Bagaimana berkuliah di Australia Membawa Saya Berkeliling Dunia?

1
164
Andreas dan Delegasi Indonesia lainnya yang mengikuti Harvard Project for Asian and International Relations 2015 di Manila

Bermimpi bekerja untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Andreas Budiman mengisi masa kuliahnya di University of Melbourne, Australia dengan berkeliling dunia melalui berbagai forum internasional. Berikut pengalaman penulis dalam memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh kampusnya tersebut.

Berkeliling dunia adalah mimpi terbesar saya sejak kecil. Pergi berkelana ke negeri orang, melihat pemandangan-pemandangan yang selama ini hanya bisa saya lihat dari layar kaca, mencicipi rasa-rasa yang baru dan terutama belajar memahami budaya dan cara pikir yang berbeda. Saya tidak pernah menyangka bahwa dapat melakukan semua itu pada masa kuliah, pada masa dimana saya masih menginjak umur yang ke-23. Dalam proses untuk meraih mimpi tersebut, pendidikan saya di Australia memainkan peran yang sangat besar sebagai berikut:

  • Beragam Kesempatan Yang Ditawarkan

Sistem pendidikan di Australia menawarkan kesempatan yang tidak terbatas untuk siswa, mulai dari kesempatan untuk melakukan pertukaran pelajar ke berbagai negara sampai kesempatan untuk mengikuti berbagai perlombaan berskala Internasional. Kesempatan ini didukung dengan kerjasama antara pihak universitas dengan berbagai institusi bergengsi di berbagai negara. Sebagai contoh,  kampus saya yaitu the University of Melbourne, menawarkan kesempatan untuk melakukan pertukaran pelajar ke lebih dari 180 universitas di 39 negara. Angka tersebut tidak termasuk universitas yang dapat diambil secara independen (Ya! Jika pelajar merasa bahwa rekan kerjasama yang dimiliki oleh universitas kalian kurang sesuai dengan yang kalian mau, kalian dapat melakukan aplikasi secara independen. Pihak universitas akan dengan senang hati membantu dalam kapasitas mereka).

Di dalam proses untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan tersebut, pihak universitas juga akan dengan senang hati membantu. Informasi yang tersedia di halaman resmi universitas disusun dengan sangat komprehensif untuk membantu setiap pelajar melakukan proses persiapan secara langkah demi langkah. Mulai dari video mengenai pengalaman dari mereka yang telah melakukan pertukaran pelajar hingga artikel mengenai apa saja yang harus dipersiapkan dapat di akses dengan sangat mudah. Merasa bahwa informasi yang tersedia masih kurang ? Pelajar dapat langsung datang ke pusat informasi siswa untuk meminta bantuan secara langsung. Tidak tertutup juga untuk bantuan finansial. Pihak universitas akan dengan senang hati memberikan bantuan finansial kepada pelajar berprestasi yang dapat mengharumkan nama universitas melalui pertukaran pelajar atau perlombaan yang mereka ikuti. Biasanya bantuan finansial yang diberikan dapat berupa uang jajan selama mengikuti pertukaran pelajar, tiket pesawat maupun biaya akomodasi.

Sebagai contoh adalah pada tahun lalu saat saya berkesempatan untuk mengikuti pertukaran pelajar selama 1 semester di Jean Moulin University Lyon III, Perancis. Proses untuk melakukan pertukaran pelajar dapat dibilang cukup panjang, dimana setiap pelajar diharuskan untuk berdiskusi dengan dosen mereka mengenai keputusan dan pelajaran mereka, mengisi berbagai macam formulir dan menunggu untuk proses seleksu yang cukup lama. Tetapi pengalaman saya di dalam proses tersebut bukan sebuah pengalaman yang buruk, justru menyenangkan. Setiap dosen dan staf universitas yang saya temui dan minta bantuan benar-benar bersedia untuk membantu dan mendukung saya untuk mencapai tujuan saya. Saya masih ingat saat mengirimkan sekitar puluhan e-mail kepada dosen pembimbing saya mengenai pelajaran yang akan saya ambil di Perancis. Pada setiap e-mail, dosen tersebut selalu membalas dengan menyemangati dan memotivasi saya.

Dengan beragamnya kesempatan dan dukungan yang tersedia, di University of Melbourne, pelajar dituntut untuk secara aktif mencari kesempatan-kesempatan yang cocok dengan minat yang dimiliki, dan yang pasti berusaha dengan giat untuk mendapatkan kesempatan itu.

Andreas bersama delegasi Indonesia yang mengikuti G200 youth forum yang di adakan di Jerman,
Andreas bersama delegasi Indonesia yang mengikuti G200 youth forum yang di adakan di Jerman
  • Tidak Semudah Itu!

Wah, dengan banyaknya kesempatan dan bantuan yang diberikan, sepertinya enak sekali ya? Tapi semuanya tidak semudah itu!  Setiap pelajar harus bersaing dengan pelajar-pelajar yang lain untuk mendapatkan kesempatan yang ditawarkan. Mereka harus menunjukkan bahwa pihak universitas tidak salah untuk memilih mereka. Standar yang di pasang oleh universitas di Australia juga biasanya cukup tinggi, tergantung dari perlombaan dan universitas apa yang akan diikuti karena semakin bergengsi program perlombaan atau universitas yang ingin diikuti, akan semakin tinggi standar seleksinya.

Pihak universitas biasanya pertama kali akan melihat prestasi akademis dari setiap pelajar serta melihat prestasi apa saja yang sudah dicetak diluar dari prestasi akademis. Disini proses yang panjang dan melelahkan dimulai. Siswa harus berjuang untuk mendapatkan prestasi akademis yang tinggi yang mungkin memerlukan perjuangan untuk menyelesaikan tugas dan belajar di perpustakaan setiap malam, ditambah dengan tetap melakukan tanggung jawab kalian dengan aktifitas non-akademis seperti menjadi bendahara di club universitas maupun mengikuti program magang.

Tetapi dengan semua persaingan dan usaha keras tersebut, justru ketika kalian berhasil untuk mendapatkan kesempatan yang kalian inginkan, kalian tahu bahwa kesempatan tersebut memang benar-benar pantas diperjuangkan. Kalian sadar bahwa kalian telah berkembang jauh baik secara akademis dan personal dan kalian siap untuk menghadapi semua tantangan di negara yang baru. Karena kemungkinan besar tantangan yang akan kalian hadapi di negara yang baru akan jauh lebih sulit.

Tantangan ini saya rasakan ketika saya berada di Korea Selatan pada tahun 2015, mewakili The University of Melbourne dalam Harvard World Model United Nations. Kompetisi tersebut merupakan salah satu kompetisi MUN paling bergengsi, mengumpulkan sekitar 3000 pelajar-pelajar terbaik dari seluruh dunia untuk berkompetisi selama 1 minggu. Persaingan yang terjadi tidaklah mudah karena setiap peserta datang dengan persiapan yang benar-benar matang dilengkapi dengan materi riset dan argumen yang telah dipersiapkan dengan baik. Dalam kondisi seperti ini seringkali yang menjadi pembeda antara mereka yang mampu keluar menjadi pemenang dan yang tidak adalah seberapa dewasa diri mereka di dalam suasana yang sangat kompetitif dan seberapa mampu mereka untuk tetap konsisten di dalam performa mereka di bawah tekanan. Semua hal yang saya sebutkan tadi telah dipersiapkan melalui sistem pendidikan di Australia. Semua persaingan dan tuntutan berkuliah dengan standar sangat tinggi telah mempersiapkan saya untuk menghadapi dunia luar.

Andreas dan Mahasiswa dari seluruh dunia yang mengikuti program magang di Kantor PBB, Geneva
Andreas dan Mahasiswa dari seluruh dunia yang mengikuti program magang di Kantor PBB, Geneva.
  • Komunitas Yang Sangat Supportif

Diluar dari beragam bantuan yang disediakan oleh pihak universitas, berbagai komunitas yang ada baik di lingkungan universitas ataupun diluar memainkan peran yang sangat besar bagi saya untuk mencapai mimpi berkeliling dunia. Australia terkenal sebagai sebuah negara dengan masyarakat yang sangat ramah dan terbuka. Masyarakat Australia yang saya temui sangat berkenan untuk menolong warga negara asing yang membutuhkan bantuan, sekecil apapun bantuan tersebut. Mulai dari menanyakan arah jalan sampai dengan membantu proses pindahan tempat tinggal, mereka akan dengan senang hati memberikan bantuan. Bantuan juga sangat terbuka juga apabila kalian memiliki kesulitan dalam hal akademis. Disini kalian dapat membentuk grup belajar untuk berdiskusi dengan teman sekelas.

Komunitas yang sangat supportif ini menciptakan suasana yang sangat kondusif bagi setiap pelajar di Australia untuk mengejar mimpi mereka. Ketika saya sedang jenuh ataupun mengalami kesulitan belajar, saya dapat langsung menelepon teman saya untuk berbagi, atau saya dapat langsung pergi ke kafe terdekat untuk sekedar mendapatkan sapaan ramah dari sang barista untuk mengembalikan semangat saya.

SHARE
Previous articleSeoulTech International Summer School: Making the most of your summer break
Next articleMy Winter City and Cooperative
Andreas Budiman
Andreas Budiman is a Bachelor of Arts graduate from The University of Melbourne, majoring in Sociology, and Media & Communication. Driven by his strong passion in political, social, and international affairs, he has represented Indonesia as a delegates in a number of International competitions and forums, such as the Harvard Project for Asian and International Relations 2015 in Manila, Philippines, Harvard World Model United nations 2015 in Seoul, Republic of South Korea, 7th Global Social Business Summit in Berlin, Germany, and Youth Assembly in the United Nations 2016 in New York, U.S.A. With all of those experiences he hopes he will have a better grasp on how to work hand-in-hand for the betterment of the society as a whole. He just finished interning for The Executive Office of the President of the Republic of Indonesia as the communication specialist.
  • Yudha

    Best