Kartika Jala Kridha 2013: Taruna Akademi Angkatan Laut Berlayar ke Australia

0
498
KRI Dewaruci (©NetZ)

Yuk, mari kita mengenal lebih dekat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Sejalan dengan gelora TNI AL sebagai “World Class Navy”, ternyata sejak menjalani pendidikan di Akademi Angkatan Laut (AAL) para calon perwira sudah dibekali dan dipersiapkan untuk “mengglobal” loh. Dary, seorang perwira berpangkat Letnan Satu di jajaran TNI AL, menceritakan pengalamannya berlayar ke Australia pada tahun 2013 dengan KRI Dewaruci ketika ia masih menjadi taruna AAL.

* * *

Bangsa Indonesia akan segera menyambut Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia (HUT TNI) ke-73 pada tanggal 5 Oktober 2018 mendatang. “Bersama Rakyat TNI Kuat” sudah cukup sering terdengar di telinga kita. TNI AL sebagai salah satu matra TNI, memiliki peran esensial dalam menjaga kedaulatan Indonesia pada setiap batas-batas laut yang kita punya. Ada begitu banyak ancaman keamanan yang datang dari luar teritorial Indonesia seperti penangkapan ikan ilegal di wilayah perairan Indonesia, bajak laut dan bentuk ancaman lainnya, perdagangan obat-obatan terlarang, hingga eksploitasi manusia atau perdagangan orang. Oleh sebab itu, dalam menjalankan fungsinya TNI AL diharapkan bisa melindungi kedaulatan Indonesia sembari menjalankan tugas-tugas diplomasi luar negeri.

Nah, sebagaimana diketahui bahwa TNI AL masuk dalam tataran World Class Navy yang berarti kapabilitas TNI AL diakui secara internasional. Maka proses pendidikan, kaderisasi dan penataran taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) selama 4 tahun benar-benar dijalankan dengan serius dan profesional guna melahirkan perwira TNI AL yang tangguh. Salah satu program yang wajib diikuti taruna AAL adalah Kartika Jala Kridha (KJK) yaitu berlayar ke negara asing untuk menjalankan misi diplomasi dan memperkenalkan Indonesia di dunia internasional.

Mari berkenalan dengan Sang Legendaris, KRI Dewaruci!

Penulis bersama calon istri saat mengunjungi KRI Dewaruci Agustus 2018 (©smalikah)
Penulis bersama calon istri saat mengunjungi KRI Dewaruci Agustus 2018 (©smalikah)

Selama bertahun-tahun lamanya, taruna AAL menuntaskan KJK dengan ‘kapal ibu’, yaitu KRI Dewaruci. Bercerita tentang KJK, atau bahkan AAL, tentunya tak lengkap tanpa mengulas tentang kapal perang legendaris ini. Dengannya lah berkali-kali lautan dan samudera diarungi. Dengannya pula berbagai benua disinggahi. KRI Dewaruci adalah KRI jenis kapal latih Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL). Kapal ini dibuat oleh Jerman, H. C. Stülcken & Sohn Hamburg, pada tahun 1952 dan diluncurkan secara resmi pada tahun 1953, dengan panjang kapal 58,3 meter dan lebar 9,50 meter. Kapal kelas barquentine ini telah keliling dunia sebanyak 2 kali, yaitu pada tahun 1964 dan 2012.

Maka tak heran, jika dimungkinkan, saya akan selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi KRI Dewaruci dalam berbagai kesempatan. Baru-baru ini, pada bulan Agustus 2018, saya berkesempatan mengajak calon istri saya untuk naik ke KRI Dewaruci yang kebetulan sedang bersandar di Tanjung Priuk dalam perjalanannya dari Surabaya menuju Palembang. Rasa bangga dan haru. Itu yang selalu saya rasakan setiap kali melihat wujud KRI Dewaruci.

Kartika Jala Kridha 2013: Tetap positif dan semangat di berbagai keadaan

Taruna Akademi Angkatan Laut yang mengikuti Kartika Jala Kridha 2013 ke Australia (©AAL60)
Taruna Akademi Angkatan Laut berfoto bersama Royal Australian Navy saat melaksanakan Kartika Jala Kridha 2013 ke Australia (©AAL60)

Sebelum Kartika Jala Kridha (KJK) 2013 dimulai, proses persiapan telah dilakukan sejak jauh hari, baik penyusunan kegiatan, persiapan logistik, permesinan, termasuk persiapan mental saya dan teman-teman taruna AAL lainnya. Kami, para taruna, sudah menantikan datangnya hari ini sejak jauh hari. Bagaimana tidak, imajinasi berlayar dengan KRI Dewaruci di perairan asing bersama dengan teman-teman seperjuangan sungguh membangkitkan semangat. Masih teringat jelas tawa dan peluh yang kami rasakan selama pelayaran tersebut. Kami sering ditanya, “TNI AL pernah mabuk laut tidak?” Ya tentu saja! Tetapi kita meminimalisasi kemungkinan mabuk laut dengan memastikan perut senantiasa terisi penuh. Kami memiliki tim masak khusus yang memastikan seluruh personil di kapal makan teratur. Kami juga membekali diri dengan mie instan kalau sesekali rindu makanan praktis khas Indonesia di tengah dinginnya hembusan angin laut Australia.

Foto saat salah satu tiang utama KRI Dewaruci patah (©Clyde Dickens)
Foto saat salah satu tiang utama KRI Dewaruci patah dalam pelayaran Kartika Jala Kridha 2013 (©Clyde Dickens)

Pelayaran KRI Dewaruci dalam rangka KJK 2013 ini awalnya direncanakan akan berlangsung selama kurang lebih 60 hari, yaitu dari 13 Agustus sampai dengan 10 Oktober 2013. Rute yang seharusnya ditempuh adalah Surabaya, Kupang, Darwin, Perth, Melbourne, Hobart, Sydney, Auckland (Selandia Baru), Brisbane, Cairns, Darwin, dan kembali ke Surabaya. Tetapi kami tidak bisa menyelesaikan seluruh rute perjalanan yang telah direncanakan tersebut dikarenakan salah satu tiang utama KRI Dewaruci patah di Samudera Hindia, tepatnya di sekitar perairan Geraldton, Australia Barat. Masih segar di ingatan saya betapa buruknya cuaca saat itu, kami dihantam ombak setinggi 3-5 meter secara terus menerus sehingga kapal terpaksa berjalan sangat lambat, hanya sekitar 2-4 knot saja.

Prosesi pertukaran cinderamata antara TNI AL dan Royal Australian Navy (©AAL60)
Proses bertukar cinderamata antara TNI AL dan Royal Australian Navy (©AAL60)

Air laut juga sudah membasahi geladak kapal. Meskipun suasana cukup mencekam, tetapi kami yakin akan baik-baik saja karena kami tidak ragu dengan performa kapal KRI Dewaruci yang memang sudah melegenda. Dengan kondisi satu tiang utama yang patah, KRI Dewaruci berhasil bersandar di pelabuhan Geraldton untuk menurunkan beberapa besi dan tali baja yang bisa berbahaya jika tetap ada di atas kapal selama pelayaran. Namun, fasilitas pelabuhan Geraldton sangat terbatas untuk melaksanakan seluruh perbaikan yag dibutuhkan KRI Dewaruci, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan pelayaran menuju Perth dimana perbaikan kapal bisa dilakukan lebih maksimal. Peristiwa ini mengharuskan kami untuk bersandar selama dua minggu di Perth, di luar rencana awal, sehingga rute pelayaran berikutnya pun harus disesuaikan.

Sensasi “Mandi Khatulistiwa” di KRI Dewaruci

Para Taruna AAL menaiki tiang-tiang KRI Dewaruci (©KOMPAS)
Para Taruna AAL menaiki tiang-tiang KRI Dewaruci (©KOMPAS)

Mandi Khatulistiwa adalah ritual yang dilakukan ketika melewati titik koordinat 0 derajat. Mereka yang belum pernah menjalani tradisi ini disebut “pelaut-pelaut muda yang kotor” yang akan dibersihkan atau “dibaptis” dengan melaksanakan Mandi Khatulistiwa. Ritual ini diawali dengan merayap 3 kali keliling lorong-lorong hingga naik ke geladak dengan tujuan agar pelaut-pelaut tersebut kenal dan hafal seluruh bagian kapal. Setelah itu, kami diminta untuk menaiki tiang utama kapal dimana kemudian kami dilumuri oli dan stempet. Dua orang anak buah kapal (ABK) akan ditunjuk untuk berperan sebagai Dewa Neptunus, penguasa dasar lautan, dan Dewi Emprit, seorang putri cantik. Dengan seizin Komandan KRI Dewaruci, Dewa Neptunus didampingi Dewi Emprit memandikan kami dengan air laut hingga bersih dari oli dan stempet. Esensi dari ritual ini adalah agar pelaut-pelaut kotor tersebut menjadi “bersih”, tidak kangen daratan, dan menjadi pelaut-pelaut sejati.

Ritual "Mandi Khatulistiwa" di atas KRI Dewaruci (©NetZ)
Ritual “Mandi Khatulistiwa” di atas KRI Dewaruci (©NetZ)

Ritual ini bisa dilakukan di atas KRI apapun, tetapi jika kita berlayar dengan KRI Dewaruci, meskipun kita sudah pernah melaksanakan ritual Mandi Khatulistiwa di KRI lainnya, kita harus mengulang ritual ini di atas KRI Dewaruci. Jika kita sudah pernah menjalani ritual ini di KRI Dewaruci maka kita tidak perlu melakukan ritual tersebut di KRI manapun. Inilah keistimewaan KRI Dewaruci sebagai kapal yang “dituakan” dan dianggap paling senior dalam tradisi Mandi Khatulistiwa. Kita bahkan mendapatkan sertifikat khusus loh jika sudah melaksanakan ritual ini di KRI Dewaruci. Wah, teringat tubuh saya menggigil ketika ritual ini berlangsung di perairan Perth yang sedang musim dingin. Ini adalah kenangan berkesan yang akan saya ceritakan ke anak cucu kelak.

Membangun jaringan & jalin silaturahmi dengan ragam aktivitas positif

Pawai kirab Genderang Suling Gita Jala Taruna (©AAL60)
Pawai kirab Genderang Suling Gita Jala Taruna (©AAL60)

Kami melaksanakan berbagai kegiatan ketika bersandar di Perth. Dimulai dengan gemuruh yel-yel yang kami tampilkan dengan gembira dan bersemangat di berbagai kesempatan. Kami juga mengikuti pertandingan olahraga persahabatan dengan pelajar di sekolah dan universitas setempat. Untuk mengakomodasi antusiasme Warga Negara Indonesia yang berdomisili di Perth baik bekerja maupun bersekolah untuk menaiki KRI Dewaruci, kami pun melaksanakan Open Ship dan jamuan makan malam khas Indonesia, mulai dari sate, gulai kambing, ikan bakar, rendang yang diiringi dengan musik dan tarian tradisional. Tentunya kesempatan ini juga kami pergunakan untuk menampilkan kebolehan Genderang Suling Gita Jala Taruna, tidak hanya di kapal tetapi juga dengan melaksanakan pawai kirab di jalanan kota Perth.

Penulis berfoto di depan KRI Dewaruci sebelum memulai pelayaran ke Australia (©ddbaskoro)
Penulis berfoto di depan KRI Dewaruci sebelum memulai pelayaran ke Australia (©ddbaskoro)

Dalam penulisan artikel ini, berkali-kali saya tersenyum manis mengingat pelayaran yang kami lakukan sekaligus menjadi waktu yang tepat untuk saya berkontemplasi atas perjalanan karir saya sebagai abdi negara. Tentara zaman now tidak boleh cepat puas, tetapi harus terus meningkatkan kualitas diri, berlatih bahasa asing, dan menguasai isu-isu internasional. Saya pun terus mengingatkan diri saya sendiri. Bagi teman-teman sekalian yang berminat menjadi bagian dari keluarga besar TNI AL, maupun TNI secara umum, harus memahami bahwa menjadi abdi negara bukan merupakan perjalanan singkat, tetapi merupakan konsekuensi seumur hidup yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab dan didasari oleh semangat pengabdian.

Selamat HUT TNI ke-73.

* * *

Sumber foto:  Daryrahman D. Baskoro, Akademi Angkatan Laut Angkatan Ke-60, KOMPAS, NetZ, dan Clyde Dickens

Catatan Khusus Editor: “Saya ucapkan selamat kepada Daryrahman D. Baskoro atas ragam pencapaiannya belakangan ini berupa bertambahnya usia, terlaksananya wisuda S2 dan, yang paling utama, kenaikan pangkat menjadi Letnan Satu per 1 Oktober 2018.Siti Octrina Malikah, Content Director Indonesia Mengglobal untuk wilayah Australia dan Selandia Baru.