Pengalaman Berharga Shafira Menjadi Valedictorian Speaker di Kampus Australia

0
745

Nindita Shafira Jumantara, lulusan Master of Strategic Communication sekaligus penerima beasiswa LPDP, membagikan pengalaman menariknya mulai dari awal perjalanan akademik hingga keberhasilannya terpilih menjadi Valedictorian Speaker (Pembicara pidato wisuda) di The University of Western Australia, Perth. Dari perjalanannya tersebut, Shafira pun semakin menyadari bahwa ada hal yang jauh lebih penting daripada memikirkan kesuksesan untuk diri sendiri, yakni memberikan kemanfaatan untuk orang lain.

***

Awal yang Indah

Dari dulu, saya termasuk orang yang terbiasa menyusun target-target dalam hidup saya. Dulunya, saya hampir selalu menargetkan target-target muluk seperti harus sukses, harus dapat nilai A semua, harus bisa magang di konsultan bergengsi, harus bekerja di kantor ekslusif di gedung pencakar langit. Salah satu target yang saya tanamkan pada diri saya sewaktu menjalani kuliah S2 adalah mendapatkan nilai yang bagus-bagus dan membuat sebuah riset yang dapat menjadi terobosan. 

Pada masa itu, saya terus maju dengan semangat berapi-api dengan mantra favorit saya sejagat raya: I can do this! Masa-masa belajar di kampus rasanya indah sekali. Dosen-dosen yang sangat membantu, perpustakaan yang kondusif, taman-taman di kampus yang dilengkapi jaringan internet, dan juga lokasi kampus saya yang tepat beda di tepi sungai yang sangat indah. Serius indah sekali; airnya biru jernih, rumputnya hijau, banyak pohon dan bunga khas Australia, banyak angsa hitam berenang bebas, dan kalau sedang beruntung, bisa bertemu dengan lumba-lumba. Ah, indahnya masa-masa itu.

Keindahan lingkungan kampus The University of Western Australia
Keindahan lingkungan kampus The University of Western Australia. Sumbar: Dokumentasi pribadi.

Ketika Badai Mulai Datang

Di penghujung semester pertama, ketika nilai-nilai keluar, saya shocked. Kok… di bawah ekspektasi saya? Tidak jelek, tapi tidak mencapai target saya. Di situ, saya mulai tertekan karena kecewa yang berlebihan pada diri sendiri.

Selanjutnya, saya menjalani kuliah dan mengerjakan tugas-tugas dengan ekstra hati-hati, sampai akhirnya saya tidak bisa menikmati proses belajar yang sebelumnya saya sangat nikmati dan sudah saya impi-impikan. Hingga akhirnya tiba saatnya untuk saya mulai menulis riset saya. Topik yang saya pilih bagi saya sangat menarik. Beberapa dosen saya juga sangat antusias untuk membahasnya. Sayangnya, pada saat itu para dosen di jurusan saya tidak ada yang tersedia untuk menampung saya sebagai mahasiswa bimbingannya. Sebenarnya bukan salah dosen-dosen saya juga, tapi karena ternyata saya agak terlambat untuk memulai proses riset saya dan master’s research bukanlah prioritas bagi jurusan saya pada waktu itu. Pada saat itu, saya harus memilih: lanjut riset dengan catatan harus menambah satu semester lagi atau beralih ke perkuliahan coursework sepenuhnya.

Riset yang saya damba-dambakan akhirnya harus saya relakan. Tapi ternyata, sulit untuk saya merelakan target saya ini. Saya merasa gagal. Saya merasa kecewa dengan diri sendiri dan juga mengecewakan orang lain terutama sponsor saya, yakni LPDP.

Pantai yang kerap saya kunjungi untuk melepas penat sambil menikmati matahari terbenam
Pantai yang kerap saya kunjungi untuk melepas penat sambil menikmati matahari terbenam

Saking tertekannya saya waktu itu, kesehatan saya sampai kacau. Otot tangan saya kebas, siklus datang bulan saya kacau, dan saya terus-menerus merasa lelah. Setelah konsul dengan beberapa dokter di kota saya, kesimpulan yang ditarik adalah: saya mengalami stres yang sangat mempengaruhi kesehatan fisik saya. Akhirnya saya direkomendasikan untuk mengikuti konseling dengan psikolog.

 

Menelusuri Tujuan Hidup Kembali

Rangkaian sesi konseling saya jalankan, saran-saran dari psikolog pun saya jalankan dengan baik. Sesi-sesi konseling yang saya jalani sangat membantu saya untuk memandang hidup saya dengan sudut pandang yang berbeda. Semangat yang saya miliki masih sama, namun cara saya menerjemahkannya ke dalam target-target menjadi berbeda.

Perlahan-lahan, target-target yang saya tetapkan sasarannya mulai bergeser ke arah bagaimana saya menjalani segala sesuatu yang sudah saya pilih atau tetapkan agar tetap mengarah ke tujuan utama saya. Psikolog dalam sesi konseling saya membantu saya untuk merefleksikan apa yang benar-benar berarti bagi saya, apa yang benar-benar saya ingin capai di hidup saya. Apakah nilai akademis yang sempurna adalah hal yang benar-benar ingin saya capai? Jawabannya, iya. Tapi, apakah bila nilai saya tidak sempurna, lantas saya telah gagal dalam menjalani misi hidup saya? Jawabannya, tidak. Maka sesungguhnya, nilai akademis sempurna bukanlah tujuan hidup saya.

Waktu itu, saya kecewa sekali tidak bisa melanjutkan riset karena saya pikir itu menutup pintu saya menuju jenjang pendidikan selanjutnya. Saya merasa butuh untuk melanjutkan pendidikan hingga S3 karena saya bermimpi untuk menjadi pengajar di Indonesia. Sementara, untuk menjadi pengajar yang kredibel, dibutuhkan gelar akademis yang kredibel pula. Itulah mengapa saya sangat kecewa.

Dengan bantuan psikolog, saya bisa menguraikan tujuan utama saya dengan lebih sederhana dan lebih bermakna. Ternyata, bagi saya, yang terpenting bukan menjadi pengajar. Yang terpenting adalah berbagi ilmu dan berbagi pengalaman, agar apa yang saya miliki tidak hanya bermanfaat bagi saya seorang, tetapi juga bagi orang lain. Dengan pemikiran yang lebih sederhana ini, saya mengatur ulang target-target saya.

Saya, rekan magang saya, dan supervisor magang saya di sebuah NGO humanitarian lokal bernama Tuart Place.
Saya, rekan magang saya, dan supervisor magang saya di sebuah NGO humanitarian lokal bernama Tuart Place. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Saya menetapkan, target saya selanjutnya adalah menjalani sisa waktu perkuliahan dengan sukacita dan meluangkan waktu untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi orang lain.

 

 

 

 

Seiring dengan membaiknya kesehatan fisik saya, saya pun merasa lebih bahagia dan lebih bisa menikmati kegiatan perkuliahan. Walaupun nilai akademis saya tidak mengalami kenaikan drastis, tapi rasanya saya lebih puas. Karena saya tau, saya sudah melakukannya dengan usaha terbaik saya. Pokoknya, saya merasa lebih sehat secara mental.

Menjelang akhir studi saya, salah seorang teman saya menyarankan saya untuk mengajukan diri dalam nominasi Western Australia’s International Student of The Year. Awalnya saya ragu, karena pasti banyak mahasiswa internasional lainnya yang lebih cemerlang dari saya. Tapi setelah saya pikirkan baik-baik dan mendapat dukungan dari teman terdekat dan supervisor magang saya, saya pun mendaftar dengan harapan yang sangat minim karena sempat  mendengar kabar bahwa pendaftar tahun itu untuk nomisasi tersebut membludak dari tahun sebelumnya. Tak apa, at least I tried, pikir saya saat mendaftar.

Beberapa minggu kemudian, saya diberi kabar oleh komite, saya masuk dalam nominasi tiga besar. Sungguh tidak menyangka, saya pikir, kalau pun masuk nominasi, mungkin sepuluh besar. Saya masih ingat, saya sangat gugup saat menyiapkan naskah nomination speech saya. Tapi ternyata, speech saya berjalan sangat lancar walaupun saya tidak menempati peringkat pertama. Ternyata pula, saya tidak kecewa sama sekali. Mungkin bila saya belum mengalami stress berat dan mengikuti sesi konseling, saya akan kecewa sedalam-dalamnya. Tapi, saya sudah bisa memahami bahwa lebih penting untuk do my best ketimbang be the best.

Valedictorian Speaker (Pembicara Pidato Wisuda)

Tujuh menit yang sangat berharga di penghujung masa studi master saya, ketika saya menyampaikan valedictorian speech.
Tujuh menit yang sangat berharga di penghujung masa studi master saya, ketika saya menyampaikan valedictorian speech. Sumber: Dokumentasi pribadi

Beberapa hari setelah pengumuman pemenang, saya dihubungi oleh pihak kampus saya. Si penelpon menawarkan untuk menominasikan saya untuk menjadi valedictorian speaker (pembicara pidato wisuda). Si penelpon juga menjelaskan, bahwa kampus saya sangat menghargai mahasiswanya yang sudah berkontribusi pada komunitas di kampus dan sekitarnya. Menurut beliau, saya adalah sosok yang pas untuk itu. Tentu saja saya tidak menolak, walaupun sebenarnya saya sangat gugup.

Hari-hari menjelang wisuda saya terasa sangat lama tapi juga sangat cepat. Saya berlatih hampir setiap malam di depan cermin, mencoret naskah saya di sana sini; selalu saja ada yang dirasa kurang pas. Sempat saking gugupnya, saya curhat ke teman saya yang juga orang Indonesia, apakah saya mundur saja daripada melakukan hal bodoh di podium? Tapi jawaban teman saya memantapkan hati saya untuk tetap menjalakan peran sebagai valedictorian speaker.

“Jangan gitu, aku bangga banget lho, bukan cuma karena kamu teman ku, tapi dengan kamu berdiri di depan podium nanti,kamu bicara bukan hanya untuk dirimu saja, tapi juga untuk ku dan perempuan lainnya yang memakai kerudung. Juga untuk colored people lainnya, juga untuk orang Indonesia lainnya, kamu jadi bukti nyata kalau kita semua punya kemampuan dan hak berbicara yang sama.”

Saya baru menyadarinya. Jujur, saat itu saya hampir meneteskan air mata. Karena jika melihat perjuangan saya ke belakang, tidak ada yang mudah. Bukan cuma perjuangan di tanah orang ini saja, tapi juga perjuangan sebelum berangkat ke Australia. Berapa kali saya harus mencoba, berapa kali saya gagal, dan berapa banyak mulut yang meremehkan saya. Akhirnya, mantra favorit memperlihatkan sihirnya, I can actually do it all.

Valedictorian Night

25 Juli 2019, sebuah tanggal yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya. Valedictorian speech saya berjalan lancar, saya berhasil menahan diri dari kecerobohan konyol yang sering terjadi.

Berpose dengan Counsellor dan Vice-Councelor, istilah Australia untuk Rektor Senat dan Rektor Akademis.
Berpose dengan Counsellor dan Vice-Councelor, istilah Australia untuk Rektor Senat dan Rektor Akademis. Sumber: Dokumentasi pribadi.

Seusai prosesi wisuda, saya diberi kesempatan untuk bergabung dengan para VIP untuk berfoto dan menikmati kudapan ringan. Di ruangan itu, isi speech saya menjadi topik pembicaraan. Tak disangka, ternyata bagi mereka ada satu poin yang sangat membekas.

Setelah bersosialisasi dengan para VIP, saya bergegas ke area para wisudawan untuk berkumpul dengan teman-teman saya. Sepanjang malam, orang-orang menyapa saya dan memuji speech saya untuk satu poin yang sama.

Saya merasa tersanjung atas pujian-pujian yang saya dapat. Tapi lebih jauh lagi, saya berharap apa yang saya sampaikan bukan hanya menjadi kesan pemanis pada malam itu saja, tapi juga sebagai pengingat di kemudian hari.

Berikut penggalan dari speech saya yang mendapat banyak pujian di malam itu:

“For now, let’s ask ourselves, what is being successful to you? For me, being successful is a funny thing. From where I come from, that is Indonesia, a country that still continues to achieve its own social justice, getting a higher degree is a privilege. That being noted, getting a higher degree from overseas is an exceptionally limited privilege. So I can say that we, all of us with the black gown in this hall tonight, are very lucky to live what many people define as successful out there. We should be thankful and we should be proud.” 

“Surely, landing a job in a first-tier law firm will be a sweet success story. Or in a multi-national company. Or establishing your own company. But I’m sure at one point in our lives, we’ll ask, ‘then what?'”

“I’m not saying that you can’t pursue after what you desire, what you define as successful. Of course you can. Even I want to pursue mine. What I’m saying is; there’s more than being successful only on your own. The world relies on people like us. People with education, skills, and knowledge. It is our duty to utilise them for a better world.”

Naskah Valedictorian Speech ini masih saya ingat dan simpan baik-baik dan akan terus saya simpan sebagai pengingat akan perjuangan saya dalam meraih pendidikan yang lebih tinggi, dan yang lebih penting, perjalanan saya dalam mempelajari tujuan hidup saya.

***

Editor: Yogi Saputra Mahmud