Deden Mauli Darajat: Kembali dari Turki untuk Mengabdi di Kampung Halaman

0
609

Sesuai dengan tema ulang tahun Indonesia Mengglobal bulan ini, Indonesia Matters: Global Impacts from Within, Chani, Content Director Indonesia Mengglobal untuk wilayah Asia, Timur Tengah dan Afrika berkesempatan berbincang dengan Deden Mauli Darajat mengenai pengalamannya selama berkuliah di Turki, serta tekad dan pengalamannya dalam mengabdi di kampung halamannya sendiri dengan mendirikan Pondok Modern Zamzam.

***

“Belajar jangan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk kembali mengabdi kepada masyarakat,” begitulah prinsip yang dipegang teguh oleh Deden Mauli Darajat, atau lebih akrab dikenal dengan panggilan Kang Deden. Saya mengenal Kang Deden sebagai sosok yang ceria dan aktif dalam kegiatan-kegiatan organisasi mahasiswa Indonesia di Ankara, Turki, antara tahun 2009 sampai 2013. Sepulangnya dari Turki, Kang Deden bersama saudara kembarnya, Kang Dadan, merintis Pondok Modern Zamzam, sebuah pondok pesantren di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten.

Kang Deden, boleh tolong ceritakan bagaimana waktu itu bisa sampai S2 di Turki?

Saya dulu bekerja sebagai wartawan di Republika. Pada suatu malam saat saya sedang menyortir kiriman siaran pers dari berbagai pihak, saya menemukan sebuah rilis dari Kedutaan Besar Turki yang memberitakan tentang beasiswa ke Turki. Saat itu, informasi beasiswa ke Turki masih belum umum, kebanyakan masih dari mulut ke mulut.  Karena kami di Republika peduli dengan pendidikan, terutama di dunia keislaman, maka saya memutuskan untuk memuat berita tersebut.

Saat saya sedang mempelajari siaran pers itu, saya berfikir, wah sepertinya saya bisa daftar. Keesokan harinya saya pergi ke Kedutaan Besar Turki untuk mempelajari lebih lanjut mengenai tawaran beasiswa tersebut. Ternyata di Turki ada beberapa universitas negeri yang menawarkan studi komunikasi dan jurnalisme. Saya pun mendaftarkan diri pada program beasiswa tersebut untuk kuliah S2 jurusan Jurnalisme di Ankara University.

Setelah diterima, saya sempat dilema: apakah saya mengambil kesempatan ini atau melanjutkan karir saya di Republika? Saya pun berkonsultasi dengan beberapa orang, termasuk mantan dosen dan pimpinan redaksi di Republika. Mereka semua mendukung saya untuk melanjutkan studi S2. Akhirnya, saya memutuskan untuk keluar dari Republika dan mengambil kesempatan ini.

Apa saja pelajaran yang Kang Deden dapatkan dari berkuliah di Turki?

Kang Deden berpose di depan kampus Ankara University
Kang Deden berpose di depan kampus Ankara University

Selama 4 tahun saya di Turki (1 tahun belajar bahasa, 3 tahun kuliah), banyak pelajaran yang bisa diambil. Bukan hanya pelajaran kuliah – karena ilmu teori yang saya dapatkan di universitas sebenarnya juga bisa saya dapatkan di tempat-tempat lain – tapi yang utama adalah budaya. Saya merasakan bahwa bahasa merupakan gerbang untuk mempelajari budaya. Di sana saya sempat tinggal di asrama mahasiswa, dimana saya berkesempatan untuk mengenal budaya Turki yang sesungguhnya. Banyak percakapan-percakapan menarik yang mengenalkan saya terhadap cara berfikir masyarakat Turki dari berbagai macam latar belakang, dan hal itu saya rasa tidak bisa didapatkan di kelas.

Masyarakat Turki sangatlah ramah. Di awal-awal saya disana, saya pernah diundang teman saya untuk mengunjungi kampung halamannya di Konya. Disitulah saya dapat merasakan budaya Turki sebenarnya. Budaya dan sejarah mungkin bisa kita baca, tapi pengalamanlah yang benar-benar meninggalkan kesan.

Sepulang dari Turki, saya dengar Kang Deden mulai membangun Pondok Modern Zamzam. Boleh sedikit diceritakan asal muasal ide membangun pondok pesantren tersebut?

Idenya dimulai dari tahun 2011, dimana saya dan saudara kembar saya, Dadan, berkesempatan untuk naik haji. Saya berangkat dari Turki, Dadan berangkat dari Iran, tempat waktu itu dia berkuliah. Disana kami memutuskan bahwa saat kami kembali ke Indonesia, kami akan merintis jejak di kampung halaman (Rangkasbitung) karena kebetulan orangtua kami memiliki lahan disana. Alangkah baiknya jika lahan itu bisa digunakan untuk hal-hal yang produktif.

Kang Deden bersama beberapa santri seusai kegiatan Literasi Media
Kang Deden bersama beberapa santri seusai kegiatan Literasi Media

Pemikiran awalnya sebenarnya sederhana. Kami termasuk orang-orang yang beruntung, dari kampung bisa sekolah di Jawa (Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo), mengembara ke Jakarta, lalu dapat beasiswa ke luar negeri. Tidak banyak orang yang mendapatkan kesempatan seperti itu. Kami ingin lebih banyak lagi yang bisa merasakan apa yang kami rasakan. Berbagi itu hal yang membahagiakan. Kami dari kampung dan kami harus pulang kampung.

Walaupun kata orang masih bau kencur, ya tidak apa-apa. Kami benar-benar memulai dari nol, bermodalkan sebidang tanah. Batu bata kami bikin sendiri dari tanah merah. Almarhum ayah kita selalu mengajarkan bahwa kita tidak boleh lupa akan proses, jangan hanya mau hasilnya.

Lalu bagaimana perkembangan pondok pesantrennya?

Alhamdulillah sekarang sudah jalan. Kami sudah punya dua gedung, 1 untuk asrama dan 1 untuk kelas. Memang sekarang jumlah santrinya masih pasang surut, tapi itu biasa. Kita ramaikan juga dengan taman pendidikan Al-Quran untuk masyarakat sekitar. Saat pesantren sudah mulai mapan, saya memutuskan untuk sekolah lagi (studi S3 jurusan Komunikasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), sedangkan saudara saya yang bekerja penuh waktu di pesantren.

Apa visi Kang Deden dan Kang Dadan dalam membangun pondok pesantren ini?

Karena latar belakang saya di jurnalisme dan kembaran saya S1 dan S2 jurusan matematika, kami ingin menguatkan di bidang sains. Untuk ilmu keislaman kami ambil dari ajaran Gontor, tapi untuk hal lain kami juga tambahkan sesuai keahlian kami. Misalnya, tahun lalu kita mengadakan kegiatan literasi media di pesantren bekerjasama dengan UIN Jakarta.

Kang Deden bersama petinggi TNI di Kabupaten Lebak, Banten
Kang Deden bersama petinggi TNI di Kabupaten Lebak, Banten

Dalam pengalaman merintis pondok pesantren ini, kami juga selalu menyempatkan untuk bekerjasama dengan tokoh-tokoh masyarakat sekitar. Di awal-awal, kami beberapa kali diundang oleh Bupati Lebak untuk bicara di acara-acara daerah mengenai alasan kami kembali ke kampung. Sesekali kami juga diundang untuk bicara di Masjid Agung. Pesantren adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat.

Dari pengalaman Kang Deden kuliah di Turki, ilmu apa sih yang paling terpakai dalam merintis pondok pesantren ini?

Pengalaman bertahan hidup saya waktu di Turki menjadi modal saya di masyarakat. Dulu di Turki saya tidak punya saudara, tidak punya apa-apa. Dulu saya di-bully di asrama, di kampus, tapi itulah pembentukan karakter. Pada akhirnya ternyata kemampuan dan keahlian untuk bertahan dimanapun sama aja. Kita harus pintar mengelola hubungan dengan orang lain.

Kang Deden seusai bertugas dalam upacara bendera di Ankara, Turki
Kang Deden seusai bertugas pada upacara bendera di Ankara

Saya dan Dadan dulu aktif di PPI dan kegitan-kegiatan KBRI. Disana kami sering berhubungan dengan masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang. Misalnya dulu di Turki saya sempat membantu teman-teman di KBRI saat Presiden SBY datang ke Turki. Justru pengalaman-pengalaman itu yang tidak bisa kita dapatkan di kelas. Bagaimana kita menghadapi orang-orang yang berbeda dari kita, seperti jendral, menteri, dan lain-lain.

Terima kasih Kang Deden atas cerita-ceritanya. Apakah ada pesan-pesan untuk pembaca Indonesia Mengglobal?

Pertama, kuliah itu bukan hanya untuk mencari pengetahuan, tapi disanalah kita mencari pengalaman hidup. Di luar negeri dimana budayanya beda, bahasanya beda, bagaimana kita bisa bertahan hidup disana. Kuliah di luar negeri harus kuat mentalnya.

Kedua, dimana kita dilahirkan, itulah dimana kita harus kembali. Memang tidak harus lulus kuliah langsung pulang. Ayo kita ambil pelajaran sebanyak-banyaknya di luar negeri, tapi suatu saat kita harus pulang dan mengabdikan diri. Apapun itu, sekecil apapun, bagi masyarakat pasti dibutuhkan. Belajar itu bukan hanya untuk diri sendiri. Kalau kita niatkan untuk masyarakat, maka kita akan mendapatkan banyak.

***

Sumber foto: koleksi penulis

SHARE
Previous articleProgram Magister yang Menerima Lulusan Sarjana Berbeda Jurusan
Next articlePelajaran dari Amerika
Arnachani Riaseta
Arnachani Riaseta, or Chani, was born in Palembang and raised in Jakarta. She completed her bachelor's degree in International Relations from Bilkent University, Turkey, and her master's degree in Asian Studies from Nanyang Technological University, Singapore. She now works in a tech startup company aimed at improving banking experience for everyone. In her spare time, she likes to travel to new places across the globe.