My Thesis Writing and Defense Journey: Recounting Valuable Lessons


img21-2

What is it like to write a Thesis and defend it as an Indonesian student abroad? Read Erin Priandini’s story in doing the two as a Master’s student in Belgium.

Menulis Laporan Thesis

Saya beruntung mendapatkan supervisor yang sangat peduli dengan proses thesis saya. Bahkan, sebulan setelah masa thesis saya dimulai, Sang supervisor sudah mengingatkan saya untuk memulai menuliskan laporannya. Beliau menyatakan bahwa Beliau ingin mencicil memeriksa laporan saya sementara riset saya berjalan. Dengan demikian, Beliau dapat memeriksa tulisan saya dengan lebih teliti dan santai, dan saya pun punya banyak waktu untuk melakukan perbaikan. Beliau mengingatkan, bahwa Beliau tidak mau memeriksa draft laporan thesis saya jika saya baru datang membawanya sebulan menjelang deadline. Kalau yang terjadi seperti itu, apabila ada bagian-bagian tulisan saya yang kurang tepat, saya tidak akan dapat melakukan perbaikan apapun sampai setelah sidang berlangsung.

Permasalahan orang Indonesia dalam menulis, menurut mereka, biasanya menyangkut tata bahasa Inggris yang dipandang kurang baik. Bahkan, salah seorang profesor pernah menyatakan bahwa dari sejumlah mahasiswa internasional yang pernah Beliau temui, pada umumnya mahasiswa Asia yang memiliki kemampuan penulisan dengan tata bahasa Inggris paling jelek. Sementara, yang paling baik adalah para mahasiswa dari Afrika, terutama yang berasal dari negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai official language mereka, misalnya: Kenya, Uganda, Zambia dan sebagainya. Maka itu, sangat disarankan untuk meminta bantuan teman-teman mahasiswa dari negara-negara tersebut untuk mengkoreksi tata bahasa Inggris kita dalam penulisan thesis. Para mahasiswa Afrika juga pada umumnya ramah dan helpful.

Namun, hal tersebut tidak saya terapkan ke diri saya sendiri. Penyebabnya, saya sungkan untuk minta bantuan, karena saya pikir mereka juga sibuk dengan tugas thesis-nya. Alhasil, draft pertama saya mendapat banyak coretan dan komentar dari supervisor saya yang orang Belgia asli. Sampai-sampai membuat Beliau bertanya kepada saya apakah tata bahasa Indonesia jauh berbeda dengan tata bahasa Inggris, karena nampaknya kemampuan penulisan bahasa Inggris saya tidak begitu bagus. Untunglah komentar itu tidak dimaksudkan untuk mengejek, karena selanjutnya Beliau membantu saya memperbaiki penulisannya saya yang kurang baik, terutama pada kalimat-kalimat yang kurang dapat Beliau pahami.

Profesor sendiri tidak terlalu memperhatikan penulisan saya. Bagi Beliau, yang penting saya menguasai materi thesis sehingga dapat menyampaikan dengan baik dan mempertahankannya ketika sidang berlangsung nanti. Mungkin juga karena untuk urusan tersebut Beliau sudah mempercayakan kepada supervisor-nya. Maka, ketika menerima full draft thesis saya, yang Beliau perhatikan hanya pada abstrak-nya. Menurutnya, abstrak-lah yang akan dibaca pertama kali oleh para penguji ketika sidang, sehingga harus dapat mewakili isi secara keseluruhan dengan tata bahasa yang baik. Saya cukup takjub mengetahui si profesor meng-edit dan mengetik sendiri keseluruhan perbaikan draft abstrak saya.

Berinteraksi dengan Pembimbing

Masa efektif pengerjaan inti thesis saya saat itu adalah mulai bulan Februari hingga Agustus, dan sidang dilaksanakan pada bulan September.  Sebaiknya, tanyakan sejak awal kepada pembimbing tentang rencana konferensi, seminar atau cuti liburan mereka dalam kurun masa tersebut. Bulan Juli hingga Agustus merupakan musim panas, di mana pada umumnya mereka mengambil cuti liburan yang cukup panjang. Pengalaman saya, profesor cuti selama dua minggu dan supervisor cuti selama tiga minggu, pada bulan Juli. Bagi orang bule, cuti liburan berarti benar-benar bebas lepas dari urusan pekerjaan, sehingga jangan harap mereka akan merespon jika kita menghubungi, bahkan untuk sekedar menjawab pertanyaan kecil di email.

Usahakan untuk berkomunikasi intens dengan profesor dan supervisor. Jangan sepelekan soal asistensi. Bahkan ini bisa menjadi penilaian tersendiri bagaimana memberi kesan rajin, konsisten, dan disiplin. Pengalaman saya, jika ada supervisor, asistensi dengan profesor secara rutin cukup satu kali dalam sebulan. Sedangkan asistensi dengan supervisor satu kali dalam sepekan.

Adalah penting memberi kesan yang baik kepada pembimbing, terutama supervisor yang lebih sering kita temui. Karena jika kita menjaga hubungan baik dan bersikap positif dengan supervisor, maka kesan itu pun akan sampai kepada profesor. Kita harus mengetahui hal-hal apa yang penting bagi mereka, sehingga kita dapat berusaha pula untuk memenuhinya. Misalnya, profesor pembimbing thesis saya, tipe orang yang sangat menghargai waktu, dan merespon email dengan cepat. Hal ini dicerminkan dengan penggunaan online appoinment scheduling sebagai sarana untuk membuat janji asistensi. Pantang bagi kita untuk datang terlambat, karena Beliau hanya menyediakan 1 hari penuh dalam seminggu untuk para mahasiswa bimbingannya berkonsultasi, dengan masing-masing mahasiswa mendapatkan waktu 30 menit.

Profesor pembimbing saya juga mengharapkan mahasiswa bimbingannya mempunyai kemampuan berpikir, bukan sekedar mengerjakan sesuatu dengan didikte seperti robot. Pengalaman saya, pada awal mengerjakan thesis, saya yang belum memahami karakternya, dengan santai bertanya untuk meminta saran tentang metode apa yang mesti saya gunakan untuk mengerjakan suatu tahap dalam thesis saya. Beliau pun menjawab: “Yes, there are many ways to do that. You can choose to use the method of  A, B or C. It is all up to you. The important thing is, you have to have good reasons why you choose that method, so you can answer questions in the defense. You are an engineer. You have to think.” Walaupun intonasinya rendah dan volume suaranya cukup pelan, kedua kalimat terakhir itu cukup untuk melenyapkan mood saya dalam mengerjakan thesis selama tiga hari, karena saya merasa seolah sudah memberikan kesan malas berpikir.

Defense Day

Sayang sekali supervisor saya berhalangan hadir dalam sidang thesis saya karena harus menghadiri konferensi di negara lain. Namun, Beliau menitipkan beberapa pertanyaan kepada profesor untuk ditanyakan kepada saya di sidang nanti. Karena supervisor yang paling tahu level kemampuan dan pengetahuan saya, maka tadinya saya sedikit khawatir, apakah Beliau akan memberi pertanyaan yang Beliau tahu saya akan bisa menjawabnya, atau sebaliknya.

Tim penguji sidangnya terdiri dari tiga profesor yang berasal dari berbagai jurusan. Ada juga researcher dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air-nya Pemerintah Belgia. Sidang ini sebenarnya terbuka, dalam arti, siapa saja jika mau boleh ikut masuk ke ruang sidang dan berpartisipasi memberi pertanyaan. Kebetulan beberapa teman sekelas saya ikut masuk.

Kesempatan presentasi diberikan dengan durasi tidak lebih dari 20 menit, kemudian dilanjutkan dengan sesi pertanyaan tim penguji. Sebenarnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan jika thesis itu benar-benar kita kerjakan sendiri, karena yang ditanyakan tidak akan jauh-jauh dari seputar metode,  data-data yang digunakan, sedikit teori, hasil yang didapat dan kesimpulan berdasarkan hasil tersebut.

Sidang berjalan dengan lancar. Setidaknya, saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para penguji termasuk profesor pembimbing saya walau beberapa mungkin tidak sempurna. Lebih lagi, saya senang mengetahui supervisor saya memberikan pertanyaan-pertanyaan yang pernah saya tanyakan kepadanya sebelumnya, sehingga jelas saya bisa menjawabnya. Mungkin Beliau ingin menguji apakah saya betul-betul memahami penjelasannya atau tidak.

Penilaian

Penilaian akhir didapat dari kombinasi nilai yang diberikan tim penguji, profesor pembimbing dan supervisor. Penilaian tentunya berdasarkan isi thesis, laporan, performance saat sidang dan kemampuan kita menjawab pertanyaan yang mencerminkan penguasaan kita terhadap materi. Namun, bukan tidak mungkin bahwa ada faktor-faktor non-teknis atau yang sifatnya subjektif yang berkontribusi dalam penilaian.

Pengalaman saya, saya sempat menanyakan kepada supervisor kenapa selama ini banyak mahasiswa yang mendapat nilai rendah dari profesor pada tahun-tahun sebelumnya. Apakah hasil thesisnya jelek, atau mereka tidak bisa menjawab pertanyaan ketika sidang. Supervisor memberi contoh, seorang mahasiswa, hasil risetnya cukup bagus. Ketika sidang pun Beliau bisa memaparkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan cukup baik. Hanya saja menurut supervisor, mereka tidak rutin asistensi, sering menghilang lama tanpa kabar, walau orangnya pandai. Supervisor sedikit memberikan bocoran bahwa Beliau lebih menghargai orang yang berkomitmen, konsisten, rajin dan disiplin memberikan kabar kemajuan riset walaupun sedang tidak ada progress sama sekali. Dengan kata lain Beliau lebih menghargai proses, usaha, kegigihan dan ketekunan, daripada kepandaian atau sekedar hasil akhir.

Saya teringat beberapa kali saya tetap datang menemui supervisor pada jadwal asistensi yang saya tetapkan sendiri, walau saya tidak memiliki kemajuan, sehingga saya datang sekadar untuk bertanya hal-hal yang tidak saya pahami yang menjadi kendala saya dalam mengerjakan. Begitu pula jika saya berhalangan untuk hadir, misal di saat saya harus fokus belajar dalam rangka mengulang ujian, saya memberi kabar bahwa saya akan off asistensi selama dua minggu untuk persiapan ujian.

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, jangan sepelekan urusan asistensi. Biasanya supervisor merupakan orang kepercayaan profesor, sehingga profesor pun sangat mempercayai supervisor dalam memberikan bimbingan dan juga penilaian. Bahkan ada yang bilang, termasuk dalam memberikan nilai akhir thesis! Pengalaman saya, pada akhirnya, saya berhasil mendapat nilai satu poin lebih tinggi melampaui target yang saya tetapkan sendiri.

 

Photo provided by author. 




===========================================
Erin is a civil engineer who obtained an interuniversity Master's degree in Water Resources Engineering at both Katholieke Universiteit Leuven and Vrije Universiteit Brussel. She has been working at the Ministry of Public Works and Housing. In her free time, she enjoys reading, writing and crafting, as well as baking cookies for her children.
Posts | Website | LinkedIn