Dari Southampton ke Bangkok: Konferensi internasional di tengah tesis studi Master

0
303
Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC)
Lokasi penyelenggaraan konferensi di distrik Bang Na, Bangkok, Thailand. Sumber: Internet

Kolumnis Novelita W. Mondamina (Veli) kali ini berbagi pengalaman tentang petualangannya mengikuti konferensi internasional di Bangkok, Thailand, saat menjalani studi Master di University of Southampton, Inggris. Ia menempuh perjalanan jauh ini di tengah-tengah proses pengerjaan tesisnya! Mari kita simak cerita Veli di bawah ini.

***

There is always a first time for everything. Contoh sederhana yang mungkin kita semua alami yaitu ketika belajar mengendarai sepeda; ada perasaan takut dan gugup namun di saat yang bersamaan juga penasaran dan bersemangat karena ingin bisa lancar bersepeda. Atau mungkin ketika hari pertama sekolah, ada perasaan senang karena akan berkenalan dengan teman-teman baru namun juga canggung karena harus menjalani proses adaptasi di lingkungan sekolah.

Pengalaman-pengalaman pertama berkesan seperti inilah yang saya alami ketika kuliah di luar negeri. Pertama kalinya sekolah di lokasi yang sangat jauh dari rumah dan keluarga (Southampton-Bandung terpisah jarak sejauh 12.000 km); pertama kalinya sekolah dengan beda bahasa; pertama kalinya bertemu dengan teman-teman yang berasal dari berbagai negara, latar belakang akademik, dan pengalaman kerja. Kejadian-kejadian “pertama kali” ini terus berlanjut sehingga banyak hal baru yang bisa saya temui dan pelajari.

Teringat kembali Juli 2016, saat sedang menjalani tesis untuk mendapatkan gelar Master. Untuk pertama kalinya saya diajak teman untuk riset bersama tentang preliminary assessment perhitungan ekonomi energi terbarukan. Kolega saya ini sedang berkuliah Master juga namun di lokasi berbeda, yaitu Jepang. Kami memiliki kesamaan latar belakang keilmuan, sehingga tercetuslah ide untuk menulis jurnal terkait riset tersebut.

Saat itu komunikasi via Skype cukup intensif dilakukan perihal konten riset dan pendekatan metode perhitungan yang akan dipilih. Hal ini cukup menantang karena pada saat yang bersamaan, saya harus terus mengerjakan tesis dengan topik yang berbeda. Belum lagi kami harus mengatur waktu diskusi via Skype dengan perbedaan waktu 8 jam. Kadang diskusi dilakukan malam hari di Inggris namun dini hari di Jepang, atau sebaliknya, mengingat kesibukan kuliah masing-masing.

Selama proses penyusunan artikel riset berlangsung, kolega saya menemukan kesempatan konferensi internasional untuk presentasi hasil riset tersebut: ICUE 2016 on Cogeneration, Small Power Plants and District Energy. Tidak tanggung-tanggung, lokasi konferensi ada di Bangkok, Thailand. At that time, we felt like we had nothing to lose. Maka kami pun mencoba mendaftar untuk menjadi pembicara pada konferensi tersebut. Fortunately, we were invited to present our research!

Tema konferensi yang diikuti oleh Veli. Sumber: Website ICUE 2016
Tema konferensi yang diikuti oleh Veli.
Sumber: Website ICUE 2016

Konferensi dilaksanakan pada tanggal 14-16 September 2016 di Bang Na, Bangkok, Thailand. Sebagai awardee beasiswa LPDP, kami beruntung karena bisa mendapatkan kesempatan untuk dibiayai konferensi jika diundang sebagai pembicara. Namun, muncul masalah baru. Kami bingung untuk menentukan siapa yang akan menghadiri konferensi tersebut. Pada tanggal yang sama, teman saya ada keperluan yang betul-betul tidak bisa ditinggalkan. Di sisi lain, saya cenderung belum ingin menghadiri konferensi saat itu karena terkendala jarak dan aktivitas tesis yang cukup menguras tenaga dan pikiran.

But the show must go on. Bagi saya pribadi, konferensi tersebut akan menjadi yang pertama kalinya selama saya menjalani studi Master. Saya juga penasaran bagaimana rasanya bertemu dengan para pakar di sektor energi dan berbagi hasil riset dengan mereka.

Sekitar sebulan sebelum tanggal konferensi, akhirnya diputuskan bahwa saya yang akan berangkat ke Bangkok. Saya pun memohon izin kepada dosen pembimbing di kampus untuk pergi. Alhamdulillah beliau menyetujui, sehingga bisa dilanjutkan dengan pemesanan tiket. Sebagai gantinya, beliau meminta saya untuk bercerita hal-hal apa saja yang diperoleh selama konferensi saat bimbingan tesis selanjutnya.

Beliau juga bersedia membuat surat izin dari kampus untuk keperluan administrasi pengecekan visa saat kembali ke Inggris. Hal ini sangat penting karena sebetulnya pada bulan Oktober saya akan pulang ke Indonesia setelah selesai studi. Berarti izin tinggal (residency permit) saya juga akan habis, sehingga perlu ada surat resmi untuk menjelaskan alasan bolak-balik keluar Inggris ketika mendekati habisnya izin tersebut.

And so the adventure began. Yes, Southampton-Bangkok-Southampton, only for four days, in the middle of thesis period. Belum lagi penyesuaian lingkungan, suhu, dan musim dari Eropa ke Asia ditambah dengan perbedaan makanan yang berisiko membuat perut saya “kaget”. Jadi, asupan gizi harus betul-betul dijaga.

Saya mengurungkan niat untuk berkeliling mencoba makanan khas Thailand. Selama empat hari saya hanya makan menu dari hotel yang memang terjamin kebersihannya. Sarapan, makan siang, dan makan malam dengan menu yang sama just to keep my stomach safe. Setiap jalan kaki menuju tempat konferensi ataupun tempat penginapan, saya hanya bisa berkata pada diri sendiri, “Until we meet again, Bangkok delicious signature cuisine. For sure I will come back just for you”.

Komunikasi dengan keluarga di Indonesia juga tidak pernah putus. Masih teringat jelas pada suatu malam, video call dengan keluarga rasanya ingin sekali pulang karena sudah rindu dengan mereka. Senang karena bisa berada dalam zona waktu yang sama, namun juga sedih karena bukannya pulang ke Indonesia, saya justru harus kembali ke Inggris untuk pengumpulan tesis (you guys know how close Bangkok to Bandung is already, right?)

Saat penyerahan sertifikat sebagai pembicara di akhir konferensi. Sumber: dokumentasi pribadi
Veli saat penyerahan sertifikat sebagai pembicara di akhir konferensi.
Sumber: Dokumentasi pribadi

Sembari menunggu giliran berbicara saat konferensi, saya berulang kali latihan dengan dan tanpa teks untuk memastikan informasi yang disampaikan tepat. Selama periode konferensi berlangsung, alhamdulillah semua lancar dan terkendali. Sebuah pengalaman yang menyenangkan saat bertemu energy experts dari berbagai negara, seperti Jepang, India, dan Brunei Darussalam. Saya belajar tentang pengembangan sektor energi di masing-masing negara yang memiliki kendala dan upaya perbaikan yang berbeda.

Tidak banyak dokumentasi yang terekam karena semua dilakukan sendiri dan ketika meminta bantuan kolega lain untuk pengambilan gambar, ada photobombers, gambar tidak jelas, atau waktu klik tombol kamera kurang tepat dengan ekspresi muka. Well, I could only hope that those adventurous memories would be well-documented in my mind.

Dari pengalaman pertama mengikut konferensi tersebut, apalagi di tengah-tengah kondisi perjuangan penyelesaian tesis, saya belajar bahwa dibutuhkan keberanian, strategi, dan dukungan dari berbagai pihak, dalam hal ini kampus dan keluarga, agar konferensi berjalan lancar. Sebuah pengalaman tak terlupakan yang pada akhirnya membuat saya tertarik dan berkomitmen untuk bisa mendalami bidang energi sampai sekarang.