Menjadi Mahasiwa Indonesia di Hungaria

Menjadi Mahasiwa Indonesia di Hungaria

Ketika pertama kali saya mengatakan ke orang tua dan teman-teman bahwa saya akan kuliah di Hungaria, beberapa orang kaget dan bahkan bertanya di mana letak Hungaria. Negara ini memang tidak sepopuler Belanda atau Inggris, di mana ratusan pelajar Indonesia melanjutkan studinya. Hungaria tidak memiliki PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) and bahkan mahasiswa Indonesia di negara inipun bisa dihitung dengan jari.

Lalu bagaimana ceritanya saya bisa terdampar di Budapest, kota tercantik di Eropa Timur? Semuanya berawal ketika seorang teman tiba-tiba mengatakan bahwa dia sedang melakukan semacam program pertukaran di Budapest selama setahun, lalu dia pun memberikan detil beasiswa yang dia dapatkan. Kemudian di tahun berikutnya saya memberanikan diri untuk mendaftar. Beasiswa ini diberikan oleh Hungarian Scholarship Board yang terdiri dari beberapa kategori beasiswa yang dapat dipilih. Saya memilih program studi parsial yang memperbolehkan saya mengikuti perkuliahan di universitas manapun di Hungaria selama 1-2 semester. Program beasiswa ini belum begitu terkenal di kalangan pelajar Indonesia, mungkin karena masih banyak yang tidak mengenal negara Hungaria itu sendiri. Mahasiswa Indonesia yang diterima pun tidak banyak, hanya sekitar 2-4 orang saja per tahunnya.

Saya mendaftar beasiswa ini hanya bermodal iseng, hanya dengan tujuan untuk mengisi waktu setelah lulus kuliah di Indonesia karena saya masih enggan untuk bekerja, dan juga mengunjungi Eropa adalah salah satu impian saya. Sebulan berselang saya mendapatkan kabar bahwa saya diterima untuk kuliah selama 2 semester di Eotvos Lorand University, salah satu universitas bergengsi di Hungaria. Namun karena terkendala skripsi yang belum selesai maka saya hanya bisa mengambil program untuk 1 semester saja. Eotvos Lorand University terkenal akan social science dan humanities dan saya mengambil jurusan American Studies.

Banyak orang yang saya temui kerap bertanya mengapa saya kuliah di Hungaria dan terlebih lagi mengapa saya memutuskan untuk mempelajari studi Amerika di Eropa Timur. Tidak banyak orang Asia yang berkuliah disini, kebanyakan adalah mahasiswa asal Turki dan mahasiswa asal negara Eropa lainnya. Dari 6 kelas yang saya ambil, saya hanya bertemu dengan 2 mahasiswa Asia lainnya. Sebelum saya berangkat saya khawatir dengan bagaimana cara untuk berkomunikasi karena bahasa Inggris bukanlah bahasa resmi di Hungaria. Namun ternyata hampir semua mahasiswa dan kaum muda di Budapest bisa berbahasa Inggris. Selain itu meskipun pada awalnya mereka terlihat cuek dan tidak peduli, tapi secara keseluruhan orang Hungaria itu baik dan selalu menyapa bila bertemu. Selama di asrama saya sekamar dengan 2 mahasiswi Hungaria dan 1 mahasiswi Polandia. Meskipun kami tidak bertemu setiap hari tetapi mereka sangatlah baik.

Cara perkuliahan di Indonesia dan Hungaria tentu saja memiliki perbedaan. Di Indonesia mahasiswa dibebankan dengan beragam tugas baik individu maupun kelompok, lalu ada ujian tengah semester dan ujian semester. Belum lagi jumlah mahasiswa dan dosen yang tidak seimbang, terkadang 1 kelas bisa diisi hingga 60 mahasiswa. Mahasiswa di Indonesia pun terkesan pasif dan tidak berani untuk mengutarakan pendapat. Namun di Hungaria mahasiswa dituntut untuk aktif dan berani mengeluarkan pendapat apa saja dan selalu dihargai oleh dosen. Jumlah kelas yang kecil juga sangat membantu dosen untuk mengenali mahasiswanya satu persatu dan proses pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal.

Sebagian besar tugas pun merupakan tugas individu, begitu juga dengan presentasi. Nilai akhir hanya dilihat berdasarkan partisipasi di kelas dan tugas. Selain itu mahasiswa disini sangat individualis dalam perkuliahan. Mereka bisa saja berteman baik namun begitu di kelas mereka bersaing untuk mendapatkan nilai terbaik. Sistem ‘pinjam catatan teman menjelang ujian’ pun sepertinya tidak berlaku disini. Jarang sekali ada mahasiswa yang belajar bersama menjelang ujian. Kerja kelompok pun sangat efektif, semua orang sudah siap dengan ide masing-masing dan berjalan tepat waktu. Sangat berbeda dengan Indonesia ketika ada kerja kelompok pasti ada anggota yang terlambat dan tidak datang. Selain itu karena tiap anggota tidak memiliki ide tidak jarang kerja kelompok bisa berlangsung sampai malam.

Budapest merupakan kota tercantik yang pernah saya tinggali, banyak bangunan indah tersebar di seluruh penjuru kota. Biaya hidup disini pun cenderung lebih murah dibandingkan negara-negara Eropa lainnya, bahkan tidak beda jauh dengan Jakarta. Selain itu lokasinya yang berada tepat di jantung Eropa membuat bepergian ke beberapa negara tetangga menjadi lebih mudah dan cepat. Jadi siapa bilang kuliah di Eropa Timur itu tidak menyenangkan?




===========================================

Posts