Kiat Sukses Menghadapi Seleksi Wawancara Beasiswa Fulbright

0
529

Anida Hanifa, grantee Beasiswa Fulbright tahun 2019 yang kini tengah menempuh pendidikan Master of Public Health di University of Washington, Seattle, membagikan pengalaman dan tips menghadapi proses wawancara Beasiswa Fulbright.

***

Disclaimer: This blog is neither an official representative of Fulbright Program nor the US Department of State. All of the information is based on personal experiences of the writer. Please refer to AMINEF’s official website for updated and further information especially for Fulbright program in Indonesia.

Tahap wawancara adalah tahap kedua setelah seleksi berkas pada proses seleksi beasiswa Fulbright. Pada saat menerima email kelolosan untuk mengikuti seleksi wawancara, perasaan saya campur aduk, tapi tentunya senang dan antusias. Proses wawancara adalah kesempatan kita untuk meyakinkan pihak beasiswa secara langsung bahwa kita pantas untuk mendapatkan beasiswa. Jadi, kita perlu persiapan yang matang untuk melewatinya.

Berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman yang lain, wawancara bisa berlangsung antara 45 hingga 60 menit. Seleksi wawancara dilakukan bersama empat orang panelis yang merupakan bagian dari komunitas Fulbright. Komposisi panelis terdiri dari satu staf AMINEF (pengelola beasiswa Fulbright di Indonesia), dua alumni beasiswa dan fellowship Fulbright dari luar dan dalam negeri, serta satu panelis yang merupakan ahli di bidang studi yang kita tuju.

Tips wawancara Fulbright

Seperti tahap seleksi lainnya, wawancara juga perlu persiapan khusus. Berikut adalah tips yang bisa saya bagikan menurut pengalaman pribadi saya menghadapi wawancara beasiswa Fulbright pada tahun 2018:

  1. Kuasai apa yang kita tulis di berkas pendaftaran, khususnya study objective

Ini tips pertama dan yang menurut saya paling penting. Para panelis mempelajari informasi tentang kandidat dari berkas pendaftaran yang kita serahkan. Jadi, kita juga harus menguasai apa yang sudah kita tulis di berkas tersebut. Pengalaman saya pada waktu itu, saya harus menyerahkan formulir pendaftaran, satu esai study objective, dan dua surat rekomendasi dari atasan tempat kita bekerja serta dosen pembimbing akademik.

Study objective menjadi salah satu komponen penting yang akan digali saat wawancara. Saat itu, pertanyaan yang saya hadapi umumnya seputar pengalaman profesional serta relevansinya ke bidang studi yang saya tuju. Panelis juga menggali secara lebih dalam mengenai rencana setelah lulus kuliah, bagaimana saya akan mencapai rencana tersebut dengan lebih teknis, hingga rencana saya apabila mendapat tawaran kerja di Amerika setelah selesai kuliah.

University of Washington, Seattle
University of Washington, Seattle, Washington State

2. Pelajari juga mengenai program studi dan universitas yang dituju

Hal penting lain yang ditanyakan saat wawancara adalah program studi dan universitas yang kita tuju. Saat itu, saya diminta menyebutkan tiga program studi dan universitas yang saya pilih. Jawaban ini bisa jadi sama dengan apa yang kita tuliskan di formulir pendaftaran, tapi bisa juga berbeda. Siapkan jawabannya serta alasan mengapa kita memilih program studi dan universitas tersebut. Pertimbangan ranking dunia adalah alasan klise ketika kita memilih kampus. Poin ini bisa kita sampaikan, namun akan lebih baik jika kita bisa menggalinya lebih dalam lagi. Biasanya, alasan memilih program studi dan kampus berkaitan dengan minat, latar belakang pendidikan dan karir, serta relevansinya dengan apa yang ingin kita lakukan setelah lulus. Pertimbangan penting lain adalah ketersediaan sumber daya yang terkait dengan topik riset kita, khususnya dosen dengan keahlian di bidang tertentu.

Ada juga teman-teman yang mempertimbangkan faktor lain seperti situasi kota dan state secara umum, tren cuaca, hingga keberagaman di kampus pilihan. Hal ini menjadi penting karena secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi proses belajar kita nanti. Di luar itu, cari tahu juga faktor di luar akademik yang bisa menunjang studi dan karir kita. Contohnya, program yang saya sedang jalani adalah kesehatan global. Kebetulan di tempat saya kuliah saat ini, Seattle, Washington state, banyak organisasi nonprofit yang bekerja di bidang kesehatan global. Artinya, saya bisa memberikan alasan bahwa melanjutkan studi di Seattle akan memberikan saya lebih banyak paparan terhadap isu di bidang tersebut.

Cherry Blossom di University of Washington
Cherry Blossom di University of Washington

3. Riset isu terkini mengenai bidang studi pilihan dan Amerika Serikat

Saat wawancara, saya juga ditanyakan alasan memilih untuk melanjutkan studi di Amerika, apa yang saya ketahui mengenai sistem kesehatan di Amerika, opini saya mengenai isu kesehatan di Amerika saat itu, dan apa yang ingin dipelajari secara spesifik. Jadi, riset mengenai isu terkini di bidang yang kita ingin tekuni juga sangat penting untuk menghadapi wawancara Fulbright.

4. Latihan wawancara

Berlatih atau melakukan mock interview akan sangat membantu kesiapan kita saat wawancara. Latihan ini bisa dilakukan secara mandiri dengan membuat daftar pertanyaan yang kira-kira akan ditanyakan, kemudian menyiapkan jawabannya. Kita juga bisa berlatih dengan orang lain untuk menjadi penanya. Menghubungi penerima beasiswa Fulbright tahun sebelumnya juga sangat membantu agar kita memiliki gambaran mengenai proses wawancara Fulbright.

Kita bisa memulai latihan wawancara dengan memperkenalan diri dan membahas sedikit study objective kita. Melalui latihan wawancara, kita akan lebih percaya diri untuk menjawab pertanyaan saat menghadapi wawancara sesungguhnya. Menjawab pertanyaan wawancara beasiswa memang cukup tricky. Menurut pengalaman saya, siapkan dan berikan jawaban yang realistis dan tidak perlu terlalu normatif dengan tetap berusaha menunjukkan bahwa kita memiliki kualitas untuk menjadi penerima beasiswa. Fulbright memiliki misi pertukaran budaya antar negara. Karena itu, kita juga harus menunjukkan bahwa kita bisa menjadi perwakilan yang baik untuk Indonesia di Amerika.

Drumheller Fountain dan Mt. Rainier dilihat dari University of Washington
Drumheller Fountain dan Mt. Rainier dilihat dari University of Washington

5. Tips sebelum hari-h wawancara

Setelah dinyatakan lolos ke tahap wawancara, ada beberapa berkas yang harus dikirim ke pihak AMINEF. Perjalanan kandidat yang tinggal di luar kota tempat wawancara akan dibiayai oleh AMINEF dan Fulbright. Jadi, teman – teman yang tinggal di luar kota tidak perlu khawatir. Satu tip dari saya: cari tahu lokasi wawancara paling tidak sehari sebelum hari wawancara. Perkirakan lama perjalanan dari tempat tinggal agar dapat tiba di tempat wawancara tepat waktu.

Beberapa pertanyaan yang saya ingat ditanyakan saat wawancara saya tiga tahun lalu:

  1. Perkenalan diri dan jelaskan study objective
  2. Sebutkan tiga kampus pilihan serta alasan memilih kampus tersebut? Apakah sudah pernah melakukan kontak dengan kampus – kampus tersebut?
  3. Mengapa harus kuliah di Amerika? Bagaimana sistem kesehatan di Amerika? Apa yang ingin dipelajari dan contoh dari sistem kesehatan di Amerika?
  4. Ceritakan tentang pekerjaan sekarang. Apa masalah yang kamu temui dari implementasi program kesehatan di Puskesmas?
  5. Ceritakan masalah yang kamu hadapi selama kuliah dan bekerja dan bagaimana kamu menyelesaikannya
  6. Apa rencana setelah lulus kuliah nanti? Apakah akan kembali bekerja di Aceh?
  7. Apabila ditawarkan pekerjaan bagus di Amerika, apakah akan menerimanya?

Setelah semua persiapan sudah dilakukan, kita tinggal memberikan yang terbaik di hari wawancara. Usahakan untuk tenang di hadapan panelis dan menjadi diri sendiri. Setelah selesai, tarik nafas dan berikan penghargaan pada diri sendiri karena sudah melewati satu tahapan yang sangat penting. Good luck!

Fulbright Association Western Washington Chapter
Fulbright Association Western Washington Chapter

Sumber foto: SEGDSeattle Weekly, U. Washington, Dokumentasi Penulis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here