Tantangan Berkuliah di Luar Negeri

0
479

Kendati ada banyak hal yang bisa didapat, berkuliah di luar negeri tentunya memiliki tantangan serta kesulitan tersendiri. Simak curhatan kolumnis kita, Made Ayu Sayaka, dalam sehari-harinya berkuliah di Tokyo.

Banyak orang yang mengira bahwa kuliah di luar negeri itu menyenangkan. Saat teman-temanku tahu aku sedang kuliah di Tokyo, banyak di antara mereka merespon dengan, “Wah, Tokyo? Enak banget! Feeds Instagram lo bisa penuh dengan foto bagus dong!” dan beranggapan bahwa aku selalu jalan-jalan ke tempat hits, dan melihat sakura. Dan secara keseluruhan, menurut aku benar sih kuliah di luar negeri itu seru, apalagi di Tokyo, ibukota negeri Sakura, yang merupakan pusat teknologi dan juga tujuan populer wisatawan Indonesia. Tapi, namanya juga kuliah di negeri orang, tidak semua hal seindah yang dibayangkan khalayak. Tentunya, ada beberapa tantangan yang aku harus hadapi. Dan setelah dua tahun tinggal dan belajar di Tokyo, aku sudah banyak berjuang di sini. Di artikel ini aku akan curhat tentang beberapa tantangan yang aku alami selama berkuliah di Jepang.

Tantangan yang pertama yang menurut aku paling menyulitkan yaitu tinggal jauh dari keluarga. Pada awalnya, sejak pertama kali aku datang ke Tokyo, aku nggak pernah merasa homesick sama sekali. Aku tinggal di asrama kampus sejak hari pertama di Tokyo, dan dari hari itu kampusku banyak mengadakan event-event penyambutan murid baru di asrama, seperti welcome party, freshmen seminar, dan banyak lainnya. Dan aku juga ikut acara makan-makan penyambutan anak baru dari perkumpulan pelajar Indonesia di kampus aku, dan di sana aku banyak berkenalan dengan teman-teman orang Indonesia, yang membuatku nyaman. Ditambah lagi, sejak awal semester aku ikut masuk circle, yaitu semacam UKM, jadinya dari awal semester aku hampir setiap hari sibuk latihan circle. Nah, dari kombinasi semua kegiatan tersebut aku mendapat banyak teman, aku nggak merasa kesepian, dan jadi nggak kepikiran keluarga di Indonesia. Plus, ibuku ikut menemani aku di Jepang buat 3 minggu pertama dan juga nenekku tinggal di sini, jadi setiap kangen rumah aku bisa menginap di rumah nenekku. Jadinya aku sama sekali tidak pernah merasakan adanya gegar budaya ataupun kangen rumah. Tapi, aku tetap merasa rasanya jauh dari keluarga. Pertama kali aku merasa jauh dari keluarga itu saat ada acara besar yang aku nggak bisa ikut serta karena tinggal di sini. Wisuda kakakku, contohnya. Karena wisuda kakakku bulan Desember, dan pas saat-saat aku sibuk ujian–juga tiket pesawat mahal, sayang juga kan kalau hanya untuk sehari balik ke Indonesia, jadinya aku nggak datang. Setelah itu, aku juga ketinggalan pernikahan anggota keluarga aku. Setiap ada acara keluarga kumpul bareng, aku pasti nggak bisa datang. Dan ke depannya juga bakal banyak acara yang aku nggak bisa turut serta. Saat-saat itulah aku paling merasakan rasa pahit tinggal jauh dari keluarga. Tapi, ya, memang zaman sekarang mau kontak dengan keluarga dan temen-temen di Indonesia gampang banget, tinggal Skype call kapan saja. Jadi, aku sering Skype/Line video call sama keluarga. Melihat update-an Instagram story juga bisa tau kabar kehidupan keluarga dan teman di Indonesia.

 

Tantangan berikutnya yaitu, jujur, kadang-kadang aku merasa inferior dengan keuangan aku di sini. Biaya hidup di Bali dan di Tokyo nggak bisa dibandingin, karena bedanya jauh sekali. Aku di sini bisa habis 2.000 yen atau sekitar 250 ribu Rupiah per hari untuk biaya hidup. Kalo akhir minggu jalan-jalan bersama teman, seperti shopping, makan di restoran, bisa dengan gampang habis 10.000 yen atau sekitar 1 juta dalam sehari. Dan juga karena universitasku tergolong swasta, jadi kebanyakan teman-temanku–terutama teman-teman mahasiswa internasional–berasal dari keluarga kaya, jadi mereka tipe orang yang tidak pernah mengalami kesulitan dengan uang. Misalnya, setiap liburan kampus, kebanyakan temen kampus pasti rutin jalan-jalan ke luar negeri sama-sama. Waktu ke kampus mereka biasa memakai pakaian bermerek mahal, yang harganya sampai puluhan jutaan. Temanku di sini beli jaket khusus musim dingin yang harganya sekitar 15 juta.  Kadang-kadang aku kepikiran “Wah gila, itu mah bisa dipake beli motor di Indonesia!”. Tapi, itu tidak selalu gara-gara mereka boros, karena gaji di sini memang cukup tinggi. Untuk kerja paruh waktu (misalnya jadi waiter, cleaning staff), UMR-nya 130 ribu per jam di Tokyo. Jadi, bisa dibayangkan, kalau kerja 60 jam per bulan, misalnya shift 5 jam tiga kali seminggu, bisa dengan gampang dapet 7 juta per bulan, yang bisa dibilang lebih tinggi daripada gaji pekerja purnawaktu di Indonesia. Jadi memang, gaji sebanding dengan pengeluaran. Nilai tukar rupiah yang rendah juga menjadi penyebabnya. Misalnya, 2500 yen di sini itu terasa murah, tapi kalau dirupiahkan, sudah menjadi 300 ribu rupiah, dan terasa mahalnya. Lucu juga kalau mengingat dulu uang jajanku waktu SMA “hanya” 20 ribu per hari, dan sekarang bisa keluar satu juta per hari…  Jadi, aku usahakan untuk nggak mengkonversi yen ke rupiah. Yen ya yen, rupiah ya rupiah. Tapi, ada juga enaknya, yaitu waktu pulang ke Indonesia, semua jadi terasa lebih murah.

Yayoiken

Struggle berikutnya yang aku rasakan di sini yaitu stres hidup di Tokyo. Atmosfir di Bali, tempat asalku, beda banget dengan Tokyo. Di Bali itu atmosfirnya chill, orang-orangnya lebih santai. Setiap akhir pekan, kami orang Bali kerjaannya berenang ke pantai. Tapi di sini, orang-orangnya serius dan patuh, terutama saat kerja. Dateng ke tempat kerja harus tepat waktu. Di tempat kerjaanku, telat datang satu menit saja akan dimarahi. Pernah sekali, aku datang 5 menit lebih awal sebelum shift mulai juga dimarahi. Katanya, kita harus dateng paling telat 10 menit lebih awal. Kadang-kadang aku mikir sendiri, “Ih, alay banget sih, santai aja kenapa.” Atmosfir di sini lebih bikin stres, soalnya orang-orang pada sibuk. Misalnya, pergi ke kantor/sekolah. Kalau di Bali bisa enak naik mobil sambil setel lagu, tapi kalau di sini harus naik kereta (karena mobil terlalu mahal), dan waktu rush hour, di kereta pasti berdesakan. Ini juga pasti bikin nambah stres. Dan, karena aku di sini juggle banyak hal–kuliah, kerja, organisasi, RA, aku jadi tak punya banyak waktu luang. Di Indonesia mahasiswa jarang yang kerja paruh waktu, tapi di sini hampir semua begitu, jadi kerja lumayan memakan waktu. Intinya, sejak datang ke Tokyo, aku selalu ngerasa sibuk, stres, dan jarang dapet waktu sendiri. Dalam sehari, pagi/siang kampus, sore kerja, malem sering ada rapat di asrama, jadi pulang ke kamar kira-kira jam 11 malem. Jadi kangen tidur siang di Bali. Dan kalau lagi musim ujian, sering kali begadang sama temen-temen di asrama, nggak tidur.

japan161024

Ada juga struggle yang lain, seperti susahnya ngomong bahasa Jepang. Meskipun aku lumayan bisa, tapi aku nggak fasih bahasanya, jadi tetep aja nggak enak rasanya ngobrol kalau nggak fasih bicara. Saat bicara sama orang Jepang, masih salah-salah, jadi aku sering malu sendiri. Kadang- kadang kangen bicara ceplas ceplos sama orang Indonesia dan mendengar humor orang Indonesia yang sangat khas. Terakhir, kalau sakit juga repot. Kalau di Bali, sakit pasti dirawat keluarga. Kalaupun tinggal sendiri, kalau sakit nggak usah susah-susah keluar beli makanan, tinggal pakai Gojek. Males nyetir? Gojek. Males beli makanan? Gojek. Di sini, nggak ada yang namanya Gojek. Waktu aku sakit, harus jalan keluar asrama buat cari makan. Pernah sekali aku harus jalan dengan sedikit terpeleset di atas es buat ke klinik waktu sakit. Gojek mana gojek….

Pada akhirnya, pasti kehidupan di Indonesia lebih enak. Nggak butuh repot-repot belajar bahasa Jepang, biaya hidup lebih murah. Tapi di sini aku belajar banyak sekali hal-hal yang nggak bisa aku dapatkan di Indonesia, seperti pemahaman budaya satu sama lain, belajar mandiri, dll. Kapan lagi aku bisa belajar hidup mandiri? Dan, punya teman dari luar negeri juga seru banget. Banyak hal yang aku bisa lakukan di sini yang belum tentu aku bisa di Indonesia. 

Photo credit goes to author.