Berangkat Kuliah ke Luar Negeri di Masa Pandemi

0
449

Seperti apa rasanya memulai studi di luar negeri di tengah pandemi? Kontributor Viddy M. Naufal (Viddy) harus bertualang dan beradaptasi untuk mewujudkan impiannya, dari mulai repot mengurus visa hingga menjalani kuliah daring. Yuk, kita simak ceritanya.

***

“Memang bisa berangkat di masa pandemi seperti ini?”

“Kuliahnya ga ditunda aja sampai situasi membaik?”

“Ngapain berangkat? Bukannya kuliah online?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas banyak menghampiri tidak lama setelah saya dinyatakan diterima di program studi Euroculture: Society, Politics, and Culture in a Global Context dengan beasiswa Erasmus+ pada awal Maret 2020. Situasi diperparah dengan bermunculannya kasus baru Covid-19 di Indonesia saat itu, yang membuat kantor-kantor Kedutaan Besar negara asing di Jakarta tutup dan menunda sementara aplikasi visa studi untuk para mahasiswa Indonesia.

Kala itu, saya dalam posisi yang dilanda kebingungan. Kampus dan pihak beasiswa yang optimis studi tatap muka bisa berjalan normal di September 2020, terus menanyakan apakah saya bisa berangkat sesuai jadwal kuliah. Sedangkan keberangkatan saya sangat tergantung pada buka tidaknya layanan kedutaan untuk menerbitkan visa studi. Saya hanya bisa pasrah dan terus melanjutkan persiapan keberangkatan yang bisa saya lakukan, seperti menandatangani kontrak beasiswa, mencari tempat tinggal, dan membaca bahan bacaan awal yang ditugaskan kampus.

Persiapan Keberangkatan

Kabar cukup baik terdengar pada awal Juni 2020, ketika Uni Eropa mengumumkan secara kolektif bahwa mereka akan membuka kembali perbatasan mereka untuk pihak yang diprioritaskan. Mahasiswa menjadi salah satu ketegori prioritas yang diizinkan masuk kembali. Petualangan aplikasi visa saya segera dimulai dengan mencari informasi ke Kedutaan Prancis di Jakarta, perwakilan dari negara pertama yang akan menjadi destinasi studi saya. Setelah mendapat informasi, saya menyiapkan berkas visa saya, termasuk memperbarui paspor yang masa berlakunya tidak kurang dari 15 bulan setelah memulai studi.

Kantor Imigrasi Indonesia masih melayani pembuatan paspor sangat terbatas pada saat itu, di mana janji wawancara pembuatan paspor hanya bisa dibuat melalui Whatsapp dengan melampirkan surat keterangan dari beasiswa/sekolah tujuan di luar negeri. Setelah paspor dan dokumen lengkap, saya memulai proses aplikasi visa ke agen yang ditunjuk oleh kedutaan, dengan janji pembuatan visa yang juga sangat terbatas, hanya 2x setiap bulannya. Ruangan agen tersebut ramai oleh para pelajar dan pekerja yang akan berangkat ke Eropa pada saat itu. Meski begitu, proses penyerahan dokumen dan pengambilan sidik jadi berjalan sangat lancar.

Beberapa hari setelah dokumen visa diterima, saya mendapat kabar bahwa berkaitan dengan protokol Covid-19, Pemerintah Prancis menangguhkan sementara penerbitan visa untuk kedatangan mahasiswa asing yang belum rampung. Berminggu-minggu saya menunggu kabar, hingga akhirnya saya mendapatkan clearance penerbitan visa saya tepat 8 hari sebelum keberangkatan. Setelah itu, saya segera mengatur tiket pesawat dan transportasi selama di Prancis. Belum pernah saya melakukan pembelian tiket pesawat antarbenua hanya seminggu sebelum berangkat.

Bandara sangat sepi di hari keberangkatan Viddy ke Prancis
Bandara sangat sepi di hari keberangkatan Viddy ke Prancis

Hari Keberangkatan

Dokumen keberangkatan bertambah cukup banyak untuk perjalanan internasional selama pandemi ini. Selain dokumen biasa yang harus disiapkan, seperti surat penerimaan dari universitas dan beasiswa, bukti tempat tinggal, dan ijazah, saya juga harus menyiapkan surat deklarasi bebas gejala Covid-19, formulir kontak (tempat duduk di pesawat serta alamat tinggal di negara tujuan), dan hasil negatif RT-PCR test yang paling lambat diambil 72 jam sebelum keberangkatan. Semua dokumen tersebut secara konsisten ditanyakan dari mulai check in, di pesawat, hingga di konter imigrasi di negara tujuan.

Terbang di masa pandemi adalah salah satu hal yang paling tidak nyaman yang pernah saya alami. Selain kewajiban menggunakan masker dan face shield selama penerbangan, juga ada rasa takut untuk batuk atau bersin hanya karena ngeri disangka positif Covid-19. Padahal, bisa saja bukan karena virus melainkan karena tekanan atau suhu udara pesawat yang tidak biasa.

Viddy menggunakan masker dan face shield yang diberikan pihak maskapai di pesawat
Viddy menggunakan masker dan face shield yang diberikan pihak maskapai selama penerbangan

Ketibaan dan Proses Perkuliahan

Setibanya di Prancis, situasi tampak lebih tenang. Jalanan sudah ramai, menunjukkan kegiatan ekonomi sudah pulih kembali. Asrama mahasiswa dipenuhi dengan mahasiswa yang baru saja datang dari seluruh dunia. Semua orang tampak berlalu lalang dan mengantre dengan menggunakan masker di wajah mereka, sesuai aturan dari pemerintah Prancis.

Situasi pembelajaran dilakukan secara hybrid campuran daring dan tatap muka dengan memenuhi protokol kesehatan. Ini merupakan kali pertama dalam hidup saya berkuliah 2-3 jam di kelas dengan menggunakan masker. Sesak rasanya, tapi mau bagaimana lagi? Sesekali kami kuliah secara daring dari rumah masing-masing. Sungguh menantang rasanya ketika mengetahui bahwa kekuatan konseksi internet satu sama lain berbeda-beda dan sering menghambat perkuliahan.

Fasilitas kampus seperti perpustakaan buka secara penuh, juga kantin dan gym, yang dioptimalkan semaksimal mungkin dengan tetap menjaga jarak dan patuh protokol kesehatan. Hand sanitizer tersedia hampir di setiap sudut kampus. Namun ada yang beda dari yang saya lihat di Indonesia, yaitu jarang sekali ada pemeriksaan suhu badan sebelum masuk ruangan.

Tidak jarang kuliah fisik tiba-tiba diubah formatnya menjadi daring karena dosen atau salah satu mahasiswa disinyalir pernah menjalin kontak dengan kasus positif baru dan membuat gedung kuliah ditutup selama 7 hari. Ini yang membuat jadwal kuliah kadang tidak pasti.

Viddy menjalani kuliah di dalam kelas dengan mengikuti protokol kesehatan
Viddy menjalani kuliah di dalam kelas dengan mengikuti protokol kesehatan

Yang saya syukuri dari tinggal di Prancis di masa pandemi ini adalah aturannya yang sangat jelas untuk penanganan Covid-19. Penggunaan masker diwajibkan di tempat umum indoor maupun outdoor, kecuali tengah makan, bersepeda, atau melakukan kegiatan fisik. Tes RT-PCR bisa dilakukan secara gratis di laboratorium pemerintah dan swasta yang ada di hampir setiap kecamatan. Jika ada update mengenai langkah baru yang dilakukan pemerintah untuk penanganan, seperti lockdown atau curfew, Presiden-lah yang akan muncul di TV nasional dan berbicara tentang langkah penanganan tersebut. Sontak, seluruh warga akan berkumpul di rumah untuk menonton televisi dan mendengar update dari pemerintah.

Akhir kata, saya berharap pandemi ini segera berakhir sehingga para mahasiswa di seluruh dunia bisa kembali merasakan pengalaman kuliah sepenuhnya. Namun saya tetap bersyukur bisa kuliah di luar negeri sebagai Angkatan 2020, dan menjadi aktor utama yang berperan langsung dalam perubahan dan digitalisasi metode perkuliahan. Mahasiswa, dosen, serta staf kependidikan punya peran yang sama pentingnya untuk mengusahakan agar segala penghalang tidak menghambat mahasiswa untuk mendapat kualitas ilmu yang sama dengan angkatan-angkatan sebelumnya.

 

 

Foto-foto merupakan dokumentasi pribadi penulis.

SHARE
Previous articleHow to Build Our Research Profile during Master Degree: Yogi’s Experience
Next articleA step in my shoes: my journey towards becoming a people-oriented architect
Viddy Naufal
Viddy M. Naufal merupakan mahasiswa program studi Euroculture: Society, Politics, and Culture in a Global Context yang akan menempuh studi di minimal dua universitas yang berbeda: Université de Strasbourg, Prancis and Uniwersytet Jagielloński w Krakowie, Polandia, dengan beasiswa Erasmus+. Di luar studi, ia aktif menjadi sukarelawan untuk Indonesia Mengglobal sebagai Event & Partnership Manager. Selain menyukai bidang Kemasyarakatan, Politik, dan Budaya Eropa, yang menjadi jurusannya pada saat ini, Viddy juga sangat tertarik untuk menggeluti karir di sektor pendidikan tinggi dan internasionalisasi pendidikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here