Q&A: Membawa Keluarga Saat Studi Lanjut di Luar Negeri

0
187

Membawa keluarga saat studi lanjut di luar negeri tentu sebuah keputusan yang memerlukan berbagai pertimbangan. Kali ini Indonesia Mengglobal berbincang dengan Iryanti Nata yang membawa serta kedua anaknya saat melanjutkan studi S3 di Taiwan.

Halo, bisakah Anda menceritakan sedikit tentang diri Anda pada rekan-rekan pembaca Indonesia Mengglobal?

Saya Iryanti Fatyasari Nata. Sejak tahun 2000, saya menjadi staf akademik di Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan. Untuk memenuhi kualifikasi sebagai tenaga pendididik, pada tahun 2008 saya memutuskan untuk studi lanjut ke jenjang S3 di jurusan Teknik Kimia, National Taiwan University of Science and Technology (Taiwan Tech), Taipei, Taiwan. Saya memperoleh gelar PhD pada tahun 2011.

Anda dan suami memutuskan untuk membawa keluarga saat melanjutkan studi di Taiwan. Apa yang mendasari keputusan tersebut?

Seorang ibu pastilah selalu ingin bersama anak-anaknya, apalagi saat usia mereka adalah usia yang masih membutuhkan bimbingan orang tua. Sebelum studi lanjut ke jenjang S3, saya dan suami mengikuti short course di University of Sydney, Australia selama kurang lebih 2,5 bulan.  Niat kami saat itu sekaligus untuk penjajakan studi lanjut dan melihat segala kemungkinannya. Saat itu anak-anak kami titipkan pada orang tua kami. Tetapi yang kami rasakan saat itu, bukan berkonsentrasi mengikuti programnya namun terus teringat dengan anak-anak. Sejak saat itu kami pun memutuskan jika melanjutkan sekolah S3 anak-anak harus turut serta. Untuk itu sekolah yang kami tuju harus memenuhi kriteria yang kami inginkan, artinya sebagai mahasiswa diperbolehkan saja membawa serta keluarga.

Bagaimana pertimbangan Anda dan suami dalam memilih negara tujuan dan pembimbing?

Sebelum melakukan penjajakan studi lanjut di Australia, kami telah mendaftar di Taiwan Tech. Pemilihan Taiwan Tech sebagai tujuan kami merupakan masukan dan dukungan dari dosen pembimbing kami pada saat S2 di Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Kami kemudian dinyatakan diterima di Taiwan Tech sebagai mahasiswa doktoral dengan beasiswa dari pemerintah Taiwan. Tetapi ternyata kegembiraan itu hanya sesaat, pada saat pengurusan visa, ternyata aturan dari negara tersebut tidak memperbolehkan membawa serta keluarga/anak jika orang tuanya belum satu tahun tinggal di Taiwan. Mempertimbangkan ini, akhirnya keputusan yang kami ambil adalah suami akan berangkat duluan dan saya menyusul setahun kemudian beserta anak-anak. Saya yakin ini adalah jalan terbaik buat kami sekeluarga, walapun suami sementara waktu terpisah. Waktu setahun tersebut juga sangat memberikan manfaat untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Misalnya, suami sudah mempunyai gambaran tentang pembimbing yang cocok untuk saya dengan kondisi keluarga, sehingga dapat mengkomunikasikan hal ini dengan pembimbing agar mengerti dengan kondisi kami, di mana kondisi tersebut diharapkan tidak mengurangi tugas dan kewajiban sebagai seorang mahasiswa doktoral.

Bagaimana cara Anda membagi waktu antara tanggung jawab sebagai mahasiswa doktoral dan sebagai seorang istri dan ibu?

Konsekuensi yang saya hadapi dengan keputusan membawa serta anak-anak adalah harus dapat mengatur waktu untuk peran saya sebagai seorang mahasiswa dan seorang ibu. Strategi yang saya gunakan adalah memaksimalkan waktu yang saya miliki saat berada di kampus. Saya terbiasa membuat jadwal apa yang akan saya lakukan di setiap harinya, sehingga saya dapat mengontrol kegiatan apa saja yang akan saya kerjakan. Pagi hari ketika anak-anak berangkat ke sekolah, saya juga berangkat ke kampus dan mengerjakan tugas saya di kampus hingga pukul 4 sore. Selanjutnya saya dan suami menjemput anak-anak sekolah dan kemudian menghabiskan waktu yang tersisa untuk keluarga. Anak-anak kami bersekolah di Gongguan Kindergarten and Elementary School yang lokasinya tepat di belakang kampus. Semua aktivitas yang dilakukan tidak lepas dari dukungan suami, kami dengan bahu membahu menyelesaikan semua tugas kami sebagai orang tua. Pada akhir minggu kami memanfaatkan waktu untuk refreshing, baik dalam bentuk kegiatan belajar sambil bermain, travelling di Taiwan, dan aktivitas lainnya yang dapat menyegarkan kembali semangat kami untuk memasuki hari pertama di minggu berikutnya.

Karena anak-anak Anda masih dalam usia sekolah, hal apa saja yang Anda pertimbangkan dalam memilih sekolah bagi mereka di negara tujuan?

Pemilihan sekolah untuk anak-anak juga merupakan prioritas bagi kami. Dengan adanya jeda waktu setahun saat suami berangkat terlebih dahulu, suami dapat mencari sekolah yang cocok untuk anak-anak. Kendala utama memang bahasa. Di balik kendala ini, terselip kemudahan yang sangat kami rasakan saat itu. Salah satu rekan yang juga menempuh studi lanjut bersama keluarga di Taiwan memperkenalkan kami pada sekolah (saat itu TK) yang salah satu pekerjanya adalah tenaga kerja Indonesia, sehingga untuk tahap awal komunikasi dapat berjalan. Diperlukan waktu 4 bulan bagi anak-anak untuk dapat berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Mandarin.

Pada saat itu usia anak-anak kami 5 tahun dan 2 tahun, sedangkan untuk mendaftar di public school usia anak haruslah minimal 5 tahun. Karenanya kami memilih private school, juga karena kami tidak ingin memisahkan mereka dengan memasukkan mereka ke sekolah yang berbeda. Kami melihat pada kondisi awal mereka merasa nyaman jika bersama-sama. Pada usia 7 dan 5 tahun, barulah mereka kami masukkan ke public school, di mana saat itu sudah tidak ada kendala komunikasi. Kami merasa lega melihat tumbuh kembang mereka.

Apa yang Anda lihat menarik dari pendidikan anak-anak Anda di Taiwan?

Berpijak dari apa yang kami lihat, rasakan dan jalankan, sistem pendidikan yang berbeda membuat kami belajar banyak tentang cara, metode/teknik pengajaran, serta etika yang sudah ditanamkan pada usia dini di sekolah. Contohnya membuang sampah pada tempatnya dengan memperhatikan jenis sampahnya, menjaga kesehatan dan kebersihan diri sendiri, kemandirian, juga budaya antri. Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan kemajuan teknologi yang tinggi, ada pengaruh pada pola dan kualitas sistem pendidikan. Khusus untuk siswa pendatang, pihak sekolah memiliki toleransi yang baik dalam masa penyesuaian sampai siswa tersebut merasa nyaman dan menikmati sekolah barunya. Keterlibatan orangtua juga sangat ditekankan, hingga terjalin komunikasi antara siswa-guru-sekolah dan orang tua. Dari segi kesehatan, setiap semester dilakukan general checkup untuk seluruh siswa, dan dari sini dapat dilihat betapa fokusnya mereka menangani generasi mudanya sebagai cikal bakal pengganti untuk generasi berikutnya. Yang juga tidak kalah pentingnya adalah silaturahmi dengan teman sejawat dan sesama orangtua siswa dengan komunikasi melalui surel maupun media sosial.

Pengalaman apa yang paling berkesan untuk Anda selama melanjutkan studi di Taiwan?

Pengalaman sekolah di luar negeri merupakan hal yang sangat berharga buat kami. Hari demi hari yang kami lalui memberikan pengalaman yang berbeda dan sangat berharga, karena di setiap kegiatannya memberikan hasil yang tak terlupakan baik di kampus, di rumah maupun di sekolah anak-anak. Menikmati kemudahan dengan sistem pendidikan yang baik, sarana transportasi umum yang nyaman dengan teknologi tinggi, dan pemandangan alam yang indah menjadi hal yang sangat mengesankan untuk kami. Ada pula pengalaman terjangan taifun yang hampir setiap tahun melalui Taiwan.

Apakah Anda memiliki saran untuk rekan-rekan pembaca Indonesia Mengglobal yang juga ingin membawa keluarga saat studi lanjut ke luar negeri?

Tidak perlu takut dan ragu untuk membawa serta keluarga dalam studi lanjut. Perlu tekad dan niat yang kuat untuk menjalani sebagai seorang mahasiswa dan orang tua. Manajemen waktu dan komunikasi dengan pembimbing sangat penting untuk dapat menjalankan dua amanah tersebut secara seimbang. Kunci utamanya adalah tidak menjadikannya beban, menikmati dalam menjalaninya, melakukan yang terbaik, dan selalu memohon kepada-Nya agar dimudahkan dalam menjalankan amanah. Semua akan indah pada waktunya, semakin jauh kita mencari ilmu, semakin banyak pengalaman yang kita himpun untuk mengisi ruang waktu kita.

 

——————–

Kredit foto: Iryanti Nata