You’re Never Too Old For A PhD: 9 Tips & Strategies To Land A Doctorate Scholarship (Part 1)

0
3379
Ilustrasi studi doktorat. Foto dari Timeshighereducation.com

Berapa umur yang tepat untuk mengambil studi lanjutan? 20an akhir? 30an? Kontributor kami, Muhammad Masyhuri, membuktikan bahwa dalam pendidikan, angka hanyalah umur; bahwa tak ada kata terlambat untuk kembali ke sekolah.

“Some says that life begins at 40, but I believe – personally, in my case – life begins at 50….”

Itulah kalimat pembuka personal statement/motivation letter saya ke Tempus Public Foundation (TPF) untuk mendaftar untuk Stipendium Hungaricum (SH) Scholarships for PhD degree. And at last, I made itsetelah mencoba selama lima tahun  dan melamar ke lebih dari 20 universitas di 3 benua – Australia, Asia and Eropa —, menghabiskan 3x kadaluarsa masa IELTS Test Result Form (2013-2015-2018), plus mengeluarkan biaya cukup lumayan  untuk biaya pendaftaran ke beberapa universitas, biaya publikasi jurnal dan ikut konferensi internasional, biaya tes IELTS, biaya ikutan tes GRE serta biaya-biaya lainnya.

Mungkin bagi sebagian besar orang berpendapat bahwa untuk mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri dengan usia “LoliTa” alias “lolos lima puluh tahun” adalah sesuatu yang tidak mungkin.

Bahkan untuk dapat beasiswa ke luar negeri di usia “Diapeta” (di atas empat puluh tahun) saja sudah sulit sekali, karena ada beberapa scholarship providersyang mensyaratkan usia penerima beasiswa maksimum 40 tahun bahkan ada yang 35 tahun saja, belum lagi ditambah dengan bejibun persyaratan lainnya.  But well, nothing is impossible on earth if God wills, but of course, we have to and should take extraordinary measures.

Tulisan berikut ini merupakan tips, motivasi dan strategi yang merupakan pengalaman pribadi saya sendiri yang sudah menapaki usia veteran untuk bisa mendapatkan beasiswa program PhD ke luar negeri, tepatnya ke Hungaria. Tulisan ini juga sekaligus sebagai motivasi bagi siapa saja yang ingin mendapatkan beasiswa sekolah ke manca negara, khususnya bagi rekan-rekan dosen di nusantara yang mau dan ingin melanjutkan studi S3 nya tapi terkendala oleh biaya mahal.

Here we go, the 9 Tips, motivations and strategies for you!

Stipendium Hungaricum - beasiswa studi di Hungaria. Informasi selanjutnya bisa dilihat di http://studyinhungary.hu/study-in-hungary/menu/stipendium-hungaricum-scholarship-programme
Stipendium Hungaricum – beasiswa studi di Hungaria. Informasi selanjutnya bisa dilihat di http://studyinhungary.hu/study-in-hungary/menu/stipendium-hungaricum-scholarship-programme

Number One – Find your reasons

“You have to believe that you are special, thus everyone is a special person” – Kung Fu Panda

Jadilah orang yang spesial dan selalu ingin menjadikan dan mengembangkan diri  menjadi manusia yang bermanfaat dengan tidak hanya memikirkan diri sendiri tapi juga untuk kemaslahatan dan kebermanfaatan umat, bangsa dan negara di masa depan.

Ketika saya diinterview oleh professor dan scholarships examinersapa alasan utama saya melamar beasiswa PhD ini, saya menjawab bahwa saya ingin menjalani aktivitas hidup yang lebih berarti (a meaningful life) dan ingin berkontribusi positif buat bangsa ini melalui program PhD ini, karena persentase dosen dengan gelar PhD di Indonesia baru sekitar 14% (sumber data forlap ristekdikti terakhir), dan saya yakin melalui pencapaian program PhD ini, saya dapat turut serta meningkatkan tingkat kompetensi institusi pendidikan tinggi Indonesia, and at the end of the day, I can improve our country higher education students’ skills and capacity in the future.

Number Two – Maintain your determination, persistence, and motivation

It’s not whether you get knocked down, it’s whether you get up. 

Once you learn to quit, it becomes a habit.

Man jadda wa jadda. 

Itulah beberapa “wisdom words” yang menjadi motivasi saya  untuk tidak pernah patah semangat sebagai pemburu beasiswa PhD ke luar negeri.  Saya melamar program PhD ke lebih dari 20 universitas dan lebih 5 beasiswa PhD. Dari 20-an universitas yang pernah saya lamar, 18 universitas menolak aplikasi saya dengan beragam alasan, mulai dari tidak memenuhi persyaratan akademik, tidak ada professor/supervisor yang memadai, sampai ada yang tidak memberikan alasan sama sekali.  Hanya ada dua universitas yang memberikan unconditional Letter of Acceptance (LOA), satu dari UK, Inggris dan satunya dari Hungaria.  Tapi dengan berat hati terpaksa saya menolak LOA yang dari UK dengan alasan beasiswanya yang hanya ditanggung sebagian.

Saya juga telah ngikutin tes IELTS sampai 3x dalam waktu 5 tahun, bukan berarti saya nggak mendapatkan skor yang diinginkan, tapi karena masa valid nilai IELTS saya sudah kadaluarsa untuk applybeasiswa lagi karena IELTS hanya berlaku untuk dua tahun saja.

Alhamdulillah, thank God, these long effort was finally paid-off.

Number Three – Find out which scholarships providers that have no age-limitation criteria and flexible entry requirements

Mulailah browsing scholarships providers via search engine dengan kriteria tanpa batasan usia dan tidak begitu ketat persyaratannya.  Ada banyak, kok,pemberi beasiswa yang tidak mensyaratkan batasan usia atau maksimal sampai usia 50 tahun, antara lain Endeavour Award Australia, Fulbright Scholarship USA, Hong Kong Fellowship PhD Program, Netherland Fellowship Program, dan Stipendium Hungaricum (SH).

Dari pengalaman saya, beasiswa SH relatif lebih mudah kriterianya dan relatif baru (baru 2016 ditawarkan ke Indonesia) sehingga persaingannya masih belum begitu ketat.

University of Debrecen, salah satu universitas unggulan di Hungaria. Foto dari Wikipedia.
University of Debrecen, salah satu universitas unggulan di Hungaria. Foto dari Wikipedia.

Number Four – Prepare and improve your language skills and other competencies

Bahasa Inggris merupakan prasyarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap pelamar beasiswa ke luar negeri.  Jadi mulailah dari sekarang berusaha untuk mendapatkan nilai IELTS atau TOEFL yang memadai.  Saran saya untuk mau kuliah ke negara selain USA, fokuslah dengan ikut persiapan IELTS dan pasang target overall score6,5 karena skor tersebut merupakan nilai rata-rata untuk apply beasiswa dan masuk kuliah di luar negeri.  Informasi tentang IELTS ini bisa didapatkan secara gratis di IDP, British Council atau dengan mengikuti pameran pendidikan internasional dari beberapa lembaga yang biasanya banyak diselenggarakan setiap akhir pekan.

Tips untuk nilai IELTS, bagi kandidat PhD fokuslah di bagian writingdan speaking dengan skor minimal 6 atau 6.5 yang sangat diperlukan dalam menyelesaikan perkuliahan nanti. Kalau sekiranya bahasa Inggrismu kurang oke, maka strateginya adalah dengan melamar universitas yang berada di luar negara berbahasa Inggris, seperti Belanda, Jerman, Spanyol, Italia, Perancis, dan negara-negara  Eropa tengah.

Kalau mau melanjutkan PhD di Amerika Serikat, maka selain nilai IELTS/TOEFL, universitas di USA juga menyaratkan skor General Record Examination (GRE) dan General Management Aptitude Test (GMAT). Persiapan untuk tes GRE/GMAT cukup menyita waktu dan biaya juga.  Selain itu di Indonesia tak banyak institusi yang bisa menyelenggarakan tes ini, sehingga mungkin kamu harus ke Jakarta.

 

Sekian dulu tips dan motivasi dari Muhammad Masyhuri. Artikel ini akan dilanjutkan dengan bagian kedua pekan depan. Sampai nanti!

SHARE
Previous articleCatatan Mahasiswa di Negeri Sakura: Perbandingan Aneka Moda Transportasi di Jepang dan Indonesia
Next articleThe Danger of Arrogance that Lies in Studying Abroad
Muhammad Masyhuri
Muhammad Masyhuri graduated from Social Economic Agriculture Faculty at Bogor Agricultural University, Indonesia (1992) and obtained the Master of Business Administration degree from the University of Queensland, Australia (2007). Masyhuri’s profesional experience includes being a Corporate Governance Officer for more than 12 years in major private and public listed companies in Indonesia. In 2010-2013, he was actively involved as an independent researcher at Food and Agricultural Organization of United Nations (FAO-UN) in Indonesia. He currently works as a fulltime faculty member and an international visiting lecturer at a private university in Jakarta.