Menjadi Duta Bangsa di USA CGSC

0
43

U.S. Army Command General and Staff College (USA CGSC) adalah salah satu pendidikan yang menjadi bagian dari International Military Education and Training (IMET), sebuah program pertukaran personel militer yang ditawarkan oleh Amerika Serikat kepada Negara-negara sahabatnya di bidang pendidikan dan latihan militer professional dalam rangka meningkatkan interoperabilitas dan kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas bersama kedepan. CGSC diselenggarakan di Fort Leavenworth, Negara Bagian Kansas, Amerika Serikat. Khusus pada tahun 2015, salah satu alokasi Perwira TNI AD di CGSC dipadukan dengan skema Program Beasiswa Presiden Republik Indonesia yang memberikan pendanaan pendidikan S-2 tambahan disamping pendidikan CGSC itu sendiri. Dana ini selanjutnya saya manfaatkan untuk menempuh Master in Management dari Webster University di Fort Leavenworth.

Saya adalah perwira dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang ke-132 yang pernah mengenyam pendidikan di CGSC. Diantara para senior tersebut ada yang dalam karirnya menduduki posisi puncak TNI AD dan Nasional, yaitu Jenderal Ahmad Yani, Jenderal R. Hartono, dan Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kelak menjadi Presiden ke-6 Republik Indonesia. Di Indonesia, CGSC adalah pendidikan yang setara dengan Sekolah Komando dan Staf Angkatan Darat (Seskoad) yang berkedudukan di Bandung.

Flag Ceremony
Flag Ceremony

USA CGSC secara struktural berada di bawah U.S. Army Combined Arms Center (CAC) dan pada saat kami berada di sana dipimpin oleh Letnan Jenderal Robert B. Brown. CGSC bertugas membekali perwira menengah US Army Golongan O-5 (pangkat Kapten dan Mayor) berbagai kecabangan untuk menjadi staf perencana dan komandan batalyon yang handal. Fokus doktrin yang dipelajari di CGSC saat ini adalah operasi gabungan atau Unified Land Operations (ULO) yang mengedepankan konsep Combined Arms Maneuver (CAM) atau gabungan dari berbagai kecabangan yang ada di dalam U.S. Army. Selanjutnya, ULO dilaksanakan dalam empat jenis operasi yaitu Offense (serangan), Defense (pertahanan), Stability (stabilitas), and Defense Support of Civil Authorities (bantuan militer kepada pemerintah sipil).

Kegiatan di Kelas
Kegiatan di Kelas

Konsep CAM pada hakekatnya adalah keyakinan U.S. Army bahwa tidak ada maneuver yang dapat dilakukan oleh suatu kecabangan secara mandiri tanpa bersinergi dengan kecabangan yang lain. Yang dimaksud dengan kecabangan adalah infanteri, kavaleri, artileri, zeni, penerbang, dan sebagainya. Sebaliknya, konsep CAM mendorong kesatuan kesenjataan yang diwujudkan dalam fungsi pertempuran, antara lain Fungsi Movement and Maneuver yang terdiri dari infanteri, kavaleri dan penerbang, Fungsi Fires yang terdiri dari artileri medan dan artileri pertahanan Udara yang dapat juga dibantu oleh tembakan pesawat TNI AU dan pesawat atau kapal TNI AL. Sedangkan Fungsi Sustainment meliputi kecabangan komunikasi, transportasi, dan bekal. Konsep ini diharapkan dapat meningkatkan daya gempur dan daya tempur U.S. Army dalam peperangan.

Selain strategi, teknik dan taktik militer, USA CGSC juga menekankan materi geopolitik, sejarah militer, kepemimpinan, dan etik untuk meningkatkan pemahaman kami terhadap lingkungan strategis yang berpengaruh dalam operasi militer. Salah satu yang mengesankan adalah sistem dokumentasi pengalaman (lessons learned) dan sejarah penugasan U.S. Army sehingga dapat dipelajari oleh perwira-perwira muda. Selain itu, U.S. CGSC juga tidak hanya berfungsi sebagai lembagai pendidikan, namun juga aktif membuat kajian akademis tentang berbagai permasalahan yang dihadapi oleh militer maupun negaranya. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Komandan CGSC pada tahun 2001, Brigadier General Petraeus, yang memimpin penyusunan usulan rencana serangan ke Irak pasca tragedi runtuhnya World Trade Center pada 9/11 2001. Sebagai penghargaan atas saran tersebut, BG Petraeus selanjutnya ditunjuk menjadi Komandan Pasukan Multi Nasional di Irak.

Upacara Kelulusan CGSC
Upacara Kelulusan CGSC

Hal lain yang sangat berkesan selama mengikuti pendidikan di CGSC adalah kehadiran 109 Perwira dari 91 Negara diantara 1.300 peserta dari AS. Peserta dari AS sendiri meliputi perwira dari Matra Darat, Laut, Udara, Marinir dan Coast Guard serta beberapa pegawai dari Federal Bureau of Investigation (FBI), Central Intelligence Agency (CIA), dan Kementerian Luar Negeri. Kesempatan untuk dapat berinteraksi secara langsung dengan begitu banyak perwira dari berbagai penjuru dunia dengan berbagai bidang tugas dan keahlian tentunya sangat langka. Hal ini saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan wawasan internasional saya, khususnya tentang kondisi geopolitik di di dunia dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Kesempatan selama di sana juga saya manfaatkan untuk memperkenalkan Indonesia tidak hanya tentang militer di Indonesia, tetapi juga tentang kebijakan nasional dan politik Negara, kekayaan dan keindahan alam, keragaman budaya. Hal yang paling membanggakan yang sering saya sampaikan dalam forum akademis dan sosial selama di CGSC adalah Bhinneka Tunggal Ika dan bagaimana Islam dan Demokrasi bisa bersanding di Indonesia.

 

Image Courtesy: author’s collections, USA CGSC

SHARE
Previous articleTips Hemat dan Perkiraan Budget Tinggal di Denmark
Next articleCity University of Hong Kong: Four Reasons to Love It
Sigit Raditya is a member of Indonesian Army, currently positioned in the Army Command and General Staff College in Bandung as Research and Development Staff. He graduated from the Command and General Staff College (CGSC), U.S., in June 2016. Sigit is an alumnus of Webster University (Master Degree on Management), University of Wollongong (Master Degree on International Studies) and Norwich University (The Reserve Officers Training Corps Program, Majoring in Computer Information System). Throughout his career, he has been deployed in Bandung, Tarakan, Lebanon (as a part of United Nation Interim Force in Lebanon), Jayapura, Deli Serdang, and Jakarta