“Ngapain S1 di Luar Negeri, Mending Nanti Saja Ketika S2”: Benarkah? (Part 2)

1
102

Artikel ini merupakan lanjutan dari seri pembahasan tentang studi S1 mancanegara. Di tulisan sebelumnya, saya telah membahas beberapa poin plus dari program sarjana di luar negeri, khususnya dalam konteks penggunaan medium bahasa Inggris, yaitu (1) menajamkan kemampuan menulis argumentatif dan (2) nyatanya pengaruh positif interaksi multikultural serta pengalaman menjadi minoritas untuk menumbuhkan kepekaan sosial. Kali ini, saya akan fokus mengupas “mitos-mitos” dibalik pola pikir bahwa studi S1 di luar negeri dirasa terlalu dini karena aspek organisasi dan koneksi yang sebaiknya dibangun di Indonesia.

“S1 di Indonesia bisa lebih terlibat di organisasi dan gerakan kemahasiswaan”

S__3498409

Adalah salah besar jika studi sarjana disinonimkan dengan sebatas kata “belajar”. Kehidupan organisasi seperti partisipasi di BEM, gerakan kemahsiswaan dan kegiatan unit kampuslah yang justru merupakan ruh kehidupan seorang mahasiswa. Hal ini pun yang mungkin menjadi alasan kenapa S1 di luar negeri dirasa “terlalu dini” bagi sebagian kalangan: bahwa alangkah lebih baik jika kehidupan organisasi sarjana, sebuah kesempatan sekali sepanjang hidup, pernah dialami semua pemuda dan pemudi bangsa. Di satu sisi, pandangan ini tak bisa dipungkiri karena memang di luar negeri kita mungkin tidak bisa terjun langsung ke demonstrasi, gerakan massal, maupun pengalaman organisasi lain yang kerap dilakukan mahasiswa dalam negeri. Namun, sangatlah tidak tepat jika dikatakan bahwa para pelajar Indonesia di luar negeri tidak mampu melakukan aktivitas yang senada.

Hadirnya Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) adalah bukti kuat premis saya di atas. Layaknya sebuah ikatan BEM, PPI juga memiliki struktur kewilayahan serta jalur komando dan komunikasi yang luas. Di Jepang misalnya, selain keberadaan PPI Jepang di tingkat negara pun juga bergerak cabang-cabang PPI di tingkat chiho (administratif regional) dan kota. Kehadiran PPI ini pun membuat takjub para mahasiswa Jepang dan juga internasional, karena sangat jarang sekali mahasiswa asing dengan kewarganegaraan yang sama bisa memiliki jaringan organisasi yang sekuat PPI. Tak jarang saya mendengar dari teman-teman internasional ucapan seperti, “wah kompak sekali ya pelajar Indonesia, sering bikin acara-acara”.

Sebagaimana di Indonesia, saya bisa belajar bagaimana cara membuat event kebudayaan, cara mencari sponsor dan memulai kerjasama dengan pemerintah setempat. Contoh personal adalah keterlibatan saya di Divisi Kajian Strategis (Kastrat) PPI Jepang. Dengan divisi ini, para pelajar bangsa di Jepang dibuat untuk tetap melek terhadap perkembangan terbaru di Indonesia —melalui diskusi dan metode pencerdasan lainnya— maupun menggodok dokumen-dokumen seperti press release atau official statement.

Melihat bahwa PPI memiliki posisi yang cukup kuat untuk membuat kerjasama (dicontohkan oleh Memorandum of Understanding antara PPI Jepang dan Wali Kota Bogor) dan menggaet perhatian media nasional (dicontohkan oleh kritikan PPI Belanda terhadap proyek reklamasi DKI Jakarta), luasnya pengalaman organisasi di luar negeri tentu tidak bisa disepelekan.

“Sebaiknya bangun koneksi dulu S1 di Indonesia, baru keluar negeri”

S__3498411

Poin penting yang sering saya terima ketika saya mengutarkan niatan kuliah di Jepang adalah, “wah apa nggak mending kuliah disini dulu, biar bisa bangun networking dalam dulu buat karir kamu kedepan”. Tentunya maksud dari argumen tersebut sangat bisa dimengerti; melalui program magang, kerja kuliah praktek, pengabdian masyarakat dan sejenisnya mahasiswa domestik dapat membangun jaringan luas yang akan relevan terutama ketika karir di dalam negeri adalah pilihan mereka —apakah kelak disaat hendak melamar pekerjaan atau ketika menyulam klien-klien awal saat merintis sebuah bisnis. Hanya saja, saya menyesalkan terbentuknya sebuah persepsi, kadang, bahwa seakan-akan para pelajar yang belajar di luar akan sepenuhnya terputus dari asalnya sehingga mereka tidak bisa membangun jaringan yang serupa.

Justru, saya merasakan hal sebaliknya. Seiring dengan semakin gencarnya program beasiswa pemerintah seperti dana LPDP, Bappenas dan semacamnya, lulusan terbaik bangsa beserta pegawai-pegawai pemerintah mulai banyak disekolahkan ke luar; dan Jepang merupakan salah-satu tujuan studi favorit. Di lingkup kota Kyoto saja, saya dapat membangun jaringan dengan, contohnya, para peneliti LIPI, dosen-dosen (bahkan ada juga calon dekan) dari PTN favorit dan juga pegawai pemerintah lokal. Uniknya adalah, banyak dari sahabat main dan diskusi saya justru bukanlah dari kawan sesama S1, namun justru teman-teman S2 dan S3 yang mungkin sudah berkeluarga dan cukup jauh selisih umurnya. Walau begitu, sebagai sesama minoritas seperantauan dan sepenanggungan,  saya tidak merasakan adanya gap dalam berkomunikasi dengan para “ahli” dan “petinggi” tersebut; kami tidak berada pada hubungan top-down melainkan sebagaimana kolega sepantar saja; sehingga saya lebih leluasa bertukar ide dengan mereka. Walau, saya 100% sadar bahwa status mereka jauh di atas saya.

Berteman bersama para profesional ini tak hanya akan merajut jaringan luas saat kembali ke Nusantara, namun juga membuat saya tidak cepat puas; celah-celah ide dan karya saya kerap mendapatkan kritikan dari rekan-rekan S2 dan S3 saya, suatu hal yang boleh jadi akan luput jika saya sekedar berdikusi dengan teman sebaya saya. Di Indonesia, secara relatif, hal demikian mungkin tak sering terjadi karena lingkaran pertemanan lebih terkonsentrasi dengan sesama S1 pun juga karena kuatnya rasa “sungkan” terhadap pelajar yang lebih tua. Sehingga, kesempatan “belajar dari atas” barangkali tidak memiliki tingkat keleluasaan yang sama.

Sebelum layar terkembang

S__3498410

Sub-topik di atas telah merespon beberapa “mitos” yang menghidupkan paradigma bahwasanya studi sarjana di luar dirasa terlalu dini. Namun, sebelum rencana untuk meraih S1 di luar negari diputuskan, teman-teman pembaca tentu harus mengingat batasan bahasan dari tulisan ini, seperti bahwa tulisan ini memfokuskan pada jurusan kelas internasional yang medium pengajarannya adalah Bahasa Inggris. Pun perlu penulis ingatkan bahwa tidak semua universitas di luar negeri itu lebih baik; tak sedikit dari universitas favorit dalam negeri yang memiliki kualitas global dan bahkan menjadi sasaran studi para mahasiswa asing. Beasiswa juga menjadi faktor yang sangat sentral sebelum memfinalkan keputusan.  Secara pribadi saya tidak menyarankan jika teman-teman harus bekerja sambilan untuk menghidupi kesehariaan selama studi, karena dikhawatirkan akan terlalu memberatkan dan bisa menjadi penghambat performa akademik.

Sekali lagi, kita tidak bisa membuat dikotomi dengan mudahnya menyimpulkan mana yang lebih baik. Kesimpulan kembali lagi pada para pembaca dengan kondisi dan keinginan masing-masing; dan saya berharap betul gambaran yang saya tulis setidaknya bisa menjadi pemberat bekal pertimbangan teman-teman sehingga langkah yang teman-teman ambil merupakan pilihan yang arif dan tepat sasaran.

 

Tulisan bagian 1 artikel ini dapat diakses di tautan ini.
Foto: koleksi pribadi penulis.

SHARE
Previous articleMy Winter City and Cooperative
Next articlePPI sebagai Ekstrakurikuler Alternatif ketika Studi di Luar Negeri
Gilang Al Ghifari Lukman
Nestled in Kyoto, Gilang is currently enrolled as an undergraduate student in the College of International Relations, Ritsumeikan University - Japan. As one of the selected fifteen Global Student Ambassadors in the Global Faculty Development in the the University of Tokyo (2015), Gilang is committed to promoting international education through inter alia writing articles, making videos and volunteering in global education fairs. He currently serves as a strategic analyst in Indonesian Student Association (PPI) in Japan and is nominee of a one year bilateral study program in Leiden University (2017), Netherlands. He cherishes his free time by playing table tennis, ice-skating and guiding tourist in his exotic city.
  • Ahmad Fajar Kovazzevic

    Tulisan yang sangat bagus. Diksinya pun tak kalah bagusnya..Good luck for your study. Keep inspiring the people.