Kisah Inspirasional Suharto: Belajar Bahasa Mandarin di Negeri Tiongkok

0
810

Sebelum kuliah S2 di Tiongkok, Suharto menempuh pendidikan bahasa selama enam bulan. Kolumnis IM, Astrid Kohar, mewawancarai Suharto untuk berbagi pengalamannya mempersiapkan dan menjalani study abroad demi mencapai cita-citanya menguasai bahasa Mandarin.

Apapun tantangannya, selama ada niat, di situ pasti ada jalan. Ini merupakan pelajaran hidup yang Penulis peroleh dari kisah Suharto, pemuda Indonesia nan inspiratif yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 Linguistics and Applied Linguistics di Beijing Language and Culture University (BLCU) dengan beasiswa dari Pemerintah Negeri Tiongkok. Ketika Penulis sedang menempuh pendidikan bahasa Mandarin di Beijing, Penulis berkenalan dengan Suharto, seorang pelajar bahasa di Beijing yang begitu tekun dan tidak pernah sedikitpun menyerah dalam menguasai bahasa Mandarin, bahasa yang kerap kali menjadi ‘momok’ bagi banyak orang karena tingkat kesulitannya tersebut. Berikut cerita Suharto kepada Penulis tentang masa belajar bahasa Mandarin di Negeri Tiongkok.

Halo, Suharto. Mengapa tertarik belajar bahasa Mandarin dan memilih untuk mempelajarinya di Tiongkok?
Saya pertama kali belajar bahasa Mandarin ketika duduk di bangku SMA, tepatnya kelas 2 SMA jurusan Bahasa. Meskipun bukan orang keturunan Tionghoa, tapi sejak kecil saya suka mengamati hal-hal yang berbau budaya Tionghoa, misalnya saja suka menonton pertunjukan barongsai dan beberapa film produksi Tiongkok yang biasa diperankan oleh Jackie Chan atau pun film Kera Sakti. Melalui berbagai media tersebut saya mengenal karakter Mandarin, walaupun belum bisa membaca dan mengetahui artinya. Bahkan tidak ada kepikiran untuk belajar Bahasa Mandarin sebelumnya. Ketika SMA itu pun, sedikit pesimis belajar Mandarin, sempat berpikir bahwa saya memiliki lidah orang Jawa, mana mungkin bisa berbicara Mandarin. Namun tanpa disadari, saya sangat menikmati belajar Bahasa yang memiliki 4 nada ini. Saya sangat beruntung mendapatkan laoshi (sebutan guru dalam Bahasa Mandarin) yang mengajar dengan menarik, membuat tidak bosan dan semakin penasaran mempelajarinya.

Pelajaran Mandarin di SMA saat itu hanya 2 jam dalam seminggu, tidak cukup rasanya untuk menguasai sebuah bahasa asing dalam kurun waktu 2 tahun. Setelah lulus SMA, saya memantapkan hati untuk melanjutkan studi S1 Sastra Tionghoa. Saya ingin menguasai dan menaklukan bahasa Mandarin ini. Saya juga berharap untuk bisa ke negaranya langsung dan belajar budayanya. Negara Tiongkok merupakan salah satu negara terbesar dunia dengan populasi penduduk yang cukup banyak, belum lagi para keturunan Tionghoa yang ada di negara-negara lain. Semakin yakin rasanya belajar bahasa ini, bahasa yang dipakai oleh populasi penduduk besar dunia. Selain itu, hubungan kerjasama antara Indonesia dan Tiongkok cukup baik, mungkin saya bisa memberikan kontribusi lebih bagi kedua negara ini.

Buku-buku untuk belajar bahasa Mandarin
Buku-buku untuk belajar bahasa Mandarin

Bagaimana proses persiapan mengurus pendidikan bahasa di Tiongkok?
Selama masa studi S1, saya belum bisa mewujudkan mimpi untuk pergi ke Tiongkok dan belajar bahasa budaya di sana. Sudah mencoba beberapa kali daftar beasiswa, namun semuanya belum berhasil. Setelah wisuda S1, saya membulatkan tekad untuk studi lanjut Bahasa di Beijing dengan beasiswa dari sponsor. Awalnya ingin langsung lanjut S2, namun saya menyadari kemampuan bahasa Mandarin yang masih sangat kurang, maka masih perlu belajar bahasa untuk memperlancar. Selain itu, ada syarat yang belum bisa saya penuhi untuk S2 di Tiongkok. Karena ingin memilih bahasa pengantar Mandarin, maka harus memiliki sertifikat minimal HSK 5. HSK merupakan tes kemampuan berbahasa Mandarin bagi penutur asing, terdiri atas 2 jenis HSK (mendengar, membaca, mengarang) dari level 1 sampai yang tertinggi level 6; HSKK (tes khusus untuk kemampuan berbicara) dari level dasar, menengah dan lanjutan. Meski biasanya setiap universitas punya kebijakan masing-masing, mahasiswa yang ingin melanjutkan S2 rata-rata diwajibkan untuk lulus HSK 5.

Saat memilih kota tempat belajar bahasa nantinya, saya memilih Kota Beijing, ibukota Tiongkok. Belajar bahasa Mandarin di Beijing adalah yang paling standar dibandingkan di daerah lain, karena daerah lain ada pengaruh dialek. Saat itu, saya datang ke Beijing dengan visa wisata dengan tujuan mencari sekolah bahasa yang sesuai dengan kebutuhan saya. Saya pergi ke beberapa universitas untuk mencari tahu tentang program bahasa. Ternyata, biaya untuk belajar bahasa di universitas cukup mahal. Pencarian saya berujung pada sebuah lembaga kursus bahasa yang bekerjasama dengan satu universitas. Lembaga kursus tersebut bernama Tianying School, dan universitas yang bekerjasama dengannya bernama China University of Mining and Technology, Beijing. Biaya belajar di sini tidak terlalu mahal, mereka juga menyediakan visa studi 6 bulan. Saya memutuskan untuk mendaftar di lembaga kursus ini. Visa saya pun diperpanjang dari visa turis menjadi visa pelajar.

Mendaftar program bahasa di kampus ini tidak sulit, yang cukup rumit adalah mengurus perpanjangan visa. Saya harus melakukan cek kesehatan dan mengurus laporan izin tinggal di daerah setempat sebagai syarat perpanjangan visa – yang mana semuanya saya lakukan sendiri. Melalui pengalaman mengurus visa ini saya banyak belajar, misalnya bagaimana pergi ke rumah sakit dan ke kepolisian setempat dengan bahasa Mandarin yang masih pas-pasan. Selama kurang lebih 6 bulan, saya belajar bahasa Mandarin dan di akhir masa belajar bahasa, target untuk lulus HSK 5 pun dapat terpenuhi.

Ruang kelas di sekolah bahasa
Ruang kelas di sekolah bahasa

Adakah kisah/pengalaman unik selama belajar bahasa di Tiongkok?
Pengalaman yang sulit untuk saya lupakan adalah saat pertama kali menginjakkan kaki di Beijing, Tiongkok. Masih segar di ingatan saya waktu musim dingin, suhu minus sekian derajat Celsius. Dengan persiapan seadanya, saya berangkat dan membawa baju musim dingin ala kadarnya. Tiba di bandara malam hari, badan yang menggigil kedinginan, membawa koper yang cukup berat, tidak ada seorang pun yang menjemput, hanya ada alamat yang tertera dalam aksara Mandarin. Saya pun mencoba naik taksi lokal, ada kekhawatiran dalam hati karena masih asing dengan kota ini. Khawatir jika ditipu oleh supir atau terjadi hal buruk lainnya. Dengan mengikuti alamat di secarik kertas, supir taksi mengantarkan saya hingga tujuan. Sesampainya di alamat yang dituju, saya masih kebingungan, karena kondisi sudah tengah malam. Tidak ada nomor lokal untuk menghubungi siapapun. Kebetulan, di dekat tempat saya turun ada toko kecil. Tidak lama kemudian, munculah seorang pemuda lokal Tiongkok. Segera saya bertanya dan meminta bantuannya, dia pun mengantarkan saya sampai pintu rumah tempat menginap. Sungguh pengalaman tak terlupakan malam itu, pertama kali di negara asing, di tengah dinginnya udara kota Beijing.

fc1e8b52-0432-4e1d-9fcb-ebb23c1451c8

Boleh berbagi tips bagi mereka yang ingin belajar bahasa Mandarin di Tiongkok?
Sekarang ini, akses belajar bahasa Mandarin ke Tiongkok cukup mudah. Di Indonesia ada beberapa agen penyedia jasa sebagai perantara yang ingin studi ke Tiongkok. Mereka biasanya membantu menentukan kampus yang tepat dan membantu mengurus segala sesuatunya sampai tiba di Tiongkok. Jika teman-teman ingin melalui prosedur yang lebih mudah, kalian dapat menggunakan jasa agen ini. Namun, perlu dicatat bahwa kemudahan yang didapatkan dari agen perlu dibayar dengan biaya yang tidak sedikit.

Bagi teman-teman yang mencari beasiswa, ada beberapa beasiswa belajar bahasa Mandarin yang tersedia. Beasiswa yang pertama adalah Beasiswa Pemerintah Tiongkok, mencakup keseluruhan biaya studi, tempat tinggal asrama, asuransi kesehatan dan biaya hidup perbulan. Jangka waktu beasiswa ini untuk masa belajar 1 tahun dan bisa diperoleh dengan mendaftar melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia yang ada di Beijing, Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta ataupun langsung ke universitas yang dituju.

Beasiswa yang kedua adalah Beasiswa Konfusius. Beasiswa ini mengharuskan para pendaftar memiliki sertifikat minimal HSK 2 atau 3. Pendaftaran dapat dilakukan melalui Pusat Studi Bahasa Mandarin di beberapa kota di Indonesia. Berbeda dengan beasiswa sebelumnya, beasiswa Konfusius ini menawarkan dua durasi program belajar, yaitu 1 semester (6 bulan) dan 1 tahun. Selain kedua beasiswa tersebut, masih ada pula beasiswa pemerintah kota dan beasiswa kampus, namun sifatnya sebagian bukan beasiswa penuh.

Foto disediakan oleh penulis

SHARE
Previous articleStudying in the US Under the Trump Era
Next articleRising Above and Beyond: How to Bake the Distinction Cake?
A law and business enthusiast, Astrid is currently pursuing her budding career as an attorney at one of Indonesia's oldest international corporate law firms. She holds a Bachelor's Degree from Universitas Gadjah Mada (Indonesia) and a Master's Degree from University of Cambridge (UK). Having spent a year in Beijing, Astrid is fluent in Mandarin. In her spare time, Astrid enjoys reading, shopping and daydreaming about more bags to collect.