Espresso, Aperitivo, dan Keberagaman: Pelajaran dari Pergaulan Lintas Budaya di Italia

0
621

Salah satu aspek yang harus kita persiapkan saat berkuliah ke luar negeri adalah mempelajari budaya setempat. Hal inilah yang dilakukan oleh Ghina Atmaniwedhana sebelum ia berangkat untuk melanjutkan studi S2 di Milan, Italia, dan selama 10 bulan disana. Seperti apakah budaya Italia? Bagaimana rasanya bergaul di lingkungan internasional? Hal-hal apa saja yang bisa dipelajari dari budaya Italia? Hal-hal inilah yang ditanyakan Arnachani Riaseta, Content Director Indonesia Mengglobal dalam perbincangannya dengan Ghina.

***

Halo Ghina! Bisa tolong diceritakan, bagaimana sih kesan pertamamu berinteraksi dengan budaya Italia di Milan? Lalu, budaya apa di Italia yang mengesankan buatmu?

Sebelum pindah ke Milan, saya memang sudah mempersiapkan diri bahwa saya akan menghadapi budaya yang berbeda. Saya rasa budaya Italia cukup menarik, terutama budaya ngopi-nya. Di Milan, kebanyakan orang minum kopi espresso hanya sebentar sambil berdiri dan ngobrol, bukan duduk-duduk santai seperti di Indonesia. Mereka bisa ngopi beberapa kali dalam sehari: ngopi pagi di rumah atau di bar (mereka menggunakan istilah “bar” untuk tempat minum kopi) sebelum pergi ke kantor, lalu antara pukul 9 atau 10 saat coffee break, kemudian setelah makan siang mereka minum kopi lagi, dan pukul 3 sore saat coffee break lagi. Biasanya kopi yang mereka minum pada sore tersebut menjadi kopi terakhir dalam satu hari karena kebanyakan dari mereka tidak minum kopi pada malam hari. 

Ghina02
Contoh aperitivo

Selain itu, di Milan juga ada budaya aperitivo, dimana biasanya bar-bar menyediakan buffet makanan mulai dari makanan ringan hingga yang cukup berat, dan untuk makan sepuasnya kita hanya perlu membayar minumannya saja. Biasanya aperitivo ini adalah waktu untuk nongkrong bersama teman-teman atau kolega. Menariknya, aperitivo ini tidak bisa dikategorikan sebagai makan malam. Aperitivo juga dilakukan sambil menunggu jam makan malam yang biasanya dimulai pada pukul 9! Jika ingin melanjutkan makan malam, maka biasanya disarankan untuk membatasi makan saat aperitivo agar tidak terlalu kenyang.

Di Milan, budaya bersosialisasinya bisa dibilang sangat tinggi, terutama pada saat coffee break dan aperitivo. Cara mereka menyapa orang pun sangat hangat. Jika di Indonesia kita rata-rata hanya bersalaman saat bertemu orang baru, di Milan kebanyakan dari mereka tidak segan untuk cipika-cipiki (cium pipi) saat pertama bertemu. Awalnya cukup aneh untuk saya karena sebagai orang Indonesia kita hanya terbiasa cipika-cipiki hanya dengan teman atau orang terdekat, tapi begitulah budaya di sana. Secara pribadi saya tidak mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Bahkan saya merasa bisa bersosialisasi dengan lebih baik. Saya sendiri sebenarnya orang yang cukup pemalu, tapi dengan mengikuti budaya Milan, saya jadi berkesempatan untuk lebih banyak bersosialisasi dengan orang lain.

Orang-orang Milan atau Italia pada umumnya sangat menghargai seni. Hal ini bisa kita lihat mulai dari fashion, karya lukisan hingga bangunan-bangunan yang ada di Italia. Museum atau galeri selalu ramai pengunjung, dan kalau kita mau menikmati karya seni terkenal seperti lukisan The Last Supper karya Leonardo Da Vinci, kita harus booking tiketnya dari jauh-jauh hari. Disana juga sangat lumrah untuk pergi menonton pertunjukan opera atau ballet misalnya di Teatro alla Scala yang merupakan salah satu gedung opera paling terkenal di dunia. Hal lain yang juga cukup menarik adalah katedral-katedral (duomo) di Italia pada umumnya sangat indah dan memiliki nilai seni yang tinggi dimana setiap katedral memiliki desain yang berbeda satu dengan yang lainnya dan umumnya memakan waktu pembangunan yang cukup lama hingga ratusan tahun. Desain katedral-katedral pada umumnya melibatkan seniman-seniman terbaik mulai dari arsitek, pemahat patung hingga pelukis terkenal.

Masyarakat Italia juga sangat menghargai produk lokalnya dan sangat bangga terhadap hal tersebut. Hal ini merupakan salah satu hal penting yang saya pelajari selama saya tinggal di sana dan menurut saya sudah seharusnya perasaan bangga menggunakan produk lokal ini juga kita terapkan di Indonesia. Saya rasa di Indonesia banyak orang yang justru lebih memilih untuk membeli produk non-Indonesia dan tidak bangga atau cenderung malu saat menggunakan produk lokal. Kalau di Indonesia bisa mulai bangga menggunakan produk lokal, saya yakin dengan dukungan semua pihak, tidak hanya kita bisa meningkatkan ekonomi dalam negeri, tapi kita juga bisa membuat produk lokal kita mendunia, seperti produk Italia. 

Lalu, seperti apa pengalamanmu bersosialisasi dengan teman-teman di kampus?

Ghina03Kebetulan, di program S2 yang saya tempuh, terdapat 40-50 orang dalam satu kelas dengan komposisi 50% mahasiswa Italia dan 50% mahasiswa internasional. Teman-teman sekelas saya sangat beragam – ada yang berasal dari Angola, Algeria, Ghana, Kongo, Kazakhstan, Libya, Turkmenistan, Siprus, Mesir, dan Meksiko. Awalnya terasa ada gap antara mahasiswa Italia dan internasional, namun hal ini mungkin dikarenakan mahasiswa internasional sudah kenal dan akrab lebih awal sejak musim panas saat kami wajib mengikuti kelas bahasa Italia selama dua bulan dan baru bertemu mahasiswa Italia saat program resminya dimulai. Setelah berkenalan lebih lama akhirnya semuanya berbaur juga. 

Wah, ternyata kampusmu sangat beragam ya! Lalu, seperti apa rasanya bergaul dengan teman-teman dari berbagai bangsa dan kebudayaan?

Budaya kami sangat berbeda dari satu sama lain. Tapi, yang saya sukai dari pertemanan kami adalah bahwa kami dapat menghargai perbedaan dan sama-sama mau belajar tentang budaya masing-masing. Kami membahas banyak isu mulai dari sejarah, pariwisata, kebudayaan hingga politik negara masing-masing secara mendalam. Orang yang ditanyai pun menjadi semangat dalam memperkenalkan negara mereka masing-masing. 

Saya sangat senang dapat bertukar pikiran dengan banyak orang yang memiliki perspektif berbeda terhadap sesuatu dikarenakan hal ini tak hanya membuat saya belajar menghargai perbedaan tapi juga sekaligus menambah wawasan. Saya juga belajar untuk bekerja sama dengan orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Hampir di setiap proyek kami pasti berkelompok, sehingga kami harus belajar menyatukan pikiran secara kelompok dan berargumen berdasarkan data ilmiah.

Di kelas, perbedaan budayanya juga cukup terasa dimana mahasiswa dari Eropa akan lebih nyaman dalam mengutarakan pendapat mereka, sedangkan mahasiswa dari Asia terkesan lebih segan. Cara mengutarakannya pun berbeda. Misalnya, beberapa mahasiswa asal Eropa tidak ragu untuk berdebat menggunakan intonasi yang cukup tinggi dimana mungkin di Indonesia bisa dikatakan kurang sopan. Lalu teman-teman dari Asia Tengah juga sangat kritis dan terkadang hal ini membuat mereka memakan waktu lebih lama dalam berpendapat atau saat hendak mengajukan pertanyaan, yang mungkin di Indonesia bisa dibilang bertele-tele. Tapi, ya itulah perbedaan budaya kami. Enaknya, di antara para mahasiswa tidak ada hard feelings kalau ada perbedaan pendapat. Kita belajar untuk menghormati pendapat orang lain dan tidak terlalu cepat menilai. Di sana saya juga belajar untuk mengembangkan hubungan pertemanan dan percakapan yang sehat.

Salah satu pengalaman mengesankan buat saya adalah saat teman-teman saya meminta saya untuk menceritakan pengalaman diskriminasi rasial yang saya alami di Milan. Teman-teman Italia saya justru meminta maaf kepada saya atas perbuatan beberapa oknum tak dikenal tersebut. Mereka juga mengakui bahwa memang masih ada orang-orang berpandangan diskriminatif terhadap orang asing dan mereka sangat menyayangkan hal tersebut. Pada akhirnya kami pun melanjutkan percakapan tentang bagaimana menghargai perbedaan budaya.

Ghina4

Selain dari segi sosial, apakah ada pelajaran hidup berharga yang kamu pelajari dari pengalamanmu di Italia?

Dari pengalaman saya di sana, saya belajar banyak keterampilan hidup, seperti keterampilan berkomunikasi, keterampilan sosial, dan juga survival skill! Saya sangat bersyukur bahwa pengalaman saya bersekolah dan hidup berasrama di SMA semi-militer serta pengalaman berkuliah jauh dari keluarga sangat membantu saya untuk hidup mandiri dan dapat beradaptasi pada situasi-situasi yang berbeda. Saya sendiri senang dihadapkan dengan bermacam tantangan karena saya yakin hal tersebut dapat membuat kita lebih siap dan lebih baik dalam menghadapi dan mengatasi tantangan berikutnya.

Selain itu, hidup di luar negeri membuat saya merasa lebih bertanggung jawab dalam merepresentasikan Indonesia. Saya juga jadi belajar lebih banyak tentang Indonesia karena seringkali saya harus menjelaskan tentang keberagaman budaya Indonesia dimana saya terkadang harus melakukan riset sendiri supaya tidak salah jawab. Hal ini membuat saya jauh lebih mencintai Indonesia dan bangga menjadi orang Indonesia. 

Pelajaran hidup berharga yang juga saya dapatkan adalah pentingnya mengendalikan diri untuk tetap positif dalam menghadapi situasi-situasi sulit. Hal ini sangat penting agar diri kita tetap optimis dan tak patah semangat dalam menghadapi tantangan-tantangan yang kita hadapi. Also, I personally believe in the power of attraction, so think positively and we attract positivity towards us. Dengan menerapkan hal ini, energi saya bisa terfokus untuk hal-hal yang lebih penting. Saya juga percaya bahwa selama kita fokus mewujudkan mimpi kita, tidak ada yang tidak mungkin.

GhinaNew2Ghina Atmaniwedhana is a dreamer and is currently working as a Government Affairs Specialist at a multinational energy company in Jakarta. She holds bachelor degree in Psychology from University of Gadjah Mada and master degree in Management and Economics in Energy and Environment from her company’s corporate university in Italy. She has a strong interest in mental health and politics and is passionate about the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly in education and environmental issues. Connect with her on her Instagram account on @rginaaw

***

Catatan editorial: Artikel ini telah diubah dari versi aslinya berdasarkan permintaan pihak terkait.

Sumber foto: Koleksi pribadi Ghina Atmaniwedhana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here