Toastmasters: Wadah Belajar bahasa Mandarin

0
1104

Pada artikel ini, kolumnis IM Astrid Kohar menceritakan pengalaman rekannya Mario yang selama tiga belas tahun mengikuti sebuah organisasi bernama Toastmasters. Melalui Toastmasters ini, Mario ditempa untuk belajar bahasa Mandarin, bahkan juga membukakan pintu bagi Mario untuk mengikuti lomba-lomba di luar negeri. Yuk simak ceritanya!

Toasmasters adalah organisasi non-profit yang bergerak di bidang edukasi, komunikasi, dan kepemimpinan. Toastmasters memiliki keyakinan bahwa kepemimpinan tidak hanya lahir dari suatu pencapaian melainkan juga melalui kemampuan berkomunikasi dan menyampaikan ide serta visi misi. Toastmasters memberikan kesempatan bagi para anggotanya untuk secara rutin mempersiapkan dan menyampaikan pidato/presentasi, memperoleh kritik dan saran, serta membantu para anggota klub lain untuk bersama-sama menjadi pemimpin dan komunikator yang efektif.

Saya pertama kali bertemu dengan Mario ketika berpartisipasi dalam Toastmasters Mandarin di Jakarta beberapa bulan yang lalu. Saya masih ingat ketika saya mendengar Mario berpidato Mandarin, saya mengira bahwa Mario berasal dari Tiongkok dan bukan merupakan warga negara Indonesia. Kemampuan berbahasa Mandarin Mario sungguh luar biasa, Mario berbicara dalam bahasa Mandarin dengan begitu lancar dan bahkan dalam logat bahasa yang bisa dikatakan sama dengan logat bahasa orang-orang Tiongkok asli. Sungguh tidak terduga bahwa Mario justru lahir dan besar di Indonesia dan bahkan tidak pernah pergi ke Tiongkok atau ke Taiwan untuk belajar bahasa Mandarin!

Lalu, apa yang membuat Mario begitu fasih berbahasa Mandarin tanpa perlu pergi ke Tiongkok atau Taiwan untuk menempuh pendidikan bahasa?

Ternyata, salah satunya alasannya adalah karena Toastmasters.

Mario mengenal Toastmasters ketika ia tinggal di Medan. Kala itu Mario sudah mengenal Toastmasters bahasa Inggris namun merasa perlu juga meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa Mandarin. Maklum, kesempatan untuk menggunakan bahasa Mandarin di Medan memang tidak begitu banyak, karena meskipun mungkin banyak juga warga Medan yang sebenarnya bisa berbahasa Mandarin, namun mayoritas warga di Medan justru lebih memilih berbicara dalam bahasa Hakka (salah satu bahasa/dialek daerah di Tiongkok) dalam keseharian mereka. Mario berharap Toastmasters Mandarin dapat menjadi suatu wadah bagi Mario untuk mengembangkan kemampuannya berbahasa Mandarin.

Harapan Mario pun terwujud.

unnamed-7

Hanya dalam waktu 3 bulan Mario bergabung dengan Toastmasters Mandarin, Mario melihat banyak perkembangan pada kemampuan berbahasanya. Berkat partisipasinya secara rutin dalam menyampaikan presentasi/pidato mandarin di Toastmasters, kosakata dan kemampuan pronunciation Mandarin Mario pun bertambah. Mario juga melihat perkembangan kemampuan listening bahasa Mandarinnya, mengingat sehabis berpidato, Mario juga harus mendengarkan dan memberikan masukan (yang juga dalam bahasa Mandarin) atas pidato dan presentasi para anggota Toastmasters lain. Satu sampai 2 tahun berpartisipasi dalam Toastmasters Mandarin, Mario juga melihat dirinya lebih percaya diri dalam berbicara di depan banyak orang, bahkan sempat ditawari menjadi MC di berbagai pesta pernikahan berbahasa Mandarin dan pembawa acara radio di Medan. Menurut Mario, selain sebagai wadah untuk mengembangkan kemampuannya berbahasa Mandarin dan berkomunikasi, Toastmasters Mandarin juga melatih kepemimpinan Mario di mana Mario belajar berorganisasi dan belajar mempersiapkan event-event Toastmasters, dari pertemuan mingguan Toastmasters atau kompetisi Toastmasters internasional. Selain itu, Mario juga memperoleh banyak teman (dan bahkan bertemu dengan partner bisnisnya kini) dari Toastmasters.

Tidak terasa keikutsertaan Mario dalam Toastmasters Mandarin sudah mencapai tahun ke-13. Selama mengikuti Toastmasters Mandarin, Mario juga sempat dipercaya untuk mewakili Indonesia di kompetisi-kompetisi Toastmasters internasional. Di kompetisi-kompetisi tersebut, Mario bertemu dengan banyak kontestan yang memang tumbuh besar dengan menggunakan bahasa Mandarin dalam keseharian mereka. Tidak heran bahasa Mandarin mereka tentu sudah sangat baik. Namun, Mario sungguh bangga karena tidak hanya ia telah dipercaya untuk mewakili Indonesia namun Mario juga telah berhasil mengalahkan rasa takutnya sehingga ia mampu berpidato dengan bahasa Mandarin (yang bukan merupakan bahasa ibunya) dengan yakin dan penuh percaya diri di depan banyak orang.

Lalu, bagaimana cara mendaftar atau ikut serta dalam Toastmasters? Caranya sangat mudah, cukup masuk ke dalam website resmi Toastmasters, (www.toastmasters.org) untuk mengetahui klub-klub Toastmasters yang dekat dengan rumah/kantor teman-teman. Siapapun dapat hadir dan ikut serta dalam kegiatan Toastmasters. Akan tetapi, untuk pendaftaran resmi sebagai anggota klub Toastmasters, dipersyaratkan hanya bagi mereka yang telah berusia 18 tahun ke atas. Khusus untuk Toastmasters bahasa Mandarin di Jakarta, biaya pendaftaran adalah 300 ribu rupiah (biaya pendaftaran hanya perlu dibayar 1 kali saja pada waktu pendaftaran pertama kali). Setelah resmi menjadi anggota klub, para anggota juga disyaratkan membayar biaya pendaftaran sebesar 700 ribu Rupiah untuk 6 bulan (di mana jumlah ini disesuaikan dengan kurs Dolar Amerika Serikat). Untuk informasi lebih lanjut atau bagi teman-teman yang tertarik mencoba ikut serta dalam Toastmasters, khususnya Toastmasters bahasa Mandarin di Jakarta, teman-teman dapat mengakses akun Instagram Toastmasters tersebut di: jmtc9630.

unnamed-5

Singkat cerita, bukan suatu hal yang mustahil bahwa seseorang dapat fasih berbahasa Mandarin meskipun tidak pernah secara formal menempuh pendidikan bahasa di Tiongkok atau Taiwan. Mario sendiri adalah buktinya!

Foto disediakan oleh penulis.

SHARE
Previous articleThe Story of Dimas Muhamad, Former Interpreter for President Jokowi
Next articleKuliah di Luar Negeri Sambil Membesarkan Balita? Siapa Takut! (Part 2)
A law and business enthusiast, Astrid is currently pursuing her budding career as an attorney at one of Indonesia's oldest international corporate law firms. She holds a Bachelor's Degree from Universitas Gadjah Mada (Indonesia) and a Master's Degree from University of Cambridge (UK). Having spent a year in Beijing, Astrid is fluent in Mandarin. In her spare time, Astrid enjoys reading, shopping and daydreaming about more bags to collect.