Incredible India: A Colorful Story in A Colorful Country

0
210

Simak perjuangan Muhammad Abdul Rouf dalam usahanya untuk bisa mendapatkan beasiswa kuliah di India dan menimba ilmu di sana.

Siapa yang tidak mengenal India. Sebuah negeri peradaban dunia yang telah masyhur semenjak ribuan tahun, yang menyimpan sejuta pesona, warna, dan cerita. Walau sebagian orang masih menganggap bahwa India itu jorok, kotor, semrawut, miskin dengan segala keruwetan keadaannya, tetapi bagi saya India adalah sebuah museum ilmu terbuka terbesar di dunia dengan nilai-nilai kehidupan yang telah diperlihatkan, peradaban masa lalunya, keaneragaman budaya, bahasa, dan toleransi beragamanya. Well India… will always be my second home, begitu istimewa yang telah melukiskan cerita epik penuh warna dalam kanvas hidup saya. Incredible India…this is my colorful story.

Kisah penuh warna ketika itu dimulai jauh sebelum diri ini menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di negeri yang terkenal dengan film Bollywood-nya untuk menimba ilmu, menggapai mimpi. Bak suara kendang dan sulingnya yang khas, nama India sudah berdendang dalam sanubari melalui film dan lagu ala Bollywood-nya serta pelajaran sejarahnya yang melegenda saat di bangku sekolah dasar. I have always been amazed and interested in all about India and someday definitely I will visit and learn from it. Namun demikian, tahun 2013-2014 cerita saya akan India benar-benar dimulai dengan perjuangan yang tidak mudah untuk mendapatkan sebuah Golden Ticket, sebuah beasiswa penuh ICCR Scholarship dari pemerintah India yang telah mengantarkan saya untuk merajut setiap untaian warna cerita pengalaman saya ketika menempuh pendidikan S-1 di negeri Hindustani tersebut. Sekitar kurang lebih 5 tahun yang lalu, ada seorang pemuda kampung lulusan SMA, dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi, dengan beraninya bermimpi untuk berkuliah di luar negeri. Cukup mustahil memang. Namun dengan sikap keras kepala dan ambisi akan mimpinya pemuda tersebut mampu menaklukan setiap batasan yang ada dan diterima setidaknya 3 beasiswa penuh sekaligus di 3 negara berbeda.

1.Penulis bersama teman mahasiswa pada perayaan Hari Holi atau Festival Warna
Penulis bersama teman mahasiswa pada perayaan Hari Holi atau Festival Warna

India is not my first but it is my best…

Keputusan untuk berkuliah di luar negeri yang jauh dari keluarga banyak sekali ditentang dari sana-sini, terutama dari Bapak yang pada saat itu hanya menghendaki saya untuk bekerja. Dalam diam dan sedikit restu dari Ibu, saya tetap perjuangkan mimpi-mimpi itu, karena bagi saya berkuliah di luar negeri bukan hanya semata-mata untuk mencari gengsi, melainkan sebuah tugas besar untuk memperbaiki kondisi keluarga dan memberikan kontribusi lebih untuk negara. Dalam hal belajar di luar negeri, India bukanlah negara tujuan pertama dalam setiap doa yang selalu saya panjatkan. Tetapi India-lah yang pertama menjawab aplikasi beasiswa saya dan memang beasiswa inilah yang membuat saya percaya bahwa setiap kerasnya perjuangan akan selalu ada kemanisan hasil yang diraihnya. Bagaimana tidak, dibandingkan dengan beasiswa-beasiswa lain yang saya apply pada saat itu, ICCR Scholarship yang membutuhkan paling banyak usaha; baik tenaga, waktu maupun uang. Hampir satu bulan penuh saya berjuang mempersiapkan diri dan mengumpulkan setiap dokumen yang diminta, dan bahkan tepat dua hari sebelum waktu tenggat penutupan, saya masih berkutat dengan satu dokumen yang belum jadi yakni terjemahan silabus pendidikan SMK waktu itu. Dengan silabus terjemahan bahasa Inggris yang sekadarnya dan belum jadi itu, dengan mengucap Bismillah saya memantapkan diri mengirim berkas ke kantor pos di Semarang agar cepat sampai di kantor Kedutaan Besar India di Jakarta daripada melalui kantor pos Kudus, kota asal saya.

Rintangan tentu adanya. Tepat tanggal 5 Februari 2014, hujan lebat mengguyur dengan derasnya yang setia untuk mengiringi langkah saya membawa sekumpulan berkas yang akan menjadi tiket saya ke India. Banjir sudah pasti. Namun, tekad kuat nan penuh harap ini tak menyurutkan semangat saya untuk mengirimkan ‘tiket’ saya di hari terakhir sebelum terlambat. I had only one option, do it or regret it. Dengan pantang menyerah, saya menerjang banjir untuk pergi ke Semarang dan mengirimkan berkas tepat pada waktunya (Big thanks to Dimas Setyoadjie for helping me enthusiastically at the time). Hari berganti bulan setelah dinyatakan lolos seleksi tahap pemberkasan dan sudah melakukan yang terbaik di sesi wawancara serta tes lanjutan, hati ini harap-harap cemas menanti sebuah kabar yang tak tentu pastinya, merasa takut akan kegagalan yang berkali-kali menghantui, ditambah semakin deras omongan-omongan miring tetangga, “Lulusan terbaik di SMK terbaik tetapi tak laku kerja hanya berdiam diri di desa”, demikian ujarnya. Apalah daya, memang seperti itu keadaan saya pada saat itu. Hanya diam dan senyum kesedihan yang mampu saya berikan sebagai respon terbaik saya.

Pertolongan Allah selalu datang di saat yang tak terkira-kira oleh manusia. Mei-Juni 2014, tiga buah pengumuman istimewa menghampiri email saya sebagai buah hasil doa, perjuangan dan penantian saya untuk berkuliah di luar negeri dengan beasiswa penuh sesuai dengan apa yang telah saya panjatkan dalam doa. Keluarga yang dahulu sempat menentang kini dengan penuh keyakinan memberikan doa restu terbaiknya dan melepas anak lelaki satu-satunya di keluarga untuk berjalan sesuai dengan arah langkah kakinya. India sejak dari awal bukanlah tujuan utama, namun dengan berbagai macam pertimbangan dan perjuangan, hati ini dengan mantap memilih negeri seribu warna sebagai negara tempat saya akan melukiskan kisah berwarna saya untuk dibagi ke sesama. Yes…India is not my first indeed, but it is my best.

Penulis bersama warga lokal saat mengikuti kegiatan Winter Camp 2015 di Kerala, India
Penulis bersama warga lokal saat mengikuti kegiatan Winter Camp 2015 di Kerala, India

India painted on my own canvas with colorful stories…

Sejak diri ini pertama kalinya mendaratkan kaki di tanah para dewa, rasa syukur dan takjub meliputi saya akan ke-Incredible-an India. Memang India tidaklah sementereng Eropa atau Amerika dengan keglamoran dan hedonisme yang ditawarkan. Tetapi India menawarkan sesuatu yang lebih dari itu yakni kesederhanaan, kerahtamahan maupun kearifan lokalnya yang mampu membuat kita lebih hidup dan berarti.

Saya berkuliah dan melanjutkan pendidikan S-1 saya di kota Hyderabad, di mana Islam dan Hindu adalah dua agama mayoritas bersama dengan agama-agama yang lain yang saling hidup berdampingan dengan harmonisnya. Hampir 3 tahun saya telah melukiskan cerita epik nan penuh keajaiban di kota ini. Mendapatkan teman dan keluarga baru yang sungguh luar biasa keramahannya, dosen yang selalu setia dan peduli terhadap saya, bahkan tukang bajaj yang pernah memberikan saya uang dan selalu menggratiskan saya setiap saya naik di bajaj-nya karena kesopanan dan keramahan saya (katanya) dan mengingatkan beliau terhadap anaknya yang sudah tiada.

Untuk menuliskan sebuah cerita perjalanan saya di India memang tidaklah cukup hanya dengan bait kata, melainkan butuh sebuah buku yang akan menceritakan setiap detail untaian warna kisah hidup saya. Mendapatkan amanah untuk menjadi Sekjen PPI India, berkesempatan untuk mewakili India di Simposium Internasional di Kairo, Mesir, menjadi Topper di universitas saat kelulusan, bahkan mendapatkan sebuah penghargaan Ambassador Award for Excellent dari Duta Besar Indonesia untuk India, hanyalah buah manisnya saja, jauh lebih banyak keringat dan air mata yang dikorbankan selama berkuliah di sana. Bagaimana selama ini saya mampu melewati setiap kesulitan dan rintangan yang ada dan memetik setiap pelajaran hidup yang sungguh luar biasa diberikan oleh India. Hidup atau berkuliah di India memanglah keras dan tidak mudah untuk ditaklukkan, namun kesederhanaan, keramahtamahan dan keagungannya akan tetap selalu menjadi salah satu memori terbaik setiap mahasiswa yang pernah tinggal di sana. India…Kabhi Alvida Na Kehna…and always be my beloved second home.

Photo courtesy goes to author.

SHARE
Previous articleTaking Social Science Master’s Degree in Germany: Why Not?
Next articleMemulai Petualangan di Australia dengan Work & Holiday Visa
Muhammad Abdul Rouf
Muhammad Abdul Rouf atau biasa dipanggil Rouf baru saja menyelesaikan pendidikan sarjana pada program B.Sc Biotechnology, Genetics and Chemistry di Osmania University, India (2014-2017) dan saat ini sedang menempuh pendidikan master pada program M.Eng Biomedical Engineering di Chongqing University, China. Penulis yang sangat menyukai buku ini, di samping menyibukkan diri dalam dunia perkuliahan juga aktif dalam berbagai bidang kegiatan terutama organisasi dan kerelawanan sosial. Tercatat, pada tahun 2015/2016 penulis diberikan amanah untuk menjadi SekJend PPI India dan pada puncaknya tahun 2016/2017 terpilih untuk mengemban tugas sebagai Sekretaris Umum PPI Dunia. Sementara, saat ini penulis terpilih sebagai Student Representative for ASEAN 2018-2019 pada International Students Union of Chongqing University, Dewan Pembina PPIT Chongqing serta atas inisiasinya membentuk sebuah komunitas muslim Indonesia di Chongqing atau IPMI Chongqing dan berperan aktif untuk mengembangkan program kerja komunitas tersebut.