Pearson College UWC: Negeri Hijau di Barat Daya Vancouver Island, Kanada

2
9914

“Mamaa! Aku diterima di Pearson College UWC, Kanada!” begitulah teriakan kegembiraanku ketika aku selesai membaca surel dari UWC Indonesia National Committee. Kehidupanku berubah semenjak memutuskan untuk pergi belajar ke negeri yang terkenal dengan daun maple itu. Aku, seorang anak bungsu yang manja, harus bertransformasi menjadi pribadi yang jauh lebih mandiri. Bubur ayam Mang Ujang di pagi hari kini tergantikan oleh roti panggang selai stroberi dan 2 telur rebus. Ibuku, yang sering kusebut jam beker berjalan’, juga telah tergantikan oleh ponselku yang berdering setiap jam 7.30 pagi atau panggilan halus dari teman sekamarku yang berasal dari Quebec, Kanada dan Norwegia. Loh, kok bisa?

Selamat datang di Pearson College United World College! Sebuah boarding school, setara program 2 tahun pre-college atau SMA, yang istimewa nan menakjubkan dimana 200 siswa dari 80 negara berkumpul dan tinggal bersama di sebuah area kecil di sebelah barat daya Vancouver Island, Victoria, BC. Vancouver Island sendiri berbeda dengan kota Vancouver yang merupakan kota terbesar di provinsi British Columbia. Vancouver Island adalah nama sebuah pulau yang besar yang terletak tepat disebrang kota Vancouver. Di pulau inilah Victoria, ibukota dari provinsi British Columbia, terletak. Untuk mencapai Victoria dari Vancouver, aku harus menaikki mode transportasi kapal feri (BC Ferries) dengan perjalanan selama 90 menit karena jarak diantara keduanya yang cukup jauh, yaitu sekitar 93 km. Banyak orang lebih memilih menggunakan feri ketimbang pesawat karena selain biayanya yang lebih murah, kita juga dapat melihat keindahan alam Kanada selama perjalanan. Selain Pearson College, ada 16 sekolah lainnya di seluruh dunia yang tergabung dalam United World College (UWC) dan membawa misi yang sama, yaitu membuat pendidikan sebagai wadah untuk menyatukan siswa-siswi dari berbagai bangsa dan budaya demi mencapai masa depan yang berkesinambungan.

Mendapatkan kesempatan emas tinggal bersama teman-teman dari berbagai negara membuat perbincangan dengan setiap orang di Pearson menjadi sangat berharga. Bahkan, perbincangan tentang isu-isu hangat dunia hingga larut malam di gazebo berbalut api unggun dan hot chocolate dengan teman-teman dari Kanada, Amerika, Paraguay, Nicaragua, Hongkong, Norwegia, Israel, dan Polandia adalah sesuatu yang tidak ingin kulewatkan. Atas dasar inilah, muncul istilah dikalangan siswa yang biasa disebut dengan FOMO, singkatan dari Fear of Missing Out, yang berarti ketakutan akan melewatkan suatu hal. Tidak hanya itu, mempunyai keuntungan sebesar ini juga membuat kita selalu mempelajari suatu hal dari berbagai perspektif. Contohnya, dalam kelas ekonomi, bukan hanya teori tentang permintaan dan penawaran saja yang kita pelajari, namun setiap murid juga mempunyai kesempatan untuk memberikan contoh-contoh nyata di negaranya masing-masing. Hal inilah yang membuat UWC menjadi sangat spesial karena kita selalu mempelajari hal-hal yang baru setiap harinya tidak hanya dalam sisi akademik, namun juga pengetahuan-pengetahuan umum dan budaya negara lain.

Snapshot of My Pearson Families
Snapshot of My Pearson Families

Sama seperti sekolah UWC lainnya, kurikulum yang digunakan di Pearson College adalah IB Diploma (ibo.org), sebuah program diploma 2 tahun, setara kelas 11 dan 12 SMA. Dalam kurikulum ini, kita akan mempalajari 6 grup mata pelajaran yang bisa kita pilih di setiap grupnya. Contohnya, dalam Group 4: Science, kita bisa memilih antara Fisika, Kimia, Biologi, atau Ilmu Kelautan (Marine Science). Tidak dapat dipungkiri lagi, kurikulum IB yang dapat dibilang memiliki aktivitas yang padat, membuat banyaknya mitos bermunculan. Salah satu diantaranya yang sangat akrab di telinga adalah: “You can only choose 2 things between the 3S: sleeping, socializing, and studying.” Sebenarnya, mitos itu dapat dipatahkan tergantung bagaimana siswa dapat mengatur waktunya dengan baik. Membuat jadwal waktu untuk belajar, beraktivitas, berosialisasi, dan beristirahat dapat membantu kita mencapai keseimbangan diantara keempatnya.

Bicara soal metode mengajar, metode yang digunakan guru-guru di Pearson sangatlah menyenangkan. Selalu ada cara berbeda yang menarik dalam menjelaskan suatu topik. Contohnya, pada kelas fisika tentang gerak mekanika dalam lintasan, kami meluncurkan sebuah kentang menggunakan cannons yang terbuat dari pipa PVC. Akhirnya, kami pun berlomba-lomba meluncurkan kentang dengan jarak terjauh, dan pelajaran menjadi jauh lebih mudah untuk diserap. Kesimpulannya, kami tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga secara praktikal sehingga para siswa dengan cara belajar yang berbeda-beda dapat merasa nyaman ketika proses belajar mengajar berlangsung.

Paddle Sport
Paddle Sports

Menjadi bagian dari UWC tentu membuat kami tidak hanya terfokus pada akademik saja. Tentunya, ada banyak kegiatan ekstrakurikuler yang dapat kita pilih, mulai dari aktivitas-aktivitas di tepi laut seperti Expedition Sailing, Paddle Sports, Canoeing, atau Diving; bidang kreativitas seperti Fashion, Orchestra, atau Choir; hingga aktivitas sosial seperti Marine Resources. Aku sendiri tergabung dalam ekstrakurikuler Social Environment and Eco Justice yang mana kami bergerak dalam menjaga efisiensi penggunaan listrik; membantu mengurangi emisi gas karbon seperti mengkoordinasi Veggie Week yang mana setiap siswa mempunyai kesempatan untuk menjadi vegetarian dalam satu minggu; serta hal-hal lain yang terkait dengan lingkungan. Hal yang menyenangkan dalam mengikuti ekstrakurikuler di Pearson adalah siswa diperbolehkan untuk membuat inovasi atau menginisiatifkan kegiatan tertentu, tanpa merasa dibatasi dengan kegiatan yang sudah direncanakan oleh para ketua ekstrakurikuler. Selain itu, setiap semester, ada satu minggu bernama Project Week dimana kita diwajibkan untuk melakukan project apa saja yang ingin kita lakukan, tetapi project ini boleh juga kita lakukan bersama grup ekstrakurikuler masing-masing. Salah satu pengalaman paling menyenangkan adalah membuat Finding Pearson Video

Saman Dance Performance in the Middle East and South Asia Regional Day
Saman Dance Performance in the Middle East and South Asia Regional Day

Meskipun aku memilih untuk melakukan kegiatan sosial, kreativitasku masih tetap tersalurkan melalui Musical Cafe, sebuah event yang diadakan setiap satu bulan sekali, dimana kita dapat mengasah bakat bermusik, stand-up comedy, atau membaca puisi dalam acara tersebut. Selain itu, ada juga Regional Day, sebuah acara yang menyuguhkan workshop, makanan, serta penampilan menarik dari berbagai budaya pada wilayah tertentu. Pada Asia Pacific Regional Day, aku berkesempatan menyanyikan lagu “Terlanjur Cinta” bersama seorang penyanyi muda bertalenta yang berasal dari Singapura. Lalu, pada Middle East and South Asia Regional Day, aku berkesempatan untuk membawakan tari Saman bersama 17 orang lainnya yang berasal dari Norwegia, Jerman, Colombia, Swaziland, Kanada, Hong kong, Jepang, Ekuador, Cayman Island, Cina, Sierra Leone, dan Burkina Faso. Perasaan bahagia yang luar biasa ketika banyak sekali orang yang mengapresiasi kedua penampilanku tersebut. Tak hanya itu, jumlah orang yang ingin berpartisipasi dalam tari Saman pun kian bertambah. Berkat apresiasi itulah, tari Saman akhirnya diminta untuk ditampilkan lagi pada Christmas Concert, yang sudah ditampilkan pada tanggal 3 Desember lalu dan One World pada tanggal 17 Maret mendatang di McPherson Theatre. One World adalah perlehatan konser tahunan terbesar di Pearson, yang mana seluruh pengisi acara dan crew harus melalui tahap audisi terlebih dahulu. Konser ini dikoordinasikan sepenuhnya oleh para siswa, yang tentunya dibantu dan diawasi oleh beberapa guru yang ingin berpartisipasi. Tradisi unik lainnya di Pearson adalah bay jumping, yang berarti para siswa melompat ke laut dekat dermaga (Hal ini biasanya dilakukan karena mereka tengah mendapat kabar yang menggembirakan);

House Olympics at Pearson
House Olympics at Pearson

melihat bintang-bintang dan bulan menggunakan teleskop besar di Newton-Godin observatorium; kompetisi House Olympics dimana setiap rumah asrama berkompetisi dalam berbagai macam perlombaan unik untuk meraih piala rumah asrama terbaik (Seperti yang ada pada film Harry Potter!); dan kompetisi Golden Shoe atau pertandingan sepak bola antar rumah asrama.

Bicara tentang Pearson agaknya kurang lengkap jika tidak membicarakan keindahan alamnya. Pohon-pohon yang tinggi menjulang, rusa-rusa yang kerap kali ditemukan di sudut-sudut kampus, rakun-rakun yang seringkali mencari makan di pagi hari ketika matahari belum terbit, gemuruh anjing laut di pagi hari, dan masih banyak lagi keindahan alam ditempat yang menyejukkan ini. Selain itu, sebagai siswa di Pearson, kami juga memiliki kewajiban untuk menjaga cagar alam ekologis di sebuah pulau yang bernama Race Rocks, yang letaknya 7 km dari Pearson College. Di Race Rocks, ada banyak sekali anjing laut dengan species yang berbeda-beda. Siswa yang mengambil mata pelajaran Ilmu Kelautan (Marine Science) kerap kali berkunjung ke Race Rocks untuk mempelajari lebih mendalam tentang ekologi kelautan. Kami diperbolehkan untuk menghabiskan waktu di Race Rocks untuk keperluan tertentu seperti aktivitas diving, menjadi sukarelawan saat Project Week, atau membantu dengan cara lainnya. Di pulau tersebut, ada seorang Ecoguardian yang bertempat tinggal dalam jangka waktu tertentu, sehingga para siswa tidak perlu khawatir.

Sekarang aku tahu bahwa beradaptasi dengan lingkungan baru tidaklah mudah, tapi pasti bisa untuk dilewati. Awalnya, kupikir aku adalah ikan kecil yang tersesat di kolam besar karena sejujurnya, cukup mengejutkan melihat betapa luasnya wawasan orang-orang disekitarku. Namun, ada banyak orang yang telah membantuku menemukan jalanku lagi, dan mereka juga membantuku menyadari bahwa aku benar-benar berada di kolam yang tepat. Ini adalah alasan mengapa hal favoritku tentang Pearson adalah orang-orang yang ada di dalamnya. Aku telah belajar banyak hal termasuk kepemimpinan, menghargai orang lain tanpa pandang bulu, bagaimana cara berkomunikasi dengan lebih baik, bagaimana mengajukan pertanyaan yang tepat, bagaimana menjadi lebih berhati-hati akan budaya seseorang, bagaimana cara hidup di bawah kondisi apapun, dan bagaimana kita bisa melewatinya. Dengan melalui proses itu, itu telah mengubahku menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Photos are provided by the author.