From Expectation to Reality: Changing your Mindset on Studying Abroad

1
2202

Many people have exotic thoughts about ‘studying abroad’ as a form of ‘extended vacation’ filled with nothing but fun. The thought of reading your books in luscious green parks, visiting famous landmarks, speaking foreign words in an unusual accent, meeting world renowned academics, partying… life is a dream, a burden free state! Well, the aforementioned activities do form part and parcel of ‘studying abroad’, yet not all. Reflecting on her experiences as a Master’s student in the Netherlands, Dwi Aini Bestari seeks to illuminate the often-forgotten dimensions of studying abroad and change your mindset. It is only when you can identify the potential difficulties you may face, especially on language, learning methods, and social life, and manage your expectations that you are fully prepared to embark on a year or more abroad as a student.   

Sebagai seseorang yang punya gambaran indah tentang kuliah di luar negeri, saya sampai pada suatu kesimpulan: I’ve always seen studying abroad being depicted or portrayed more as an extremely cool experience rather than as a struggle.  Bukan berarti kuliah di luar negeri itu tidak menyenangkan. It is, but it is not only about having fun. Secara umum, ada tiga hal utama yang menurut saya paling menantang: kendala bahasa, perbedaan sistem belajar dan kehidupan sosial. Melalui artikel ini, saya ingin menekankan bahwa mengetahui “kerasnya” kuliah di luar negeri juga sangat perlu di samping mengharapkan “manisnya”. That way, we can be fully prepared.

Kendala Bahasa (Language Barrier) dan Sistem Belajar

Saya menyadari bahwa kuliah di luar negeri berarti menjalankan semua proses belajar dengan bahasa Inggris; membaca literatur, mengerjakan tugas serta diskusi di kelas. Untuk orang yang sebelumnya tidak menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari, ini tentunya jadi tantangan. Awalnya, bayangan saya tentang kendala bahasa hanya mencakup pada keterbatasan kosa kata (vocabulary), grammar, dan kelancaran saat berbicara (fluency). Karena nilai IELTS saya pada saat itu di atas batas minimum (7.5), saya cukup percaya diri. Ternyata, keterbatasan pada tiga hal itu menimbulkan masalah yang jauh lebih rumit dari apa yang saya perkirakan. Terlebih lagi, kendala bahasa ini kemudian berhubungan dengan perbedaan cara belajar.

Di Belanda, dan mungkin di banyak Negara maju lainnya, suasana belajar di kelas sangat berbeda dengan pengalaman kuliah di Indonesia. Di sana, mahasiswa bukan masuk ke kelas untuk kemudian duduk manis mendengarkan presentasi dosen. Sebagai gambaran, dari 3 jam durasi kelas, dosen-dosen saya hanya memberikan presentasi singkat paling lama 30 menit. Seringkali, kuliah tidak dimulai dengan presentasi dosen, tapi dengan diskusi mengenai topik yang akan dipelajari hari itu. Dengan kata lain, ketika masuk ke kelas, kami semua harus sudah mempelajari bahan yang diberikan. Bahan belajar ini terdiri dari minimal tiga jurnal dan buku untuk satu mata kuliah.

unnamed

My University Library during the Weekends

deadline

Tight and Strict Schedule!

Membaca bahan belajar dalam Bahasa Inggris tentu memerlukan waktu dan fokus yang cukup. Non-native speakers seperti saya harus membaca berulang-ulang sampai benar-benar paham. What if I failed to understand? Why didn’t I just stay quiet in class? Nah, ini berlanjut ke budaya belajar berikutnya, yaitu budaya diskusi.

Jika di Indonesia kita bisa diam di kelas dan mendengarkan penjelasan dosen, di sana, mahasiswa harus aktif berdiskusi dan belajar mandiri. Untuk berpartisipasi dalam diskusi, tentunya kita harus memiliki argumen atau pertanyaan berdasarkan bahan bacaan yang diberikan. Otherwise, kita cuma akan jadi silent audience di kelas. Tidak jarang, saya tahu bahwa diskusi di kelas sangat seru. Namun, karena semua orang sangat fasih dan berbicara dengan tempo yang sangat cepat, I was left behind. I ended up being mute, again and again. Padahal, orang-orang di Belanda terkenal sangat direct, to the point dan cukup agresif dalam berdiskusi.

Intinya, budaya belajar di mana mahasiswa harus selalu aktif pada akhirnya menguji kemampuan bahasa Inggris kita. Kita bukan hanya harus bisa memahami caranya membaca sumber akademik dalam bahasa Inggris, tapi juga mengartikulasikan argumen serta memahami dan merespon argumen orang lain. Jadi, yang diperlukan bukan hanya latihan Bahasa Inggris tapi menerapkan Bahasa Inggris dalam konteks budaya belajar aktif. Walaupun hal ini pada akhirnya bisa dilatih sambil kuliah di sini (learning by doing), this is something that should be exercised before actually studying abroad.

Accepting, Adjusting and Changing the Habits

Although It was just really hard to realize that I was behind the other students, kunci yang utama adalah menerima. Dalam kasus saya di mana hanya ada empat orang mahasiswa internasional dari luar Eropa (Indonesia, China, South Korea and Iraq), perbedaan antara performance mahasiswa Eropa dan mahasiswa Asia jadi sangat jelas. Bukan berati kami lebih bodoh dari mahasiswa Eropa, tapi perbedaan budaya secara tidak langsung membuat kami sedikit kesulitan untuk menonjol di kelas. Bukan hanya karena Bahasa, tapi juga karena budaya partisipasi di kelas.

Hal lain yang banyak disadari mahasiswa Indonesia di Belanda adalah betapa pintarnya mahasiswa Belanda. Ini adalah fakta lain yang sempat membuat hilang percaya diri. Tapi sekali lagi, kuncinya menerima. Kita tidak bisa lari dari kenyataan ini, karena mereka memang dididik dengan sistem yang sangat berbeda dengan kita. Di Belanda, mereka juga memiliki sistem seleksi yang ketat untuk masuk jenjang S1 di Universitas. Jadi, ketika kita bertemu lulusan-lulusan S1 Belanda di program Master, jangan kaget kalau mereka sangat cerdas, karena mereka ini “anak-anak pilihan”.  Tapi, kita juga anak-anak pilihan, bukan? We must be special in our own ways, and that is why we are there.

Setelah bisa menerima kenyataan bahwa kita memiliki keterbatasan pada beberapa aspek, hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah adjusting and improving. Menyadari bahwa misalnya bahasa Inggris kita masih sangat kurang untuk bisa selevel dengan teman sekelas, kita harus berusaha lebih. Ada beberapa metode yang saya terapkan untuk meningkatkan presence di kelas. Pertama, mengandalkan bantuan teman-teman. Karena saya tinggal di satu apartemen bersama international students, saya berlatih dengan mereka.

DAB1

My Flatmates and Study Buddies

Kemudian, karena sistem belajar yang mengharuskan kita rajin membaca dan berdiskusi di kelas, kita juga harus menyesuaikan ini dengan kebiasaan belajar sebelumnya. Pertama, mengatur waktu belajar. Karena bahan bacaan sangat banyak, berbahasa Inggris dan mungkin speed membaca kita masih rendah, maka kita harus mulai membuat jadwal: kapan kita belajar di kelas, kapan kita belajar untuk persiapan kelas, kapan kita belajar untuk mengulang pelajaran.  Ini semua harus dipikirkan dengan baik kalau kita ingin survive dan tidak kewalahan.

Kedua, berlatih dan membuat script. Untuk mengantisipasi diskusi di kelas, kita juga perlu persiapan dan latihan. Bagi mahasiswa lain di kelas saya, mungkin diskusi dan berpendapat di kelas tidaklah sulit. Bagi saya yang masih beradaptasi dengan tempo bicara lambat, I need a script. Maksudnya, saat persiapan membaca banyak bahan sebelum kelas, kita bisa sambil mencatat hal-hal menarik atau pertanyaan-pertanyaan kita sendiri yang bisa kita ajukan saat diskusi di kelas.

Ketiga, bertanya pada dosen dan teman sekelas. Saat kita merasa kurang paham dan tertinggal di kelas, go ask away! Bahkan jika malu, kita sangat dianjurkan untuk membuat janji dengan dosen dan mendiskusikan hal-hal tersebut. Jujur, seperti juga di Indonesia, tidak semua orang di kelas cukup ramah dan mau diganggu waktunya untuk menjawab pertanyaan kita. Tapi, berusaha mencari dan “mendekati” teman-teman yang baik adalah hal yang patut dicoba. Selain itu, berkonsultasi dengan study advisor untuk memantau progress belajar kita juga sangat insightful!

 Pada akhirnya, melanjutkan sekolah di negara manapun memiliki tantangan dan cerita masing-masing. Namun, menggali sebanyak-banyaknya sisi dan cerita menjadi hal yang sangat penting sebagai persiapan. Do not be satisfied with only some stories you read online, go ask for more, and more.

 

All photos are provided by author. 

  • Cream penghilang jerawat

    Nice