Kisah Penyandang Difabel Tunanetra yang Sukses Raih Beasiswa Australia Awards 2020!

0
936
Dimas Prasetyo Muharam dalam kegiatan Australia Awards Indonesia. Sumber: Dokumentasi Pribadi
Dimas Prasetyo Muharam dalam kegiatan Australia Awards Indonesia. Sumber: Dokumentasi Pribadi

“Disabilitas bukanlah pembatas bagi Dimas Prasetyo Muharam untuk mewujudkan mimpinya menciptakan pendidikan di Indonesia yang lebih inklusif. Dengan tekad, doa, dan usaha yang kuat, Dimas mampu meraih beasiswa Australia Awards di tahun 2020. Simak wawancara Yogi Saputra Mahmud (Content Director Indonesia Mengglobal untuk Australia, New Zealand, dan Pacific Islands) dengan Dimas di artikel ini.”

***

Halo Dimas, bisakah kamu perkenalkan diri kepada para pembaca Indonesia Mengglobal?

Allah SWT memberi saya lisensi untuk mulai menghirup udara di selatan kota Jakarta pada Hari Pramuka 32 tahun lalu. Saya terlahir dari orang tua asal Jawa Tengah yang merantau ke ibu kota dengan hanya berbekalkan pendidikan dasar. Usia 12 tahun penglihatan saya menurun drastis akibat Toksoplasma dan divonis menjadi tunanetra. Meski sempat berhenti sekolah selama setahun, saya melanjutkan asa dengan sekolah di SMP dan SMA regular, hingga lulus S1 Sastra Inggris dari Universitas Indonesia di awal 2012.

Sejak tiga tahun lalu, saya bekerja sebagai PNS peneliti di kementerian yang bertanggung jawab pada Pendidikan nasional,  khususnya di bidang asesmen dan pembelajaran. Selain itu, saya juga aktif sebagai salah seorang pendiri komunitas Karya Tunanetra (Kartunet) yang mempublikasikan karya tulis dan mempromosikan isu disabilitas melalui media daring. Saat ini saya domisili di Kota Tangerang, dan sedang mengikuti pre-departure training Australia Awards Scholarship (AAS) intake 2021.

Bisakah kamu jelaskan kampus dan program studi tujuan kamu di Australia?

Satu hal menarik yang membedakan beasiswa AAS dengan beasiswa luar negeri lainnya adalah pelamar tidak perlu memiliki Letter of Acceptance (LOA) atau full offer dari kampus yang dituju Ketika mendaftar beasiswa. Kita hanya fokus untuk mendapatkan beasiswa, selanjutnya pihak Australia Awards office di Indonesia yang akan membantu untuk mendaftarkan ke kampus sesuai dengan apa yang dipilih pada aplikasi beasiswa.

Saya berencana ambil Master of Education di The University of Adelaide (UofA), South Australia. Program M.Ed di kampus ini menawarkan beberapa spesialisasi, salah satunya yaitu pada research yang saya butuhkan untuk mengembangkan karir sebagai peneliti. Selain itu, saya juga tertarik pada topik inclusive assessment yang dapat saya pelajari dari beberapa courses yang ditawarkan. UofA juga anggota dari Group of 8 bersama The University of Melbourne, Monash University, Sydney University, dan lainnya, yang memimpin dalam riset-riset ilmiah. Selain itu, Adelaide juga masuk sepuluh besar kota layak huni di dunia, dengan penduduk tidak lebih dari dua juta orang, dan biaya hidup yang lebih terjangkau dibandingkan Melbourne atau Sydney.

Dimas dan keluarga dalam kegiatan Australia Awards Indonesia. Sumber: Dokumentasi pribadi
Dimas dan keluarga dalam kegiatan Australia Awards Indonesia. Sumber: Dokumentasi pribadi

Memilih jurusan dan kampus menjadi salah satu tahap penting dalam pendaftaran beasiswa AAS. Jurusan yang dipilih disarankan merupakan bagian dari Priority Field Areas dari AAS, terkorelasi dengan kebutuhan tempat kerja/usaha saat ini, dan prospek karir masa depan. Namun untuk menemukan pilihan yang cocok tidak sulit karena ada ratusan jurusan di puluhan universitas di sana yang semuanya dapat dimasuki dengan AAS. Kamu cukup masuk ke website CRICOS, Commonwealth Register of Institutions and Courses for Overseas Students.

Sebagai seorang penerima beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS), kapan dan bagaimana kamu mengetahui tentang beasiswa tersebut?

Saya mengetahui beasiswa penuh dari pemerintah Australia ini ketika mengikuti short course program selama tiga bulan di Adelaide, South Australia pada musim semi 2013. Salah seorang Awardee AAS dari Indonesia yang juga tunanetra dan sedang mengambil program master di Flinders University saat itu yang menyadarkan betapa menariknya dapat melanjutkan kuliah di luar negeri, khususnya di Australia.

Setelah kembali ke Indonesia, saya terus memantau informasi mengenai AAS. Namun saat itu saya terkendala untuk memperoleh sertifikat kemampuan berbahasa Inggris dan korelasi program master dengan kegiatan saat itu yang belum kuat. Untuk nilai Bahasa Inggris, saya harus mengambil IELTS karena hanya tes tersebut yang memungkinkan peserta tunanetra dapat mengerjakannya dengan perangkat computer bicara. Alternatif lainnya yaitu TOEFL hanya disediakan format huruf braille, sedangkan kecepatan membaca braille saya kurang baik. Selain itu, harga tes IELTS yang relatif lebih mahal ikut menyurutkan niat saya.

Namun, niat untuk mewujudkan mimpi itu menguat kembali setelah menjadi PNS di awal 2018. Dua tahun bekerja, ada pendanaan dari instansi untuk mengikuti tes IELTS dan Alhamdulillah saya dapat overall band 7. Nilai itu sudah lebih dari cukup untuk mendaftar AAS yang syarat minimalnya IELTS band 5. Selain itu, jabatan sebagai peneliti ahli pertama mendesak saya untuk memperoleh jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan pengalaman ilmiah lebih luas sehingga pekerjaan dapat lebih optimal. Lebih jauh, saya ingin dapat berkontribusi lebih banyak lagi dalam mewujudkan pendidikan nasional yang lebih inklusif melalui penelitian. Alhamdulillah kesempatan itu datang setelah dinyatakan sebagai satu dari 50 orang awardees dari 6021 pelamar.

Mengapa kamu memilih beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS)?

Tiap beasiswa memiliki karakteristik awardee yang berbeda. Tipikal penerima beasiswa AAS pada umumnya yaitu mereka yang sudah punya track record panjang berkontribusi untuk masyarakat, atau punya keinginan dan relevansi yang kuat dengan profesi saat ini untuk membangun negara sekembalinya dari Australia. Saya rasa profil saya masuk kriteria tersebut sehingga jadi faktor utama memilih AAS sebagai beasiswa kuliah master ke Australia.

Dimas Prasetyo Muharam saat tampil di acara Sarah Sechan di NET TV. Sumber: NET TV
Dimas Prasetyo Muharam saat tampil di acara Sarah Sechan di NET TV. Sumber: NET TV

Selain itu, AAS juga punya beberapa kategori dan program studi prioritas. Pegawai Negeri Sipil yang bekerja di instansi pusat dan daerah jadi salah satu kelompok yang disasar oleh AAS. Selain itu, program Master of Education yang hendak saya ambil masuk ke dalam Priority Field Areas yang di antaranya ada pendidikan, kesehatan, kebijakan publik, dan bidang lainnya yang berpotensi memberikan dampak untuk masyarakat. Namun bukan berarti pelamar selain PNS tidak berpeluang mendapatkan beasiswa ini.

AAS adalah beasiswa yang tidak pakai ribet. Dari mulai biaya kuliah, biaya hidup, tiket pesawat PP, hingga pengurusan visa awardee dan keluarga ditanggung semua oleh pihak pemberi beasiswa. Namun yang tak kalah menarik, tiap awardee yang terpilih berhak mengikuti program pre-departure training (PDT) yang durasinya mulai dari 5 weeks, 9 weeks, atau 4.5 month tergantung dari skor IELTS terakhir. Program ini bertujuan mempersiapkan para awardee agar siap dari mulai akademik dan mental ketika sampai di Australia. Hari-hari PDT akan diisi dengan kelas untuk meningkatkan skor IELTS, mengenal budaya masyarakat Australia, pengenalan e-library di kampus-kampus Australia, dan computer skills. Dalam kondisi normal, kelas PDT diadakan di Denppasar Bali, tapi angkatan saya semua kelas diikuti secara online karena masih adanya PSBB COVID-19.

Terakhir, yang membuat saya tak mungkin melewatkan kesempatan melanjutkan studi di Australia dengan AAS adalah dukungan luar biasa mereka untuk mahasiswa dengan kebutuhan khusus atau penyandang disabilitas. Sejak proses seleksi, pendampingan selama tahap administrasi dan wawancara, kelas PDT, hingga keberangkatan dan tiba di Australia, sampai kembali ke Indonesia, AAS memberikan dukungannya yang membuat saya yang seorang tunanetra tidak mengalami kendala hingga saat ini mengikuti PDT. Bahkan AAS pun memungkinkan mahasiswa disabilitas untuk mengikut sertakan pendamping dari keluarga yang disebut carer, yang semua biayanya pun ditanggung oleh AAS. Berbagai dukungan tersebut sudah tercantum di Policy Handbook AAS yang menjadikannya berbeda dengan program beasiswa lainnya.

Apa saja hal yang perlu dipersiapkan dalam mengikuti seleksi beasiswa AAS?

Persiapan melamar beasiswa AAS meliputi persyaratan administratif dan substansi. Dokumen yang diperlukan tidak terlalu sulit dan semuanya cukup dalam bentuk softcopy. Pendaftaran AAS umumnya tiap tahun dibuka dari 1 Februari dan ditutup 30 April, jadi ada baiknya untuk pelamar program master, berkas-berkas berikut dipersiapkan jauh hari.

  1. Ijazah dan transkrip nilai S1 asli.
  2. Salinan dilegalisasi untuk ijazah dan transkrip nilai dalam Bahasa Inggris.
  3. KTP dan akta kelahiran.
  4. CV terbaru dalam Bahasa Inggris maksimum 2 halaman.
  5. Sertifikat skor IELTS / TOEFL / PTE Academic.
  6. Nominating Declaration Agency atau surat rekomendasi dari pimpinan (khusus PNS).

Akte kelahiran pada saat proses pendaftaran tidak diperlukan yang format dwibahasa atau ada kutipan berbahasa Inggris. Namun ketika kamu lolos dan akan didaftarkan ke kampus untuk dapat Letter of Acceptance, maka dokumen ini diperlukan. Untuk mendapatkannya kamu dapat datang ke certified translator untuk membuat kutipan berbahasa Inggris dan dilegalisasi, atau dapat mengurus pembaharuan akte kelahiran di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil sesuai domisili. Proses ini tidak sulit dan ada baiknya dipersiapkan juga ketika pendaftaran. Silakan dapat dibaca pengalaman mengurus Akte Kelahiran Dwibahasa di blog saya.

Lebih jauh, persiapan substansi juga tak kalah pentingnya. Kamu perlu tahu dan meyakini bahwa AAS ini akan berdampak positif untuk pengembangan karir dan kontribusi kamu ke depannya untuk masyarakat. Kamu dapat mengenal beasiswa ini dari situs resmi Australia Awards Indonesia dan Policy Handbook dari situs DFAT Australia Government. Selain itu, cari tahu jurusan kampus yang sesuai dengan kebutuhan kamu dengan membuka situs resmi tiap kampus dan daftar mata kuliah yang ditawarkan.

Bagaimana pengalaman kamu dalam menjalani rangkaian seleksi beasiswa AAS?

Seleksi AAS intake 2022 yang diadakan di awal 2021 ini kemungkinan serupa dengan seleksi di tahun 2020 yang disesuaikan dengan kondisi pandemik COVID-19. Jadi pengalaman saya akan sangat relevan untuk para scholarship hunters yang ingin melamar AAS tahun ini. Selain itu kamu juga dapat cek video series yang saya unggah di channel Youtube Dimas P Muharam.

Dimas Prasetyo Muharam dalam wawancara dengan CNN Indonesia. Sumber: CNN Indonesia
Dimas Prasetyo Muharam dalam wawancara dengan CNN Indonesia. Sumber: CNN Indonesia

Umumnya seleksi beasiswa AAS dibagi menjadi dua tahap yaitu administratif dan Joint Selection Team (JST) interview. Ada dua form online yang perlu kamu lengkapi yaitu OASIS dan juga Additional Information. Kedua form itu wajib diselesaikan sebelum penutupan di tanggal 30 April. Disarankan pula untuk klik submit kedua form tersebut sebelum tanggal deadline untuk menghindari gangguan teknis karena banyaknya deadliners yang mengakses di waktu bersamaan.

Pada form OASIS, ada bagian yang sangat penting dan dapat menentukan hasil seleksi administrasi kamu yaitu Supporting Statements. Ini seperti motivation letter pada program beasiswa lainnya, namun form OASIS mempermudahnya dengan memberi empat pertanyaan yang harus dijawab dengan format esai. Empat pertanyaan tersebut seperti alasan memilih jurusan dan kampus, bagaimana sumbangsih jurusan yang dipilih terhadap karir, pengalaman kamu dalam memecahkan masalah dan menerapkan pembaharuan di organisasi atau pekerjaan, dan contoh praktis kamu dapat memanfaatkan keterampilan, pengetahuan, dan jejaring yang kamu dapat setelah dari Australia. Selain harus ditulis dalam Bahasa Inggris, tantangan bagian ini adalah tiap pertanyaan hanya dapat dijawab dengan maksimal 2000 karakter.

Jeda satu atau dua bulan, AAS akan mengirim email jika kamu lolos ke tahap JST Interview.  Biasanya jumlah peserta di tahap ini adalah dua kali dari jumlah final candidates yang akan diberangkatkan. Apabila di tahun ini AAS akan memberangkatkan 200 awardees, maka diperkirakan ada 400 orang yang masuk ke tahap wawancara. Jadi peluang kamu adalah 50:50 untuk lulus.

Ada dua hal yang dilakukan di tahap JST interview yaitu tes IELTS dan wawancara itu sendiri. Tes IELTS ini untuk menentukan durasi kelas PDT setelah dinyatakan sebagai awardee. Makin baik hasil tes IELTS kamu, terutama pada writing skill, makin singkat kelas PDT yang kamu dapatkan. Sedangkan di JST Interview untuk pelamar program master, akan ada dua orang, satu orang perwakilan akademisi dari Indonesia dan lainnya dari Australia. Pada kondisi normal, JST Interview dilakukan tatap muka langsung di ruangan dan tempat yang ditentukan, tapi pada angkatan saya, proses wawancara dilakukan daring via aplikasi Zoom.

Pertanyaan yang diajukan pewawancara tak jauh seputar isi aplikasi OASIS yang sudah kamu kirim sebelumnya. Maka ada baiknya jawaban-jawaban pada form OASIS, terutama pada Supporting Statements, kamu simpan di sebuah file untuk dipelajari kembali sebelum wawancara. Sebab pertanyaan di JST Interview tidak jauh dari apa yang sudah kamu tulis di sana. Pewawancara hanya ingin menggali lebih dalam lagi topik yang kamu pilih, bagaimana korelasi jurusan yang dipilih dengan kebutuhan kamu, atau jika ada hal-hal menarik misal social project yang pernah kamu kerjakan. Jadi tak perlu panik karena tensi wawancara cukup santai dan menyenangkan.

Menurut kamu, apa yang biasanya membuat seorang pendaftar gagal dalam rangkaian seleksi beasiswa AAS?

Tak ada alasan sebetulnya untuk kamu gagal apabila sudah mengikuti semua prosedur pendaftaran dengan seksama. Meskipun dari semua kerja keras dan usaha yang telah diberikan, ada faktor X yaitu do’a dan izin Tuhan yang memudahkan kamu hingga mencapai Australia dengan AAS. Namun ada beberapa hal yang dapat kita hindari untuk meminimalkan potensi kegagalan.

Pertama, jangan lupa untuk submit kedua form yang ada di OASIS dan Additional Information di website Australia Awards Indonesia. Menurut info dari pihak penyelenggara, kesalahan umum yang keras dilakukan pelamar yang gagal adalah hanya submit form OASIS dan lupa atau tidak sempat submit yang Additional Information. Meski hanya berupa informasi tambahan, tapi lumayan banyak juga form yang harus diisi dan perlu dikonsep sehingga informatif. Maka sembari mengisi form OASIS ada baiknya secara parallel mengisi form Additional Information. Pada kedua form tersebut ada fasilitas untuk simpan sementara sebelum final submit, jadi dapat diisi secara mencicil.

Kesalahan lainnya yaitu pelamar yang kurang menguasai isi dari aplikasinya sendiri. Hal ini dapat terjadi apabila pelamar tidak menyimpan isian pada form OASIS dan Additional Information, khususnya pada bagian supporting statements. Sebab pertanyaan-pertanyaan pada JST interview tak akan keluar dari apa yang sudah kamu tuliskan di aplikasi. Maka jangan lupa untuk salin isi form OASIS kamu karena setelah submit aplikasi kamu di OASIS sudah tidak dapat diakses lagi oleh pelamar.

Terakhir, banyak latihan menjawab pertanyaan wawancara dengan teman. Kurangnya persiapan ini dapat membuat kamu kikuk atau grogi saat menghadapi sesi wawancara. Bukan karena kamu tidak menguasai apa yang kamu tulis, tapi kadang ada pertanyaan yang mungkin muncul yang tidak kamu sadari dari apa yang sudah kamu tulis. Dengan aplikasi kamu dibaca oleh teman atau atasan, dapat memicu diskusi dan mengantisipasi pertanyaan lainnya yang mungkin muncul.

Terakhir, apakah ada tips atau strategi yang dapat kamu bagikan kepada para pembaca Indonesia Mengglobal yang hendak mendaftar seleksi beasiswa AAS?

Hal pertama yang harus para scholarship hunter lakukan adalah yakin bahwa kamu pantas memperoleh beasiswa tersebut dan kamu adalah orang yang dicari oleh pihak pemberi beasiswa. Apabila kita sudah merasa yakin, maka do’a-do’a kita pun akan menjadi mantap, optimisme dan pemikiran positif terbangun,  dan lebih percaya diri menjalani tiap prosesnya.

Kedua, banyak mencari informasi dan sharing pengalaman dari awardees sebelumnya yang dapat ditemui di internet atau kenalan langsung. Namun referensi ini jangan terlalu banyak, cukup batasi dua atau tiga saja agar kamu tidak overwhelmed dan tetap fokus pada usaha kamu, bukan mendengarkan terlalu banyak masukan.

Terakhir, niatkan studi kamu nanti untuk dapat bermanfaat bagi banyak orang, bukan hanya untuk pribadi. Memang tak ada salahnya bahwa tujuan kamu mendapat beasiswa adalah untuk meningkatkan kapasitas, pengetahuan, dan peluang karir ke depan, namun akan lebih baik lagi jika usaha tersebut juga ditujukan untuk kepentingan lebih banyak orang. Sebab kata kunci pada beasiswa AAS ini adalah “kontribusi” dan itu yang diharapkan ada pada kamu. Selain itu, dengan menitipkan kepentingan banyak orang juga pada niat mulia kamu, Tuhan juga akan menitipkan amanahnya pada kamu kelak.

Editor: Yogi Saputra Mahmud

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here