Belajar, berkarya dan jatuh cinta dengan berorganisasi di PPIA Monash University

0
350
Menjadi bagian dari kampanye ‘Semangat Kartini’ yang diinisiasi oleh PPIA Negara Bagian Victoria (PPIA Victoria) yang menaungi seluruh PPIA kampus di Victoria, Australia.

Kegiatan organisasi menjadi salah satu pilihan untuk memperkaya pengalaman dan memperluas jaringan pertemanan ketika berkuliah di luar negeri. Benazir Komarudin berbagi cerita mengenai kisahnya menjadi Presiden dari Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia Monash University dan hikmah dari pengalaman tersebut.

Menjadi bagian dari dunia Perhimpunan Pelajar Indonesia atau yang lebih dikenal dengan PPI memang bukan hal yang baru bagi saya. Saya diperkenalkan, diajari, dan dibimbing mengenai organisasi ini oleh kakak saya dari 4 tahun yang lalu. Sejak tahun 2014, saya memulai sebagai staf, lalu tahun 2016 diberikan kesempatan untuk menjadi Sekertaris Jenderal merangkap Wakil Presiden sebelum akhirnya dipercaya menjadi Presiden PPIA Monash Pusat periode 2016-2017. Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) adalah salah satu organisasi pelajar Indonesia terbesar di dunia. Setiap universitas di Australia mempunyai PPIA ranting yang dibawahi oleh PPIA cabang dan PPIA pusat. Untuk PPIA Monash University sendiri, kami mempunyai struktur yang unik. Setiap tahunnya, kami melakukan tiga rapat umum tahunan untuk kampus Monash University di Caulfield (PPIA Monash Caulfield), Clayton (PPIA Monash Clayton) dan untuk PPIA Monash Pusat (PPIA Monash) yang menaungi PPIA di kedua kampus tersebut. Disini, saya akan berbagi cerita mengenai apa yang saya pelajari dan dapatkan dari berorganisasi di PPIA Monash.

Seluruh pengurus PPIA Monash University periode 2016/2017
Seluruh pengurus PPIA Monash University periode 2016/2017

Menjadi bagian dari organisasi pelajar Indonesia di luar negeri membukakan mata saya terhadap banyaknya pelajaran hidup, kesempatan dan pengalaman yang ada. Mungkin lebih dari yang saya dapatkan melalui pelajaran semasa kuliah. Dari PPIA, saya belajar bersosialisasi dengan banyak orang, mengasah kemampuan untuk memimpin, membuat proposal, bernegosiasi dengan sponsor, merencanakan serta mengeksekusi acara. Saya juga mendapatkan keluarga baru dari mulai yang seumuran, lebih tua maupun jauh lebih muda. Terlebih dari itu, PPIA juga menjadi tempat aman saya untuk berkembang dan mencari jati diri. Dengan PPIA, saya akhirnya mengetahui kemampuan dan kegemaran saya. Setelah beberapa tahun berkecimpung di organisasi ini, akhirnya saya mengerti arti dari kalimat “Pilihlah pekerjaan yang anda cintai dan anda tidak akan pernah harus bekerja seharipun dalam hidup”. Tentu terdapat pengorbanan dalam jam tidur, waktu bermain dan waktu belajar untuk mengerjakan tugas PPIA. Namun, dengan semua pengalaman yang saya dapatkan hingga akhir masa jabatan, semua pengorbanan tersebut dapat terbilang setimpal. Melalui PPIA, saya juga belajar untuk berani keluar dari zona nyaman. Salah satu contohnya adalah dengan memberanikan diri mengambil kesempatan untuk memimpin. Jujur saja, menjadi kepala keluarga bagi perhimpunan pelajar sebesar PPIA Monash dengan anggota yang sangat banyak dan beragam memang tidaklah mudah. Banyak jatuh bangun yang telah saya lalui, terutama mengenai diri sendiri dan interaksi dengan orang lain. Saya sangat bersyukur selalu dibantu dan dilengkapi oleh eksekutif, komite, komunitas lain dan Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) di Melbourne untuk mewujudkan apa yang selama ini kami impikan di PPIA Monash.

Banyak hal yang PPIA Monash lakukan setiap tahunnya. Tahun ini, visi saya dan teman-teman komite yang lain adalah menjadikan PPIA Monash sebagai representatif Indonesia di Monash University yanf menjadi wadah bagi pelajar Indonesia untuk berkarya, berkembang, dan berkontribusi untuk komunitas lain dan Bangsa, dengan menjunjung tinggi asas kekeluargaan. Mengapa kekeluargaan? Dalam berkeluarga, tidak ada kata menyerah untuk satu sama lain., Masing-masing anggota dari keluarga tersebut akan saling menutupi kekurangan dan membantu setiap anggotanya untuk tumbuh menjadi individu yang lebih baik. Sebagai representatif Indonesia, PPIA Monash aktif mengikuti kegiatan komunitas di kampus, baik itu Hari Budaya atau Program Pertukaran Bahasa dengan pelajar lokal yang tertarik dengan Bahasa Indonesia. PPIA Monash juga mempunyai dua acara besar yaitu Australia-Indonesia Business Forum (AIBF) dan Soundsekerta.

Bersama beberapa pembicara dari Australia-Indonesia Business Forum (AIBF) 2017 bertema ‘Opportunity’.
Bersama beberapa pembicara dari Australia-Indonesia Business Forum (AIBF) 2017 bertema ‘Opportunity’.

AIBF adalah program kerja edukatif kami, dimana setiap tahunnya kami mengundang pembicara dari Indonesia dan Australia sesuai tema yang ditentukan. Melalui AIBF, pelajar Indonesia bukan hanya mendapatkan ilmu dari para ahli dari Indonesia dan Australia, tetapi juga dapat memperluas jaringan yang kami harap akan berguna di masa depan. Dalam dua tahun ini, kami mendapatkan kesempatan untuk mendapat ilmu dan berdiskusi langsung antara lain dengan Bapak Sofyan Djalil, Bapak Bambang Brodjonegoro, The Hon. Philip Dalidakis, David Livingstone, Bapak Adrian Jusuf Chandra, Alanda Kariza, Christy Tani dan Hadi Ismanto.

Soundsekerta 2017 yang bertema 'Harmony in Diversity'
Soundsekerta 2017 yang bertema ‘Harmony in Diversity’

Selain itu, kami juga mengadakan Soundsekerta, program kerja bidang Seni Budaya yang pada tahun 2015 mendapatkan penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai Pentas Seni Terbesar oleh Mahasiswa di Luar Negeri. Setiap tahunnya, Soundsekerta menjadi tempat bersilaturahmi untuk semua masyarakat Indonesia di Victoria dan juga ajang untuk memperkenalkan budaya dan musisi Indonesia terbaik ke pasar Australia. Tahun 2017 ini, selain mengundang Isyana Sarasvati, RAN, dan Project Pop, kami juga sukses mengkampanyekan tema ‘Harmoni Dalam Keragaman’ yang kami rasa sangat relevan dengan dinamika yang terjadi di Indonesia saat ini.

Sebagian anggota PPIA Monash di Monash University kampus Clayton.
Sebagian anggota PPIA Monash di Monash University kampus Clayton.

Singkat cerita, menurut saya, mengikuti kegiatan positif dan produktif di luar kampus selama menjadi pelajar adalah hal yang sangat penting. Banyak pelajar Indonesia di Melbourne yang memilih bekerja, mengikuti organisasi internasional atau mengikuti komunitas sesuai dengan hobi masing-masing. Saya telah memilih dan sangat merekomendasikan PPIA. Selain karena hal-hal yang sudah saya sebutkan diatas, saya juga merasa PPIA dapat menjadi tempat belajar dan langkah awal saya untuk mengabdi kepada Ibu Pertiwi walaupun dari luar negeri. Saya dan teman-teman PPIA Monash yang lain dapat mempromosikan budaya, Bahasa Indonesia serta musik lokal; menjadi jembatan antara Australia dan Indonesia, terutama dalam sektor bisnis; terlebih lagi dapat bersama-sama dengan generasi muda yang lain untuk terus mengingat, membuat bangga dan memberikan yang terbaik untuk Indonesia dengan cara kami sendiri.

SHARE
Previous articleKisah Muslimah Indonesia Berkarir di Negeri Sakura
Next article(There’s Gotta Be) More to School
Benazir holds a Bachelor of Arts degree in Politics and International relations from Monash University and is currently enrolled in Master of International Development Practice program at the same university. Prior to PPIA Monash, she was the President of Teen 2 Kids, a voluntary organization that aims to provide basic education to less-fortunate community. She can be reached through email at benazirmkomarudin@gmail.com