Lanjut S3 ke U.S. Dengan Ijazah S2 Dalam Negeri

1
41

Kuliah di luar negeri sudah menjadi cita – cita sejak SMA, tapi semua memang ada waktunya asalkan tetap berusaha. Mengambil jurusan bahasa Inggris sewaktu kuliah S1 tentunya memperbesar kesempatan, apalagi saat itu (2004 – 2008), sudah ada program beasiswa short course untuk mahasiswa. Saat teman-teman bahkan junior saya berhasil mendapatkan beasiswa tersebut, saya tidak ikut mencoba. Kenapa? Yah semua ada waktunya. Saya menikah di bangku kuliah, hamil, dan lebih fokus untuk menyelesaikan kuliah saja yang syukurnya bisa wisuda tepat waktu (pas hamil tua pula hehe).

Impian itu tetap ada, jadi saya mulai melamar beasiswa S2 ke luar negeri. Panggilan wawancara pertama datang dari beasiswa ADS (sekarang AAS), terbanglah saya dari Lombok ke Bali, sayang belum beruntung. Kecewa? Yah tentu saja. Kapok? Ya tidak donk malah setiap tahun saya tetap melamar beasiswa ini. Tapi setelah itu tidak ada panggilan wawancara lagi, yeah lumayan rontok rasanya hati kenapa kok tidak dapat juga (goloook mana golook!). Akhirnya tanpa berhenti melamar AAS, saya juga melamar beasiswa S2 Fulbright. Tahun 2011 saya mendapat panggilan interview ke Jakarta (kalau yang ini tiket pesawatnya ditanggung). Dan hasilnya? Yah belum beruntung, bahkan tahun berikutnya saya melamar lagi, tapi Fulbright tidak memanggil interview lagi.

Dan begitulah waktu berlalu tapi rezeki beasiswa belum mendekat juga sampai akhirnya karena tuntutan pekerjaan, dosen harus S2 jadi saya pun terpaksa melanjutkan S2 dalam negeri. Getir memang rasanya, dulu saya pikir dan banyak yang bilang (termasuk mantan dosen), lulusan S2 dalam negeri akan susah lanjut S3 ke luar negeri. Apalagi saya tidak lanjut ke perguruan tinggi top di Jawa sana, karena dadakan lanjut kuliahnya, jadi saya lanjut S2 di Mataram saja, bukan di almamater S1 dulu (PTN), tapi di insitut swasta tempat saya mengajar: IKIP Mataram.

Rencana Tuhan pun sudah mulai berjalan tanpa saya sadari sejak saya menjadi mahasiswa Pascasarjana  di tahun 2012. Saya dipertemukan Tuhan dengan seorang guru besar yang begitu banyak ilmunya dan bijaksana, Prof. Abbas Baddib, M.A, M.A, Phd (Alm.). Melalui beliau lah saya mengenal macro linguistics dan mulai jatuh hati dengan endangered languages, mungkin kalau tidak bertemu beliau, saya akan selalu terfokus pada teaching dan tidak akan pernah terpikir untuk mengkaji bahasa ibu sendiri, bahasa Sasak. Memasuki semester ketiga, saya pun mulai menulis tesis yang fokusnya adalah applied linguistics, interfensi bahasa Sasak ke dalam bahasa Inggris. Dan memang rencana Tuhan sedang berjalan, subjek penelitian saya waktu itu terdiri dari beberapa kelompok orang Sasak yang sedang kuliah bahasa Inggris, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Maka saya pun mulai berselancar di dunia maya untuk berkomunikasi dengan teman-teman yang sedang studi di luar negeri. Sampai akhirnya saya terhubung kembali dengan kakak tingkat saya sewaktu S1, Ita Mayasari yang sedang menempuh TESOL di Amerika dengan beasiswa Fulbright (Ita akhirnya pulang ke tanah air dan kami menjadi sahabat). Saya juga membutuhkan native speakers sebagai subjek, dan Ita menghubungkan saya dengan kawannya yang sedang S3 jurusan Linguistics di The University of Iowa, Eli Asikin-Garmager. Uniknya, Eli juga akan penelitian tentang bahasa Sasak di Lombok!

‘Simbiosis mutualisme’ pun terjadi, setelah saya wisuda (diakhir semester ketiga, Alhamdulillah kurang dua tahun), Eli datang ke Lombok dan saya membantu dia dengan penelitiannya dan memperkenalkannya dengan akademisi di Mataram yang akhirnya juga menjadi partner penelitiannya. Eli pun membantu saya dengan surat rekomendasi yang saya pakai melamar beasiswa AAS (lagi-lagi hehe) dan Fulbright DIKTI. Dan akhirnya saya kali ini berhasil mendapatkan beasiswa DIKTI yang didanai oleh Fulbright, tapi saya sadar keberhasilan saya karena memang saya benar-benar mengganti strategi dan memberikan totalitas saya dalam persiapan, berikut saya share ‘strategi’ dan proses seleksi yang saya lalui untuk bisa lanjut S3 ke US dengan beasiswa Fulbright.

  1. Siapkan mental dan percayakan pada Tuhan

What you believe is what you get. Percaya diri saja dan percaya pada Tuhan. Beasiswa Fulbright sangat prestigious dan kata orang (memang benar juga), sulit didapatkan. Banyak pula yang getir duluan kalau soal lanjut S3, apalagi ke luar negeri dengan modal ijazah S1 dan S2 dalam negeri. But God knows your struggle, jadi tidak ada yang tidak mungkin asalkan kita tetap berusaha dan berdoa; work hard, pray (bukan play) harder!

  1. Terbuka dan jangan malu meminta masukan dan support

Yang saya rasakan paling berbeda dari upaya terakhir saya ini, saya lebih terbuka. Jangan malu meminta saran dari yang lebih berpengalaman dan support dari orang-orang terdekat. Dari proses aplikasi, menulis study objective, personal statement dan research proposal itu saya minta bantuan proof reading, bahkan sampai tahap selanjutnya juga selalu terbuka untuk diskusi, intinya jangan malu. Support orang-orang terdekat juga penting, saya bersyukur punya suami (kak Jan tersayang hehe) yang selalu memberikan izin dan menyemangati serta teman-teman setia, Ita dan Shobah (Almr., Shobah meninggal saat saya 3 bulan di U.S.).

  1. Siapkan research proposal

Perlu untuk dipahami bahwa study S3 itu tentunya berbeda dengan S2, lebih mendalam dan pastinya research-based. Secara proses seleksipun sudah berbeda, saya pikir semua beasiswa untuk S3 mewajibkan pelamar untuk melampirkan research proposal. Research proposal yang saya maksud di sini bukan chapter 1, 2, 3 yang tebal itu lho tapi beberapa lembar ringkasan research yang akan kita lakukan untuk disertasi S3 kita nanti. Tapi jangan salah, menulis dengan jumlah halaman yang dibatasi itu sering kali lebih menantang daripada kalau kita tidak terikat jumlah halaman. Setiap kata jadi begitu berharga (lebay hehe), lima hingga tujuh lembar itu harus bisa menjabarkan dengan jelas apa yang kita akan teliti dengan rumusan masalah yang feasible, background yang kuat, dan metodologi penelitian yang sesuai. Boleh dikatakan research proposal ini merupakan bagian paling penting dalam proses menuju S3. Kalau bisa usahakan research proposal yang Anda tulis masih berkaitan dengan tesis S2 dahulu, tapi ini juga tidak wajib dan seberapa berhubungannya juga relatif, yang penting research proposal kita harus jelas dan bisa memuluskan ke tahap selanjutnya.

  1. Segera hunting advisor

Kalau research proposal sudah siap, segeralah menghubungi professor yang kira – kira tertarik dengan research kita. Ya, jangan menunggu dipanggil wawancara dulu karena mendapatkan advisor itu juga butuh waktu, saya rasa itu juga kenapa Fulbright tidak menetapkan ini sebagai syarat wajib untuk apply tapi pastinya akan memberikan nilai tambah ketika interview nanti. Jadi di sini ada dua proses yang berjalan bersamaan, melamar beasiswa dan melamar advisor. Bagaimana cara mendapatkan advisor? Bersahabatlah dengan Google dan artikel-artikel di bidang yang berkaitan dengan research proposal anda. Kalau sudah tahu yang paling pas, segeralah email professor idaman anda. Tahap ‘pedekate’ ini bisa dengan tembak langsung atau ‘basa-basi’ dulu. Saya pilih cara tembak langsung saja, dengan bahasa yang sopan dan meyebutkan kalau bidang beliau berhubungan dengan rencana research saya, dan sayapun langsung melampirkan research proposal saya. Hubungilah beberapa professor sekaligus, jangan terpaku pada seorang saja. Untuk diketahui, ini juga sekaligus merupakan tahap memilih universitas. Jadi nanti ketika interview, ketika ditanya mengenai universitas tujuan dan alasannya, jawabannya akan lebih mengena kalau sudah ada professor yang support research anda. Dan pengalaman saya, kalau professor itu benar-benar tertarik dengan research kita, beliau akan benar-benar memperjuangkan supaya kita diterima di universitas tersebut.

  1. Persiapkan diri untuk interview

Mendapatkan panggilan interview itu campur aduk senang dan galau, jadi harus benar-benar persiapan. Tulis kira-kira pertanyaan yang nanti ditanyakan dan berlatihlah interview dengan kawan atau di depan handphone sambil direkam jadi nanti bisa diputar lagi. Tapi interview lebih mengenai mental, bukan menghafal, yang penting mengusai research proposal dan semua yang kita tulis dalam aplikasi kita. Untuk DIKTI Funded Fulbirght, interviewers-nya ada empat orang. Dua orang Amerika dan dua dari Indonesia (DIKTI dan alumnus Fulbright). Terus terang saja menurut saya pewawancara dari pihak DIKTI lah yang paling menguji mental, haha saya ingat beberapa kawan yang nangis kalau ‘bapak itu’ yang melakukan wawancara. Intinya tenang saja, jangan panik kalau ‘diserang’ dan pertanyaan untuk S3 juga biasanya lebih ke research kita. Akhirnya saya dinyatakan lulus beberapa minggu kemudian, alhamdulillah senangnya tapi juga sedih karena Prof. Abbas, meninggal tidak lama sebelum pengumuman dan kata-kata terakhir beliau di hari meninggalnya juga “I think you will make it, Nisa”.

  1. Persiapkan IBT

Tahap selanjutnya yaitu Internet Based TOEFL yang sangat berbeda dari TOEFL ITP. Saya waktu itu langsung membeli buku lengkap dengan CD-nya. Belajar juga dari Youtube dan banyak latihan dengan kawan. Buat diri familiar dengan model ujiannya seperti bagaimana menjalani test speaking dengan komputer beserta timing-nya. Fulbright memberikan kesempatan test dua kali dan semuanya free (biaya test, transportasi dan akomodasi).

  1. Seleksi universitas

Setelah hasil test IBT keluar, maka Fulbright akan mengirim lamaran candidates ke lima universitas yang kita pilih dan atau disarankan oleh pihak Fulbright. Menunggu dan menunggu, ah saya ingat masa galau itu. Kalau beasiswanya dapat tapi tidak ada universitas yang menerima, juga artinya tidak bisa lanjut. Apalagi sudah ada kabar-kabar penolakan berdatangan, yang artinya peluru berkurang plus pertanyaan dan komentar-komentar orang sekitar “kapan berangkat?” atau “loh kirain sudah di U.S.?” hehe sabar dan minta didoakan saja.  Akhirnya sambil menunggu, saya berkomunikasi lagi dengan professor yang bersedia saya pinang dulu, Robert Blust, beliau ini sudah seperti the living legend of Austronesian Languages dari University of Hawaii at Manoa. It turned out that ternyata ada masalah dengan aplikasi saya yang belum sampai ke pihak fakultas dan beliau pun segera membantu agar saya segera diproses. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, kalau seorang professor (apalagi senior) tertarik dengan research Anda maka dia akan benar-benar memperjuangkan. Saat itu malah semua seats untuk incoming PhD students sudah penuh, tapi saya tetap bisa diproses. Dan Akhirnya setelah interview via Skype dengan lima orang Professor (admission committee), saya dinyatakan lulus.

 

Akhirnya setelah proses yang panjang dan berliku-liku saya pun resmi menjadi awardee dan berangkat ke US pada tanggal 22 Juli 2016. Tidak langsung ke Hawaii tapi mengikuti preacademic training dahulu di San Diego. Ini juga bukan berarti perjuangan selesai, tapi baru dimulai. Jauh dari keluarga (orang tua, suami dan dua anak) dan belajar di negeri orang sudah pasti penuh tantangan. Tapi saya bersyukur bisa sampai disini, bahkan I got more than I expected, di sini saya tidak hanya belajar tapi juga bekerja sebagai seorang language consultant, di mana saya membantu di kelas field method untuk mendokumentasikan bahasa Sasak, bahasa daerah saya. Satu lagi yang saya syukuri, untuk bidang ilmu Linguistics dengan fokus pada Language Documentation, University of Hawaii termasuk sudah diakui sebagai the best university in the U.S. (even in the world). God indeed knows your struggle, so never give up!

Semoga tulisan saya ini berguna dan bisa membuat kawan – kawan lebih semangat lagi.

  • Christabel Nelson

    Nama saya nelson christabel, dan saya berbasis di USA … hidup saya kembali !!! Setelah 1 tahun berpisah, suami saya meninggalkan saya dengan dua anak. Saya merasa seperti hidup saya akan berakhir saya hampir bunuh diri, saya secara emosional turun untuk waktu yang sangat lama. Berkat kru mantra yang disebut Dr odudu yang saya temui secara online. Pada satu hari yang setia, saat saya browsing melalui internet, saya menemukan banyak kesaksian tentang kastor mantra ini. Beberapa orang bersaksi bahwa dia membawa kekasih Ex mereka ke belakang, beberapa memberi kesaksian bahwa dia memulihkan rahim, menyembuhkan kanker, dan penyakit lainnya, beberapa memberi kesaksian bahwa dia bisa memberikan mantra untuk menghentikan perceraian dan sebagainya. Saya juga menemukan satu kesaksian khusus, ini tentang seorang wanita bernama Sonia, dia memberi kesaksian tentang bagaimana dia mengembalikan kekasih Ex-nya dalam waktu kurang dari 2 hari, dan pada akhir kesaksiannya dia menjatuhkan alamat e-mail Dr odudu. Setelah membaca semua ini, saya memutuskan untuk mencobanya. Saya menghubungi dia via email dan menjelaskan masalah saya padanya. Dalam 48 jam saja, suamiku kembali padaku. Kami memecahkan masalah kami, dan kami bahkan lebih bahagia dari sebelumnya, Dr odudu benar-benar orang yang berbakat dan saya tidak akan berhenti mempublikasikannya karena dia orang yang hebat … Jika Anda memiliki masalah dan Anda mencari yang nyata dan asli Mantra kastor untuk memecahkan semua masalah Anda untuk Anda. Coba Tinggi kapan saja untuk menghubungi dia via email, dia mungkin menjadi jawaban atas masalah Anda. Inilah kontaknya: odudumaraba@yahoo.com