dapet beasiswanya, ya udah. 

Terus gimana ceritanya bisa dapat Erasmus Mundus?

Aku awalnya dengar Erasmus Mundus karena dulu pas kerja ada salah satu anak magang yang Mundus Journalism. Pada saat itu, aku mikirnya Erasmus itu kampus di Belanda. Tapi kok dia di Denmark ya? Jadi aku awalnya nggak aware. Aku mulai aware itu pas 2019 ada kesempatan fellowship jurnalis ke Hamburg, Jerman. Sehabis fellowship itu, aku sempat jalan-jalan ke beberapa tempat di Eropa, salah satunya ke Praha, Republik Ceko. Di situ aku ketemu Eyang Jono, seorang eksil Indonesia. 

Kebetulan sebelumnya aku sering nulis tentang peristiwa 1965. Aku pernah bikin tulisan tentang eksil Indonesia yang terpaksa tinggal di Eropa karena kehilangan kewarganegaraan pada saat itu. Topik ini udah aku lakukan dari jaman S1 di Unpad. Saat kuliah aku kenal dengan seorang eksil Indonesia yang sudah bisa pulang ke tanah air. Pada 2018, sebagai wartawan aku nulis tentang eksil dan aku dikenalin sama kenalan-kenalan dia di berbagai kota di Eropa. Dari dia lah aku kenal sama Eyang Jono di Praha. 

Arzia dan teman-teman sekelasnya piknik ke Kalø Slotsruin pada musim panas 2020, sebelum pembatasan sosial ketat COVID-19 pada akhir tahun.
Arzia dan teman-teman sekelasnya piknik ke Kalø Slotsruin pada musim panas 2020, sebelum pembatasan sosial ketat COVID-19 pada akhir tahun.

Jadi 2019 aku ke Praha untuk ketemu sama Eyang Jono. Dia itu istilahnya kakeknya anak-anak Indonesia di Praha. Aku dimotivasi sama Eyang Jono, diajakin ke sebuah jembatan yang katanya kalau pegang patungnya akan balik lagi ke sana. Terus, karena dia kenal banyak mahasiswa Indonesia, aku dikenalin sama mahasiswa Indonesia dari program Erasmus Mundus. Bukan program yang jurnalistik tapi program teknik. Tapi terus aku temenan sama dia dan diajakin daftar Erasmus. Waktu itu kan September dan pendaftarannya pas lagi buka.

Akhirnya aku daftar Erasmus Mundus yang jurnalistik. Nggak ada niatan apa-apa awalnya. Bener-bener apply mepet deadline. Aku kirim dokumen semuanya itu beberapa jam sebelum deadline. Ya udah deh nothing to lose. Eh tapi akhirnya dapat. Sekalian aku pilih programnya yang ke Praha juga!

Keren banget. Kayak semesta mendukung gitu ya?

Iya! Padahal tahun sebelumnya program Mundus Journalism nggak ada ke Praha lho. Sebenernya waktu aku daftar ingin ngambil program ke Hamburg yang fokusnya lebih ke culture. Hamburg juga bisa dibilang pusatnya jurnalisme Eropa. Tapi 2020 entah kenapa Hamburg enggak ada. Tiba-tiba ada Praha, Republik Ceko, di Charles University. Ternyata, Eyang Jono itu dulu kuliah di Charles University juga. Sebelum jadi eksil, dia dapet beasiswa pemerintah Indonesia untuk kuliah di situ. Itu salah satu universitas tertua di Eropa tengah. 

Arzia berjemur di bawah sinar matahari setelah matahari sempat tidak keluar sama sekali selama 2 bulan pada akhir tahun.
Arzia berjemur di bawah sinar matahari setelah matahari sempat tidak keluar sama sekali selama 2 bulan pada akhir tahun.

Wow! Semuanya terhubung ya?

Iya banget!

Keren banget. Terus boleh ceritain nggak Mundus Journalism itu program kayak gimana? Ada pilihan apa aja?

Jadi angkatan aku ini Mundus 2.0 punya kurikulum baru untuk Mundus Journalism. Sekarang programnya lebih menggabungkan praktik dan riset. Di Aarhus University kita banyak nulis riset dan proposal. Untuk yang lebih praktik kita kelasnya di DMJX (Danmarks Medie- og Journalisthøjskole, Sekolah Jurnalisme dan Media Denmark). 

Pada tahun kedua kita bisa memilih beberapa opsi. Untuk tahun aku ada dua pilihan: Opsi pertama ada University of Amsterdam untuk politics, communications, data journalism, dan lain-lain. Opsi kedua adalah Charles University yang lebih ke international journalism, banyak praktiknya gitu. Aku pilih yang Charles. Tahun depan mungkin lebih banyak lagi opsinya. Misalnya ada Ludwig-Maximilians-Universität (LMU) di Munich, Jerman, which is very interesting.

Apa yang membedakan Mundus Journalism ini dengan yang lain?

Mungkin ini salah satu beasiswa yang nggak ribet. Dalam artian kalau udah keterima di beasiswanya, kita nggak pilih kampus. Kalau di sini kita pilih programnya dan kampusnya udah satu paket. Seperti program-program Erasmus Mundus lainnya. 

Yang kedua, buat yang berencana kerja cari pengalaman di luar negeri, Mundus Journalism ini tidak ada ikatan ke Indonesia. Akan besar kesempatannya untuk jadi jurnalis di negara lain. Mungkin lebih terbuka kesempatannya. Tentu disesuaikan juga dengan kebijakan di negara masing-masing. Tapi intinya bisa kita manfaatkan lewat Mundus Journalism. 

WhatsApp Image 2021-05-25 at 08.12.12
Arzia menikmati ‘winter bathing’ atau berenang di laut saat laut dingin pada Februari 2021. (Foto: Sofia Kuan)

Menurutmu gimana rasanya ketemu praktisi media dari berbagai negara? 

Kalau aku kuliah di Amerika bisa ngerasa nggak pede karena teman sekelasku orang lokal, native speaker, punya kenalan yang jauh lebih luas. Kalau di Denmark, kita akan kuliah dengan orang dari berbagai latar belakang, berbagai bahasa. Jadi ngerasa lebih pede. Yang nggak tahu negara ini tuh bukan cuma aku doang. Yang merintis dari awal itu bukan aku doang. Yang mencoba bikin berita, bikin film, segala macam, dengan bahasa yang bukan bahasa ibu tuh bukan aku doang. Itu sih yang aku pribadi ngerasa lebih mendorong kepercayaan diri. 

Terus di sini perspektifnya juga nggak super West-centric atau White-centric. Tahun ini teman seangkatanku ada dari 33 negara. Kita tiap kuliah selalu bawa perspektif negara masing-masing. Misalnya teman aku dari Kazakhstan bilang “oh that doesn’t work”, tiba tiba temen aku dari Kenya bilang “di Kenya begini dan begini”. Jadi aku punya perspektif yang nggak cuma masalah Amerika Serikat atau Inggris aja.

Buat jurnalis di luar sana yang lagi mikir-mikir pengen S2,

Arzia mengatakan komitmennya terhadap sebuah cause telah membukakan jalan ke Denmark dan Republik Ceko.
Arzia mengatakan komitmennya terhadap sebuah cause telah membukakan jalan ke Denmark dan Republik Ceko. (Foto: Sofia Kuan)

kamu bisa kasih tips untuk cari beasiswa, kampus, dan negara tujuan?

Menurutku stick to the cause. Aku berpikir mungkin aku nggak pengen di jurnalistik banget tapi aku ingin punya dampak. Program atau kampus dan jurusan yang mau diambil ini bisa mendukung cita-cita tersebut. Istilahnya kampus ini akan jadi jembatan. Jadi ketika kita bikin esai dan motivation letter-nya pun mantap. Jadi pas pilih kampus, bukan karena kita pintar saja, tapi ada cause yang mau kita bawa. I think show your willingness to show your cause.

Buat mereka yang nyari-nyari tapi takut gagal, apa pesanmu?

Kalau menurutku takut itu sangat manusiawi, takut itu wajar. Takut akan penolakan itu wajar. Tapi manusia tuh cuma bisa tetap mencoba. I know this sounds cliche. But I am a living proof that if you keep trying and you know what’s your cause, and you are committed to it, semesta tuh mendukung. Apa yang ditakdirkan buat kamu akan datang ke kamu, tapi kamu siap nggak? Karena ada yang udah dikasih tapi nggak siap. Kamu nggak serius padahal it has come to you and for you. 

Arzia Tivany Wargadiredja adalah mahasiswa MA in Journalism, Media, and Globalisation dalam program Mundus Journalism. Dalam program tersebut, ia berkuliah di Aarhus University, Denmark, untuk tahun pertama dilanjutkan dengan Charles University, Republik Ceko, untuk tahun kedua. Sebelumnya, Arzia bekerja sebagai produser lapangan di CNN Indonesia dan koresponden VICE Indonesia. 

Foto-foto disediakan oleh narasumber.

Informasi Mundus Journalism dapat dilihat di mundusjournalism.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here