Magang di ASEAN Center for Biodiversity, Filipina

0
280

Menjadi mahasiswa master di Jepang ternyata membuka pintu Rika Fajrini untuk magang di negara lain. Berikut cerita Rika menjalani program magang di ASEAN Center for Biodiversity, Filipina.

Sebagai lulusan jurusan hukum, jalan yang saya lalui mungkin cukup berbeda dengan teman-teman saya. Selepas lulus S1, saya bekerja di sebuah Non-Governmental Organisation (NGO) yang bergerak di bidang hukum lingkungan: Indonesia Center for Environmental Law (ICEL). Banyak terlibat dengan isu-isu lingkungan kemudian membawa saya pada keputusan untuk melanjutkan program S2 di bidang Manajemen Lingkungan – sebuah bidang yang sama sekali berbeda dengan latar belakang saya.

Saya berkuliah master disponsori oleh beasiswa Monbukagakusho G-to-G dari pemerintah Jepang. Saat itu, jurusan yang saya pilih bernaung di Graduate School of Global Environmental Studies (GSGES), Kyoto University. Program master dua tahun yang ditawarkan GSGES ini mewajibkan mahasiswanya untuk mengambil program magang selama minimal tiga bulan di lokasi yang dipilih oleh mahasiswa yang bersangkutan. Saya pun memutuskan untuk memilih lokasi magangyang berkaitan dengan fokus riset saya.

Di GSGES, saya adalah bagian dari Global Environmental Policy Laboratory dan fokus riset saya yaitu tentang kebijakan pemanfaatan dan pembagian sumber daya genetik serta pengetahuan tradisional terkait sumber daya tersebut. Pilihan lokasi magang saya jatuhkan pada ASEAN Center for Biodiversity (ACB), Los Banos, Filipina. Pertimbangannya yaitu karena ACB memiliki program terkait implementasi Nagoya Protocol on Access and Benefit Sharing on Utilization of Genetic Resource and Related Traditional Knowledge. Kegiatan-kegiatan ACB memiliki fokus di pengembangan kapasitas, kebijakan, dan kerjasama di negara-negara ASEAN. Saat itu saya berharap, dengan melakukan magang di institusi ini saya dapat menambah wawasan saya mengenai konteks implementasi Protokol Nagoya di negara-negara ASEAN yang sedikit banyak punya kemiripan dengan Indonesia.

ACB day eventSelama magang, kegiatan utama saya adalah melakukan riset terkait implementasi Protokol Nagoya melalui tiga riset. Riset pertama yaitu studi perbandingan kerangka regulasi dan kelembagaan implementasi Protokol Nagoya di berbagai negara, baik ASEAN dan non-ASEAN. Riset kedua yaitu mengenai kerangka regulasi dan kelembagaan implementasi Protokol Nagoya di Indonesia. Sementara, riset ketiga yaitu tentang kerjasama regional dalam implementasi Protokol Nagoya. Dari ketiga riset tersebut, riset ketiga menjadi policy brief yang dipublikasikan oleh ACB.

Selain melakukan riset, saya juga berkesempatan mengikuti berbagai kegiatan ACB lainnya, seperti membantu ACB mendubbing video pengenalan Protokol Nagoya ke dalam bahasa Indonesia, mengikuti kegiatan maraton ASEAN Run for Biodiversity, dan ekskursi dengan tamu-tamu ACB dari berbagai negara. Saya juga mengikuti kunjungan ACB ke Taman Nasional Gunung Kitanglad, salah satu Taman Nasional di Filipina dengan model pengelolaan kolaboratif dengan masyarakat. Selama kunjungan ini saya berkesampatan berdiskusi dengan masyarakat adat di Taman Nasional Gunung Kitanglad. Saya juga mengunjungi hutan wisata alam yang dikelola oleh Masyarakat Adat Aeta di Subic.

Hal menarik lain yang sangat membekas bagi saya adalah ketika saya bertemu dengan Antonio Opposa, pengacara dan aktivis lingkungan ternama dari Filipina. Kasus gugatan lingkungan yang mengatasnamakan generasi masa depan yang dilakukan Opposa adalah salah satu landmark cases dalam hukum lingkungan yang diakui dunia. Selama studi S1 saya, kasus beliau ini menjadi tugas dalam mata kuliah hukum lingkungan.

ASEAN BiorunSelain kegiatan magang, saya juga merasakan hidup tiga bulan di Filipina. Kehidupan sehari-hari di Filipina tidak terlalu berbeda dengan Indonesia, hanya saja di sini saya yang menjadi minoritas karena sebagian besar penduduk Filipina adalah penganut agama Kristen. Sama seperti Indonesia, penduduk Filipina pun bisa dibilang cukup religius. Saya mengamati, sebenarnya kebiasaan yang saya sebagai muslim lakukan tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh penganut agama Kristen di Filipina – misalnya berdoa sebelum berkegiatan, berdoa saat ada kesusahan, bersyukur saat berhasil melakukan sesuatu, dan lain-lain. Pikiran saya jadi terbuka bahwasanya meski kami berbeda agama, we are not that different at all. Walau saya minoritas, saya juga merasa diperlakukan dengan sangat baik selama di Filipina. Salah satu yang saya ingat dengan baik adalah ketika saya memiliki masalah visa ketika akan kembali ke Jepang. Teman-teman di ACB sangat membantu saya di tengah kekhawatiran saya yang tidak bisa kembali ke Jepang saat itu.

Workshop sesuatuSetelah selesai magang, saya kembali ke Jepang untuk menyelesaikan studi master saya pada akhir 2015. Hasil riset selama magang di ACB membantu saya untuk mengembangkan proposal tesis di tahun kedua master. Berkat magang di ACB juga, saya memiliki kesempatan untuk diundang menghadiri ASEAN Conference for Biodiversity di Thailand pada 2016. Konteks beberapa negara dan temuan yang saya pelajari selama magang di ACB pun hingga saat ini masih bermanfaat dalam penelitian saya di ICEL, terutama penelitian terkait ABS dan Sumber Daya Genetik yang masih belum berkembang di Indonesia. Salah satu pembelajaran yang saya dapat dari kunjungan dan diskusi dengan masyarakat adat di Taman Nasional Gunung Kitanglad juga saya masukkan dalam salah satu tulisan saya di Jurnal Hukum Lingkungan Indonesia yang dipublikasikan oleh ICEL. Dan yang tak kalah penting: jaringan yang saya dapat selama magang. Dengan mengenal orang-orang dari berbagai bidang keahlian, kini saya memiliki jaringan yang lebih luas yang sangat berguna dalam pekerjaan saya saat ini.