MENGHABISKAN LIBURAN MUSIM PANAS DENGAN MAGANG DI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA (Bagian I)

0
203
Riri's internship experience at International Organization for Migration

Pengalaman magang adalah salah satu hal yang menjadi faktor pertimbangan perusahaan pada saat melakukan perekrutan karyawan. Kegiatan magang diketahui mempunyai banyak manfaat bagi mahasiswa/i, diantaranya adalah untuk memperluas jaringan profesional yang akan berguna pada saat memasuki dunia kerja pasca program pendidikan serta mempraktekan teori yang telah dibahas di kelas. Berikut adalah pengalaman Riri dalam mengambil program magang selama liburan musim panas di Selandia Baru, serta 3 hal yang yang menurutnya penting untuk diperhatikan pada saat mempersiapkan aplikasi magang.

Artikel ini tidak akan membahas langkah-langkah untuk mendapatkan kesempatan magang yang kalian inginkan karena hal tersebut sudah sering dibahas di beberapa artikel Indonesia Mengglobal sebelumnya seperti dalam artikel Mempersiapkan Diri untuk Kerja Magang Khas SMU, Enjoying Your Internship Research, How to Intern in Silicon Valley, Landing a Finance Internship, dan Strategi Alternatif untuk Mendapatkan Internship yang disajikan dalam Bahasa Inggris oleh masing-masing penulis. Sebaliknya, saya akan berbagi mengenai pengalaman magang dan hikmah yang dapat diambil dari pengalaman tersebut. Pertama, saya akan menjelaskan pentingnya memanfaatkan liburan musim panas untuk menjajaki kesempatan magang baik di negara tempat berkuliah maupun di negara yang berbeda. Kedua, saya akan berbagi mengenai proses persiapan yang harus dilalui sebelum akhirnya meninggalkan Selandia Baru menuju Hong Kong, termasuk mengapa saya bisa memperoleh kesempatan magang di IOM, apa itu IOM, mengapa dari begitu banyak kantor misi IOM di seluruh dunia akhirnya saya berlabuh di IOM Hong Kong serta pentingnya mengelola waktu dan membangun komunikasi selama proses persiapan magang. Artikel ini sengaja disajikan dalam Bahasa Indonesia untuk menjangkau lebih banyak insan muda Indonesia, baik yang menjalani studi di dalam maupun di luar negeri. Artikel ini terutama ditujukan kepada kamu yang mempunyai keinginan magang di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Liburan Musim Panas di Selandia Baru: Cukupkah untuk magang?

Berbeda dengan negara-negara yang terletak di bumi bagian utara dimana musim panas biasanya berlangsung dari Juni hingga September setiap tahunnya, musim panas di Selandia Baru berawal pada bulan November dan berakhir pada bulan Februari di tahun berikutnya. Para mahasiswa/i dapat menikmati liburan musim panas selama 3-4 bulan tergantung kalender akademik masing-masing universitas. Hal ini dikarenakan ujian akhir semester yang umumnya berakhir pada pertengahan bulan November. Mahasiswa/i yang kelasnya tidak dilengkapi dengan ujian akhir semester dapat memulai libur lebih awal karena kelasnya rampung di akhir bulan Oktober. Sebagian besar mahasiswa/i menggunakan liburan musim panasnya sebagai periode relaksasi untuk mengistirahatkan diri dari hiruk pikuk proses belajar mengajar. Namun demikian, terdapat mahasiswa/i yang memanfaatkan periode libur panjang ini untuk magang, baik di Selandia Baru ataupun di negara lainnya.

Bagi yang memilih untuk magang, jangan melihat magang sebagai salah satu mata kuliah yang menjadi persyaratan kelulusan. Sebaliknya, anggaplah kegiatan magang sebagai batu loncatan guna membuka pintu pada kesempatan baik lainnya. Selama liburan musim panas, saya meninggalkan negara tempat belajar saya, Selandia Baru, menuju Hong Kong untuk melaksanakan magang selama 3 bulan di salah satu badan khusus PBB bernama Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM). IOM adalah badan khusus PBB sama seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Program Pangan Dunia (WFP) dan Bank Dunia (WB; baca pengalaman Zulkifli magang di WB pada artikel Pengalaman Internship di Bank Dunia Sebagai Short Term Consultant). Sebagai informasi, selain badan khusus seperti IOM, PBB juga memiliki 5 badan utama yaitu Majelis Umum (GA), Sekretariat, Dewan Keamanan (SC), Mahkamah Internasional (ICJ), dan Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC; baca pengalaman Catherine magang di ECOSOC pada artikel Pengalaman Internship di United Nations).

Poster untuk rekrutmen peserta magang di IOM yang disebarkan melalui linked in
Poster untuk rekrutmen peserta magang di IOM yang disebarkan melalui linked in

Tiga Hal Penting dalam Proses Persiapan Magang

1. Mengutip Bruce Lee, “Pejuang yang sukses adalah manusia biasa dengan fokus seperti laser”. Laksanakan magang di tempat yang memang sesuai dengan minat dan bakatmu, sehingga apa yang kamu dapatkan pasca magang akan berguna untuk karirmu kedepannya

Saya memang mantap untuk berfokus pada isu migrasi selama 4 tahun terakhir, terutama pada isu buruh migran dan korban perdagangan orang. Selain itu, saya juga mempunyai ketertarikan pada isu pencari suaka dan pengungsi, hingga mereka yang terpaksa bermigrasi dikarenakan bencana alam. Jika ada organisasi internasional yang memiliki pengalaman berpuluh tahun berkomitmen untuk menciptakan migrasi yang manusiawi dan teratur di berbagai belahan dunia, maka itu adalah IOM. Saya memilih Hong Kong karena Hong Kong adalah salah satu wilayah tujuan utama penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Negara tersebut juga dianggap memiliki peraturan perundang-undangan paling baik untuk melindungi TKI apabila dibandingkan dengan wilayah penempatan lainnya di Asia Pasifik dan Timur Tengah. Meskipun demikian, pada kenyataannya, masih kerap ditemukan TKI yang menghadapi berbagai permasalahan. Hal-hal seperti kekerasan dan/atau eksploitasi fisik, psikis dan seksual, jeratan hutang, gaji tidak dibayar atau dibayar tidak sesuai dengan perjanjian, dipaksa bekerja di beberapa tempat sekaligus, diberhentikan dari pekerjaan tanpa sebab dan memegang visa yang telah habis masa berlakunya menjadi masalah yang tidak asing untuk para TKI. Saya yakin bahwa saya bisa belajar banyak hal jika diberi kesempatan magang di IOM Hong Kong untuk berinteraksi langsung dengan buruh migran dan korban perdagangan orang tersebut.

2. Kalau kamu ingin mendapatkan manfaat maksimal dari proses magangmu, maka kamu harus menyediakan waktu yang cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mulai dari persiapan awal, proses seleksi, pengurusan visa, hingga hari keberangkatan bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Sejak awal menjalani program S2 Kebijakan Publik di University of Auckland, saya sudah mempersiapkan diri untuk mengisi liburan musim panas dengan kegiatan magang di IOM Hong Kong. Saya kemudian mengirimkan surat pengantar dan curriculum vitae (CV) pada awal Agustus 2016 melalui email kepada Kepala IOM Hong Kong. Pada surat pengantar tersebut saya menjelaskan betapa pentingnya kesempatan magang ini untuk mengembangkan karir saya kedepannya dan kontribusi apa yang dapat saya berikan kepada IOM Hong Kong apabila saya diterima magang disana. Saya mencantumkan pengalaman kerja dan kemampuan saya yang terkait dengan bidang migrasi pada CV (untuk tips membuat CV yang baik silahkan baca Make Others Fall in Love with Your Curriculum Vitae). Beberapa hari setelahnya, saya menerima email balasan yang menunjukkan ketertarikan mereka untuk mempertimbangkan saya magang di Hong Kong. Staf magang di Hong Kong harus menggunakan visa pelatihan dan untuk pengurusan visa ini pemerintah Hong Kong mengharuskan lembaga atau organisasi tempat magang yang mengajukan permohonan aplikasi visa. Saat itu, IOM Hong Kong mengirimkan daftar dokumen yang dibutuhkan untuk permohonan visa pelatihan melalui email. Setelah selesai diisi, saya menggunakan pengiriman kilat New Zealand Post ke kantor IOM Hong Kong agar dokumen tersebut bisa segera tiba di Hong Kong. Proses aplikasi visa saya memakan waktu 2 bulan. Maka dari itu, pastikan kamu memulai proses persiapan magang kamu sesegera mungkin agar maksimal dan tidak diburu-buru tenggat waktu.

3. Bangun komunikasi sebaik mungkin dengan pembuat kebijakan di tempat magang terutama untuk mendiskusikan hak dan kewajibanmu sebelum kedua belah pihak menandatangi kontrak magang.

Selama proses persiapan magang biasanya terdapat hal-hal penting yang perlu kamu diskusikan dengan lembaga tersebut. Jika pola komunikasi yang kamu bangun cukup baik, besar kemungkinan kamu dapat memperoleh respon yang relatif cepat. Misalnya ketika saya harus menunda kedatangan saya ke Hong Kong karena ada perubahan jadwal ujian akhir semester. Hal tersebut menyebabkan perubahan tanggal dimulai dan berakhirnya magang saya di IOM Hong Kong. Contoh lain adalah ketika saya memberanikan diri untuk mengangkat isu uang tunjangan bulanan selama magang. Biasanya, badan PBB tidak memberikan uang tunjangan apalagi gaji untuk staf magang. Terlebih apabila kamu tidak memiliki pengalaman sebelumnya. Pada saat itu, IOM Hong Kong akhirnya setuju untuk memberikan saya tunjangan bulanan yang cukup untuk membiayai kebutuhan hidup saya selama magang. IOM bersedia memberikan pengecualian dengan pertimbangan bahwa saya sudah memiliki keahlian dan pengalaman kerja yang dapat digunakan untuk mendukung pekerjaan di IOM Hong Kong. Namun, jika kamu mampu membiayai kebutuhan hidup selama magang, maka ada atau tidaknya tunjangan ini bisa menjadi pertimbangan terakhir kamu. Pertimbangan yang paling utama tentunya adalah pengalaman kerja dan jaringan profesional yang akan kita dapatkan selama magang.

NB: Saya akan menulis Bagian II dari artikel ini untuk menjelaskan secara terperinci pengalaman magang saya selama 3 bulan di IOM Hong Kong dan bagaimana pengalaman tersebut telah sangat membantu saya dalam membangun jaringan profesional. Menjadi staf magang telah membuka kesempatan untuk saya bekerja di sektor kemanusiaan di Hong Kong pasca menyelesaikan studi S2 di Selandia Baru.

Photo credit: Author & IOM Linked In Profile

SHARE
Previous articleKerja Paruh Waktu Selama Studi di Luar Negeri
Next articleWho Said School Was Easy? (Part 2)
Siti Octrina Malikah, commonly called Riri, is currently a Case Manager at PathFinders Limited Hong Kong which focus on helping vulnerable migrant mothers and children. In 2017, she completed her Master of Public Policy at the University of Auckland funded by Indonesia Endowment Fund for Education. She has 3 years of experience working in UN Migration Agency, IOM Indonesia, to manage various development-related projects and advocacy, in particular, related to counter trafficking and labour migration initiatives. She also completed her MPP internship at IOM Hong Kong where she provided assistance to the victims of forced labour and sexual exploitation. Do not hesitate to contact her via email sitioctrina@gmail.com