Anak Madrasah Mengejar Mimpi ke Negeri Paman Sam

2
145
Bersama penerima Beasiswa Global UGRAD 2015-16 dari Region Asia Selatan dan Asia Pasifik ketika menghadiri End-of-Program Workshop di Washington D.C.

Ever tried. Ever failed. No matter. Try Again. Fail again. Fail better.Samuel Beckett

Kita semua memiliki cita-cita dan mimpi. Namun tanpa diiringi oleh kemauan untuk berusaha dan berdoa, seseorang yang lain akan ‘mempekerjakan’ kita untuk membangun mimpi mereka. Pernah gagal itu wajar. Penah salah itu manusiawi. Yang semestinya kita lakukan adalah selalu belajar dari kegagalan dan kesalahan kita dan melakukan hal yang lebih baik di masa mendatang.

Saya dan salju pertama saya di Chambersburg, Pennsylvania
Saya dan salju pertama saya di Chambersburg, Pennsylvania

Nama saya Alvin, mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, IAIN Raden Intan Lampung. Saya berasal dari keluarga sederhana. Ayah saya mengabdi sebagai guru Madrasah Ibtidaiyah di Jati Agung, Lampung Selatan, sedangkan ibu saya merupakan seorang ibu rumah tangga. Sebelumnya tak pernah terpikirkan dalam benak saya bahwa Bahasa Inggris, mata pelajaran yang tidak saya sukai semenjak bersekolah di Madrasah Tsanawiyah (setara SMP), bisa membawa saya jauh ke Negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Paradigma saya mengenai Bahasa Inggris yang sulit mulai perlahan berubah ketika guru saya, Mr. Masdar Helmi, membantu saya melihat Bahasa Inggris dari sudut lain; Bahasa Inggris sebagai gerbang menuju ilmu pengetahuan yang lebih luas. Ketika saya masih di Madrasah Tsanawiyah, beliau beberapa kali membawa koleganya yang berasal dari luar negeri untuk diperkenalkan kepada saya dan teman-teman saya. Semenjak itu, saya mulai menyukai pelajaran Bahasa Inggris.

Saya adalah orang yang suka bertemu orang baru dan memiliki keinginan untuk pergi menjelajah tempat yang belum pernah saya datangi. Terlebih ketika saya berada di Kelas XII di Madrasah Aliyah (setara SMA), keinginan untuk belajar di luar negeri mulai tumbuh. Alasannya pun sederhana – saya ingin belajar Bahasa Inggris di negara yang menggunakan bahasa ini sebagai alat komunikasi sehari-hari. Keadaan ekonomi keluarga yang sederhana, membuat saya memikirkan solusi selain pembiayaan mandiri – beasiswa. Sebuah buku tentang pengalaman belajar salah satu mahasiswa Indonesia di India, negara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa keduanya, menarik minat saya untuk mendaftar program beasiswa dari Pemerintah India yakni ICCR (Indian Council for Cultural Relations). Saya pun mulai mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan program ini, bertanya mengenai tips beasiswa kepada jaringan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di India melalui Facebook, dan mencoba memenuhi segala persyaratan yang diminta. Berbekal keinginan saya untuk belajar di sana, saya memberanikan diri untuk melengkapi seluruh persyaratan, termasuk mengisi formulir dan menulis esai yang telah ditentukan temanya. Selama proses ini, saya belum mengutarakan niat saya untuk belajar di India kepada orang tua saya, karena jangankan untuk ke luar negeri, bersekolah di universitas selain di Provinsi Lampung pun tak diizinkan. Setelah hampir semua persyaratan saya penuhi, saya baru memberitahu kedua orang tua saya mengenai niatan ini. Mereka pun terkejut dengan semua yang telah saya siapkan. Namun dengan berbagai pertimbangan, orang tua saya pada akhirnya tidak mengizinkan saya untuk mengirim aplikasi beasiswa ini ke Kedutaan Besar India di Jakarta. Saya pun harus menunda niat saya untuk pergi belajar ke Negeri Mahatma Gandhi itu.

Lulus dari Madrasah Aliyah, saya melanjutkan studi saya di Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, IAIN Raden Intan Lampung. Pada semester pertama, saya sadar bahwa kemampuan Bahasa Inggris saya masih rendah. Saya berpikir apa jadinya bakal siswa-siswi saya nanti jika saya sebagai calon guru Bahasa Inggris mereka tidak mampu mengajarkan Bahasa Inggris. Aku harus meningkatkan kemampuan Bahasa Inggrisku,pikir saya.

Berbekal informasi dari teman, saya bergabung dengan AIESEC Unila, organisasi kepemudaan internasional yang hadir di 125 negara. Dengan jaringan global yang AIESEC miliki, alih-alih untuk belajar berorganisasi, pada awalnya niat saya bergabung adalah untuk belajar Bahasa Inggris. Tapi nyatanya saya justu mendapatkan priceless experience, lebih dari sekedar belajar Bahasa Inggris yang saya ekspektasikan sebelumnya. Di organisasi ini, saya menemukan banyak individu yang inspiratif baik dari Indonesia maupun dari berbagai penjuru dunia. Salah satunya adalah Paulina Wierzbicka, seorang teman dari Polandia yang telah menghidupkan semangat untuk kembali memperjuangkan cita-cita belajar di luar negeri. Dia datang ke Lampung untuk melaksanakan proyek sosial yang AIESEC inisiasi. Paulina merupakan penerima beasiswa non-degree satu semester Erasmus Mundus (Lotus+) di Universitas Lisbon, Portugal. Mendengar pengalamannya, saya pun berniat untuk mendaftar program yang sama, namun di universitas yang berbeda. Pada saat itu, saya memilih Universitas Groningen di Belanda mengingat bahwa universitas-universitas di Negeri Orange ini menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar perkuliahannya. Dengan semangat yang membara, saya mengisi aplikasi beasiswa, memenuhi seluruh persyaratan di waktu yang ada. Sembari menulis esai, saya meminta bantuan Paulina untuk mengoreksi dan memberikan saran terhadap tulisan saya. Setelah semuanya lengkap, dengan mengucap Basmallah saya klik tombol submit di website Lotus+ pada bulan Desember 2014. Dua bulan berlalu dan akhirnya saya menerima email dari panitia penyelenggara. Kembali niat saya untuk merasakan atmosfir belajar Bahasa Inggris di luar negeri harus tertunda karena saya dinyatakan tidak lulus.

Saya dan Paulina Wierzbicka di Margodadi, Lampung Selatan
Saya dan Paulina Wierzbicka di Margodadi, Lampung Selatan

Pada akhir Januari 2015, dosen pembimbing saya yakni Pak Bambang Irfani memberi informasi mengenai Beasiswa Global UGRAD, beasiswa exchange non-degree prestisius yang dikelola oleh AMINEF/Fulbright Indonesia. Tenggang waktu antara ketika saya menerima informasi tersebut dan deadline pengumpulan aplikasi online program ini adalah sekitar satu minggu. Tanpa menunda lagi, saya segera berusaha melengkapi seluruh persyaratan yang diminta berupa mengisi formulir online, transkrip nilai, sertifikat TOEFL ITP atau TOEFL-like dengan skor minimal 500, empat esai beasiswa dengan pertanyaan yang berbeda di setiap esainya ditulis dalam Bahasa Inggris, satu surat rekomendasi dari dosen pembimbing dan satu dari rekan saya di AIESEC. Perjuangan mengumpulkan syarat-syarat tersebut tidaklah mudah. Saya harus pulang-pergi kampus untuk mendapat transkrip nilai dari fakultas dan surat rekomendasi dari dosen, menulis esai siang dan malam, mengirim email ke rekan saya di AIESEC Edinburgh, Skotlandia, dan lain sebagainya. Akhirnya setelah semua lengkap, saya klik tombol submit pada website aplikasi beasiswa itu. Seraya menunggu pengumuman seleksi tahap pertama, hanya rasa pasrah dan doa yang selalu saya tujukan kepada-Nya. Seperti yang Sayyidina Ali bin Abi Thalib katakan, Saat doaku dikabulkan aku bersyukur karena itulah keinginanku. Dan saat doaku tidak dikabulkan aku lebih bersyukur karena itu keinginan-Nya.”

Direktur AMINEF, Bapak Alan Feinstein, bersama saya dan keenam penerima Beasiswa Global UGRAD 2015-16 di AMINEF Office, Jakarta Pusat
Direktur AMINEF, Bapak Alan Feinstein, bersama saya dan keenam penerima Beasiswa Global UGRAD 2015-16 di AMINEF Office, Jakarta Pusat

Setelah sekitar satu minggu menunggu, saya menerima email yang membuat saya begitu kaget sekaligus senang. Bagaimana tidak, pada minggu kedua Februari 2015 saya menerima email undangan seleksi wawancara di kantor AMINEF Jakarta. Dari 4.700 pendaftar pada tahun 2015, saya terpilih menjadi 14 orang yang lolos ke tahap seleksi wawancara. Masih tak percaya rasanya. Alhamdulillah.

Saya ketika berkunjung ke Liberty Island, New York City saat Spring Break
Saya ketika berkunjung ke Liberty Island, New York City saat Spring Break

Pada tanggal 17 Februari 2015, saya berangkat ke Jakarta. Setelah solat subuh, saya dan rekan saya yang juga menerima undangan wawancara bertolak ke Kantor AMINEF di Intiland Tower Sudirman. Setelah menunggu sekitar satu jam, akhirnya giliran saya pun tiba. Berbekal pengalaman wawancara masuk organisasi di AIESEC, saya melangkahkan kaki ke ruangan yang telah disiapkan. Seorang moderator duduk di sisi kiri saya, dua dosen dari universitas ternama di Jakarta dan salah seorang staff AMINEF duduk dihadapan saya. Rasanya seperti akan ‘ujian komprehensif’. Saya sangat deg-degan. Rasanya pun berbeda jika dibandingkan dengan ketika saya mewawancara mahasiswa asing melalui Skype di AIESEC. Ketiga pewawancara bersiap mengajukan beberapa pertanyaan berkaitan dengan aplikasi yang saya kirim. Tak lama setelah itu, mereka memberikan salam dan salah seorang pewawancara bertanya kepada saya dalam Bahasa Inggris, Alvin, kita semua tahu mengenai sentimen masyarakat Amerika terhadap Islam setelah peristiwa 11 September.” Dengan keringat yang mulai bercucuran dari dahi saya, saya mengangguk seraya menjawab iya, Pak.” Beliau melanjutkan, sebagai satu-satunya kadidat yang berasal dari universitas Islam, bagaimana sikap yang akan kamu tunjukkan jika nanti kamu bertemu warga Amerika yang bersikap kurang ramah akibat latar belakang agamamu sebagai seorang Muslim? Saya benar-benar tidak menyangka bahwa pertanyaan itu akan keluar dari beliau – pertanyaan yang sama sekali tidak berkaitan dengan tema esai saya. Dengan menarik nafas yang dalam seraya membaca Basmallah, saya mencoba menjawab dengan setenang mungkin, walau sebenarnya begitu kontradiktif dengan saya yang begitu deg-degan. “Jika nanti hal tersebut saya alami, saya akan mencoba menjelaskan kepada mereka mengenai apa yang saya yakini. Namun dengan sentimen negatif yang sudah tertanam di hati masyarakat Amerika terhadap Islam, akan cukup menantang rasanya jika saya hanya menjelaskan bahwa ‘Islam bukan teroris’. Saya akan coba menunjukkan sikap saya sebagai seorang Muslim yang ramah, sopan, dan tidak seburuk apa yang mereka kira. Dengan demikian, saya harap mereka akan melihat sendiri bagaimana seorang muslim yang mereka kenal berperilaku. Saya menghela nafas dan mencoba menenangkan diri karena saya begitu gugup dan tak yakin dengan jawaban yang saya berikan tadi. Setelah pertanyaan itu terlewat, beberapa hal kembali ditanyakan olah para pewawancara. Tak terasa, waktu berlalu dan wawancara selesai. Saya langsung bertolak ke Lampung dengan perasaan yang tidak tenang. Saya hanya bisa berdoa agar diberikan hasil terbaik oleh-Nya.

Dua minggu berlalu. Pada Tanggal 3 Maret 2015 ketika saya pulang dari kampus, saya menerima email mencurigakan. Saya buka email tersebut dan betapa senangnya saya ketika saya lolos seleksi beasiswa Global UGRAD ke tahap TOEFL iBT. “Congratulations, Mr. Alvin, you have been selected as a Global Undergraduate grantee.” Saya berteriak Saya lolos!dan langsung berlari mengabari ibu saya. Tak menyangka bahwa dari 4.700 mahasiswa yang mendaftar di seluruh Indonesia dan 14 orang yang diwawancara, saya termasuk salah satu dari tujuh mahasiswa yang terpilih. Saya pun menjadi satu-satunya laki-laki dan satu-satunya mahasiswa perguruan tinggi Islam diantara keenam kolega saya yakni Runi dari Universitas Tanjungpura, Endah dari Universitas Jambi, Kak Ikon dari Universitas Haluoleo, Kak Putri dari Universitas Sriwijaya, Vini dari Universitas Andalas, dan Kak Kezia dari Politeknik Negeri Manado. Betapa senangnya saya setelah sejak dulu mencoba, akhirnya saya diberikan kesempatan oleh Nya untuk mewujudkan cita-cita saya belajar di Amerika.

Bersama anggota Muhibbah International Student Club of Wilson College ketika menyelenggarakan Cultural Performance di Chambersburg, Pennsylvania
Bersama anggota Muhibbah International Student Club of Wilson College ketika menyelenggarakan Cultural Performance di Chambersburg, Pennsylvania

 

Makan malam bersama peserta End-of-Program Workshop dari berbagai penjuru dunia di Washington D.C.
Makan malam bersama peserta End-of-Program Workshop dari berbagai penjuru dunia di Washington D.C.

Memang bukan India. Bukan pula Belanda. Gagal. Coba lagi. Gagal lagi. Coba dengan lebih baik lagi. Ya, perjuangan memang tidak pernah mudah. Tapi dengan keyakinan, Tuhan yang tidak pernah tidur akan mengabulkan doa dan harapan hamba-Nya sesuai dengan apa yang kita perjuangkan. Budi Waluyo, pendiri Sekolah TOEFL yang saat ini sedang menempuh studi S3 di Universitas Lehigh Amerika Serikat, berkata bahwa Sejauh mana kita berfikir akan membawa sejauh mana kita melangkah. Ayo terus jaga mimpi kita agar tetap hidup! Berdoa dan ikhtiar dengan sebaik mungkin adalah hal yang harus kita lakukan! Tetap semangat!

 

Photo Courtesy: Daniel Glazier (Wilson College of Pennsylvania), Menadion Nasser Tamtama (AMINEF), Prateek Sharma (Endicott College of Massachusetts), Roya Zahed (World Learning), Author’s collections

 

Artikel ini pada mulanya diterbitkan oleh Alvin Kurnia Sandy pada September 2016 di http://alvinkurniasandy.blogspot.co.id/. Artikel ini dapat ditemukan di: http://alvinkurniasandy.blogspot.co.id/2016/09/pengalaman-meraih-beasiswa-global-ugrad.html

SHARE
Previous articleThe Best Voluntary Activity in Denmark: My Experience at TEDxAarhus
Next articleICN 2016: Committee Members’ Perspective
Alvin Kurnia Sandy is a bachelor student at the English Education Study Program of IAIN Raden Intan Lampung, class of 2017. He is part of a number of professional and student organizations including AIESEC and English Student Association. In those organizations, he led and initiated several social and community development projects in Lampung Province. He received the Global Undergraduate Exchange Program 2015-16 sponsored by U.S. Department of State in which he attended Wilson College, Pennsylvania State, for one academic semester. He plans to continue his graduate study to North America or Europe studying International Education Management. His academic interests include international studies in education, management, and leadership, while his intellectual interests are Islamic history and cultural exchanges. He enjoys listening to Electronic Dance Music (EDM), doing community service, and photography