Menjalani pendidikan master di negara terbahagia sedunia

0
1223
Tampak kota Tampere diambil dari Menara Pyynikki

Finlandia, bersama negara-negara Nordic lainnya, seringkali disebut-sebut sebagai negara terbahagia di dunia. Apa sih artinya? Dalam artikel ini, kontributor Indonesia Mengglobal, Nadira Kusaeni, berbagi mengenai budaya masyarakat Finlandia dan pengalamannya menjalani kuliah S2 disana. 

***

Pada tanggal 20 Maret 2020, Finlandia dinominasikan sebagai negeri paling bahagia di dunia. Selama tiga tahun berturut-turut, hasil riset World Happiness Report dari lembaga PBB Sustainable Development Solutions Network (UN SDSN) menunjukkan bahwa masyarakat Finlandia mendapatkan hasil evaluasi tertinggi dalam tingkat kesejahteraan hidup mereka, diikuti oleh Denmark, Swiss, Islandia, dan Norwegia, sedangkan Indonesia berada di posisi 83.

Bukan hanya tingkat kebahagiaan saja, Finlandia dikenal sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Hal ini bisa dilihat dari tingginya tingkat kesuksesan kinerja pelajar Finlandia berdasarkan OECD Programme for International Student Assessment (PISA), yang menunjukkan hasil sangat baik pelajar Finlandia dalam bidang membaca, matematika, dan sains. 

Sistem pendidikan yang menjunjung kemandirian

Sebagai seseorang yang sudah tinggal di Finlandia selama dua tahun untuk menempuh pendidikan S2, saya mengalami sendiri bagaimana berlangsungnya sistem pendidikan Finlandia dan juga tingkat kesejahteraan hidup di sini. Salah satu poin utama yang saya rasakan adalah sistem pendidikannya yang berdasarkan nilai percaya dan tanggung jawab masing-masing. Semenjak pendidikan usia dini, nilai-nilai ini sudah ditanamkan, contohnya pembelajaran pekerjaan rumah tangga yang dimasukkan ke dalam kurikulum. Hal ini dilakukan agar anak merasa berperan dalam keluarga. Tidak jarang saya melihat anak-anak menggunakan transportasi umum sendiri untuk pulang-pergi ke sekolah atau anak-anak menemani orang tuanya berbelanja di supermarket.

Di pengajaran universitas, setiap mahasiswa punya otonomi untuk menentukan alur pendidikan mereka. Dosen biasanya tidak memberi banyak petunjuk, mahasiswa itu sendiri yang harus mencari tahu bagaimana ia bisa menyelesaikan mata kuliah tersebut. Dalam program master saya yang berfokus pada riset akademik, satu mata kuliah biasanya memiliki sesi perkuliahan dan seminar setiap minggunya. Dalam sesi perkuliahan, dosen utama akan memberikan presentasi, lalu dalam seminar, setiap sesi akan dipimpin oleh mahasiswa berbeda, yang biasanya berupa diskusi literatur, dan didampingi oleh mahasiswa S3.

Bersama kolega jurusan Global and Transnational Sociology
Bersama kolega jurusan Global and Transnational Sociology

Pentingnya keseimbangan hidup

Karena asas kepercayaan terhadap tanggung jawab mahasiswa, dosen biasanya tidak mengingatkan jika tugas belum dikumpulkan. Lagi-lagi, mahasiswa mempunyai otonomi untuk menentukan bagaimana ia menyelesaikan sebuah mata kuliah. Kejadian-kejadian yang dapat mengakibatkan ketidakmampuan mahasiswa dalam menyelesaikan mata kuliah, seperti penyakit fisik atau mental, maupun masalah pribadi dan keluarga, dianggap hal yang bisa terjadi kepada siapa saja dan dosen tidak akan memberi beban kepada mahasiswa untuk segera menyelesaikannya jika mahasiswa tersebut tidak mampu. Tentunya hal ini harus berdasarkan penjelasan yang valid, dan fasilitas kesehatan di sini bisa memberikan surat keterangan sakit yang menjelaskan penyebab gangguan dalam perkuliahan.

Hal ini setidaknya dapat menghindarkan mahasiswa di Finlandia dari mengalami burnout. Dunia akademik yang mempunyai kriteria tinggi dan harapan untuk selalu berperforma baik atau ketidakpastian cenderung membebani para mahasiswa. Banyak studi yang mengatakan bahwa mahasiswa pascasarjana banyak mengalami permasalahan kesehatan mental, seperti depresi. Contohnya, studi terhadap 500 mahasiswa pascasarjana ekonomi di Amerika Serikat oleh tim dari Harvard University yang menunjukkan bahwa respondennya memiliki gejala cemas dan depresi yang jumlahnya tiga kali lebih tinggi daripada rata-rata nasional. Di sini, sering sekali dosen berbicara tentang indahnya alam dan cuaca pada hari itu, lalu menganjurkan mahasiswa untuk menghabiskan waktu di luar dan mengurangi waktu di depan layar. Saya melihat ini sebagai suatu budaya unik khas Finlandia, yang berbeda sekali dengan budaya workaholic di negara-negara lain.

Budaya ini tidak hanya terasa dalam sistem pendidikannya saja, namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Program pariwisata Finlandia, Visit Finland, mengagungkan kesunyian dan alam sebagai kunci kebahagiaan masyarakatnya. Hal ini bisa dilihat dari seringnya masyarakat Finlandia pergi ke sauna dan berjalan kaki di hutan. Dengan jumlah populasi yang sedikit, menemukan lokasi alami dan terpencil tidaklah sulit. Hutan dan danau bisa ditemukan di mana-mana, bahkan di kota besar seperti Helsinki. Jadi mudah sekali bagi seseorang yang ingin melepaskan diri dari hiruk-pikuk, tinggal pergi ke sauna yang tersedia di apartemen atau berjalan kaki di hutan belakang rumah.

Tingginya tingkat kesejahteraan sosial

Menurut World Happiness Report 2020, faktor-faktor yang disebut berkontribusi untuk kebahagiaan masyarakat adalah pendapatan per kapita, dukungan sosial, angka harapan hidup sehat saat lahir, kebebasan memilih pilihan hidup, kedermawanan, dan ketiadaan praktik korupsi. Finlandia memiliki sistem kesejahteraan sosial yang sangat baik, setiap penduduk mempunyai akses ke sistem kesehatan publik. Sebagai pelajar, kunjungan ke perawat atau dokter lainnya bisa dilakukan di pusat layanan kesehatan mahasiswa secara gratis. 

Selain itu, Finlandia memberikan kesempatan belajar yang sama bagi semua orang. Hal ini terlihat dari pendidikan tanpa biaya sejak pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Untuk warga negara dan penduduk tetap, mahasiswa mendapatkan tunjangan belajar dan tunjangan sewa dari sistem kesejahteraan sosialnya yang cukup untuk membiayai kehidupannya selama menyelesaikan studi.

Hiking di Taman Nasional Helvetinjärvi
Hiking di Taman Nasional Helvetinjärvi

Masih ada diskriminasi

Namun, beberapa faktor kebahagiaan tersebut masih belum dirasakan oleh seluruh komunitas masyarakat. Pelajar yang berasal dari negara di luar Uni Eropa tidak bisa mengajukan tunjangan belajar, dan juga dikenakan biaya kuliah, walaupun biayanya tidak sebanyak biaya kuliah di Inggris dan Amerika Serikat, misalnya. Finlandia juga termasuk negara dengan tingkat rasisme tertinggi di Uni Eropa, menurut studi yang diterbitkan oleh Badan Uni Eropa untuk Hak-Hak Dasar (EU FRA) pada tahun 2018. Studi ini menunjukkan bahwa persentase diskriminasi dan pelecehan berdasarkan ras terhadap komunitas keturunan Afrika di Finlandia adalah tertinggi dibandingkan negara-negara Uni Eropa lainnya. Contohnya, 63 persen dari responden di Finlandia pernah terkena pelecehan berdasarkan ras dan menerima ancaman dan juga komentar yang merendahkan.

Bukan hanya komunitas keturunan Afrika saja, Komisi Uni Eropa dalam Melawan Rasisme dan Intoleransi (ECRI) melaporkan meningkatnya diskusi publik dan diskusi di internet tentang rasisme dan kebencian terhadap pencari suaka, orang Muslim, komunitas LGBT, orang Rom, dan komunitas Yahudi di Finlandia tahun lalu. Bisa dilihat bahwa paham populisme dan anti-imigran meningkat, seperti perolehan tinggi partai sayap kanan Finlandia, the Finns Party pada pemilu nasional April tahun lalu, dan juga maraknya kelompok-kelompok Neo-Nazi yang melontarkan kebencian. Banyaknya kejahatan kebencian ini disebabkan oleh minimnya laporan terhadap kejahatan tersebut, dan Komisi Uni Eropa ECRI telah menyarankan pemerintah Finlandia agar dapat memperbaiki sistem laporan kejahatan kebencian, dan juga kerja sama yang lebih baik antara polisi dan kelompok-kelompok rentan.

Pelajaran hidup yang berharga

Menjalani pendidikan master di Finlandia tidak hanya menambahkan gelar di akhir nama, tetapi juga pelajaran hidup yang berharga. Kebahagiaan bisa dirasakan dari hal-hal sederhana, seperti hidup bermasyarakat tanpa adanya diskriminasi, lingkungan yang tenang dan sunyi, juga orang sekitar yang percaya terhadap tanggung jawab orang lain. Nilai-nilai seperti ini akan terus saya hargai, meski setelah pendidikan master saya berakhir.

***

Foto-foto disediakan oleh penulis