Jalur Cepat Jadi Doktor di Taiwan

Jalur Cepat Jadi Doktor di Taiwan

Tidak banyak orang yang tahu bahwa meski memiliki gelar doktor, saya sesungguhnya tidak memiliki gelar master. Jadi gelar saya cukup dua saja karena nama saya sudah terlalu panjang untuk mengakomodasi gelar lain (*sepertinya halah banget tapi memang iya nama saya panjang). Tidak adanya gelar master ini pula yang dulu menjadi salah satu pemicu semangat saya untuk menyelesaikan studi S3, karena jika tidak, tombol reset-nya akan mengembalikan saya pada titik lulusan S1.

Program yang saya ikuti ini disebut dengan fast track program atau accelerated program. Program percepatan ini bisa dilakukan untuk S1-S2, S2-S3, dan S1-S3 (jumping program). Di banyak negara, jumping dari S1 langsung ke S3 sudah banyak dilakukan, di mana mahasiswa dapat langsung mendaftar (dan ikut ujian) untuk melanjutkan studi ke program doktoral tanpa melalui program master. Selain memperpendek masa studi, dampak dari percepatan program ini adalah berkurangnya biaya yang harus dikeluarkan.

Jadi, apa saja yang bisa dicatat dari perjalanan saya mengambil jumping program di Taiwan.

#1 Sangat, sangat, sangat penting untuk memastikan informasi yang kita dapatkan lengkap dan akurat

Ketika diwawancarai oleh salah satu professor di universitas yang saya tuju (National Taiwan University of Science and Technology – Taiwan Tech), informasi yang saya dapatkan waktu itu menyatakan bahwa saya yang baru lulus S1 bisa langsung melamar ke program S3 di Taiwan. Tentunya dengan memenuhi sekian banyak hal yang disyaratkan, termasuk di antaranya wawancara untuk melihat research potential. Long story short, saya kemudian mendapatkan Letter of Acceptance untuk program doktoral di jurusan teknik kimia di Taiwan Tech.

Yang lucu, ketika akhirnya sampai di sana (dengan LoA sebagai mahasiswa doktoral), jumping program ternyata tidak bisa dilakukan jika mahasiswa yang bersangkutan bukan berasal dari universitas yang sama dengan universitas tujuan S3. Saya, yang bukan alumnus  Taiwan Tech, tidak bisa langsung terdaftar di program S1-S3 ini. Karena tidak ada payung hukumnya, maka kemudian saya harus mendaftar ulang sebagai mahasiswa S2 dan kemudian baru mendaftar untuk program fast-track to PhD program (S2-S3). Jadi ya, saya menghabiskan waktu setahun dulu sebagai mahasiswa S2, mengambil coursework.

Seharusnya di awal saya melakukan konfirmasi mengenai persyaratan jumping program ini sehingga bisa memperkirakan bahwa saya harus terdaftar dulu sebagai mahasiswa S2.

Tantangan yang saya dapatkan ini tidak menjadi awal dari sesuatu yang rumit, karena…..

#2 Melakukan transfer ke program PhD ternyata tidak sulit

Di Taiwan Tech, persyaratan untuk mendaftar fast-track program adalah:

  1. Outstanding academic records, di mana (waktu itu) mahasiswa bersangkutan haruslah masuk dalam Top 10 GPA di angkatan,

  2. Mendemonstrasikan research potential, yang dibuktikan dengan research proposal dan pengujian di depan referee,

  3. Direkomendasikan oleh minimal 2 Associate Professors di jurusan yang diambil

Meski pada akhirnya saya harus mengambil setahun pertama sebagai mahasiswa S2 dan kuliah selayaknya mahasiswa lain (dengan syarat 24 credits), proses transfer saya ke S3 tidak lagi dipersulit. Status sebagai mahasiswa internasional bukan masalah. Jadi sepanjang saya memenuhi semua persyaratan, saya bisa melakukan transfer ke program PhD.

When you’ve got all three firmly, welcome to the jungle!

Kemudahan lainnya berkaitan dengan candidacy. Candidacy  adalah qualifying milestone, di mana terdapat serangkaian persyaratan yang harus dipenuhi mahasiswa S3 untuk menjadi PhD candidate. Salah satunya adalah jumlah kredit minimum, yaitu 18. Meski terdaftar sebagai mahasiswa S2, kredit yang saya ambil saat itu, terutama untuk mata kuliah inti (core courses),  bisa ditransfer ke program S3 sehingga saya tak perlu lagi mengambil kelas ketika enrollment saya di program PhD dimulai. Did that mean a lot? Tentu saja. Tak lagi diharuskan mengambil kelas, saya bisa punya lebih banyak waktu untuk penelitian, terutama dibandingkan dengan sesama mahasiswa S3 tingkat pertama yang tidak melewati jalur fast track.

Selama menjalani kuliah S2 itu pula, saya bisa mendaftar untuk written qualifying exams. Iya, proses candidacy di Taiwan juga melibatkan tes tertulis yang diadakan di setiap akhir semester. Mahasiswa S3 harus lulus qualifying exams dalam dua tahun pertama sejak enrollment dimulai, atau bisa mencoba maksimal 4 kali. Boleh dibilang karena saya memulai candidacy sejak jadi mahasiswa S2, saya bisa mencuri start dan mendapat “bonus” 2 kali kesempatan lagi.

Saya gagal di percobaan pertama, di semester pertama kuliah S2. Di akhir tahun, baru saya bisa menyelesaikan kewajiban saya.

Bagian menyenangkan lain dari kuliah doktoral di Taiwan adalah…..

#3 Atmosfer penelitian yang mendukung

Poin ketiga ini memang untuk pengerjaan penelitian secara umum, baik itu S2 maupun S3.

Taiwan tampaknya menyadari bahwa kekurangannya di sektor sumber daya alam membuat mereka harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan serius. Pemerintah Taiwan sendiri memberikan perhatian besar pada pendidikan tinggi dan penelitian, yang membuat kondisi belajar sekaligus atmosfer penelitiannya intens. Ada banyak hibah yang diberikan pemerintah untuk universitas dan peneliti, dan itu termasuk mahasiswa doktoral. Dukungan ini membuat banyak universitas di Taiwan memiliki alat yang memadai untuk melakukan penelitian, misalnya transmission electron microscope. Tak ketinggalan, hibah yang tersedia juga dapat digunakan untuk melakukan konferensi ataupun penelitian di institusi lain negara.

Astmosfer penelitian yang kental ini juga didukung oleh eratnya jaringan antar universitas, antar professor, dan universitas-industri. Para professor, terutama yang memiliki bidang keahlian yang sama, biasanya selalu berhubungan baik dalam kaitannya dengan penelitian. Hal ini membuat cross-university research sesuatu yang normal. Kemudahan menggunakan fasilitas atau berkonsultasi dengan professor di universitas lain juga adalah salah satu pemicu tingginya tingkat penelitian (dan juga publikasi ilmiah) di Taiwan.

Penelitian yang saya ambil, pengolahan limbah semiconductor, memasukkan faktor pemodelan yang bukan merupakan keahlian pembimbing saya. Untuk memperdalam pembahasan, saya dengan mudah dirujuk ke professor di lain laboratorium di jurusan yang sama, yang dengan tangan terbuka membantu saya untuk mengerjakan penelitian. Tak hanya menyediakan waktu untuk konsultasi, professor yang bersangkutan juga mengajak salah satu post-doc  fellow di laboratoriumnya untuk membantu saya dan mengizinkan saya untuk menggunakan fasilitas supercomputer mereka.  Ketika memerlukan bantuan terkait pemodelan, saya juga dirujuk langsung ke salah satu professor di universitas lain. Iya, saya tinggal membuat janji, datang konsultasi, pulang dengan pencerahan. Ulangi lagi dari awal ketika mentok.

Ketika salah satu instrumen yang saya gunakan tidak bekerja optimal, mudah pula mencari universitas lain yang memiliki instrumen serupa. Pembimbing saya tinggal menghubungi professor yang menjadi penanggung jawab di sana, saya tak perlu mengurus birokrasi macam-macam, tinggal datang membawa sampel dan melakukan pengukuran di sana.

Taiwan juga memiliki berbagai research center yang didirikan untuk menjembatani dunia akademik dengan industri. Dengan research center, universitas, peneliti, dan industri dapat berkolaborasi dalam banyak bidang. Kolaborasi ini bentuknya pun bervariasi, mulai dari penyediaan lab dan instrumen, multiactors research team, hingga aplikasi inovasi penelitian dalam industri.

Menyenangkan, bukan?

#4 Last but not least, Taiwan menawarkan berbagai skema beasiswa untuk mahasiswa internasional

Di tahun 2004, Ministry of Education (MOE), Ministry of Foreign Affairs (MOFA), Ministry of Economic Affairs (MOEA), dan National Science Council of the Executive Yuan (NSC) menyusun Taiwan Scholarship Program yang menawarkan beasiswa pada mahasiswa asing. Selain skema ini, berbagai universitas di Taiwan juga menawarkan beasiswa mandiri. Karena intensi Taiwan yang tinggi untuk memajukan kualitas pendidikan tinggi dan penelitian, mahasiswa asing sangat didorong untuk melanjutkan pendidikan mereka di jenjang S3. Katanya, mendaftar untuk menjadi mahasiswa S2 itu lebih kompetitif dibanding mendaftar mahasiswa S3.

Saya sungguh menikmati lima tahun studi saya di Taiwan. Tertarik?

Photo Credits: Author’s Collection




===========================================
Marlistya Citraningrum is a program manager at Institute for Essential Services Reform (IESR), a leading Indonesian think tank focusing on energy and climate justice. She obtained her PhD degree in chemical engineering from Taiwan Tech with research focus on environmental management. Keen on writing​, Marlistya Citraningrum previously worked as a scriptwriter for Lentera Ide PPI Taiwan and a contributing writer for ​City543, the number one English online lifestyle media in Taiwan. She is still blogging actively in her own blog and Kompasiana. Shout to her on Twitter: @mcitraningrum.
Posts | Twitter | LinkedIn