Nasionalisme dan Kuliah di Luar Negeri: Sebuah Refleksi

 

25042017 Terry Muthahhari Nationalism Studying Abroad

How should Indonesian students define nationalism? What actions should they take or not take to show their nationalistic pride? Is nationalism necessarily incompatible with concerns for global issues? Terry Muthahhari is the grand finalist of the 2016 World Universities Debating Championship and current Postgraduate student at the LSE, and here is his take on the matter. 

Di halaman linimasa Facebook saya, nasionalisme selalu menjadi topik hangat dan populer. Ini tercermin dari berbagai status maupun komentar yang diberikan terhadap berita atau opini yang disebarkan di linimasa. Salah satu payung diskusi yang menarik adalah nasionalisme dalam konteks mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di luar negeri. Ada yang berkomentar bahwa mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri sebisa mungkin turut serta dalam aktivitas yang mempromosikan kebudayaan Indonesia agar diketahui oleh teman-teman orang asing. Ada pula interpretasi yang terlalu optimis mengenai nasionalisme: disalah artikan sebagai sebuah sikap patuh yang mengabaikan betapa pentingnya sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah. Tak hanya itu, ekspresi ultra pesimistis terhadap nasionalisme juga diutarakan; nasionalisme menciptakan fanatisme buta terhadap bangsa dan negara. Layaknya para kelompok optimis, pendapat ini juga ada kelemahan: mengabaikan kontribusi diskursus kewajiban kolektif yang dibentuk nasionalisme sehingga ‘kita’ –  mahasiswa yang telah mendapatkan kedudukan istimewa untuk kuliah di luar negeri – dapat didanai untuk kuliah di Universitas asing ternama.

Untuk itu, tulisan ini bertujuan untuk memberikan jalan tengah dalam merumuskan bentuk praktek nasionalisme yang tidak berlebihan sekaligus kritis terhadap konteks mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Universitas asing. Lebih dari itu, saya juga akan berefleksi mengenai keterbatasan nasionalisme dalam menjelaskan kewajiban moral kita sebagai mahasiswa yang berkesempatan untuk turut serta dalam institusi pendidikan yang berorientasi internasional.

Nasionalisme Sebagai Sebuah Bentuk Kepedulian Internal

Nasionalisme idealnya membentuk sebuah rasa kepedulian terhadap masyarakat Indonesia yang berada dalam situasi ketidakpastian dikarenakan berbagai faktor; desakan ekonomi, permasalahan sosial, ataupun korban dari kejamnya praktek korupsi. Sayangnya, tidak jarang saya bercakap dengan mahasiswa Indonesia di London mengenai isu-isu nasional: “Sumpah ya parah banget korupsi e-KTP” atau “Isu pembangunan pabrik semen di Rembang lumayan menyayat hati ya” ditanggapi dengan tatapan ketidaktahuan: bahwa mereka sudah jarang membaca berita nasional. Ini cukup memprihatinkan, seharusnya manifestasi nasionalisme bukan hanya tentang pembangunan citra secara eksternal, namun juga membangun rasa kepedulian yang berbasis pada sikap simpati dan empati terhadap kesulitan yang dialami berbagai kelompok masyarakat di Bumi Pertiwi.

Untuk itu, manifestasi terkecil nan penting dari nasionalisme adalah kepedulian internal terhadap kompleksitas isu-isu nasional. Hal ini dapat dibiasakan dengan mengakses berita nasional melalui portal berita online yang saat ini sudah sangat mudah untuk diakses dan sederhana untuk dibaca. Jika ingin mendapatkan editorial lebih mendalam bisa dengan berlangganan koran nasional versi digital. Ketika kita secara konsisten mengikuti informasi mengenai berbagai macam isu dalam negeri perasaan peduli dapat muncul yang manifestasi praktisnya dapat dilakukan dengan berbagai cara: menulis artikel di media, memberikan sumbangan materi, dan/atau membagikan informasi tersebut di media sosial agar mendapatkan lebih banyak perhatian.

Kepedulian mengenai isu-isu Tanah Air penting untuk dipertahankan mengingat ‘jarak’ antara kita, sebagai mahasiswa rantau, dengan keadaan di Tanah Air. ‘Jarak’ disini dapat juga bermakna pengetahuan yang kita pelajari maupun kita artikulasikan dalam esai selama kuliah di Universitas asing. Sebagai contoh, beberapa kuliah yang saya terima di London School of Economics (LSE) mengeksplorasi sejumlah teori dan konsep yang lahir dari konteks historis, politik, dan sosial negara-negara Eropa seperti Inggris dan Prancis. Oleh karena itu, semakin penting untuk kita menghapus ‘jarak’ ini dengan selalu peduli terhadap isu-isu sosial, politik, ekonomi, budaya, teknologi di Tanah Air. Nasionalisme sebagai sebuah bentuk kepedulian internal memungkinkan kita untuk berkontribusi secara nyata dan pada saat yang sama, sebagai seorang mahasiswa, turut serta dalam memperluas diskusi akademik. Aktiflah di kelas! Memperkaya materi kuliah di institusi pendidikan tinggi asing yang, dalam perspektif saya, masih belum mewadahi variasi yang representatif dalam hal studi kasus, teori, maupun konsep dari negara-negara berkembang dan/atau eks-kolonial.

Nasionalisme dan Isu Global  

Bagi saya, kedudukan subjek ‘mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri’ tidak hanya dibentuk oleh identitasnya sebagai ‘masyarakat Indonesia’. Identitas kita juga dibentuk oleh pengalaman kita berkecimpung dalam dalam institusi akademik yang orientasinya internasional; mahasiswa dari berbagai negara berkumpul dalam satu payung yang sama berbagi pengalaman, berdiskusi, dan berdebat. Aspek pengalaman internasional ini menjadi tantangan dan motivasi bagi saya untuk peduli, mengerti, dan berempati terhadap permasalahan global yang terjadi di negara lain. Dimulai dari krisis pengungsi Suriah, kesenjangan sosial di Amerika Latin, rasisme di Amerika Serikat, hingga kemiskinan di India. Untuk secara produktif dapat berkontribusi dalam semua  diskursus ini, kepedulian yang saya punya tidak boleh hanya terbatas pada ‘Indonesia’ sebagai bangsa maupun negara. Posisi Indonesia sebagai negara berkembang ataupun negara pasca-kolonial yang menghadapi permasalahan kemiskinan, kesenjangan sosial, korupsi, keruwetan politik, maupun dilema mengenai demokrasi dapat dikontekstualisasi dalam ranah global dimana banyak negara berkembang/pasca-kolonial lain yang mengalami dilema yang sama.

Untuk itu, jika ada pertanyaan: “Haruskah mahasiswa Indonesia di luar negeri peduli terhadap konflik di Suriah? Rasisme di Amerika Serikat?  Kemiskinan di India? Islamophobia di Eropa? Jawabannya tentu saja ‘Iya’. Posisi kita sebagai subjek yang ‘nasionalis’ tidak boleh menciptakan sikap acuh tak acuh terhadap permasalahan global yang pada hakikatnya memberikan tantangan praktis dan moral yang sama. Pada akhirnya, mereka yang kurang beruntung di daerah kumuh Jakarta maupun Mumbai; sama-sama hidup dengan pendapatan seadanya dan terjebak dalam ketidakpastian yang sama. Kita, sebagai ‘mahasiswa Indonesia’, sekaligus sedikit dari sekian banyak orang di dunia yang memiliki kedudukan istimewa untuk menjadi bagian dari institusi pendidikan terbaik, harus melebarkan sayap kepedulian kita tanpa dihalangi batas-batas kewarganegaraan, ras, maupun agama.

Sebagai penutup, menyandang status sebagai ‘mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri’, tak boleh hanya disikapi dengan perasaan bangga. Status ini harus terus mengingatkan kita mengenai kewajiban moral yang kita miliki kepada Bumi Pertiwi maupun masyarakat global. Kita bisa menjadi nasionalis tanpa melupakan isu global; bahwa keduanya bukan untuk saling dipertandingkan tapi dibicarakan dan dipedulikan dengan seiringan.

 

Photo provided by author. 




===========================================
Terry Muthahhari is a Master candidate in Media, Communication, and Development at the London School of Economics (LSE). Prior to this, he reached the 2016 Worlds University Debating Championship ESL Grand Final in Thessaloniki, Greece.
Posts | Twitter | LinkedIn