Reformulasi Arti Kata ‘Patriotisme’

0
1245
sumber: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/a6/69/d2/a669d273834f04d9afdacd64e7f77fbf.jpg

Tanpa terasa, kita sudah memasuki penghujung tahun 2015. Rasanya seperti baru kemarin saya diberi kesempatan untuk menjadi kolumnis di Indonesia Mengglobal (IM). Di tahun 2015 ini saya sangat bangga bisa menjadi bagian dari tim IM yang begitu profesional dan memiliki visi mulia untuk memajukan bangsa Indonesia lewat pertukaran informasi seputar pendidikan di luar negeri. Saya sangat berharap ada banyak lagi anak bangsa yang mengharumkan nama Indonesia di kancah global.

Berbicara soal kancah global, bila kita sebagai anak bangsa memang ingin melebarkan sayap ke dunia internasional, tanpa dipungkiri kita sangat perlu menguasai bahasa-bahasa yang paling banyak dipakai di seluruh dunia: Bahasa Cina, Spanyol, Inggris, Hindi, dan Arab.

Ibu saya adalah orang tua tunggal (single parent). Saya ingat beliau bekerja ekstra keras agar saya dan kakak-kakak saya mendapat pendidikan yang layak. Namun tidak hanya itu, beliau juga bekerja keras agar dapat membiayai anak-anaknya kursus bahasa Inggris. Ibu saya menahan diri untuk tidak membelanjakan pemasukannya untuk hal-hal yang beliau inginkan, namun mengorbankan semua kesenangannya agar anak-anaknya dapat meguasai setidaknya satu bahasa asing.

Seakan-akan beliau bisa melihat masa depan, bertahu-tahun kemudian saya merasakan hasil jerih payah beliau. Tahukah kamu, di Amerika sini, kita bisa mendapat pekerjaan hanya berdasarkan fakta bahwa kita bisa berbicara bahasa lain selain bahasa Inggris? Meskipun bahasa Indonesia bukan termasuk bahasa yang paling banyak digunakan di dunia, masih banyak kesempatan untuk bekerja di bidang linguistik terutama dalam hal penerjemahan bahasa Inggris-Indonesia dan sebaliknya. Sebagai contoh, rate yang ditetapkan oleh salah satu agensi interpreter di Amerika, Cyracom International, untuk interpreter bahasa Inggris ke Indonesia adalah USD 45.00/jam atau sekitar Rp. 630.000,- per jam dengan nilai konversi US$1.00 = IDR 14.000,-. Bagaimana ibu saya bisa tahu ya?

Namun yang sering kita alami dalam proses pembelajaran bahasa asing adalah olok-olokan dari bangsa sendiri: dibilang kebarat-baratanlah, sok-sok-an mau belajar bahasa Inggrislah, sampai dicap tidak patriotis karena mau belajar bahasa Inggris. Saya waktu itu tidak ambil pusing, karena kebanyakan pihak yang mengolok-olok juga tidak bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Izinkan saya berbagi perspektif yang baru: Bagaimana jika begitu cintanya dengan Indonesia maka kita belajar bahasa Inggris? Bagaimana jika kita tidak mau lagi Indonesia dipandang sebelah mata karena tidak dapat mengungkapkan ide di arena internasional berhubung keterbatasan bahasa? Bagaimana jika Indonesia-lah alasan kita belajar bahasa Inggris?

Bersama teman-teman dari Afrika Selatan, Perancis, dan Costa Rica. Persahabatan ini terjadi karena kami dapat berkomunikasi dengan bahasa Inggris sebagai sarananya.

Di penghujung tahun 2015 ini, saya mau bersyukur dengan semua kesempatan yang terbuka di negara Paman Sam ini hanya karena menguasai dua bahasa – termasuk kesempatan bergabung dengan tim IM ini. Saya bersyukur punya ibu yang mau berjerih payah untuk menginvestasikan skill jangka panjang yang berguna untuk anak-anaknya.

Dan kalau kamu belum menguasai satu lagi bahasa asing, seperti biasa, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Resolusi tahun baru, mungkin?

Pada akhirnya, Selamat Natal bagi yang merayakan dan banyak berkah memasuki Tahun Baru 2016. Yang terbaik bagi Indonesia.

Content edited by Artricia Rasyid

Photo Credits: Author’s Collection

SHARE
Previous articleTentang Seleksi Beasiswa LPDP
Next articleJURUSAN PGSD GO INTERNATIONAL?
Kitty Sitompul-Nieman
Kitty Sitompul-Nieman is an award winning intercultural professional with a blend of experiences in teaching, writing, interpreting, and public speaking in international and diverse platforms. A Fulbright scholarship grantee for the Community College International Development program, Kitty has eight years of experience in English as a Second Language (ESL) teaching and management, as well as three years experience in Indonesian-English consecutive and simultaneous interpretation. She currently lives in Lexington, Kentucky, USA with her husband, Clay Nieman. They both enjoy hanging out at Buffalo Wild Wings. More of her writings can be found at her personal blog www.KittySitompul.wordpress.com.