Satu Langkah Lagi! Tips Wawancara Beasiswa Fulbright

Satu Langkah Lagi! Tips Wawancara Beasiswa Fulbright

Bagaimana rasanya maju ke tahap terakhir proses seleksi beasiswa? Apa rasanya selangkah lagi lebih dekat menuju cita-cita, mimpi untuk sampai di negeri impian? Deg-degan? Excited? Takut?

Saya ingat begitu saya menerima email pengumuman bahwa saya lolos ke tahap wawancara Fulbright, saya sedikit gugup tapi juga senang sekali. Masih ada harapan, dan harapan itu membesar. Konon, apabila sudah sampai tahap wawancara beasiswa, kemungkinan untuk lolos memperoleh beasiswanya sudah besar sekali.

Jadi, buat kamu yang sudah sampai di tahap wawancara beasiswa apapun, selamat! Boleh sedikit berbangga, tapi jangan sampai kurang mempersiapkan sebaik mungkin karena terlalu yakin.

Pada saat itu, yang saya pikirkan adalah: “Satu langkah lagi! This is probably my last shot, I can’t fail. I don’t want to repeat all over this next year, so this one should be perfect, I have to prepare myself very very well”

Jadilah seminggu lebih sebelum hari wawancara, saya mulai getol melakukan persiapan. Mungkin apa yang saya lakukan pada waktu itu sedikit lebay, but it worked, at least for me. Semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman yang akan atau sedang berada dalam tahap ini:

Persiapkan Jawaban Untuk Semua Pertanyaan yang Mungkin Ditanyakan

Pada waktu itu, saya melakukan brainstorming sendiri, banyak melakukan riset di internet, dan juga bertanya kepada teman-teman yang pernah mendapatkan beasiswa di luar negeri, untuk mendapatkan gambaran pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan. Berikut pertanyaan-pertanyaan yang saya dapatkan pada saat hari wawancara:

1. Jelaskan study objective, tujuan bersekolah di Amerika Serikat, mengapa mengambil atau tertarik mempelajari bidang studi tersebut. Apa pentingnya/manfaatnya ilmu yang akan kamu pelajari bagi Indonesia.

Ini adalah pertanyaan yang paling penting dan hampir pasti ditanyakan. Bagi saya, hal utama yang sebenarnya ingin para semua penyeleksi beasiswa tahu adalah mengapa mereka harus memilih kamu,  si pelamar beasiswa ini. dari sekian ribu orang, untuk pergi mewakili Indonesia. Mengapa Indonesia, negeri ini membutuhkan kamu untuk sekolah jauh-jauh ke Amerika? Banyak orang yang mungkin sama pintar, dan pandai berbahasa Inggris, tapi mengapa harus  kamu? What makes you different? Apa manfaat lebih yang kamu bisa kasih untuk Indonesia dengan bersekolah di Amerika?

Mungkin pertanyaan semacam ini terlihat mudah dijawab. Tapi perlu diingat, orang-orang lainnya mungkin akan memberikan jawaban yang sama, padahal slot pelamar yang akan dipilih juga terbatas. Oleh karena itu, coba cari jawaban-jawaban yang menarik dan berbeda, tapi tetap berkualitas. Menurut saya, tidak perlu puitis atau terlalu normatif, yang penting mengena, unik, dan tetap meninggalkan kesan. IPK kamu boleh tidak segemilang lainnya, tapi kalau kamu bisa menunjukkan kalau kamu bisa memberikan manfaat lebih banyak kepada orang-orang,  saya rasa akan menjadi nilai lebih. Yakinkan penyeleksi bahwa kamu adalah orang yang tepat, dan bisa mewujudkan visi-misi dari beasiswa ini juga

2. Sebutkan 3  universitas yang dituju, jelaskan pula alasannya mengapa memilih universitas-univesitas tersebut

Jawaban kamu tentang universitas yang ingin kamu tuju tidak berarti harus sama persis dengan universitas yang akan kamu benar-benar apply nantinya. Tidak berarti harus top universitas juga, saya sendiri menyebutkan 2 universitas Ivy League di antara 3 universitas yang saya sebut, dengan alasan karena memang bidang yang saya minati diajarkan di universitas tersebut. Hafalkan pula lokasi dan lingkungan dari universitas tersebut, karena surprisingly, dalam kasus saya, hal itu juga ditanyakan.

Sudahkah menghubungi professor (dosen) di salah satu universitas tersebut? Universitas apa? Lalu bagaimana responnya?

Seminggu sebelum wawancara, akhirnya salah satu dosen yang saya kontak memberikan respon. Sebenarnya yang saya tanyakan kepada professor di universitas tujuan saya hanya berkaitan tentang bidang yang saya minati, dan apakah sesuai dengan tujuan dan ketertarikan saya. Saran saya, bisa menjawab pertanyaan ini akan memberikan poin lebih. Jadi, sempatkanlah mengontak salah satu professor di unviersitas tujuan kamu.

3. Pertanyaan spesifik tentang bidang yang akan kamu pelajari/riset yang akan kamu lakukan nanti.

Dalam kasus saya, saya cuma diminta menjelaskan dengan sederhana tentang bidang yang akan saya pelajari, dan manfaatnya bagi orang-orang, dan mengapa harus dipelajari di Amerika, bukannya negara lain. Kebetulan pewawancara tidak ada yang menggeluti bidang yang sama, jadi mungkin bagi saya sedikit lebih mudah. Ada beberapa teman yang benar-benar “dibantai” atau ditanyakan secara spesifik oleh penyeleksi yang kebetulan menggeluti bidang yang sama.Teman-teman yang akan menempuh PhD semuanya ditanyakan spesifik tentang research proposalnya.  Jadi saran saya, pastikan kamu memiliki pengetahuan yang benar-benar memadai tentang bidangmu/riset kamu nanti, atau mungkin bahkan dalam konteks yang lebih luas agar tetap bisa menjelaskan kepada non-expert. Sekedar gambaran, penyeleksi saya waktu itu adalah 2 professor dari Indonesia, dan 1 professor dari Amerika Serikat.

4. Pertanyaan “random” tentang diri kamu.

Jadi setelah bertanya tentang pertanyaan inti di atas, pertanyaan-petanyaan berikutnya benar-benar random. Panitia penyeleksi melihat-lihat aplikasi dan CV saya, lalu bertanya apa-apa saja yang dilakukan dulu dan mengapa. Saya juga ditanyakan apa yang akan saya lakukan nanti setelah lulus, kenapa mau melakukan itu, manfaatnya apa. Saya juga ditanya tentang kampung halaman saya, bagaimana situasi dan system pendidikan di sana, apakah mau pulang mengabdi atau tidak. Lalu ada pertanyaan random dari mata kuliah yang pernah saya ambil, kegiatan ekstrakulikuler dan manfaatnya apa.

5. “Do you have hobbies? What are they?”, salah satunya.

Saya pernah bertanya tentang teman-teman lain sesama penerima beasiswa ini, rata-rata juga mendapatkan pertanyaan random yang berbeda-beda.(bahkan bisa serandom: sudah menikah atau belum, bagaimana kalau menikah sama orang asing, kenapa memilih Amerika bukannya negara lain, dll).  Saran saya, baca aplikasi kamu sendiri, dan coba memposisikan dari kacamata penyeleksi, hal apa yang mungkin akan ditanyakan. Kalau misalkan benar-benar tidak diprediksi, jawab dengan tetap percaya diri dan mungkin dengan sedikit humor. Pada kasus saya, para penyeleksi benar-benar ramah, dan hampir sepanjang wawancara banyak jokes yang dilontarkan, so it was actually fun!

Berlatih Bicara dan Percaya Diri

Bagi saya, wawancara ini adalah wawancara beasiswa kedua saya untuk sekolah pascasarjana (sebelumnya beasiswa Erasmus Mundus). Walaupun sebelumnya juga beberapa kali pernah mengikuti wawancara sejenis semasa kuliah/kerja, saya sendiri waktu itu masih merasa takut kalau saya gugup dan tidak lancar berbicara pada hari H-nya.

Jadi, untuk mengatasi hal itu, saya bikin semacam “Flash Card”, setiap kartu saya tulis setiap pertanyaan yang mungkin ditanyakan. Selama seminggu, sehabis pulang kantor, setiap malam, saya berlatih dengan kartu-kartu itu. Berlatih semacam ini tidak hanya membuat saya hafal luar kepala, tapi juga membuat lebih percaya diri.

Siap Kalah, dan Siap Mencoba Lagi!

Menurut saya, the real winner is ready to win, or to lose and to try again. Percayalah, kegagalan demi kegagalan pada ujungnya akan menuai keberhasilan. Ada beberapa teman yang akhirnya berhasil setelah berkali-kali bahkan belasan kali mencoba. Saya pribadi banyak mengambil pelajaran dari kegagalan saya sebelumnya untuk meraih beasiswa, dan mungkin karena itu saya akhirnya berhasil. Ingat, kalaupun kamu belum berhasil, keinginan dan perjuangan kamu untuk meraih pendidikan yang lebih baik  sangat patut untuk diacungin jempol. Indonesia butuh kamu, orang-orang yang tidak takut gagal,  berani terus mencoba dan melakukan perubahan. Tetap semangat mengejar cita-cita, jangan berhenti sebelum berhasil! ☺

Content Edited by Artricia Rasyid

Credits: careerealism.com, author’s collection



===========================================
Patricia Wahyu Haumahu is currently pursuing her master’s degree in Applied Statistics program at Purdue University under Fulbright scholarship. Before doing her master’s, she worked as researcher in market research industry for three years. She loves reading books, solving puzzles, and travelling. One of her dreams is to make statistics become the most favorite and interesting subject for everybody. For any questions about scholarship s, data, or statistics, ask her through her twitter account @pat_ayu.
Posts | Twitter