Melanjutkan S2 ke Luar Negeri, Kapankah harus Memulai Persiapan?

0
312

Kuliah di luar negeri adalah impian bagi banyak orang di Indonesia. Beragam universitas, negara, dan program studi telah tersedia di luar sana sebagai alternatif pilihan. Tentunya persyaratan spesifik satu universitas serta program satu dan lainnya berbeda. Akan berbeda juga jika kita sebagai calon mahasiswa mengincar beasiswa. Melalui artikel ini, saya akan membahas sejak kapan dan apa yang harus dipersiapkan secara umum untuk melanjutkan S2 ke luar negeri melalui program beasiswa. Artikel ini juga bisa relevan bagi kalian yang ingin melanjutkan S2 ke luar negeri secara general dan melalui self-support.

Untuk menjawab pertanyaan dari judul di atas, menurut pengalaman saya, jawaban paling ideal adalah semenjak memulai program S1 di Indonesia. Mengapa? Karena kebanyakan beasiswa, bahkan sekedar program dan universitas terkemuka mensyaratkan GPA atau IPK yang tinggi dari transkrip S1 pelamar. Jadi maksudnya, untuk menargetkan IPK yang tinggi, kita harus sangat ambisius dari semester awal dan berusaha sekuat tenaga untuk mendapat nilai terbaik dari setiap ujian di kuliah S1 kita di Indonesia. Sekedar cum laude saja tidak cukup, dan percaya atau tidak, ada banyak sekali mahasiswa Indonesia yang IPK-nya di atas 3,70. Di program beasiswa tertentu, dalam tahap seleksi berkas awal, tingginya nilai IPK biasanya menjadi salah satu pertimbangan utama.

Selain IPK, lalu apa lagi?

Dari semester-semester awal S1, saya menganjurkan kamu untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial dan kemahasiswaan yang sesuai dengan minatmu. Ingat, sesuai dengan minatmu, bukan sekedar ikut karena bujukan teman atau gengsi. Dengan ikut serta dalam kegiatan dan organisasi tersebut, bukan hanya kamu menunjukkan ’keikutsertaan’ yang tertuang dalam CV, tapi kamu juga akan mempertajam soft skill berorganisasi, berlatih mengemukakan pendapat, dan menjadi pemimpin. Karakter seperti ini seringkali dicari dalam beberapa program beasiswa. Jujur, setelah saya kuliah di Denmark, di negara di mana kebebasan beropini dan mengemukakan pendapat sangat dihargai, dianjurkan, dan dijunjung tinggi, dan setelah saya membandingkan dengan apa yang ’diajarkan’ dan ditawarkan oleh kebanyakan sistem pendidikan di Indonesia, saya menemukan bahwa seandainya di Indonesia saya tidak pernah terlibat dalam organisasi dan kelompok di mana saya menjadi pemimpin, saya akan mengalami kesulitan untuk belajar, hidup, dan ”survive” di Denmark. Mengapa? Karena di sistem pendidikan Indonesia secara general, siswa diajarkan untuk ”menghafal” dan ”patuh”, berbeda dengan sistem pendidikan di Denmark, di mana mereka diajarkan untuk kritis, berpendapat, dan berargumentasi secara logis.

Dalam dunia perkuliahan S2 saya di Denmark, saya tidak pernah diminta untuk menghafal. Yang mereka harapkan dari mahasiswa adalah untuk “memahami” dan beropini setelah membaca buku dan paper. Dalam beberapa beasiswa, kalian akan menemukan tahap seleksi di mana kalian diminta beropini di dalam sebuah kelompok, maupun secara individu dalam tahap interview.  Jika kita selama ini dibiasakan untuk hanya duduk anteng, menghafal, dan ”patuh”, percaya pada saya, bahwa kalian akan mengalami kesulitan dalam tahap seleksi tersebut, dan lebih parah lagi, kesulitan ketika sudah hidup di luar negeri, terutama di Western countries. Mereka yang menyeleksi kamu di tahap seleksi beasiswa bisa mengetahui apakah kamu tergolong mahasiswa yang kritis atau sekadar “pintar menghafal”. Yang hanya pintar menghafal, biasanya tidak diprioritaskan, percaya atau tidak, karena sistem pendidikan di luar negeri sana bukan membaca, menghafal, lalu dapat A.

Setelah kemampuan berpikir kritis, lalu apa lagi?

Bahasa Inggris, bahasa Inggris, bahasa Inggris. (jika kamu berniat melanjutkan pendidikan dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar). Bukan hanya beasiswa, melainkan sekedar diterima di program tujuan di universitas di luar sana, tentunya ada syarat skor IELTS atau TOEFL minimal. Sebaiknya kamu berlatih IELTS atau TOEFL minimal satu tahun sebelum kamu mendaftar program studi maupun beasiswa yang kamu inginkan. Yang penting untuk diingat adalah, jangan sekedar menargetkan untuk mendapat nilai ”lulus minimal”. Misalnya, jika syarat untuk diterima adalah untuk memiliki skor IELTS 6,5, maka kamu hendaknya berpikir untuk mendapatkan skor IELTS minial 7,0. Kemampuan ”reading” dan ”writing” itu sangat penting. Saya menganjurkan kamu untuk berlatih ”academic writing” juga, terlepas dari IELTS atau TOEFL. Bagi saya secara personal, meskipun saya sudah cukup PD dengan kemampuan berbahasa Inggris saya melihat dari nilai bahasa Inggris saya yang selalu bagus dan juga keikutsertaan dengan klub English debating, academic writing adalah lain perkara yang ternyata… susah. Mengapa susah? Karena dulu di Indonesia, saya berkuliah dalam program berbahasa Indonesia dan tidak terbiasa membaca buku dan paper ilmiah berbahasa Inggris. Cara berlatih academic writing adalah dengan pertama, membiasakan membaca paper ilmiah berbahasa Inggris sesuai bidangmu, dan kedua, berlatih menulis karya ilmiah berbahasa Inggris lengkap dengan segala metodologinya. Hal ini tidak akan dites dalam seleksi beasiswa, akan tetapi akan sangat berguna untuk “survive” nanti setelah kamu berkuliah di luar negeri. Penting juga bagi kamu untuk memiliki mentor yang membantumu untuk mengasah skill academic writing, misalnya dosen kamu dulu yang pernah berkuliah di luar negeri. Atau kamu juga bisa mengikuti kursus English academic writing secara terpisah.

Yang terakhir…

CV, surat rekomendasi, dan motivation letter. CV juga menjadi pertimbangan penting dalam seleksi beasiswa. Memang terdengar sangat susah, tapi dalam praktiknya jika kamu memiliki pengalaman bekerja dalam bidang atau di perusahaan yang ”lebih memiliki impact”, kemungkinan besar kamu akan terlihat lebih atraktif. Untuk surat rekomendasi, saya menyarankan agar surat ini ditulis oleh atasan, mantan atasan di tempat bekerja, mantan dosen, ataupun mantan atasan di tempat kamu terlibat dengan organisasi sosial. Semakin baik hubunganmu dengan mereka, akan semakin menunjang. Sedangkan untuk motivation letter, saran saya, kamu harus menunjukkan minat yang tinggi terhadap program yang akan kamu tuju dan menemukan relevansinya dengan background kamu, cita-cita kamu, dan ”impact” apa yang akan kamu berikan ke masyarakat. Masing-masing program beasiswa tentunya berbeda mengenai kriteria dan persyaratan ini, akan tetapi secara umum kurang lebih seperti ini.

Semoga tips yang saya berikan berguna ya. Salam semangat!

SHARE
Previous articleHow I Learned to Stop Worrying and Love the Job – Part 2
Next article“Habis Lulus Mau Ngapain?”
Ethenia Novianty Windaningrum
Ethenia is a Master's student in Aarhus University, Denmark. Currently she is taking MA in Corporate Communication in the final year. Before embarking a Master's degree, she worked in Jakarta in several companies for some years, ranging from advertising agencies, StartUp, and government institution. In her spare time, she enjoys traveling, dancing, participating in some voluntary activities, attending networking events, and writing stories. You could check her blog at http://www.vividinblur.blogspot.com to know more about life in Denmark.