You’re Never Too Old For A PhD: 9 Tips & Strategies To Land A Doctorate Scholarship (Part 2)

0
836
Ilustrasi studi doktorat. Foto dari Timeshighereducation.com

Berapa umur yang tepat untuk mengambil studi lanjutan? 20an akhir? 30an? Kontributor kami, Muhammad Masyhuri, membuktikan bahwa dalam pendidikan, angka hanyalah umur; bahwa tak ada kata terlambat untuk kembali ke sekolah. Ini adalah bagian kedua dari seri ini. Baca bagian pertama di sini.

Number Five – Make an astonishing, impressive, unique and powerful motivation letter or personal statement

A strong and unique motivation letter can boost your profile even if your academic grade isn’t great

Indeks Prestasi Kumulatif  (IPK) S1 saya nyaris tiga koma dan IPK S2 saya juga tiga koma alhamdulillah. Tapi, IPK yang pas-pas an ini tidak membuat saya gagal mendapatkan beasiswa meskipun persyaratan IPK yang relatif tinggi merupakan salah satu nilai keunggulan bagi pelamar beasiswa. Untuk beasiswa PhD, IPK yang tinggi bukanlah hal yang mutlak karena IPK ini hanya salah satu dari sekian banyak persyaratan yang akan dilihat oleh penguji.

Bagi pelamar PhD, motivation letteratau personal statementmerupakan salah satu persyaratan penting dan mutlak yang wajib dibuat dan dirancang dengan seksama — sesuatu yang tidak bisa dilakukan dan dikarang dalam satu malam saja.

Tips dan strategi yang perlu menjadi perhatian adalah motivation letteryang kita buat harus unik, “gue banget”, dan bisa membuat pembacanya terkesan. Surat ini juga harus memuat tujuan jangka panjangmu yang sebaiknya bisa memberikan kontribusi positif buat bangsa dan negara serta dapat memberikan manfaat bagi negara/institusi pemberi beasiswa.

Yang paling penting, jangan sekali-sekali copy pastekarya orang lain.  Ini haram hukumnya!

Number Six – Provide some journal publications and conference papers

Some suitable journal academic publications can counterweight your lack off research experience

Saya menyelesaikan Master of Business Administration di Australia dalam bentuk fully course work, alias tidak ada penulisan tesis sama sekali sebagai persyaratan kelulusan S2.   Sementara, beberapa universitas di luar negeri mensyaratkan tesis S2 atau mempunyai pengalaman riset sebelumnya merupakan persyaratan mutlak untuk diterima sebagai mahasiswa PhD.

Untuk mengimbangi permasalahan ini, strategi yang saya lakukan adalah dengan melampirkan beberapa publikasi jurnal internasional atau prosiding konferensi internasional yang saya ikuti di Malaysia dan Thailand yang sejalur dengan tema besar research proposalsaya.  Sebaiknya minimal 2-4 publikasi yang dilampirkan pada lembar aplikasi. Tipsnya adalah ikutilah jurnal atau konferensi internasional yang berindeks Scopus atau Thomson Reuters yang diselenggarakan baik di Indonesia atau di negara-negara ASEAN lainnya yang tidak begitu menghabiskan banyak biaya.

Selain itu, jika memungkinkan, aktiflah dalam kegiatan riset yang bentuknya kerjasama ataupun kolaborasi dengan institusi asing merupakan suatu nilai tambah, apalagi kalau dalam kolaborasi tersebut mempunyai output berupa publikasi ilmiah yang diterbitkan oleh lembaga asing atau terekam di laman mereka.

University of Debrecen, salah satu universitas unggulan di Hungaria. Foto dari Wikipedia.
University of Debrecen, salah satu universitas unggulan di Hungaria. Foto dari Wikipedia.

Number Seven – Make a current and doable research proposal and find-out a suitable supervisor or professor

A suitable research proposal can win the scholarship

Proposal riset merupakan hal yang mutlak dan penting bagi setiap pelamar beasiswa program PhD.  Buatlah proposal riset yang sesuai dengan fokus dan sektor keahlian masing-masing universitas dan sesuai juga dengan ketertarikan rencana penelitianmu. Kemudian, carilah calon professordan supervisoryang kira-kira mempunyai minat dengan rencana penelitianmu dengan cara melihat resume mereka atau publikasi ilmiah berupa jurnal, prosiding atau buku yang mereka buat.  Selain itu proposalmu juga harus sesuai dengan kriteria pemberi beasiswa. Perhatikanlah dengan cermat setiap persyaratan tema penelitian yang diminta oleh pemberi beasiswa dan masing-masing universitas. Jangan lupa juga kalau rencana penelitianmu harus dapat diselesaikan dan dilakukan dalam rentang waktu pembiayaan beasiswa yang biasanya lamanya rata-rata 3 sampai 4 tahun.

Number Eight – Prepare the best and suitable reference letters

Umumnya rata-rata pemberi beasiswa PhD mensyaratkan minimal dua surat rekomendasi dari mantan pembimbing akademik atau atasan tempat kita bekerja. Bahkan beberapa scholarships providers, misalnya Endeavors Australian Award, Fulbright USA dan Stipendium Hungaricum mensyaratkan tiga surat rekomendasi dimana salah  satunya berasal dari calon supervisor/professordi universitas yang akan kita tuju.

Setiap rekomendasi harus unik dan dirancang peruntukannya untuk satu lamaran beasiswa saja.  Sekiranya kita mau melamar beberapa beasiswa, maka kita sebaiknya tidak menggunakan rekomendasi dengan format dan isian yang sama.  Artinya, relasi dan komunikasimu dengan pemberi rekomendasi harus cukup erat dan intens, sehingga memudahkan mereka memberikan penilaian yang objektif sekaligus supportif dalam rekomendasi mereka.

Stipendium Hungaricum - beasiswa studi di Hungaria. Informasi selanjutnya bisa dilihat di http://studyinhungary.hu/study-in-hungary/menu/stipendium-hungaricum-scholarship-programme
Stipendium Hungaricum – beasiswa studi di Hungaria. Informasi selanjutnya bisa dilihat di http://studyinhungary.hu/study-in-hungary/menu/stipendium-hungaricum-scholarship-programme

Tips yang bisa saya berikan adalah untuk tetap menjaga komunikasi yang cukup baik dengan mantan dosen pembimbing baik sewaktu di Strata 1 atau 2, maupun dengan atasan di tempat bekerja.

Untuk mendapatkan surat rekomendasi dari calon supervisor/professordari universitas yang akan dilamar, cobalah membaca curriculum vitae mereka dan membaca salah satu artikel jurnal ilmiah yang pernah mereka buat, untuk kita jadikan bahan diskusi selama berkomunikasi via emailatau Skype.  Kamu harus juga menunjukkan ketertarikan kita atas riset yang telah mereka lakukan yang sesuai dengan rencana penelitian kita juga.

Number Nine – Pray

Pray is the most powerful form of energy that one can generate (Alexis Carrel, 1941)

Man Proposes, but God Disposes

Setelah berusaha mempersiapkan semua persyaratan dengan baik dan benar untuk mendapatkan beasiswa, maka yang bisa kamu lakukan adalah dengan memperbanyak memanjatkan doa kepada Sang Khalik, karena hanya Tuhanlah yang tahu apa yang terbaik bagi hambanya.

Kalau kamu yang masih memiliki orangtua terutama ibu, mintalah ibunda untuk mendoakan di setiap sujudnya apa yang kita cita-citakan.  Juga mintalah perkenan doa dari guru, dosen, murid/mahasiswa dan orang-orang miskin dan papa di sekitar kita, karena kita tidak tahu dan harus bersangka baik, bahwa mungkin diantara doa mereka, ada yang diperkenankan doanya oleh sang Pengabul Doa.

Sekian tips dan strategi yang bisa saya bagikan saat ini. Seperti yang selalu disampaikan oleh Ahmad Fuadi (novelis Negeri 5 Menara), “Beasiswa adalah bukan untuk orang yang cerdas dan pandai saja, tetapi ditujukan kepada siapa saja yang mau berusaha lebih”

Sebagai penutup, janganlah berputus asa, keep moving forward, because even in the worse-case conditions there is a way out.  Every cloud has a silver lining – tak selamanya mendung itu kelabu.

SHARE
Previous articleKuliah S2: Perpanjangan S1?
Next articleStudying abroad in Japan: Expectation and Reality
Muhammad Masyhuri
Muhammad Masyhuri graduated from Social Economic Agriculture Faculty at Bogor Agricultural University, Indonesia (1992) and obtained the Master of Business Administration degree from the University of Queensland, Australia (2007). Masyhuri’s profesional experience includes being a Corporate Governance Officer for more than 12 years in major private and public listed companies in Indonesia. In 2010-2013, he was actively involved as an independent researcher at Food and Agricultural Organization of United Nations (FAO-UN) in Indonesia. He currently works as a fulltime faculty member and an international visiting lecturer at a private university in Jakarta.